Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 95 : Mata Yang Bergerak Sendiri


__ADS_3

Begitu dingin, hening, dan kondusif suasana saat ini.


hanya ada dua macam suara yang terdengar di telinganya.


Serangga yang dapat mengeluarkan suara begitu menyaring, dan yang satunya lagi, yaitu suara ketukan jam dinding yang sangat mengganggunya, karena setiap saat dapat menggetarkan jantungnya.


Tepatnya itu ketika waktu malam hari, Daffa tengah duduk di atas sofa, kepalanya menengadah ke atas memandang atap rumah.


Di rumahnya hanya ada dirinya saja, karena kedua orang tuanya sedang pergi keluar rumah.


Sesekali Daffa menengok ke arah jam dinding, lalu berganti mengarah jam yang menempel di tangannya.


Tak seperti biasanya Daffa mengenakan jam tangan, tapi bukan baru kali ini ia mengenakannya, karena jam tangan itu sudah ada sejak Daffa masih duduk di bangku SMP.


Sambil duduk santai, Daffa saat ini sedang mengumpulkan niatnya untuk pergi ke rumah Vira.


Walaupun keadaan saat ini Daffa sedang malas gerak, tapi ia sudah beres memakai baju polos hitam-hitam. Ia seperti suka sekali dengan warna yang tidak mencolok.


Pikirannya sedang dibingungkan oleh dua pilihan, mau meminta bantuan mereka dengan cara menelponnya seperti apa kata Ridho dan Farrel, atau harus ke sana sendiri tanpa bantuan mereka.


"Tapi aku tidak begitu tahu arah jalanannya!" Gumam Daffa, itulah yang membuatnya ragu-ragu membuat keputusan.


Ini sudah jam 19:47 dan Daffa masih kebingungan di tempat yang sama.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiba-tiba terdengar cukup keras suara ketukan pintu dari luar berkali-kali.


"Apa ibu sudah pulang?" Gumam Daffa.


Sambil membawa ponselnya, Daffa bangun dari tempat duduknya, ia berjalan mengarah ke pintu.


Daffa berangan-angan kalau itu adalah ibunya yang telah pulang ke rumah, dengan cepatnya ia sampai di depan pintu.


"Ibu? ... " Ucapnya.


Tapi ketika Daffa membukakan pintunya, ia merasa sedikit terkejut melihatnya, pasalnya bukan seorang ibunya yang ia lihat, melainkan Syifa yang tanpa sepengetahuannya datang kemari untuk kedua kalinya.


"Assalamu'alaikum ... "


"Wa'alaikumussalam ... " Daffa mengatakannya dengan wajah yang terbengong.


"Aku bukan ibumu ... " Ucap Syifa, mata sinisnya menatap Daffa.

__ADS_1


"Ah, aku tau itu ... "


Daffa berhenti di tengah pembicaraan, mereka berdua malah saling tatap-menatap, menatap-tatap. Yang satu bermuka heran, yang satunya lagi bermuka masam.


"Eh, yang lebih penting lagi, kenapa kamu diam-diam ke sini lagi?!" Daffa melihat-lihat sekitarnya Syifa. "Dan sekarang kamu ke sini sendiri? Tidak ditemani siapapun?"


"Iyah, seratus buatmu." Jawab Syifa singkat.


Sekali lagi Daffa melihat keadaan di sekitar rumahnya, kemudian ia tiba-tiba menarik lengan Syifa hingga masuk ke dalam rumahnya.


Syifa pun latah karena saking kagetnya. "Aww! Eh, eh, kenapa tiba-tiba ... "


Daffa langsung mengunci pintunya rapat-rapat, hingga tidak ada siapapun yang dapat membukanya dari luar, dan mereka berdua terkunci di dalam rumah.


" ... Menarikku?" Syifa bertanya pelan-pelan.


Tapi ketika melihat pintu itu dikunci oleh Daffa, suaranya menjadi keras. "Eh, pintunya dikunci? Kenapa pintunya dikunci?! ... "


"Kenapa? Ya, karena agar kamu tidak dilihat oleh kedua orang tuaku," Jawab Daffa menjelaskannya, tapi malah membuat Syifa kebingungan.


Syifa menjadi kaku seperti patung, seketika wajahnya menjadi panik, panik karena memikirkan suatu hal yang melenceng dari akal pikirnya.


Dengan berwajah panik, Syifa mengeluarkan sebuah suara yang pelan nan lirih. "Pintu dikunci ... Orang tua kamu pergi keluar ... Dan hanya kita berdua di ruangan ini? ... "


" ... J—jangan-jangan!?" Syifa melangkah mundur, kedua tangannya menutupi pakaiannya, sangat rapat, wajahnya malu-malu menatap Daffa.


