
Di depan gerbang sebuah rumah yang begitu mewah dan megah, tertampak wajah kak Hendra yang tengah mengendarai mobil miliknya.
Tak lama kemudian, ada beberapa Satpam yang berjaga di rumah itu nampak membukakan gerbangnya untuk kak Hendra.
Kak Hendra pun kemudian masuk melewati gerbang tersebut lalu memarkirkan mobilnya di samping mobil-mobil mewah lainnya yang mungkin dimiliki oleh pemilik rumah tersebut.
Kak Hendra terlihat berjalan cepat ke arah depan rumah itu setelah memarkirkan mobilnya.
Saat kak Hendra hampir sampai, tampak terlihat seorang pria bertubuh besar tengah berdiri di depan pintu rumah tersebut.
Ternyata-ternyata, itu adalah seorang sopir yang pernah mengantarkan Daffa, Ridho, Farrel, Syifa, Vira, dan Bella waktu itu saat mereka pergi berjalan-jalan bersama-sama.
Kak Hendra terlihat mencium tangannya pak sopir itu setelah sampai di depan pintu rumah tersebut.
"Ada apa kamu ke sini, Hen?" Tanya Pak Supri.
Kak Hendra menjawabnya setelah mencium tangannya Pak Supri. "Saya ke sini karena sudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh bapak." Jawab kak Hendra seraya memberikan kertas yang terdapat tulisan angkanya kepada Pak Supri.
Pak Supri pun kemudian menerima kertas tersebut lalu berkata, "Jarang sekali kamu bisa menyelesaikan tugasnya secepat ini, padahal baru kemarin bapak mengasih tugasnya."
"Iya, itu karena terjadi kejadian menarik yang ada sangkut-pautnya dengan si Daffa," balas kak Hendra sambil tersenyum.
"Memangnya si bocah itu kenapa?" Tanya Pak Supri.
"Si Daffa berhasil mengatasi empat preman sekaligus. Ya... Walaupun di cctv nya hanya terlihat dia saat dikejar-kejar preman-preman itu doang," jawab kak Hendra
"Oh begitu ya..." Ucap Pak Supri.
"Ya. Itu saja yang ingin Hendra sampaikan, kalau begitu Hendra pamit dulu ya Pak," ucap Hendra yang kemudian berjalan meninggalkan Pak Supri.
"Hati-hati di jalan!..." Teriak Pak Supri agak keras.
"Baik!..." Balas teriakan kak Hendri.
Sementara kak Hendri yang menuju ke tempat mobilnya parkir, Pak Supri tampak membuka pintu rumah tersebut dengan perlahan lalu berjalan melewatinya.
"Lumayan juga si Daffa," gumam Pak Supri seraya berjalan yang kemudian ia seperti terlihat sedikit tersenyum.
Di dalam rumah yang begitu mewah dan megah itu, tampak terlihat ada seorang wanita tengah duduk santai di sofa sambil menyeruput teh yang hangat dan di sampingnya terdapat seorang anak kecil sedang menggambar bukunya di atas meja sembari diperhatikan oleh seorang pelayan.
"Apa ada sesuatu, Pak Supri? Kok membawa selembar kertas?" Tanya wanita tersebut yang nampak melihat Pak Supri berjalan ke arahnya.
"Ini Bu Intan," ucap Pak Supri dengan menundukkan kepalanya seraya memberikan selembar kertas yang ia bawa kepada wanita tersebut.
__ADS_1
Wanita itu menaruh gelasnya yang berisi teh hangat ke atas meja, kemudian menerima selembar kertas tersebut.
"Apa ini nomor handphone? Nomor handphonenya siapa?" Tanya wanita itu sambil melihat-lihat selembar kertas tersebut.
"Iya Bu, itu adalah nomor handphonenya si Daffa," jawab Pak Supri selagi berdiri dengan menundukkan kepalanya kepada wanita itu.
"Eh?... Benarkah?... Daffa yang teman barunya Syifa itu?" Wanita itu wajahnya tampak terkejut mendengarnya.
"Benar Bu. Karena Ibu Intan sepertinya ingin sekali bertemu dengan dia tapi tidak bisa karena jadwal yang padat, jadi saya usahakan dapetin nomor teleponnya." Terang Pak Supri.
"Ya niatnya sih... Saya ingin bertemunya kalau saja ada waktu luang, jadi saya berterimakasih banget sudah diberikan nomornya." Ucap Wanita tersebut sambil tersenyum.
"Tapi Pak Supri tidak mendapatkannya dari Syifa maupun teman-temannya kan? Melainkan langsung dari Daffa nya kan?" Tiba-tiba saja wanita itu tampak menatap tajam Pak Supri sambil mengucapkannya.
"Tentu saja, Bu. Karena saya menyuruh anak saya untuk mendapatkannya langsung dari Daffa nya," jawab Pak Supri yang mukanya nampak sedikit berkeringat.
"Benar juga... Baguslah kalau begitu," ucap wanita tersebut yang kemudian terlihat kembali ceria.
