
Di depan toko swalayan, berada di dekat jembatan penghubung jalan lainnya.
Tampak ayah Adi dan ibu Ayu yang turun dari sepeda motor. Kunci yang terpasang di sepeda motornya diambil. "Klek!"
Kemudian mereka berjalan bersama memasuki toko swalayan tersebut.
"Kali ini Ibu mau beli apalagi? Jangan membeli sesuatu yang berlebihan, kalau tidak kita akan benar-benar menjadi salah satu konsumerisme yang ada di dunia ini."
"Hah? Konsumerisme? Ayah jangan berpikir terlalu berlebihan, ibu hanya membeli sesuatu yang diperlukan kok." Ibu Ayu membalasnya dengan mulut yang tertawa kecil.
"Hufft ... Baguslah kalau begitu." Ayah Adi melepas kerisauannya.
Tepat di depan pintu, ibu Ayu seakan jadi teringat sesuatu. "Oh iya, kita juga akan membeli susu untuk pertumbuhan Daffa."
"Eh? Eehhh ... "
Ayah Adi dan Ibu Ayu pun masuk ke dalam toko swalayan itu, dan sekiranya mereka memilih beberapa barang yang dibutuhkan.
Akan tetapi ketika ibu Ayu sedang bersenang-senang memilih beragam merek susu bubuk sambil membungkuk, matanya mendadak melebar dan alisnya juga terangkat.
Dari kaca toko swalayan itu, ibu Ayu tak sengaja melihat sesuatu yang mengejutkan di luar. Ia kemudian segera memanggil ayah Adi. "Ayah, ayah! Buruan sini ... "
Mendengar suara ibu Ayu yang tergesa-gesa, dalam sekejap ayah Adi langsung menghampirinya. "Ada apa?"
Ibu Ayu mengangkat tangannya dan menunjuk ke suatu arah.
"Lihat ... Siapa yang ada di seberang sungai itu."
*****
"Kesal, seluruh tubuhku sudah terpenuhi oleh keringat."
"Aku terlalu berlebihan. Dengan gir sepeda keranjang yang saat ini, ternyata cukup berat untuk menahan beban dua tubuh manusia.
"Sepeda ini sudah terlalu tua! Itulah mengapa fungsinya menjadi lebih sedikit." Gumam Daffa sembari mengatur nafasnya yang sudah berantakan.
Daffa hanya memandang ke depan, walau pikirannya sudah kosong, nafas terengah-engah, dan kakinya yang sudah lelah.
Syifa yang sejak tadi duduk di belakang, wajahnya pun terlihat muram saat menoleh ke arah Daffa. "Hey ... Bukankah kamu sudah mencapai batas?"
"Mencapai batas? Aku ... Tidak ... Pernah mengatakan kata itu sebelumnya." Daffa mengatakannya dengan terpatah-patah, karena nafasnya yang tidak teratur.
"Memangnya sebenarnya siapa yang menentukan batasan? Kalau memang ada, seorang laki-laki pasti akan selalu melewati batasannya, daripada harus menyerah dengan batasannya."
Syifa mengangguk-anggukkan kepalanya dia kali. "Oh ... Laki-laki, kah? Eh, bukan-bukan! Maksudku ... Lihat wajahmu, tanganmu, kakimu, bahkan seluruh tubuhmu sudah dipenuhi keringat."
__ADS_1
"Hmph. Dari melihat ayunan kakimu yang mulai melambat, aku sudah tahu kalau kamu sudah kecapean. Daripada diteruskan terus-menerus, lebih baik kita beristirahat di sini sambil mengumpulkan energi. Bukannya itu lebih logis?"
"Hm, aku juga mikir begitu sih, tapi gak apa-apa nih?"
"Ya, gak apa-apa. Aku juga gak bilang tidak boleh."
Syifa menunjuk ke arah seberang. "Lihat, di sana juga ada toko swalayan yang masih buka. Aku akan membeli minuman di sana, kamu tunggu di sini aja, bisa kan?"
"Ya, aku serahkan padamu."
Daffa menghentikan laju sepedanya, mereka berhenti tepat di jalan kecil beraspal yang berada di samping sungai.
Setelah memarkirkan sepeda, Daffa langsung duduk berselunjur di atas rerumputan hijau. Dengan begitu cepatnya ia melepas napasnya berkali-kali di sana.
Sedangkan Syifa berlari ke arah jembatan dengan niat menuju ke toko swayalan untuk membeli sesuatu.
"Kepalaku ... Terasa ... Kosong. Sial, kenapa aku malah mengayuhnya sangat cepat. Oh iya, aku baru ingat, itu karena ... Pak tua tadi!"