"Hah? Kamu jangan bersikap kayak itu, aku merasa tertuduh,"


"T–tidaklah! Tidak sama sekali,"


"Lalu?"


"Kita akan berbicara di sini aja, di sofa.'


"Emm ... " Dengan hati yang terasa masih dag-dig-dug dan was-was, Syifa berpura-pura melihat keadaan di sekitar ruang tersebut.


Lalu ia mengambil sebuah keputusan yang bertentangan dengan Daffa. "Aku di luar aja deh, di sini sangat panas."


"Sangat panas? Seperti ini kamu bilang sangat panas? Emangnya biasanya suhu udara di rumahmu itu sedingin apa? Satu derajat celcius, kah?"


Syifa menggerakkan tangannya sambil berbicara. "Kamu kalau mau ngelawak itu yang lucu sedikit bisa gak, sih? Udah, ah. Aku mau di luar rumah aja, kamu juga." Ia kembali menentang dengan Daffa.


Ketika Syifa sampai di depan pintu, tangannya terburu-buru menarik gagang pintunya, sangat keras, sulit, dan susah. Akan tetapi Syifa baru tersadar, kalau pintunya masih dikunci. "Eh?"


"Kuncinya masih di sini."


Daffa mengangkat tangannya, kuncinya tampak tergantung di jari telunjuknya Daffa.

__ADS_1


Syifa menoleh ke belakangnya, ia melihat kunci tersebut.


"Cepet dibuka pintunya!" Perintah Syifa.


"Tidak mau, bisa gawat kalau terlihat ibuku,"


Syifa menjadi kesal sendiri. "Iiihh ... Emangnya kenapa, sih? Cepat dibuka! Kalau tidak ... "


"Kalau tidak kenapa?"


"Kalau tidak aku akan mengambilnya dengan paksa." Syifa mengancamnya tepat saat ia melakukannya.


Tanpa berpikir lama-lama, Syifa langsung berderap mengarah ke Daffa, menatap wajahnya, dengan raut wajah seperti sedang marah.


Daffa tidak bisa berkata-kata lagi ketika melihat Syifa yang sudah ada di depan matanya, ia langsung mengangkat kunci itu ke atas setinggi-tingginya.


"Ih, sini ... Turunin lagi ... Ihh, jangan malah main-main denganku."


Syifa berusaha sangat keras untuk menggapainya, sangat tinggi, setinggi Daffa yang dikali dua. Syifa tak mau menyerah begitu saja, ia pun sampai rela berjinjit.


"Rasakan ini, hap!" Lalu dia melompat setinggi-tingginya untuk menggapai kuncinya.


Daffa refleks ikut melompat di saat yang bersamaan. "Huh, hampir saja."


Satu detik berlalu, kedua kaki mereka berdua menapakkan kembali di atas lantai.


Boing! Boing! ... (>_<)'


Kedua matanya melebar, Daffa sangat jelas melihatnya, dua buah benda itu memantul-mantul tepat di depannya. "I—itu, kan ... "


"Ini seharusnya aku tidak boleh melihatnya, kan? ... Tapi entah mengapa mataku melebar sendiri!" Batinnya berteriak.


Syifa kembali berjinjit persis di depan mata Daffa, ia terus berusaha untuk meraihnya.


Sementara Daffa, ia tidak fokus sama sekali, matanya berkali-kali mencuri pandangan ke arah yang tampak sedikit terbuka. "Ini benar-benar gawat! Mataku bisa menemukan celah dengan sendirinya."


"Apa yang harus kulakukan?"


Saking menikmatinya pemandangan alam di surga dunia, Daffa sampai berhalusinasi dengan munculnya keberadaan dua arwah, tepat di sebelah kanan dan kirinya.


Wujudnya hitam menyeluruh layaknya bayangan, yang satunya lagi berwujud putih menyeluruh layaknya cahaya. Kecil, mungil, melayang di udara, dan memiliki suara yang sangat berat.


"Hei temanku, itu bagus sekali. Akan menjadi mubazir jika kamu tidak melihatnya. Teruskan dan pertahankan bakatmu itu, dan jangan lupa nanti kamu bawa dia ke kamar." Suara si kecil hitam.


"Suara siapa itu? Sungguh sesat sekali." Gumam Daffa.


"Tapi nyatanya kamu sudah melakukannya setengah dari satu."

__ADS_1


"Eh, iyakah? Kok aku tidak merasakannya?"


Bersambung ....


__ADS_2