
Tanpa disadari, mereka tahu-tahu sudah hampir setengah jalan memakan isi bekalnya. Mungkin karena mereka berdua yang merasa terlalu keasyikan, ketika saling mengobrol tentang obrolan kecil.
Syifa memejamkan matanya dan kemudian berkata suatu hal. "Daffa, apakah kamu mau tahu Rio akan datang ke sini kapan?"
"Memangnya kapan?" Tanya Daffa, itu membuatnya sedikit penasaran.
Lalu Syifa pun membuka matanya perlahan. "Rio akan datang sebentar lagi, lebih tepatnya minggu depan."
"Uhuk!"
Daffa tiba-tiba tersedak, sesaat setelah mendengar kalau Rio akan tiba saat minggu depan.
Tangannya berkeliling mencari-cari sebuah botol minumnya, dengan matanya yang hampir tertutup rapat.
Akan tetapi Daffa lupa dan baru menyadarinya, kalau dirinya tidak membawanya sejak awal berangkat sekolah.
Syifa yang tak tega melihatnya, ia langsung berinisiatif membuka tutup botol minumnya dan memberikan botol tersebut kepada Daffa.
Tangan Daffa menerimanya dan tanpa pikir panjang, ia langsung meminumnya dalam beberapa tegukan.
"Gluk!"
"Gluk!"
"Gluk!"
Daffa mengembalikannya kembali botol tersebut kepada Syifa, setelah cukup banyak meminumnya.
Syifa menerima botol tersebut. "Daffa, apa kamu sadar yang sudah kamu lakuin barusan?"
Daffa sama sekali tidak maksud dengan perkataannya. "Tidak, memangnya apa?"
Pipi Syifa sedikit memerah. "Ciuman tidak langsung."
Daffa kaget mendengarnya, hingga dirinya refleks menelan ludahnya sendiri.
Sedangkan Syifa, ia menutup botolnya dan kemudian menaruhnya kembali di atas meja. "Wajahmu kenapa melongo begitu, liatin aku melulu?"
Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. "Ah, tidak. A—apa berarti ini ... Aku bisa terkena Virus?"
"Virus?" Syifa tak mengerti sama sekali.
Berselang sekian detik, Syifa langsung paham apa yang dimaksud Daffa. Wajahnya seakan berubah menjadi cemberut, seiring dengan matanya yang menatap Daffa.
"Kalau tidak mau terkena Virus, ya minumnya jangan sampai nempel botolnya aku. Wuuu ... " Gumam Syifa lirih, dengan berwajah kesal dan perasaan tidak niatnya untuk berbicara.
__ADS_1
"Hah, apa? Aku tidak mendengarnya dengan jelas."
"Bukan apa-apa." Ketus Syifa sambil mencibirkan bibirnya.
Agar rasa kekesalannya tak menjulang tinggi, Syifa mendadak mengambil botol minumnya, lalu meminumnya dengan perlahan.
Daffa yang sudah berpikiran positif, langsung hancur seketika saat melihat Syifa yang sedang minum dengan sangat jelas.
Daffa sangat malu ketika baru mengetahuinya, hingga mulutnya menganga. "A—a–a ... "
Daffa langsung berpaling dari Syifa, sebab ia mencoba untuk mengontrol dirinya dari godaan yang tertera jelas di hadapannya.
Daffa kemudian mengalihkan pembicaraan dengan berkata tentang suatu hal yang mengarah pada perintahnya, yang sebelumnya pernah diberikan kepada Syifa.
"Syifa, apa data-datanya sudah terkumpul semua?" Ucapnya sangat pelan dan lirih, namun masih dapat didengar jelas oleh Syifa.
Mendengar akan hal itu, Syifa seketika langsung menyumpal mulut Daffa dengan sebuah sendok berisi nasinya, hingga Daffa tak bisa bicara dengan jelas.
"Kenapa kamu nanyain itu mulu sih? Gak sabaran amat, semuanya itu akan selesai dalam beberapa hari ke depan."
Syifa mengucapkannya seraya mendekatkan wajahnya yang sewot itu pada Daffa, hingga membuatnya ketakutan dan hanya bisa mengangguk saja.
Dengan terpaksa, Daffa mengunyah dan memakan nasi yang tersumpal di mulutnya.
Di saat itu, Daffa seperti mendengar suara yang tidak beres di depan ruangan kelasnya. Suaranya begitu halus dan kecil, namun semakin lama suara tersebut semakin mengeras.