***
*Flashback
Daffa jadi teringat dengan kejadian yang tadi, itu bermula ketika pak tua yang tadi mendadak mengalah.
Pak tua itu tampak tersenyum kecil. "Baiklah, saya mengalah. Saya juga tidak mau membuat Nona marah lebih dari ini."
"Maaf karena telah menghentikan kalian, anak muda."
Awalnya memang biasa-biasa saja ketika di dekat Syifa.
Akan tetapi, ketika pak tua itu berjalan mundur mendekati Daffa. Tangan yang keras itu menggenggam tangan Daffa dengan begitu kuat.
Wajahnya tersenyum sinis, dan pak tua itu pun berkata suatu hal di dekat telinga Daffa hingga membuat isi pikirannya sedikit merinding.
"Hei, anak muda, kau sudah membuat masalah berganda. Pokoknya jangan sampai mati! itu saja."
"Heh? ... "
Saat itu, Daffa hanya diam kebingungan.
***
Daffa membuka matanya perlahan ke arah langit. "Aku tidak tahu lagi, apa yang akan terjadi pada diriku."
Daffa mengangkat tangan kanannya yang panjang ke arah langit, membentuk sebuah bulatan, di sela-sela jarinya. "Tanggal dua puluh lima, bulan ke tujuh ... "
__ADS_1
Mata kirinya ia tutup, sedangkan yang kanan ia buka lebar-lebar. Berwarna putih kecil, bintang-bintang itu berhubungan dan saling bersatu dengan yang lain, karena adanya suatu garis.
"Leo, kah? ... Bahkan namanya pun hampir sama. Tapi yang pasti, pemandangan ini terlihat sangat menakjubkan."
Lima menit berlalu, tapi tampaknya belum ada tanda-tanda Syifa kembali.
"Lama sekali, dia di sana ngapain aja? Kebanyakan mikir? Lupa bawa uang? Atau, kebelet buang air? Yah, kalau yang terakhir ... Itu gak mungkin juga." Daffa mengoceh sambil memegang perutnya.
"Mungkin, aku harus menunggunya beberapa saat lagi."
Sekitar sepuluh menit pun sudah berlalu sejak kepergian Syifa ke toko swalayan, tapi saat ini ia belum juga datang kembali.
Itu membuat hati Daffa sangat panas ketika menunggu kedatangannya. "Ini udah sepuluh menit, dan dia belum datang juga? Yang benar saja!?"
Setelah mengomel beberapa saat yang lalu, Tiba-tiba saja terlihat Syifa yang sudah berjalan di pinggir jembatan penghubung. Sikap Daffa yang mulanya panas, kini menjadi sedikit menurun.
"Lambat sekali." Ucap Daffa.
Syifa akhirnya tiba di depan Daffa. Selain membawa dua minuman botol, dia juga membawa oleh-oleh sekantong plastik penuh.
"Oh, maaf. Aku sekalian membeli beberapa camilan."
"Beberapa, kah? Tapi kantong itu terlihat sangat penuh." Ucap Daffa, sembari berdiri dan mengusap-usap celananya yang terkena debu.
Mendengar perkataannya, Syifa seketika langsung menyembunyikan kantong plastik itu di belakangnya.
Matanya mendadak memandang ke arah lain, yang seakan-akan tidak mau melihat wajah Daffa. "E–eh, itu ... Kamu tahu? Maksudku, itu buat semua teman-teman di rumah Vira." Ucapnya sangat gugup.
Daffa melepas napasnya. Ia kemudian mengambil sebotol air dari tangan Syifa, di saat yang sama ia juga berbicara.
"Gak usah mengelak sebegitunya juga kali, aku juga tidak akan menyalahkanmu atas tindakanmu sendiri."
"Nah, itu kamu tau."
"Tapi, kalau ayahku melihatmu saat ini, dia pasti akan berkata ... "
"Eh, a–ayahmu? Oh, ayahmu yah," Dengan gugupnya Syifa menjawab, karena teringat suatu hal. "Sangat kebetulan juga, aku bertemu dengan ayahnya di sana." Batinnya.
"Dia pasti akan berkata, dasar konsumerisme!" Daffa meniru gerakan dan juga suara ayahnya.
"Hah?! ... Aku bisa menghabiskan semuanya!" Syifa membentak cukup keras.
"Tuh, akhirnya kamu jujur dengan dirimu sendiri."
"" Eh, ah ... "
__ADS_1
Melihat situasi yang tidak mengenakan baginya, Syifa kemudian memberi sebotol air putih itu kepada Daffa dengan berusaha bersikap senormal mungkin. "Nih, ambil. Cepat minumlah, lalu kita akan berlanjut ke rumah Vira."
Bersambung ....