Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 66 : Dua Jagoan Kampung


__ADS_3

Bertubuh besar dengan mempunyai wajah yang menyeramkan layaknya petarung tinju. Tingginya setara dengan Daffa, dua orang itu berdiri tegak di hadapan Daffa dengan tersenyum sinis.


Daffa tak mau kalah, ia mencoba terlihat tegar di hadapan mereka semua dengan membawa sejumlah aturan yang merepotkan dipandangannya.


Nama panggilan mereka yang sebenarnya saat masih berada di sekolah adalah Anto dan Roni.


Tapi sebut saja mereka sebagai dua jagoan kampung, Anto dan Roni mendapatkan julukan ini dari temannya sebab mereka yang selalu membuat onar di mana-mana.


Mereka tak lain lagi adalah teman satu sekolahnya Daffa yang dulu saat masih berada di desa ini.


Dari cara berjalannya dan gaya berpakaiannya sangat menyeleneh sekali dari kata pelajar, dan sangat memalukan di mata Daffa.


Itulah yang membuat Daffa lebih memilih kabur dari mereka agar berputar arah daripada harus meladeni sikap anehnya.


Dua jagoan itu terus berjalan mendekat dan mendekat, wajah mereka sangatlah meremehkan Daffa dan memandang rendah di matanya. "Pulang-pulang udah bawa anak? Hebat juga kamu, Daf."


Akan tetapi mereka tak tahu bahwa mereka lebih dipandang rendah lagi oleh Daffa, ia pun mencoba untuk menahan amarahnya saat berhadapan dengan mereka. "Ini mungkin kesempatanku, tapi rasanya tak enak jika dilihat orang lain."


"Anak!?" Syifa sontak terkejut, wajahnya memerah karena tersipu malu.


"Ei! Fasa anaknya kak Cifa? Yang benar aja, Fasa tuh adiknya kak Cifa tau..." Balas Fasa yang menentang perkataan mereka dengan wajah bete.


"Haha... Anak kecil ini pintar sekali ngomongnya," Tawa Anto dengan nada sedang.


Daffa menghela nafas, lalu ia membuka mulutnya dengan perlahan. "Kalian siapa?" Tanya Daffa baik-baik.


"Oi oi, jangan pura-pura lupa lo ya..."


Daffa sedikit menyengir menanggapi ucapan mereka. "Aku memang benar-benar tidak kenal dengan kalian, sekarang minggirlah, jangan ganggu kami..." Ucap Daffa walau perasaannya terasa muak.

__ADS_1


"Hah?!"


Daffa menyuruh mereka untuk segera pergi dari pandangannya, akan tetapi mereka justru tak menghiraukan perkataan Daffa.


Melihat hal itu, dalam hatinya Daffa merasa kesal, ia pun mencoba menarik Syifa dan Fasa agar menjauh dari malapetaka.


Daffa semakin kesal ketika dirinya kembali dihadang oleh kedua jagoan desa tersebut. "Eits, eits... Kalian mau ke mana? Jangan buru-buru gitu."


Langkah Daffa terhenti, bahkan ia terpojok di pinggir jalan yang tak begitu luas tapi panjang. Apabila mereka terpleset, basah sudah seluruh pakaian mereka terkena lumpur berair.


"Sombong banget lo Daf, niat kita tuh baik-baik mau kenalan, iya kan, Ron?" Ucap Anto dengan sedikit menurunkan badannya.


"Betul apa kata Anto, Daf... Kita tuh sebenarnya udah berubah." Sambung Roni mengiyakan perkataan Anto.


Daffa memasang wajah tak percaya sama sekali. "Tch, omong kosong!" Gumamnya dalam hati.


Dua jagoan kampung itu terus memandangi Syifa dan juga adiknya dengan tatapan mata yang aneh, wajah mereka tersenyum-senyum sendiri padahal tidak ada yang melawak.


Seiring mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, Anto tertampak menjulurkan salah satu tangannya yang mempunyai niatan menyentuh Syifa.


Tak mau mengambil risiko lebih dari ini, Daffa spontan langsung bergerak menahan lengan Anto dengan sekuat tenaga hingga dia tak bisa berkutik. "Sekali sentuh mereka, kuhajar kalian semua!" Ancam Daffa dengan suara yang sangat tajam di telinga yang mendengarkannya, tatapan matanya sangat menggambarkan jika dirinya benar-benar sedang dalam keseriusan.