Tubuhnya seakan-akan bergetar, ketika melihat dari ujung kiri hingga ujung kanan, semuanya dipenuhi oleh sekumpulan murid.
Tak hanya murid -murid dari kelasnya saja, namun juga beberapa murid dari seluruh kelas yang ada di sekolahnya.
Mereka semua sangat antusias sekali, saat bareng-bareng mengintip Daffa dan Syifa dari balik pintu maupun kaca jendela kelas, hingga tak ada satupun tempat yang terkosongkan.
Kepala Daffa serasa ingin meledak, ketika mengetahui kalau beberapa di antara mereka ada yang memegang ponsel. Dan yang membuatnya lebih panik lagi, mereka arahkan ponsel tersebut tepat ke keberadaan Daffa dan Syifa.
Baru kali ini Daffa merasakan menjadi pusat perhatiannya oleh murid sebanyak itu, secara terang-terangan.
Daffa tak mau melihatnya lebih lama lagi, sebab ia tak kuasa lagi menahan malunya yang sudah menumpuk di urat malunya.
"Daffa ... " Panggil Syifa.
"Ya?" Ucap Daffa yang kemudian kembali mengahadap ke Syifa.
Syifa tampak mengambil nasi dengan sendoknya. Syifa mengulurkan tangannya, ia mengarahkan sendok tersebut ke arah mulut Daffa. "Aaa ... "
"Kamu menyuruh aku memakannya?"
__ADS_1
Syifa mengangguk sambil tersenyum, akan tetapi Daffa menolaknya dengan cara menutup rapat mulutnya, dibarengi tangannya yang mengangkat untuk menghalangi jalannya sendok tersebut.
Syifa akhirnya tak jadi menyuapinya dan ia pun menumpahkan kembali nasi itu ke dalam bekalnya bersama sendoknya.
Syifa kemudian mengangkat tangannya ke atas meja.
Daffa seakan tak bisa berkedip, ketika melihat sosok Syifa yang tengah menyangga dagunya dengan telapak tangannya. Senyuman wajahnya begitu manis, hingga dapat menusuk Daffa beberapa kali.
"Kita tidak bisa mengelaknya lagi kan, Daffa? ... " Syifa mengucapkannya dengan lembut.
Daffa mendadak menepuk pipinya sendiri dengan kedua tangannya.
"Pluk!"
Sambil duduk, Daffa memanggilnya dengan nada panik. "Hey, Syifa ... Kamu tidak lihat mereka sedang apa?! Buruan lakuin sesuatu ... "
Syifa tak bergerak sama sekali, ia hanya mendengarkannya sambil menatap Daffa terus-menerus.
Karena itulah Daffa tak berani lama-lama menatapnya dan lebih memilih memandang ke arah lain, sebab dapat berpotensi menggoyahkan dirinya.
" ... Biasanya, kamu langsung mendatangi mereka, terus memarahinya satu per satu sampai jera dan mengusirnya dengan paksa."
"Itu mah kalau biasanya ... Tapi ini aku lagi gak biasanya sih, gimana?"
"Lah ... " Daffa mengernyit alisnya karena keheranan.
Daffa pun hanya pasrah saja dan kemudian membuang wajahnya jauh-jauh dari sorotan mereka.
Daffa menghindari para murid, pandangannya tampak beralih mengarah ke jendela luar dengan posisi tangan yang hampir mirip seperti Syifa.
"Bentar, tadi kan Melly izin keluar ... Dia ingin bertemu dengan temannya ... Oh, aku paham." Gumam Daffa dalam hati.
Angin dari luar tiba-tiba berhembusan masuk melalui jendela, begitu kencang hingga melewati Daffa dan Syifa.
"Huh, lagi-lagi aku harus terjebak dalam skenarionya ... " Batinnya.
Tepat saat bel istirahat telah berakhir berbunyi, terdapat beberapa murid yang menyuruh para murid untuk segera berjalan bubar. "Ada apa ini? Kelas kita kok jadi ramai banget ... Memangnya mereka pada liatin apa sih, jadi penasaran deh."
Murid-murid tersebut menerobos masuk ke dalam kelas. "Minggir-minggir, kita mau lewat ... "
" ... Kalian tidak dengar, kalau ini sudah bel masuk?"
Ternyata murid-murid tersebut antara lainnya adalah Ridho, Farrel, Vira, dan juga Bella.
Mereka berempat mengagetkan Daffa dan Syifa, karena tiba-tiba muncul di hadapannya. "Wah ... Wah ... Ada yang pacaran diam-diam, nih."
__ADS_1
Bersambung ....