Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 34 : Kain Pertemanan


__ADS_3

Adek Fasa tampak tersenyum lebar ketika memperkenalkan dirinya dihadapannya Daffa. Dia terlihat sangat ceria.


Sesaat setelah Fasa memperkenalkan dirinya, Daffa masih saja terlihat agak bingung. Dan dia pun mencoba memikirkannya.


"Jadi benar mereka itu adalah ibu dan anak. Terus kenapa ada pak sopir yang waktu itu mengantarkan aku? Hm... Apa mungkin yang di maksud kakak Cifa itu adalah Syifa? Mukanya sih memang mirip dengan tante itu dan juga Fasa, tapi kayaknya bukan dah." Gumam Daffa dalam hatinya


"Oh... Ternyata begitu, jadi tante itu ibunya Fasa?" Ucap Daffa.


"Dilihat saja juga kamu sudah tahu," jawab tante Intan.


"Kalau Syifa sih tan?" Tanya Daffa pelan.


"Iyalah... Tadi kan sudah diberitahu sama adek Fasa. Iya kan Fasa?..." Jawab tante Intan.


Mukanya Daffa seketika tampak terkejut. "Eh?! Ternyata benar?! Kenapa dugaanku selalu benar? Lain kali aku tidak akan lagi menduga-duga kalau hal buruk yang akan terjadi. Kutukan yang mengerikan..." Gumam Daffa dalam hatinya.


Fasa mengangguk dan pandangannya ke arah mamahnya sambil berkata, "Mamah, apa kak Daffa kenal sama kak Cifa?"


Tante Intan kemudian berjongkok di pinggir Fasa. "Kakak Daffa itu teman sekelasnya mbak Cifa, jadi mereka berdua saling kenal."


Fasa melihat ke arah Daffa dan berkata, "Eh... Ternyata kak Daffa itu temannya kak Cifa yah..."


"Apa? Enggak-enggak kok, mamahnya kamu bohong. Hehe..." Ucap Daffa dengan tertawa.


Fasa tampak memperhatikan tingkah lakunya Daffa yang begitu aneh. "Kakak bohongnya keliatan banget."


"Hihi..." Fasa tampak tertawa kecil setelahnya.


"Eh? Hehe, hehe, hehe..." Tawaan buatannya Daffa mulai terputus-putus setelah mendengar ucapannya Fasa. Perasaannya tampak malu karena itu.


Sementara mereka berdua yang tengah tertawa itu, tante Intan menoleh ke belakang setelah di panggil oleh pak Supri. Pak Supri menunjukkan jam tangannya kepada tante Intan, seolah-olah menandakan harus pergi karena sudah jam segini.


Tante Intan membalasnya dengan mengangguk kepalanya.


"Fasa... Yuk, sekarang kita masuk ke dalam mobil," anak tante Intan.


"Sebentar mah, Fasa mau ngasih ini buat kak Daffa," ucap Fasa yang kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku sebelah kanan celananya.


"Yang lain itu yah?..." Tanya tante Intan.


"Iya, mah," jawab Fasa.


"Ya udah cepet." Ucap tante Intan.

__ADS_1


Ternyata yang Fasa ambil di dalam sakunya adalah kain berwarna hitam yang agak panjang. Fasa kemudian memberikannya kepada Daffa. "Ini buat kakak, sebagai hadiah pertemanan."


"Ini yang buat Fasa sendiri, dibantuin sama mamah dan juga kakak pelayan." Sambungnya.


"Gak usah kok, buat Fasa ajah..." Balas Daffa.


"Fasa juga udah memakainya ini yang warna putih. Apa kakak tidak melihatnya?" Tanya Fasa.


"Eh..." Daffa tampak terlihat bingung menjawabnya. "Ah... Sebenarnya juga dari tadi aku udah liat." Gumam Daffa dalam hatinya.


"Hmphh..." Mukanya Fasa cemberut karena Daffa tidak mau menerimanya.


"Iya deh iya," ucap Daffa tidak niat.


"Ya udah, tangannya kakak sini..." Pinta Fasa.


Daffa pun kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Fasa. Sesaat setelah itu, Fasa mengikatkan kain hitam itu di lengannya Daffa dengan teliti.


Tak lama kemudian, Fasa telah usai mengikatkan kain itu di lengannya Daffa. "Nah, bagus kan?"


"I-iya," jawab Daffa.


"Itu namanya kain keberuntungan dan juga keberanian," terang Fasa sambil tersenyum manis. Dia tampak senang melihatnya.


Fasa tampak mengambil sesuatu di saku sebelah kiri celananya. "Ini Fasa juga buatin untuk kak Cifa. Warnanya pink, warna kesukaannya kak Cifa." Ucap Fasa yang kemudian menunjukkannya kepada Daffa.


"Pink?!..." Yang terlintas dipikiran Daffa pada saat itu juga adalah kejadian waktu dia sedang berada di kamarnya Vira.


