Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 67 : Membalas Dendam


__ADS_3

Otot lengannya mendapat perintah langsung dari otaknya, sesaat setelahnya Daffa refleks menggerakkan tubuhnya. Daffa memulai serangan kejutannya dengan menarik lengan Anto dengan sangat kuat.


Sreeett!


Ketika lengannya ditarik, Anto sangat terkejut lalu dirinya spontan mengedipkan kedua matanya, dan yang lebih mengejutkannya lagi tahu-tahu dia sudah berdiri tepat di depan wajahnya Daffa.


Daffa tak bisa mengontrol dirinya karena ia telah terlarut-larut dalam kemarahan.


"Hei, sudah kubilang, kan? Untuk tak menyentuh mereka?" Bisa-bisanya Daffa mengucapkannya dengan santai saat di tengah-tengah perkelahian.


Sesaat setelah Daffa berkata, tampak lutut kakinya yang digerakkan ke atas, ia langsung menendang perutnya Anto tepat di tengah pusar. "Eh? Tapi aku tak merasa menyentuhnya..." Gumam Anto dalam hatinya.


Buuggh!


"Uhuk!" Anto terpental dengan wajahnya yang sangat menggambarkan kalau dirinya merasa kesakitan, akan tetapi tangannya Anto tampak masih melekat di genggaman Daffa.


Daffa tak membiarkannya leluasa untuk bernafas, kedua tangannya kemudian melintirkan lengan Anto hingga terbanting jatuh ke aspal jalan dengan bunyi yang keras.


Bruuukk!


"Akh!" Anto merasakan sakit yang sangat hebat di seluruh tubuhnya, dia berguling-guling sendiri berharap rasa sakitnya menghilang sedikit demi sedikit.


Namun Anto yang sudah jatuh, kini ia malah tertimpa tangga pula, dia justru menggelinding ke arah yang salah hingga membuat dirinya harus terjebur ke dalam perairan sawah.


Byuuurr!


Semuanya terjadi sangat cepat hanya dalam hitungan detik dan sangat bertepatan dengan hilangnya angin kencang yang barusan menghantam mereka. Sesaat setelah melihat Anto terjebur, Daffa langsung menoleh ke arah Syifa yang tengah berdempetan dengan Fasa lalu mengecek mereka. "Kalian baik-baik aja?" Rupanya mereka baik-baik saja.


Syifa tak menjawab sepatah kata pun, wajahnya sangat terpukau melihat aksi Daffa.


Adik Fasa yang melihat hal itu, dia pun menggantikan kakaknya untuk menjawab. "Fasa sehat kok, tapi wajah kak Cifa aneh." Rupanya mereka baik-baik saja, walaupun ada beberapa debu yang melekat pada pakaian mereka.


Di saat yang sama Roni membuka matanya, dia melihat Anto terjebur ke perairan sawah dengan suara yang cukup keras masuk ke telinganya.

__ADS_1


Roni seakan naik pitam ketika matanya melihat dengan jelas. "Woy, Daffa! Berani sekali lo ya...!" Teriaknya dengan matanya yang tampak membulat. Tanpa berlama-lama, Roni bersiap untuk langsung berlari tepat ke arah Daffa.


Daffa tak tinggal diam, ia memperlihatkan kuda-kudanya untuk membela dirinya, kedua tangan ia angkat dengan tangan kanan yang di tekuk paling depan. "Apa kau mau bernasib sama dengan dia?" Ucapnya pelan namun sangat tajam.


Roni yang melihatnya langsung mengurungkan niatnya untuk berkelahi dengan Daffa, dia dibuat kebingungan antara membantu temannya dulu atau melampiaskan kemarahannya kepada Daffa.


"Baiklah, kali ini gue mengampuni lo Daf, sekarang menyingkirlah dari muka gue." Roni memutuskan hanya berjalan melewati Daffa yang kemudian melihat ke arah perairan sawah sembari berjongkok diri. Dia melihat Anto yang tengah mengusap wajahnya, selain itu pakaiannya juga tampak basah kuyup, Roni pun berniat untuk menolong Anto.


Daffa melirik ke arah Roni di saat kakinya yang terasa sedang gatal, tak cukup hanya bila ia menggaruknya sendiri, ia pun terpikir sebuah ide yang cukup cermelang menurutnya.


Tertampak salah satu kakinya yang diangkat, Daffa menendang Roni tepat di bagian pantatnya hingga Roni ikut terjebur bersama Anto. "Waaaa...!"


Pluung!


Kepala Roni jatuh ke air terlebih dahulu, tapi untungnya kedua matanya tertutup secara otomatis sebelum bersentuhan dengan permukaan air. Airnya sangat keruh dengan lumpur berserakan yang sangat lembek saat terinjak di kaki.


