Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 89 : Hanya Sekadar Gurauan


__ADS_3

"Tidak." Tolak Daffa singkat.


"Heh ... Jangan dingin begitu dong."


Sebenarnya setelah jam istirahat kedua, saat masih jam pelajaran sekolah, Daffa mengajak bicara Melly sebentar. Inti dari pembicaraan tersebut, Daffa hanya ingin meminta Melly agar sepulang sekolah pergi menuju atap sekolah.


Dan terjadilah pertemuan yang cukup tegang ini, di masa pulang sekolah.


Akan tetapi di balik permintaannya itu, Daffa ternyata juga mempunyai niat tersembunyi yang hanya diketahui oleh diri sendirinya saja.


"Melly, tolong kamu jawab dengan jujur. Apa kamu yang menyuruh murid-murid kelas lain ... Menuju ke kelas kita?"


Mendengar hal itu, Ekspresi wajah Melly menjadi seperti sedang menahan tawa, ia pun tak kuasa menahannya lebih lama lagi.


"Ppffft ... Hahaha ... ! Kamu malah mengingatkannya lagi."


Daffa jadi merasa malu sendiri, karena melihat tawaan Melly yang berlebihan. "A–apa?! Jangan malah tertawa!"


Tak ada setengah menit, Melly menyudahi tertawanya yang sangat menghibur bagi hatinya.


"Tidak ... Tidak ... Aku hanya menggiring mereka." Jawab Melly meski telat.


"Menggiring? Kau bercanda? Itu sih sama aja!"


Bentakkan Daffa seakan membuat Melly kaget sampai ke ubun-ubunnya, hingga dia meloncat dengan sendirinya. "Uwah, bikin kaget saja ... "


Melly memegang dadanya, lalu ia menasihati Daffa. "Kamu jangan teriak-teriak mulu, nanti suaramu bisa habis lho."


"Itu tidak akan terjadi pada diriku." Balas Daffa, ia menyepelekan nasihatnya.


Melly kemudian berdiam diri sampai memejamkan kedua matanya, ia tampaknya mulai fokus untuk berpikir sejenak dan mengingat kembali kejadiannya.


"Hmmm ... Yap, itu memang aku!"


Dengan perasaan yang penuh kepuasan, Melly tersenyum lebar di hadapan Daffa dengan kedua sisi giginya yang menempel erat. "Hihi!"


Akan tetapi, entah mengapa itu malah membuat Daffa merasa sangat kesal. "Sial! D–dia seperti tidak merasa bersalah saja." Gumamnya dalam hati.


"Bisa-bisanya kamu mengucapnya seperti tidak punya salah aja."


"Heh ... Sudah kubilang, kan? Justru kamu seharusnya berterima kasih padaku, yang pintar bin cantik ini tentunya." Melly memuji dirinya sendiri.


"Berterima kasih?"

__ADS_1


Melly mengangkat jari telunjuknya, yang kemudian menunjuknya ke arah bagian dahi sampingnya. "Iyalah ... Karena itu, kamu bisa lebih dekat lagi dengan Syifa, pintar kan aku?"


Kalau Daffa mengingatnya lagi, berarti ini sudah yang kedua kalinya Melly berbicara persis seperti itu.


"Oh, gitu."


Daffa hanya meninggalkan secuil kalimat sebelum dirinya melangkah pergi mengarah sebaliknya.


Tentu Melly juga merasa kaget dan kebingungan, ketika melihat Daffa yang pergi meninggalkannya begitu saja secara tiba-tiba.


"E—eh, kamu mau ke mana?"


"Pulanglah, sih ke mana lagi?"


Sebelum keluar dari tempat itu, Daffa terlebih dahulu mengambil tas ransel miliknya yang tergeletak di atas lantai, tempatnya bersandar tadi.


"Hah? ... Udah gitu doang? Kamu manggil aku ke sini buat nanya itu doang? Aku kira bakalan nanya yang lain lagi, yang pertanyaannya berbobot gitu." Melly mengeluh kepada Daffa, selagi melihatnya berjalan ke arah pintu.


"Untuk sementara ini itu aja."


Ketika telah mencapai persis di depan pintu yang saat ini tengah dipegangnya, Daffa mendadak kepikiran sesuatu setelah mendengar semua ucapannya Melly.


Sambil memegang pintu tersebut, Daffa kemudian menoleh ke belakang dan menatapnya. Ia sepertinya akan bertanya satu hal kepada Melly.


"Ah, aku baru ingat. Sebenarnya ... Ada satu hal yang mengganjal di dalam pikiranku, dan aku sangat penasaran."


