
Sampailah mereka di sana, namun tak terlihat satu pun adanya seseorang di luar sana maupun di dalam WC umum. Syifa dan Daffa merasa kebingungan padahal mereka sudah mencari disekitar tempat itu.
Karena sepertinya tak ada lagi harapan untuk menemukan seorang Melly di tempat ini, maka Daffa pun menyarankan Syifa untuk pulang terlebih dahulu.
Walau perasaannya sedikit khawatir dengan keadaan Melly, tetapi Syifa setuju dengan Daffa, ia memilih untuk pulang terlebih dahulu sebab keadaan di luar sana yang sangatlah dingin dan tubuhnya pun merasakan dampaknya.
Langit yang semakin gelap, udara yang semakin dingin dan jalanan yang nampak semakin sepi setiap detiknya. Hanya ada mereka berdua yang berada di jalanan sepi ini, walau begitu penerangan cahaya di jalan sangatlah mencolok, bahkan pandangan mata mereka sama sekali tidak terhalang karena banyaknya cahaya yang menerangi jalan.
Dalam hati Daffa, ia berkata, "Aku juga heran kenapa kali ini aku tak mengeluh, tetapi ketika aku melihat senyumannya, aku tersadar bahwa sebenarnya dia sangatlah ketakutan pada saat itu."
Daffa berjalan melalui dari sempit hingga lebarnya suatu gang atau bisa juga dari yang sepi hingga banyaknya kerumunan orang, bahkan ia sampai menahan rasa dinginnya udara yang berhamburan disekitarnya. Itu semua ia lakukan hanya demi mengantar seorang Syifa selamat sampai ke rumahnya.
"Apa kamu tidak merasa kedinginan?" Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Sejak tadi Syifa selalu memperhatikan gerak-gerik seorang Daffa, ia merasa tak enak karena telah menyusahkannya untuk yang kedua kalinya.
Daffa melirik ke arah belakang, ia cukup kebingungan untuk menjawab pertanyaan sesimpel itu. Dalam hatinya ia berkata, "Apa aku harus menjawabnya dengan berkata 'ini semua demi kamu, jadi gak apa-apa kok' tidak, itu hanyalah ucapan seorang yang bucin pada pasangannya. Terus bagaimana jadinya jika aku bilang 'gak kok, aku gak merasa kedinginan' tetapi itu tidak masuk akal, karena udara di sini sangat dingin. Jadi sepertinya aku harus berkata..."
Daffa membuka mulutnya. "Tidak usah khawatirkan aku, khawatirkan saja dirimu sendiri."
Tiba-tiba Syifa mengeratkan pegangannya pada Daffa. Nyatanya dalam sekejap sungguh itu membuat Syifa mewek, ia langsung saja menutupinya dengan kaos yang digunakan Daffa. "K-kamu jangan gerak-gerak! Itu membuatku terasa tidak nyaman..." Ucap Daffa sembari menoleh ke arah Syifa.
Malam itu, hari itu, jam itu, menit itu dan detik itu juga, Daffa memberanikan diri untuk mengatakan yang sebelumnya tak mau ia katakan. Dengan penuh percaya diri Daffa memanggilnya, ia mengatakannya secara terang-terangan kepada Syifa. "Syifa... Apa besok kamu mau menemaniku pergi ke desa tempat tinggalku yang dulu?"
Syifa sungguh terkejut ketika mendengar perkataan itu yang muncul dari diri Daffa. "Eh...?!" Matanya berkedip-kedip, ia diam tak menjawab apa-apa dan hanya menundukkan kepalanya untuk menahan rasa malu.
__ADS_1
Daffa yang sadar akan tak adanya jawaban dari Syifa, kepercayaan dirinya langsung menurun drastis layaknya terjun ke jurang yang sangat dalam. "Eh, lupakan saja apa yang kukatakan tadi!"
"L-langitnya indah sekali yah..." Dengan gugupnya Daffa langsung mengubah arah topik pembicaraannya dan secara sengaja ia mempercepat langkah kakinya. "Apa yang tadi aku katakan dah, haha." Gumamnya dalam hati.