Daffa tersenyum sinis, mereka tak mengira kalau sifat Daffa sangatlah licik. Daffa sangat puas melihat mereka sengsara seperti itu.


Sementara di lain sisi, para petani yang tengah bekerja tentu mendengar suara seseorang yang terjebur ke air. "Mbah, ada yang nginjek-nginjek tanamannya!" Teriak Daffa yang cukup keras.


"Itu mbah, orang yang udah nginjek-nginjek tanaman punya mbah." Jawab Daffa sambil menunjuk ke arah Anto dan Roni.


Akan tetapi ketika para petani melihat dengan jelas wajah mereka, itu malah membuatnya tersenyum-senyum kesenangan. "Mampus kalian ya... Makanya jangan sering bikin onar."


Ada salah seorang petani yang menghampiri Daffa sangat dekat, dia bertingkah sangat aneh di depan mata Daffa, sebab ia terus saja melihat perawakan Daffa dengan alis mengkerut, mulai dari kanan, kiri, bawah, hingga ke atas.


"Kamu nak Daffa yah?" Tiba-tiba saja ia menanyakan hal itu.


"Eh, eng... I-iya." Jawab Daffa dengan grogi.


Para petani yang mendengarnya pun syok dan tersadar, karena begitu berbedanya Daffa sekarang dibandingkan dengan yangdulu, walaupun baru beberapa bulan tak terlihat oleh mereka.


Mulai dari gaya berpakaiannya, gaya rambutnya, tinggi badannya, dan ada satu hal lagi yang berbeda dan membuat mereka sangat penasaran.

__ADS_1


"Nak Daffa, apa mereka itu anak dan kekasihmu?" Tanya petani tersebut mewakili rasa penasaran para petani lainnya.


Matanya melebar, Daffa terkejut mendengar pertanyaan mereka yang tak masuk akal. "Eh...."


Bukan hanya Daffa seorang saja yang terkejut, Syifa dan Fasa pun sama bahkan reaksinya lebih dari Daffa.


"Bukan! Aku tuh cuma temannya Daffa!" Teriak Syifa.


"Bukan! Fasa tuh adiknya kak Cifa!"


Teriak Fasa.


Kakak dan adik kompak berteriak bersama untuk menangkal pikiran yang tak masuk akal dari para petani tersebut.


"Oh, gitu ya... Kita juga mengiranya begitu."


Syifa teringat sesuatu, ia telah mengucapkan perkataan yang seharusnya ia tak ucapkan. "Eh, ehhh! Tadi aku bilang kata "cuma" Bukan? Nanti kalau dia berpikir bakalan jadi temanku terus selamanya, gimana?! Aaah, udah terlanjur..." Gumam Syifa dalam hatinya yang merasa geram dengan diri sendirinya.


Sesaat sebelum meninggalkan jejaknya di sana, Daffa bersalaman dengan seluruh para petani di jalanan sana, selepas itulah baru ia pergi bersama Syifa dan Fasa. Sementara dua jagoan kampung itu tengah diurus oleh para petani untuk dinasihati dengan cukup keras.


Di saat perjalanan, Daffa menawarkan kepada Fasa. "Ini bakalan panas banget, Fasa mau digendong?"


"Tidak, Fasa gak mau, nanti kayak tadi lagi," Fasa langsung menolak tawarannya, itu semua karena Fasa mengingat kejadian yang tadi dilakukan oleh Daffa yang menggendongnya dengan asal-asalan seraya berlari kencang.


"Fasa maunya sama kak Cifa ajah." Pinta Fasa kepada Syifa seraya mengulurkan kedua tangannya tepat ke arah wajahnya Syifa. Tampaknya Fasa lebih memilih untuk digendong oleh kakaknya sendiri.


"Eh... Tapi kan ini udah mulai terasa panas banget." Keluh Syifa sembari mengipas wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Syifa melihat wajah adiknya, ia sangat tak tega menolak permintaannya. Syifa mendengus, tertampak dirinya yang tengah membuka sebuah tas slempang miliknya.


Sebuah kipas tangan berbentuk mini keluar dari tas tersebut, Syifa lalu memberikannya pada Fasa tanpa mengucapkan apapun.


Fasa menerimanya, wajahnya cukup senang karena diberikan kipas tersebut, selepas itu barulah Syifa menggendong Fasa di pinggangnya.

__ADS_1


Sementara Daffa, ia justru terheran-heran melihat mereka yang sudah terbiasa membawa alat-alat yang tak biasa ke mana saja. "Eeehh... Emang ada yah, kipas seperti itu?"


Bersambung....


__ADS_2