Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 21 : Masa Lalu Yang Kelam


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, Ibunya Daffa atau lebih tepatnya Ibu Ayu kini sedang menyapu lantai rumahnya yang masih terdapat banyak debu bertebaran, sementara Daffa masih tertidur pulas di kamarnya.


Ibunya Daffa itu beberapa kali mendengar suara handphone berdering yang berasal dari kamarnya Daffa.


"Apa itu asalnya dari handphonenya Daffa?" Gumam Ibu Ayu.


Karena Ibu Ayu tak mau hal sepele tersebut dapat membangunkan anaknya yang tengah tertidur pulas, jadi ia mencoba mematikan asal suara tersebut.


Sesampainya di kamarnya Daffa, Ibu Ayu mengambil handphone milik Daffa lalu ia tampak sedikit terkejut melihat isi pesan yang ada di layar handphone tersebut.


Ibu Ayu segera keluar dari kamarnya Daffa lalu menutup pintunya dengan pelan-pelan sambil membawa handphonenya Daffa.


"Teman-temannya Daffa akan datang ke sini?!" Ucap Ibu Ayu dengan sangat antusias sambil melihat layar handphone tersebut.


Kemudian Ibu Ayu mengetik sesuatu di handphone tersebut dengan cepat lalu ia mengirimnya.


Baru saja Ibu Ayu mengirim pesan tersebut, tiba-tiba ia mendengarkan suara kendaraan yang berhenti di depan halaman rumahnya.


"Eh? Suara mobil siapa itu?" Ibu Ayu penasaran.


Karena Ibu Ayu penasaran dengan suara tersebut, ia pun berjalan menuruni tangga lalu keluar melewati pintu rumahnya.


Sesampainya di depan teras rumahnya, Ibu Ayu terkaget saat dirinya melihat sekolompok pemuda turun dari mobil mewah tersebut dengan berpakaian seragam sekolah sangat mirip dengan Daffa.


"Apa jangan-jangan!?" Ucap Ibu Ayu yang terkaget-kaget.


Tiba-tiba saja terdapat segelintir tetesan air mata berjatuhan dari sudut mata Ibu Ayu. Ibu Ayu tampak menangis dengan perasaannya yang terharu itu.


"Begitu ya, ternyata Daffa benar-benar mempunyai teman." Ucap Ibu Ayu yang terharu.


Tak lama kemudian, Ibu Ayu segera mengusapkan air matanya yang tampak keluar itu menggunakan pakaiannya, karena Syifa dan teman-temannya tengah berjalan bersama menuju kepadanya dengan membawa buah tangan.


"Kalian pasti teman-temannya Daffa, kan?" Tanya Ibu Ayu.


"Iya Ibunya Daffa," jawab Syifa dan yang lainnya bersamaan.

__ADS_1


"Panggi aja tante Ayu yah..." ujar Ibu Ayu sembari tersenyum lebar.


"Maaf tante, mata tante kok memerah?" Tukas Bella.


"Eh? Yang betul?" Ibu Ayu kembali mengusap-usap matanya menggunakan tangannya, "Ini gak apa-apa kok, yuk langsung masuk ke dalam ajah, gak usah malu-malu yah." Sambungnya.


Ibu Ayu menuntun Syifa dan yang lainnya supaya masuk ke dalam rumahnya. "Ayo sini, kita masuk ke kamarnya Daffa."


Ibu Ayu pun terus menuntun teman-temannya Daffa menaiki tangga, kemudian mereka semua tampak melihat Daffa yang tengah tidur terbaring di kasurnya setelah mereka memasuki kamarnya Daffa yang tidak di kunci itu.


"Jadi ini kamarnya Daffa yah?" Ucap Ridho.


Farrel menghampiri Daffa yang tengah tidur lalu berkata, "Ternyata Daffa benar-benar sakit ya?" Belum sempat Farrel selesai bicara, tiba-tiba Bella memotong ucapannya. "Maaf Tante, dia emang suka ngomong yang aneh-aneh," tukas Bella sembari menutupi mulut Farrel dengan sangat rapat.


"Nggak apa-apa kok," balas Ibu Ayu dengan sedikit tertawa.


Ibu Ayu menyuruh mereka semua untuk duduk di situ, sedangkan dirinya turun ke bawah untuk membawa beberapa camilan dan minuman untuk mereka.


Tak butuh waktu lama, Ibu Ayu kembali bersama kucing peliharaan kesayangannya yaitu Miko yang tiba-tiba ikut, lalu ia memberikan camilan tersebut kepada Syifa dan yang lainnya.


"Ini dari kita semua Tante, nanti suruh Daffa makan buah-buahannya yah tan." Ucap Vira seraya memberikan satu kantong plastik yang penuh dengan buah-buahan kepada Ibu Ayu.


"Terima kasih banyak, padahal gak usah repot-repot membawanya." Ucap Ibu Ayu.


"Gak apa-apa kok Tan, semua ini terjadi juga karena salah kami," ucap Syifa dengan tersenyum, "Terutama mereka berdua tuh." Sambungnya seraya melirik tajam ke arah Ridho dan Farrel.