Suasana diantara mereka benar-benar sangat canggung, tetapi itu tak berlangsung lama karena munculnya seseorang berparas laki-laki yang secara tiba-tiba berlari dari arah kiri
Seseorang itu mengerem laju larinya secara mendadak dihadapan mereka, tatapan matanya sangat tajam menatap ke arah Daffa dan Syifa hingga membuat hati mereka berdua terasa tidak nyaman. Sesaat kemudian pemuda itu kembali berlari ke arah kanannya Syifa dan juga Daffa.
Mereka berdua seketika langsung lega melihatnya pergi. "Huft... Bikin kaget saja."
"Cepat! Cepat...! Kita pergi dari sini," Pinta Syifa sembari mendorong-dorong badannya. "Takut yah? Haha..." Balas Daffa yang mengejek Syifa dengan tawaan.
"Ih apaan sih... Aku tuh nggak takut, cuma mau cari aman aja," Ucap Syifa cemberut.
"Iya-iyah... Aku mengerti kok, kan aku juga merasakan hal yang sama hehe..." Balas Daffa dengan tawaan.
Daffa pun kemudian menggerakkan langkah kakinya dan berlari lurus tanpa melihat ke kanan-kirinya.
***
Setelah melewati jalanan yang cukup panjang, akhirnya Daffa sampai di depan gerbang rumahnya Syifa. Tak terasa sekitar satu jam ia lewati hanya untuk berjalan menuju ke sini.
Daffa menunduk, ia menyuruh Syifa untuk segera turun dari punggungnya. Tetapi perkataan Syifa sungguh mengenainya, dia menolak sepenuh hati dan menyuruh Daffa untuk berjalan sampai pintu rumahnya. "Tidak mau, kamu harus mengantarkanku sampai depan pintu rumah."
__ADS_1
Mukanya pasrah seperti terpaksa melakukannya. Pintu gerbang terlihat terbuka, namun tak ada satupun yang menjaganya. Daffa pun melangkah melewatinya dan ia berniat untuk mengantar Syifa sampai pintu rumahnya.
Tetapi sesaat tiba-tiba Daffa berhenti di tempat, seakan-akan dirinya tak bisa bergerak. Matanya melebar, Daffa sedikit terkejut melihat banyaknya gerombolan di depan pintu rumahnya Syifa yang ternyata mereka adalah orang-orang yang tinggal di rumah sebesar ini.
"Syifa...?!" Ibunya Syifa menyadari keberadaan mereka dan di saat yang sama Syifa tampak turun dari pundaknya Daffa. "Awas pelan-pelan."
Fasa yang menoleh ke belakang, tiba-tiba ia langsung berlari secepat mungkin menuju mereka, namun di mata mereka itu sangatlah lambat. Tente Intan dan yang lainnya mengikutinya dari belakang.
Sesaat itu terlihat mengharukan, Fasa memeluk seorang Syifa dengan penuh kasih sayang, sesaat setelahnya tante Intan menyusul dan ikut memeluknya. Daffa melihatnya dengan jelas karena berada tepat di sampingnya.
Setelah momentum mengharukan itu, tanpa berlama-lama tante Intan langsung bertanya kepada mereka. "Ternyata bersama Daffa yah... Tapi kalian bertiga dari tadi ke mana aja? Ibu hubungi gak ada yang angkat sama sekali."
"Bertiga?" Daffa keheranan, ia coba menoleh ke belakang. Betul saja, salah seorang perempuan ada pada belakangnya. Daffa tercengang-cengang. "Eh, dia siapa?! Bahkan aku tak menyadarinya sama sekali!"
begitu pula dengan Syifa, wajahnya seperti penuh pertanyaan yang ingin di sampaikan kepada perempuan tersebut.
Tak diragukan lagi, perempuan yang mereka lihat adalah Melly. Melly sedikit melangkah maju, dia memegang tangannya Syifa. "Tadi kita bertiga habis pergi bersama dan tiba-tiba hujan turun, terus kita pulang dengan basah kuyup begini deh..."
"Apa benar tidak ada hal lain yang terjadi?"
"Tidak kok mah, kita hanya bersenang-senang saja kok, iya kan?"
"Ah, iya bener apa kata Syifa hehe..."
__ADS_1
Tante Intan mengangguk, dia sepertinya percaya dengan perkataan mereka bertiga. Tetapi sesekali tante Intan menatap sinis Daffa dan itu sangat tidak mengenakan baginya.
Bersambung....