Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 81 : Tak Lagi Dipandang Rendah


__ADS_3

Daffa dan siswa itu melangkahkan kakinya, mereka berdua sama-sama berjalan maju ke depan menghampiri bu Fitri


Sebelum melakukan perintahnya, mereka berdua bercakap-cakapan terlebih dahulu dengan bu Fitri sebentar.


Setelah Daffa dan siswa itu selesai berbicara kecil dengan bu Fitri, mereka pun langsung akan berjalan keluar.


Akan tetapi langkah mereka berdua seketika terhenti, karena secara tiba-tiba, ketua kelas mereka yaitu Ridho mengangkat tangannya ke atas.


"Bu Fitri, aku dan Farrel boleh membantunya? Biar lebih enteng membawanya."


Bu Fitri menyahut. "Boleh-boleh, ya sudah ... Kalian berempat langsung saja ke sana."


Mereka berempat mengangguk secara bersamaan, kemudian langsung berderap keluar kelas dengan bersamaan.


Tak lebih dari 5 menit, mereka telah kembali lagi ke dalam kelas, dengan kondisi yang tengah membawa meja dan kursi.


"Taruh saja meja dan kursinya di belakang ... Di belakang tempat duduknya Daffa." Suruh bu Fitri.


Daffa yang mendengar hal itu, seakan dirinya merasa keberatan dan dirinya langsung mengeluh.


"Eh, tunggu-tunggu. Aku merasa keberatan ... Kenapa harus di belakangku?"


"Keberatan, yah? ... Di sisi lain juga boleh kok, terserah Melly maunya di mana."


Melly menyela di tengah-tengah perkataan mereka. "Eh, gak apa-apa, Bu. Aku juga maunya di pojok situ."


Alhasil, keluhan Daffa tidak berguna sama sekali. Sebab Melly sangat bersikeras sekali, untuk duduk tepat di belakangnya Daffa.


Mau tidak mau, Daffa harus menerima kenyataan itu, walaupun ia merasa sangat keberatan.


Satu sentuhan terakhir dan mereka akan menyelesaikan tugasnya. Mereka pun akhirnya dapat menata rapi meja dan kursi itu, di belakang tempat duduknya Daffa.


"Plak!"


"Plak!"


"Plak!"


Daffa menepuk telapak tangannya sendiri secara beruntun, sesaat setelah usai menggotongnya.


Daffa duduk di kursinya, ia akhirnya dapat menghela napas panjang dengan bebas. "Huh ... "

__ADS_1


Akan tetapi sekaranglah waktunya, bagi Daffa dan teman sekelasnya yang harus menghadapi pelajaran Matematika Wajib dari bu Fitri di pagi hari.


Di saat bu Fitri akan memulai pelajarannya, tiba-tiba muncul lagi, salah seseorang murid yang mengangkat tangannya ke atas.


Ternyata kali ini yang mengacungkan jarinya ke atas adalah Syifa. "Bu, saya mau bertanya."


"Iya, mau bertanya apa, Syifa?" Balas bu Fitri.


Daffa mengernyit, perasaannya sungguh tidak enak, ketika pikirannya mengira-ngira pertanyaan apa yang akan dilontarkan Syifa kepada bu Fitri.


Firasatnya mengatakan, bahwa Syifa akan membicarakan mengenai kejadian yang pagi tadi. "Kumohon, jangan bicarakan aku lagi di depan mereka... " Batinnya.


Sembari duduk seperti biasanya, Syifa berbicara dan bertanya suatu hal kepada bu Fitri. "Ini mengenai Fandi. Apa benar, Fandi pindah karena Daffa yang melakukannya?"


"Eits, kata siapa?"


Karena terbawa suasana, Syifa sampai berdiri di tempat duduknya dan juga mempercepat nada bicaranya. "Banyak, Bu ... Mereka semua pada mengira, kalau Daffa yang melakukan itu."


Bu Fitri menghela napas, wajah senyumnya mengarah pada Syifa seorang. "Tidak ... Itu sama sekali tidak benar. Fandi, Fendi, dan juga Fundi, mereka pindah dari sekolah ini karena mereka sendiri yang memintanya dan kata mereka, ini juga untuk kebaikan mereka sendiri."


"Mereka juga menitipkan pesan kepada Ibu, untuk Daffa dan pesannya itu sangat lucu, kalian semua mau dengar?"


"Mau ... !" Jawab para murid serentak.