"Eh? Bukannya kau yang paling parah?" Ucap Ridho dan Farrel bersamaan dengan lirih.


"Benar apa kata Syifa. Tadi sebelum ke sini, kami semua berniat membeli hadiah pakaian untuk Daffa juga, tapi karna tidak tau warna kesukaannya Daffa, jadi kita putuskan Ibunya aja yang membelinya." Vira melanjutkan perkataan Syifa.


"Maksudnya tante yang membelinya itu apa ya?" Tanya Ibu Ayu kebingungan.


"Itu di dalam kantong plastik ada uang, nanti uang tersebut buat tante beli pakaiannya Daffa dan keperluannya tante," terang Bella.


"Kenapa kalian harus repot-repot segala, padahal tidak usah," Tanya Ibu Ayu sedikit terkejut.

__ADS_1


"Waktu kemaren malam, Daffa bilang kepada kami kalau dia ingin menggunakan pakaian yang baru dan bagus karena pakaian yang lama udah pada jelek katanya." Terang Syifa dengan lembut supaya Ibu Ayu mau menerimanya.


Sementara itu, teman-temannya malah tampak bengong melihat Syifa yang sangat pintar berakting itu.


"Eh... Begitu ya? Tapi kenapa Daffa tidak langsung bilang ke Tante yah..." ucap Ibu Ayu sembari berpikir dan memegangi dagunya.


"Iya tan, sekali lagi kami minta maaf telah memaksa Daffa untuk ikut." Syifa kembali mengucapkannya dengan lembut.


"Gak apa-apa kok, kalau Daffa nya emang tidak mau walaupun sudah dipaksa, dia pasti sudah nekat pulang sendiri, tapi dia malah ikut sama kalian sampai selesai." Jelas Ibu Ayu.


"Oh..." Syifa dan yang lainnya paham.


"Terus tadi Tante tampak seperti mengeluarkan air mata, kenapa ya?" Tanya Vira.


"Oh tadi ya?... nggak apa-apa kok, tante cuma terharu karena dulu Daffa mempunyai masa lalu yang kelam, dan sekarang dia sudah benar-benar mempunyai teman," terang Ibu Ayu dengan perasaan bahagia.


"Masa lalu yang kelam? Bisa diceritain lebih jelasnya gak, tan?" Pinta Vira.


"Iya Tante, kami sangat penasaran," mereka semua sangat penasaran kecuali Syifa yang hanya melihati teman-temannya sambil memakan camilan.


"Iyah deh, tante ceritain singkatnya tapi cuman yang tante ketahui aja yah... Soalnya kan yang mengalami anak Tante bukan tante. Lagi pula Daffa gak mau bicara apa-apa waktu itu." Ucap Ibu Ayu.


"Okeh...."


Teman-temannya Syifa tampak duduk menghadap ke arah Ibu Ayu dengan muka penasaran, kemudian Syifa ikut-ikutan seperti teman-temannya.


Ibu Ayu kemudian menceritakan secara singkat tentang masa lalunya Daffa.


"Keluarga kecil Tante pindah ke kota ini baru sekitar satu bulan belakangan, sebelumnya tante, om, dan Daffa tinggal bersama neneknya Daffa di desa dekat kota ini. Daffa dari dulu memang selalu menyendiri, jarang berbicara, tidak suka bergaul dan karena itu dia selalu di jauhi oleh teman sekelasnya waktu SD. Puncaknya pada waktu Daffa duduk di bangku SMP atau lebih tepatnya saat ia masih kelas tujuh, saat itu Daffa selalu di bully, dikerjain, dan juga dikerasin oleh teman sekelasnya. Kadang-kadang juga Daffa pulang sekolah dengan seragam sekolahnya yang kotor maupun basah. Beruntungnya setelah memasuki semester genap, ada seseorang pindahan dari sekolah kota lain ke sekolah dan kelasnya Daffa. Suatu saat, Daffa tampak akan dipukuli oleh teman sekelasnya karena ia tidak menuruti perkataan mereka, dan Daffa hanya pasrah dihadapan mereka semua. Namun, tiba-tiba murid baru itu menyelamatkan Daffa dengan sekejap dari mereka yang ingin memukulinya. Setelah kejadian itu, lama-kelamaan Daffa dan murid baru itu menjadi sangat akrab, namun itu tak berlangsung lama, karena murid baru itu pindah ke sekolah lain lagi saat Daffa baru memasuki kelas delapan. Daffa sangat sedih mendengarnya kalau murid itu akan pindah ke sekolah lain. Kemudian murid itu melakukan perjanjian dengan Daffa sebelum ia pergi. Perjanjiannya adalah agar Daffa harus berubah dan mempunyai banyak teman sebelum bertemu kembali dengannya suatu saat nanti. Daffa pun tampak setuju dengan perjanjian itu."


"Nah udah selesai..." Ucap Ibu Ayu sembari menghela nafas setelah bercerita panjang lebar. "Eh? Kok pada diem?" Sambungnya.


Ibu Ayu tampak sedikit kaget ketika melihat Syifa dan yang lainnya tidak berbicara satu kata pun dan hanya memasang ekspresi yang berbeda-beda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2