"Ibu Intan bisa menelponnya sekarang atau juga nanti di mobil saat perjalanan pergi," ucap Pak Supri.
"Akan saya coba telpon sekarang saja." Balas wanita tersebut.
Wanita itu kemudian tampak mengambil handphonenya di dalam tas miliknya yang berada tepat di sampingnya.
"Tunggu saja nanti... Daffa," gumam Bu Intan dalam hatinya seraya tersenyum sendiri.
"Hari ini hari Kamis, jadi masih ada hari Jum'at dan Sabtu sebelum hari Minggu," ucap Daffa seraya berjalan mengelilingi ruangannya.
"Apa aku tidak usah ke sana yah... Tapi kayaknya Nenek bakalan marah dah," ucap Daffa pada diri sendiri.
"Ya udahlah, apa susahnya tinggal pergi ke sana dengan Ibu dan Ayah. Kalau dipikirin terus nanti malah bikin pusing," ucap Daffa.
Daffa yang tengah berputar-putar itu, kali ini ia tampak mendengar suara handphone miliknya berdering di kamarnya.
Daffa pun bergegas menuju ke kamarnya. dengan menaiki tangga. "Kali ini siapa lagi yang menelpon?"
Sesampainya di kamarnya, Daffa tampak kaget dan bingung ketika melihat layar handphonenya yang tengah berdering itu.
"Nomor tak dikenal?... Nomor siapa ini?" Daffa terlihat kebingungan saat melihatnya.
"Tapi kok foto profilnya kayak mbak-mbak yah... Aku nggak kenal lagi," ucap Daffa.
"Hm, Aku biarin saja dah," ucap Daffa yang kemudian ia menghela nafas.
__ADS_1
Daffa pun membiarkan handphonenya tergeletak di atas kasurnya dan tidak mengangkatnya.
***
Satu jam telah berlalu. Di ruangan tengah tertampak Daffa yang tengah duduk sambil menonton televisi, sedangkan tangannya memegang handphone miliknya yang tergeletak di bawahnya.
Perutnya Daffa berbunyi, cacing-cacing di dalamnya tampak berdemo. "Aduh... Udah lapar banget ini, udah gitu di dapur gak ada makanan yang tersedia lagi. Pasti Ibu lupa." Ucapnya.
Tak lama kemudian, ada telpon masuk dari dalam handphonenya Daffa. "Apa nomor tak dikenal lagi? Udah beberapa kali dia menelpon ku dah."
Saat Daffa mengeceknya ternyata itu bukan dari nomor tak dikenal yang tadi menelponnya beberapa kali, melainkan itu dari Ayahnya. Daffa pun langsung mengangkatnya.
"Hallo, Ayah?" Ucap Daffa setelah mengangkatnya.
"Daffa, kalau kamu mencari Ibu. Ibu sedang pergi bersama ayah karena ada urusan," ucap Ayahnya Daffa atau lebih tepatnya Ayah Adi dalam sambungan teleponnya.
"Oh jadi Ibu sedang sama Ayah ya?..." Ucap Daffa.
"Iya. Ini Ibu mau bicara sama kamu," balas Ayah Adi yang kemudian memberikan handphonenya kepada Ibu Ayu.
"Hallo Daffa, Ini Ibu. pasti kamu sekarang sedang kelaparan ya? Maaf yah Daffa, Ibu lupa memasaknya untukmu." Ucap Ibu Ayu tergesa-gesa.
"Iya gak apa-apa kok Bu," balas Daffa
"Daffa, Kamu ke kamar Ibu, terus ambil uang secukupnya di dalam dompet kecil milik Ibu. Setelah itu kamu langsung pergi keluar beli makanan ya..." Pinta Ibu Ayu.
"Baik, Bu." Balas Daffa.
"Ya udah, Ibu tutup teleponnya,"
"Iya, hati-hati di jalan." Setelah itu Ibu Ayu menutup telponnya dengan Daffa.
Dengar buru-buru, Daffa pun mengambil uang di dalam dompet kecil milik Ibunya dan setelah itu ia nampak pergi keluar rumah setelah mengunci pintunya.
Daffa sudah semakin jauh dari rumahnya, tapi ia masih terus saja berlari menuju suatu tempat. "Aku coba ke pinggir jalan raya ah, siapa tau restoran Chicken Good udah buka." Ucapnya.
Dan saat Daffa akan melewati tikungan, sekilas ia tampak melihat tiga orang cowok di depannya.
Daffa yang mencoba menghindarinya, justru salah satu dari mereka malah sengaja menyenggol Daffa yang tengah berlari itu. Detik berikutnya Daffa pun terjatuh. "Braaakk!..."
"Oh maaf, aku tidak melihatnya tadi." Ucap orang yang menyenggol Daffa dengan tersenyum puas melihat Daffa.
"Aduh..." Daffa mencoba menahan rasa sakitnya sembari menutup luka kakinya dengan tangannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, salah satu orang yang di tengah menghampiri Daffa lalu berkata, "Kamuu?...."
Bersambung....