Daffa akan mengucapkan sebuah kalimat pertanyaannya, namun entah mengapa, tiba-tiba itu menjadi sesuatu hal yang sangat sulit untuk dilakukannya. Seakan-akan perutnya menahan mulutnya untuk berbicara.


"Emm ... Apa ... A—apa sebelumnya ... Syifa sudah pernah mempunyai p–pacar?" Daffa akhirnya dapat mengatakannya, walau rasanya terdengar seperti terpatah-patah.


Mendengar hal itu, seketika membuat Melly tersenyum tipis. "Finally, benih-benih cinta udah mulai tumbuh." Gumamnya dalam hati.


"Heh ... Apa tadi? Bisa diulangi lagi gak? Aku tidak mendengarnya dengan jelas soalnya." Pinta Melly.


Perkataan Daffa yang sangat berantakan membuat Melly sedikit kesusahan saat akan mendengarnya.


Sadar akan dirinya yang barusan berkata seperti orang tak jelas, Daffa pun kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu berusaha mengulangi kembali perkataannya.


"A—apa sebelumnya Syifa sudah pernah mempunyai pacar?"


Kali ini suaranya begitu jelas terdengar oleh Melly. "Oh, jadi kamu mau tahu tentang itu, yah? ... "


Tap.

__ADS_1


Melly melangkah maju ke depan, ia berjalan mendekati ke arah Daffa dengan pelan. "Kau tahu? Syifa sebelumnya juga udah punya pacar lho. Tapi ... "


Melly menggantung perkataannya, dan lebih berfokus pada langkah kakinya yang terus mendekati Daffa dari detik ke detik.


Tap ...


Tap ...


Tap ...


Daffa agak sedikit kaget ketika mendengarnya, ia tampaknya juga semakin penasaran dengan kelanjutannya. "Tapi apa?"


Tap! Suara hentakkan kaki Melly.


Melly sedikit menekan kakinya lebih keras saat sampai tepat di sebelahnya Daffa.


Tangannya tiba-tiba menepuk bahunya Daffa dengan pelan, dan ia menundukkan kepalanya ke bawah.


Entah mengapa Daffa merasa sangat tegang saat ini, saat berhadapan langsung dengan Melly. Bahkan Daffa tak berani melirik nya sedikitpun ke arah Melly, dan hanya menatap ke depan saja.


"Tapi boong!"


"Hah?" Daffa melirik ke arah Melly, mulutnya menganga karena saking saking bingungnya dirinya dibuat oleh Melly.


"Hehe ... Mana mungkin seorang sepertinya mau memiliki pacar. Itu sangat mustahil." Ucap Melly dengan gurauan.


Ternyata itu hanya candaan yang dibuat Melly, tapi begitu menjengkelkan bagi Daffa. "Sial, aku dipermainkan olehnya." Daffa sangat geram.


Daffa tahu Melly itu seorang perempuan, karena itulah ia harus berlapang dada, meski sifatnya sangat mengesalkan saat berhadapan dengannya.


Daffa kemudian menghirup napas, lalu membuangnya dalam sesaat. Kedua tangannya yang tadi terus bergemetaran, kini menjadi lebih tenang. "Ohh ... Aku baru tau."


Tak berselang lama, Melly melangkah maju ke depan melewati Daffa dengan senyuman tipisnya yang terlihat jelas oleh Daffa sendiri.


Melly berhenti di tengah-tengah jalan, Lagi-lagi ia melirik ke arah Daffa, namun kali ini dengan ekspresi wajah yang sedikit berbeda dari sebelumnya. "Yah ... Itu memang mustahil. Kecuali denganmu, Daffa."


"Haha, palingan juga kamu sedang bercanda lagi." Ucap Daffa yang sama sekali tak memercayainya.


Melly menggelengkan kepalanya. "Tidak, karena itulah aku terus membantu kamu mendekati Syifa. Percaya tidak percaya, kamu harus mengingatnya. Paham, kan?"


Melly mengernyitkan alisnya, tiba-tiba tatapannya menjadi sangat tajam.


"Hey, kamu pasti tidak mau orang yang disukaimu direbut orang lain, kan? Sama, aku juga ... !"

__ADS_1


"Jadi ... Kamu cukup ikuti saja apa perkataanku, dan semuanya akan berjalan lancar dengan sendirinya." Sambung Melly dengan nada yang pelan, namun masih dapat terdengar jelas oleh Daffa.


Bersambung ....


__ADS_2