Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 9 : Menunjukkan Kemampuan


__ADS_3

Kemudian Daffa berjalan dengan santai menuju area lapangan timnya yaitu tim B, dan pertandingan menjadi 6 lawan 6.


"Kamu jaga belakang saja, jangan sampai jadi beban tim." Ucap seorang murid kepada Daffa.


"Iya-iya baiklah kalau begitu, tapi kamu yang harus cetak gol." Ucap Daffa yang berdiri di dekat gawang.


"Ya tenang saja." Ucap seorang murid.


Priiittt....


Pak Toni meniup peluit tanda pertandingan berlanjut dan skor 2-0 keunggulan bagi tim A.


Timnya Daffa selalu gagal menyerang, alhasil timnya Ridho dan Farrel melakukan serangan balik. Mereka melewati semua pemain lawannya dengan umpan satu dua yang cantik, dan yang tersisa hanya Daffa dan penjaga gawang.


"Ayo, ayo, cetak gol lagi...." Para murid cewek bersorak kepada timnya Ridho dan Farrel.


Farrel menggiring bola di sisi kanan lapangan dan Ridho berlari di sisi kiri lapangan. Daffa berlari menuju Farrel, namun sayangnya bolanya sudah di umpan lambung oleh Farrel menuju Ridho.


"Nice umpan Rel," Ucap Ridho.


Ridho pun menerima umpan dari Farrel dengan sangat baik, sedangkan Daffa berlari secepatnya menuju Ridho yang akan menembak bola tersebut.


"Tembakk... Ridho..." Sorakan para murid cewek yang sangat antusias.


Ridho mengambil ancang-ancang, lalu dia menembak ke arah gawang dengan sangat keras.


".........." Hening tanpa suara.


Yang tadinya para murid cewek sangat antusias karena Ridho akan mencetak gol kembali, namun mereka terdiam tanpa suara karena melihat tendangan Ridho yang sangat keras mengenai kaki Daffa lalu memantul dan mengenai tumbuhan di sekitar luar lapangan.


"Apa?!" Ucap Ridho dengan wajah kaget dan tidak percaya tendangannya tidak masuk ke gawang.


"Aduuh... Sakit anjir." Ucap Daffa sambil merintih kesakitan karena terkena tendangannya Ridho yang sangat keras.


Teman satu timnya Daffa berlari ke arah Daffa dengan wajah yang terkagum-kagum melihatnya.


"Hebat juga kamu Daf, aku dari kejauhan melihatmu bisa berlari sangat cepat menuju Ridho kemudian menahan tendangannya," ucap salah satu teman satu timnya Daffa sambil membantu Daffa berdiri kembali.


"Tak kusangka pertahananmu hebat juga Daf," ucap Ridho sambil memberi apresiasi kepada Daffa.


"Gak begitu juga, tapi terima kasih hehe..." Ucap Daffa dengan muka yang malu-malu.


"Beruntung doang itu mah..." Teriak Syifa kepada Daffa. Teriakan Syifa membuat para murid cewek yang lain juga ikut berteriak menyoraki Daffa.


"Iya benar, yang tadi itu beruntung doang." Para murid cewek menyoraki Daffa.


Pak Toni melihat ke arah jam tangan miliknya, lalu ia meniup peluit agar para murid cewek yang di pinggir lapangan tidak ribut lagi.

__ADS_1


"Priiittt...." Pak Toni meniup peluit.


"Kalian para murid cewek yang dipinggir lapangan, tenang-tenang," ucap Pak Toni membuat mereka tidak berisik lagi.


Kemudian Pak Toni menyuruh timnya Ridho dan Farrel untuk segera melakukan lemparan ke dalam.


"Cepat lakukan lemparan ke dalam, waktu yang tersisa hanya tiga menit lagi," ucap Pak Toni.


"Apa?!" Daffa yang sedang berbangga diri dipuji oleh teman-temannya, kaget mendengar perkataan Pak Toni.


Timnya Ridho dan Farrel pun melakukan lemparan ke dalam dan melanjutkan permainan yang masih tersisa 3 menit lagi.


"Arghh... Yang maju noob sekali." Ucap Daffa dengan putus asa sambil jongkok di lapangan.


Berselang beberapa detik, tiba-tiba ada bola liar yang mengarah tepat ke arah Daffa yang sedang jongkok, kemudian ia berdiri lalu menginjak bola tersebut dengan kaki kanannya.


"Yosh kesempatan, kali ini akan kubawa sendiri." Ucap Daffa dengan muka serius dan senyuman kecil.


"Kenapa kamu senyum-senyum hah?" Ucap Ridho lalu ia berlari menekan Daffa.


