
Di tempat lain tepatnya di depan rumahnya Syifa, terlihat Syifa dan temannya yaitu Melly sedang bersamaan di depan gerbang.
Mereka menutup gerbang itu dibantu satpam yang berjaga di rumahnya. "Hati-hati di jalan nona muda...!"
Mereka berdua saling berpegangan tangan saat berjalan keluar dari rumah.
Syifa terus saja merasa aneh karena ia terus saja melihat wajah Melly yang terlihat sangat senang dari tadi.
Bahkan saat mereka berdua sedang makan malam bersama di rumah, Melly sudah terlihat begitu bersemangat karena telah menantikan saat-saat ini.
"Omong-omong Melly, kenapa kita gak pakai mobil saja sih? Kan bisa lebih cepat." Syifa merasa kebingungan karena melihat sikap Melly yang aneh.
"Sekali-kali jalan kaki gak apa-apa, dulu juga kita sering begini kan?"
"Tapi kan itu dulu..."
"Apa jangan-jangan kamu tidak kangen denganku?" Ucapnya dengan lirih dan pelan.
"Eh, aku tidak bermaksud begitu." Balas Syifa.
"Iya-iya, aku tau kok. Kalau begitu ayok kita lewat jalan pintas, biar lebih cepat sampainya," Ucap Melly, dan mereka pun terus berjalan ke suatu tempat.
"Ah, baiklah-" Syifa ingin menuruti perkataannya, tapi dia mengingat sesuatu. "Eh tunggu sebentar! Bukannya kamu belum hafal jalanan di sini?"
Untuk menjawab perkataannya, Melly seketika langsung mengeluarkan selembar kertas. "Karena itulah aku membawa ini." Di situ terlihat jelas gambaran peta yang mengarah kepada tujuannya, yaitu restoran milik orang tuanya Syifa.
"E-eh... Kayaknya kita akan tersesat deh..."
***
Sudah sepuluh menit lamanya, tapi tampaknya mereka berdua masih berada di pinggir jalanan.
Sepertinya mereka benar-benar melewati jalan pintas yang tergambar pada kertas tersebut.
Jalanan yang mereka lewati sangat sunyi hingga mereka jarang sekali menjumpai orang yang lewat gang itu.
Jalannya begitu sempit, gelap, dan panas. Itu yang dikatakan oleh Syifa ketika dia berada di tempat tersebut.
Sesaat Syifa menjadi ketakutan ketika dirinya melihat Melly yang tersenyum-senyum sendiri sambil berjalan bersamanya.
Melly nampaknya sangat bersemangat untuk malam ini sampai tidak bisa mengontrol ekspresinya. "Hehe... Daffa, aku mengandalkanmu lho." Gumam Melly dalam hatinya.
"M-melly... Kamu membuatku ketakutan!" Ucap Syifa dengan ekspresi wajahnya yang cemberut.
"Hmm? Ah, maaf aku terlalu senang," Balas Melly sembari menoleh ke arah Syifa.
"Aku tau kamu terlalu senang, tapi ya jangan senyum-senyum seperti itu juga di tengah-tengah jalan yang gelap inii," Ucap Syifa yang nampaknya masih merasa ketakutan.
"Gak usah takut Syifa, kan ada aku di sampingmu,"
"Eh... Iya deh iya."
Mereka berdua pun akhirnya sampai di ujung gang tersebut.
Setelah keluar dari gang yang begitu gelap, mereka melihat adanya cahaya yang menerangi jalan di mana di situ terdapat beberapa orang yang mungkin saja mereka habis pulang bekerja.
Syifa merasa sangat lega akan hal itu, dia langsung menghela nafas ketika melihat adanya sebuah cahaya yang lebih terang.
Namun itu tak berlangsung lama, semuanya kacau seketika karena gerintik hujan turun dari langit.
__ADS_1
Walaupun itu hanya gerimis hujan biasa, tapi itu sudah membuat semua orang berhamburan menuju arah pulangnya masing-masing, dari yang pejalan kaki sampai pengendara motor maupun mobil.
Syifa pun hanya bisa tersenyum-senyum di tempat seraya melihat semuanya telah pergi dan hanya tinggal mereka berdua saja.
"Apa kubilang, mending tadi pakai mobil saja deh," Ucap Syifa yang sudah berputus asa.
Melly tiba-tiba menarik tangannya Syifa dan membawanya berlari dengan paksa. "Kalau begini bisa-bisa nanti malah gak sempat bertemu dengan pacarmu, ayo cepat kita akan lari." Ucapnya.
"Eh-eh, tunggu sebentar aku belum siap, dan juga dia itu bukan pacarku!" Teriak Syifa selagi berlari bersamanya.
Syifa mengeluarkan handphonenya di sela-selanya yang tengah berlari. Dia hendak menelpon Daffa apakah jadi bertemu dengannya dengan cuaca yang tidak memungkinkan.
Melly yang mengetahui akan hal itu, dia langsung menghentikan Syifa agar tidak menelponnya. "Syifa, kamu hanya perlu percaya dengan pacarmu itu."
Syifa yang mendengarkannya seakan-akan ia paham dengan maksudnya.
Wajahnya seketika memerah. "D-duhh... Sudah ku katakan berulang kali, kalau dia tuh bukan pacarku!" Ucapnya dengan lirih.
Setelah beberapa saat mereka terus-menerus berlari dengan kecepatan biasa, Melly tampak menoleh ke sebelah kirinya. "Sepertinya aku tidak telat." Gumamnya dalam hati.