Bu Fitri tak henti-hentinya tertawa kecil. "Haha ... Memangnya ada kejadian apa dengan kalian, sih? Kayaknya seru banget."


Daffa menahan malu saat mendengarnya sampai habis. Wajahnya dibuat seperti biasa-biasa saja, tapi dalam hatinya ia merasakan rasa malu yang sangat hebat.


"Aagghh ... Memalukan sekali, kalau memang ceritanya sememalukan itu, lebih baik tadi aku langsung menghentikannya saja." Gumam Daffa dalam hati.


Sementara Syifa, ia tetap berdiri tegak di sana, dengan pipinya yang agak sedikit memerah.


Walaupun begitu, Syifa masih dapat berbicara sangat lancar di depan teman sekelasnya dengan wajahnya yang ersenyum lebar.


"Bu Fitri mau mendengar ceritanya?"


"Boleh—"


"Mau ... !" Para murid tiba-tiba menyela perkataannya.


Teman sekelasnya terlihat sangat penasaran, suasana kelas menjadi sedikit ribut, ketika berbisik mengenai Syifa.

__ADS_1


Daffa plonga-plongo tengok kanan-kiri, ia menjadi bingung sendiri saking paniknya.


Daffa mencari celah untuk bersuara dan di saat waktu yang tepat, ia langsung tancap gas untuk berbicara. "Kalian semua tenanglah, lebih baik kita sudahi saja tentang berceritanya, lagian itu sama sekali gak ada menariknya—"


"Diamlah!"


Teman sekelasnya langsung membantah perkataannya, sudah begitu Daffa juga mendapat tatapan yang tajam dari mereka semua. "Heh ... "


Syifa membalik badannya ke arah Daffa, ia tampak menggerakkan tangan dan wajahnya, yang seperti berkata akan baik-baik saja. "Tenang saja, tidak usah khawatir."


Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sepertinya masih tidak setuju dengannya. "No no no ... "


Tapi Syifa tak menghiraukan Daffa, ia malah kembali membalik badannya dan lanjut berbicara. "Sstt ... Oke, ini akan saya ceritakan bagian serunya aja."


Teman sekelasnya langsung diam dan duduk dengan wajah menghadap Syifa.


Syifa pun memulai ceritanya seraya menggerakkan tangannya,agar terlihat lebih dramatis saja. "Malam itu .... "


Daffa menyandarkan kepalanya di atas meja, kedua telinganya ia tutup serapat mungkin, agar dirinya tidak bisa mendengar cerita dari Syifa yang sudah diketahuinya. Karena Daffa tahu, ia sendiri ada jelas di dalam cerita itu.


Daffa melepaskan seluruh gumam suaranya di dalam hatinya yang kosong, hingga ia baru tersadar dengan satu hal. "Eh, bukankah ini yang diinginkan olehku? Mereka nanti akan mengira aku dekat dengannya, tapi tidak lebih dari teman."


"Dengan begitu ... Mereka pasti tidak akan lagi merendahkanku, kan?" Gumam Daffa pelan.


Dan benar saja, setelah Syifa benar-benar selesai berbicara di kelasnya, itu tepat ketika bel jam pelajarannya bu Fitri berakhir.


Teman sekelasnya saat ini, memang tidak lagi memandang rendah Daffa.


Akan tetapi perasaan iri dan dengki telah meluap-luap di dalam tubuh mereka, hingga membentuk sebuah tatapan yang tidak mengenakan dari mereka kepada Daffa seorang.


Sebelum meninggalkan ruangan kelas, bu Fitri menyuruh murid-muridnya yang tadi melakukan kesalahan pada Daffa, untuk segera menyelesaikannya dengan permintaan maaf.


Tapi tak hanya itu saja, karena hari ini hanya diisi dengan bercerita saja, bu Fitri pun berinisiatif untuk memberikan tugas yang cukup banyak bagi mereka, tentunya dengan materi yang sudah dipelajari oleh murid-muridnya.


"Ayo, pada minta maaf dulu. Jadikan ini sebagai kebiasaan yah ... Dan jangan lupa kerjakan tugasnya juga."


Dalam waktu ini, Daffa benar-benar disibukkan oleh teman-temannya, yang terus berdatangan secara bergiliran sambil mengucapkan permintaan maaf.


Daffa dengan wajah biasanya, ia menerima permintaan maaf mereka sebaik mungkin.


Tapi ada satu hal yang benar-benar diketahui oleh Daffa, seluruh siswa datang dengan wajah yang setengah iri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2