Daffa bersiap untuk menyerang sedangkan Ridho dengan percaya diri langsung berlari menuju Daffa, namun dengan mudahnya Daffa mengolongi Ridho yang lengah, kemudian Daffa lanjut menggiring bola maju ke depan.


Dengan gesit dan lincah, Daffa sudah melewati semua pemain lawan lalu ia mengecoh kiper lawan dengan mencutik bola tersebut dan terjadilah gol yang sangat cepat itu.


"Yes, Masuk!" Ucap Daffa yang sedang gembira karena telah mencetak gol, lalu ia menoleh ke belakang.


"Priiitt..." Pak Toni meniup peluit dengan muka tak percaya telah melihat Daffa melewati semua pemain lawannya.


"Mantap kamu Daf!" Teriak satu timnya Daffa, lalu mereka berlari ke arahnya dan melakukan selebrasi.


Di sisi lain di pinggir lapangan.


"Aku kira Daffa gak bisa main bola loh tadi," ucap Vira dengan tampak kekaguman di wajahnya.


"Kamu melihatnya kan Syif?" Ucap Bella dengan melongo sambil menunjuk ke arah Daffa.


"Iya," Syifa tidak sengaja mengucapnya sambil mengangguk.


"Eh! Maksudnya itu mah udah biasa," ucap Syifa sambil mengalihkan perhatiannya dari Daffa.


Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-1 kemenangan bagi tim A dan kekalahan bagi tim B.


"tim A kalian bisa istirahat duluan," ucap Pak Toni di depan para murid-muridnya.


"Baik, Pak," ucap tim A bersamaan.


"Ayok lah Dho kita ke kantin, selagi istirahatnya lebih lama dari biasanya ya kan," ucap Farrel.

__ADS_1


"Ayok," ucap Ridho.


"Dan untuk tim B, kalian harus memutari lapangan sebanyak tiga kali, setelah itu baru boleh istirahat," ucap Pak Toni.


"Baik, pak," ucap tim B bersamaan kemudian mereka berlari memutari lapangan.


"Oh iya Daffa, khusus untukmu memutari enam kali lapangan ya," ucap Pak Toni.


"Lah kok beda dari yang lain Pak," ucap Daffa lalu menghampiri Pak Toni untuk protes.


"Apa kamu gak sadar? Itu tumbuhan di pinggir lapangan rusak gara-gara kamu, jadi sebagai hukuman bapak tambah tiga kali putaran lagi," ucap Pak Toni sambil menunjuk tumbuhan-tumbuhan yang dirusak oleh Daffa.


"Eh... Tapi itu kan gak sengaja Pak," ucap Daffa.


"Sudah cepat sana lakukan saja, bapak mau membagi tim untuk murid cewek," ucap Pak Toni lalu pergi meninggalkan.


"Udah capek tambah capek lagi." Ucap Daffa mengeluh.


Dengan terpaksa Daffa menuruti perintah Pak Toni, lalu ia mulai berlari mengitari lapangan sekolah.


Di sisi lain di tengah lapangan sekolah.


"Oke karena sudah di bagi timnya, kalian mainnya bebas saja yang penting jangan saling menjambak ya," ucap Pak Toni kepada murid cewek.


"Baik, Pak," ucap para murid cewek.


"Ya udah Bapak akan duduk di bangku itu sambil melihat kalian dan murid-murid cowok yang sedang memutari lapangan sekolah," ucap Pak Toni sambil menunjukan bangku tersebut.


"Baik, Pak."


Pertandingan pun dimulai dan Pak Toni duduk di bangku sambil memantau murid-muridnya. Sedangkan Daffa yang baru saja 2 kali memutari lapangan sekolah, nafasnya sudah terengah-engah.


"Tungguin aku lah..." Daffa melihat teman-temannya sudah pergi menuju ke kantin.


Daffa mencoba mengikuti mereka ke kantin, namun Pak Toni mengetahuinya.


"Daffa kamu baru dua kali putaran," teriak Pak Toni.


"Iya... Pak maaf," ucap Daffa.


Daffa pun melanjutkan berlari mengitari lapangan sekolah dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Aduh aku gak kuat lagi," ucap Daffa dengan nafas yang terengah-engah dan badan yang lemas.


Tak lama setelah itu, Daffa terjatuh ke tanah dengan perut di bawah, matanya mulai kabur dan kepalanya pusing.


kemudian saat pandangan matanya sudah kabur, ia melihat banyak orang yang berlari dan sesuatu yang terpental-pental tapi bukan bola , tak lama kemudian, ia memejamkan matanya secara pelan-pelan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2