Melly pun tiba-tiba berhenti begitu saja di tengah perjalanannya tanpa memeberitahu Syifa.
"Aduhh!" Melly yang tiba-tiba berhenti membuat tangannya Syifa sedikit terasa sakit. "Kenapa tiba-tiba berhenti sih?"
Melly mengatakan bahwa dirinya sedang dalam keadaan yang tidak bisa ditahan lagi. "Aku kebelet buang air kecil."
"Hah?!" Terus ini gimana?" Ucapnya sembari mengatur nafasnya kembali.
Tangan Melly menunjuk ke sebelah kirinya sembari berkata, "Itu di sebelah sana ada toilet umum, bagaimana kalau kita ke sana?"
Selagi mengatur kembali nafasnya, mereka tampak berjalan menuju toilet umum tersebut.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama." Balas Syifa.
Melly pun kemudian masuk ke dalam pintu toilet tersebut, sedangkan Syifa menunggunya di depan.
Suara rintikan air hujan itu semakin mengeras setiap detiknya, hatinya pun terasa sangat cemas setiap kali menengok kanan-kiri.
Untuk berjaga-jaga sekaligus untuk menemaninya, Syifa berinisiatif mengeluarkan handphonenya.
Dia melihat di google map, ternyata masih membutuhkan sekitar lima menit untuk mencapai tempat restoran milik orang tuanya.
"Apa Daffa sudah sampai duluan yah?" Gumam Syifa dalam hatinya.
Syifa tampaknya hendak menghubungi Daffa melalui pesan chat.
Karena Syifa terlalu fokus dengan handphonenya, dia sampai tidak peduli dengan hal-hal kecil yang ada di sekitarnya.
Seseorang tiba-tiba menepuk lengannya dari arah depan.
Syifa sangat kaget, dan yang menambah takutnya lagi, dia baru sadar bahwa dihadapannya sudah ada tiga orang tak dikenalnya.
Namun, masih sempat-sempatnya Syifa menyentuh tombol kirim di handphonenya.
*Syifa lupa mengecilkan volume handphonenya.
"Hm?! Suara apa itu?" Ucap salah seorang yang ada dihadapan Syifa.
Mereka bertiga kompak mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajah mereka. Itu yang membuat Syifa kebingungan ketika ingin mengenalinya.
__ADS_1
"K-ka-kalian bertiga siapa?" Tanya Syifa dengan gemeteran.
Melly mendengarkan suara Syifa yang seperti sedang ketakutan di luar. "Syifa? Kamu sedang bicara dengan siapa?"
"Di dalam ada orang?!" Gumam Fandi. "Kalian berdua cepat ikat dia!" Perintah Fandi.
Syifa yang mendengarkan itu, ia seketika langsung panik dan ketakutan.
Syifa pun melayangkan tangannya kepada mereka, namun itu sia-sia saja karena mudah diatasi oleh Fandi. "Eh?! A-apa yang ingin kalian lakukan kepadaku?! Tidak... Tidak...! Jangan lakukan itu kepadaku!"
Fundi dan Fendi mengikat kedua tangannya Syifa dengan tali dan dibantu oleh Fandi yang menahannya.
"TOLONG AKU!!" Teriak Syifa dengan sangat keras.
*BRAKK!!
Tiba-tiba muncul lah Melly dari balik pintu, tangan kanannya sudah siap siaga memukul.
Yang ternyata dia mengincar seorang Fandi yang berada di tengah.
*Pow!
Pukulan Melly mengenai Fandi. Pukulannya menggetarkan area sekitar pipinya Fandi hingga membuat topi dan maskernya terlepas.
Fandi pun terjatuh ke tanah karena tak sempat menghindari pukulannya.
"Dia, bukannya orang yang waktu itu?!" Gumam Syifa yang kaget karena melihat identitas mereka yang sebenarnya.
Melly menghampiri Syifa, dia melihat tangannya sudah terikat erat oleh tali. "Syifa tanganmu...? kamu tak apa-apa?"
"Iya, urus mereka dulu," Jawab Syifa selagi duduk bersimpuh di atas tanah.
"Baiklah..." Balas Melly.
Melly kembali berdiri tegak, ia bersiap menyerang kembali dan sekarang giliran teman-temannya Fandi.
Namun anehnya, Fundi dan Fendi tak melakukan pergerakan sedikitpun dari kedua sisi.
"Baiklah kalau kalian tidak maju, aku yang akan maju!"
Melly berlari ke salah satu sisi di mana Fendi berada.
Selagi melihat Melly beraksi, Syifa tampak tersenyum karena hatinya kini sudah terasa lega. "Syukurlah... Syukurlah..."
Namun senyuman itu tak bertahan lama, karena Fandi yang tiba-tiba bangkit kembali.
Sekilas Fandi melewati pandangannya yang kemudian mendorong Melly hingga masuk ke dalam toilet. "Eh?"
"Brakk!" Melly terjatuh di lantai.
"Mellyy...!" Teriak Syifa. Tubuhnya bergemetar, matanya berkaca-kaca karena melihat Melly diterjang seperti itu.
"Hey, kalian berdua! Kenapa tadi diam saja?!" Ucap Fandi yang tampak agak marah.
"Maaf," Balas mereka berdua.
Pandangannya mulai kosong, wajahnya juga terlihat hampa, dan mulutnya pun kini terdengar hening tak bersuara. Syifa sudah pasrah dengan keadaan.
Yang ia ketahui hanyalah dirinya dibawa pergi oleh mereka bertiga entah kemana dengan keadaan diikat dan mulutnya ditutupi oleh lakban.
__ADS_1
Bersambung....