"Iyaaa pink, emangnya kenapa?" Tanya adek Fasa sambil memegang-megang kainnya itu.


"Hayo... Pikirannya kemana-mana..." Ledek tante Intan yang mukanya tampak tertawa.


"Ehh? Enggak-enggak kok!" ucap Daffa gugup yang mukanya terlihat kaget.


"Ah, kakak berbohong lagi..." Ucap Fasa yang mukanya terlihat menahan tertawa.


Daffa hanya bisa menghela nafas saat melihat anak dan ibu yang saling kompak menahan tertawa karenanya. Mukanya terlihat pasrah. "Terus kalau yang hitam ini sebenarnya tadinya untuk siapa?" Daffa berinisiatif bertanya.


"Oh... Yang itu, aslinya tadi anak kesayangan tante memberikan itu ke tante, tapi tante ga mau. Warnanya hitam sih, jadi tante ga suka." Terang tante Intan.


"Iya begitu," ucap Fasa setelah mamahnya berbicara. "Jadi dijaga baik-baik yah..." Sambungnya.


"Baiklah..." Balas Daffa singkat sembari mengangkat jempolnya ke arah adek Fasa.

__ADS_1


Tante Intan memegang rambut Fasa dan mengelus-elusnya, "Fasa kesayangan mamah, kamu masuk ke mobil dulu nanti mamah nyusul." Ucapnya.


"Baik, mah." Fasa menurutinya dan kemudian ia berjalan bersama pelayan yang berada di sampingnya menuju mobil di pinggir sana.


Adek Fasa menoleh ke belakang ke arah Daffa lalu ia berteriak sambil mukanya yang tampak tersenyum, "Dan juga kak Daffa harus berteman baik dengan kak Cifa yah!..."


"Iya," Daffa spontan membalasnya.


"Dadah kakak Daffa... Sampai jumpa lagi..." Fasa melambai-lambaikan tangannya ke atas.


Adek Fasa bersama pelayannya itu kemudian masuk ke dalam mobil bagian tengah yang pintunya sudah dibukakan oleh Pak Supri. Dan setelahnya, Pak Supri juga masuk ke dalam mobil di bagian depan.


Detik berikutnya, setelah tante Intan melihat mereka semua telah masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba suasananya berubah menjadi mencekam.


Tante Intan tampak melangkah pelan ke sampingnya Daffa dengan raut wajahnya yang terlihat berubah itu.


Bibirnya kini berada tepat di depan telinganya Daffa. "Mulai sekarang lebih baik kamu jangan mendekati Syifa lagi..." Bisik tante Intan yang suaranya terdengar sangat tajam di telinga Daffa.


"Ke-kenapa ya tan?" Tanya Daffa lirih, dia sangat grogi saat melihat tante Intan yang seperti itu. Mukanya juga terlihat memerah.


Tante Intan tampak menghela nafas yang hembusannya itu sampai terdengar oleh Daffa. "Kamu juga jangan memasuki kamar orang tanpa seijin dari pemilik rumahnya lohh... Itu tidak baik. Ya... walaupun dengan begitu kamu bisa secara gratis melihat ****** ***** perempuan." Bisik tante Intan.


"Eh?!..." Daffa terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa mamahnya Syifa itu tau dengan kejadian yang waktu itu?" Gumam Daffa dalam hatinya. Jantungnya terasa deg-degan karena panik.


"Kok bisa?... Tante kok bisa tau?" Tanya Daffa yang terlihat ragu-ragu mengatakannya.


Tante Intan melangkah mundur sedikit dari Daffa lalu ia menjawabnya, "Apa jika anaknya saling kenal, ibunya juga tidak gituh?..."


Tante Intan kemudian berbalik badannya dan kemudian hendak berjalan ke arah mobilnya, karena sudah di tunggu oleh yang lainnya.


Sementara itu, Daffa malah tampak kebingungan dan ia mencoba berpikir beberapa saat.


"Eh, Bentar-bentar. Apa jangan-jangan tante itu berteman baik dengan mamahnya Vira?" Tanya Daffa yang telat karena ia berpikir terlebih dahulu.


Tante Intan seketika langsung menoleh ke arah Daffa. "Memang itu yang Tante maksud!..." Mukanya terlihat kesal dan gregetan.


"Eh, begitu yah, maaf-maaf. Hehe..." Ucap Daffa dengan tawaan karena malu. "Monggo dilanjutkan lagi jalannya." Sambungnya seraya tangannya yang mengisyaratkannya untuk pergi.


Mukanya tante Intan tampak cemberut. "Hmmph!" Pandangannya kemudian kembali ke depan lalu ia lanjut berjalan lagi.


"Jangan lupa pesan tante yang pertama loh..." Ucap tante Intan yang mukanya tampak tersenyum kembali.


Daffa yang mendengarnya hanya berdiam diri di tempat dan tidak menjawabnya sepatah kata pun sampai tante Intan sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2