Syifa yang sangat jelas mendengarkannya karena berada di belakangnya pun sampai melamun memandangnya, ekspresi wajahnya tampak terpesona tingkat tinggi dan dapat membahayakan Daffa jika ia mengetahuinya. "Ke-keren sekali..." Gumam Syifa.


Anto menarik kembali tangannya sesaat setelah itu.


Lawan bicara yang diancamnya seakan langsung keteteran karena mentalnya yang tiba-tiba menurun, namun itu tak berlaku bagi mereka berdua.


Anto dan Roni hanya menelan ludah, ia malah bersenda gurau meledek mengenai perkataan Daffa hingga tertawa terbahak-bahak di tengah-tengah jalan. "Bwahaha...! Ron, lo dengar? Dia bilang akan menghajar kita! Hahaha..."

__ADS_1


"Iyahahaha...! Aku tidak bisa berhenti tertawa, haha..." Roni ikut memeriahkan suasana.


Mereka benar-benar menganggap ancaman Daffa sebagai lelucon, perutnya terasa sangat sakit karena tertawa terlalu keras. "Haha... Udah-udah, ini perutku sakit sekali..." Ucap Anto dengan tawaannya yang makin lama makin mengecil.


Tak lama kemudian Anto dan Roni berhenti tertawa sepenuhnya, mereka kembali pada posisi awal yang saling berhimpitan. "Woy Daffa! lo gak ingat yah? Lo tuh udah gak punya Lio lagi sebagai pelindungmu." Bentak Anto yang raut wajahnya tampak merendahkan Daffa.


Perlu diingat kembali, Lio adalah nama panggilan seorang teman sekelasnya Daffa yang sudah dianggapnya sebagai sahabat, Lio sangat populer di-SMP desa ini lantaran dirinya yang serba bisa dalam semua hal, namun itu hanya bertahan lama dalam kurun waktu 1 tahun saja.


Masa kejayaannya Lio saat berada di bangku SMP kelas 8, ia duduk bersebelahan dengan Daffa di kelasnya hingga membuat mereka menjadi teman dekat, mereka pun bercanda gurau setiap harinya. Akan tetapi Lio memutuskan untuk pindah saat kenaikan kelas, dan sampai saat ini Daffa masih belum mengetahui alasan pindahnya Lio ke sekolah lain.


Roni menggerakan tangannya. "Di sini juga gak keliatan ada kepsek. Jadi ingat baik-baik Daf, jika sekali-kali berani dengan kami, lo akan tanggung rasanya!" Ucapnya seraya tangannya yang menunjuk-nunjuk ke segala arah seperti orang aneh.


Mereka sama sekali tak menghiraukan ancaman Daffa dan malah semakin menjadi-jadi.


Langkah demi langkah mereka lalui hanya untuk sampai menuju target, Anto yang paling depan tampak menjulurkan tangannya yang mengarah pada Syifa. "Oh iya neng, mau main sama abang gak?"


Di saat yang sama angin bertiup kencang menghantam semua orang yang berdiri di sana, bahkan butiran debu yang berserakan di jalan dapat terhempas berterbangan hingga menyebabkan udara di sekeliling menjadi kecoklatan.


Roni yang melihat arah datangnya sekumpulan angin itu, ia langsung membuang wajahnya ke bawah.


Bukan hanya Roni saja, bahkan Syifa pun refleks memejamkan kedua matanya, rambut panjang yang terurainya seketika berterbangan ke arah berhembusnya angin.


Tanpa disengaja, sehelai rambutnya tampak mengenai tipis jari tengahnya Anto.


Daffa melirik, kedua matanya yang sangat tajam memperhatikan gerak-gerik Anto. Daffa sangat jelas melihatnya karena terjadi tepat di sampingnya.


Dalam hatinya, sebenarnya Daffa sangat malas berurusan dengan suatu masalah, sebab masalah kecil dapat berubah menjadi masalah yang sangat besar dan rumit. Akan tetapi, ia tetap harus menepati janjinya sesuai perkataannya.


Warnanya kemerahan, emosinya bagai kobaran api kecil yang muncul dalam dirinya, Daffa yang sebelumnya masih bisa menahan kobaran api itu, kini malah membiarkannya begitu saja.

__ADS_1


Alhasil kobaran api yang melekat dalam dirinya hampir tak terkontrol sepenuhnya dan membuat kobaran api itu keluar dari jiwanya. Kobarannya terus membesar hingga dapat menyelimuti tubuhnya dan wujud apinya yang berubah kehitaman.


Bersambung....


__ADS_2