
Baru saja mereka bertiga merasakan hal yang menentramkan, akan tetapi itu tak berlangsung lama karena semuanya berubah drastis ketika Fandi membuka matanya.
Seketika muka Fandi langsung pucat memutih karena dirinya yang baru bangun langsung ditemui seorang Daffa. Dia berjalan mundur dengan ketakutan. Sudah begitu, dia ditambah bingung lagi dengan kemana hilangnya kedua temannya itu.
Sebaliknya, Daffa justru melangkah maju dan mendekati Fandi dengan suaranya yang seakan menertawakannya. "Oy, Fandi! Apa tujuanmu melakukan ini...?"
"A-a-aku hanya ingin membawanya, dan juga tidak ada alasan khusus," Jawab Fandi dengan gemetaran.
"Jangan bohong!" Dengan perasaan kesal, Daffa kemudian menarik paksa baju Fandi hingga ia berdiri tepat di hadapannya. "Hey... Kamu akan tahu akibatnya jika kamu berani berbohong denganku."
"B-b-baik..." Balas Fandi dengan gugup, jantungnya hampir copot hanya karena itu. Dengan perlahan tapi pasti, Fandi pun menjelaskannya. "Ehmm, kau pasti sudah tau kan kalau Syifa tak menerimaku? Karena aku sudah terlanjur sangat menyukainya, jadi dengan terpaksa aku melakukan ini. I-ini serius gua ga bohong."
"Hah? Kau melakukan semua ini hanya karena kau menyukainya? Jangan bercanda! Karenamu, Syifa jadi menangis ketakutan, dan mungkin saja dia sekarang sedang mengalami trauma." Bentak Daffa kepada Fandi.
***
Namun yang sebenarnya terjadi dengan Syifa saat ini ialah kegembiraan. Sangat berbeda dengan perkataan Daffa barusan.
Di kediamannya, Syifa tengah berdua dengan Melly, mereka sepertinya sedang tidur bersama di kamarnya. Berbeda dengan Melly yang sudah tertidur lelap, Syifa justru tidak bisa tidur. "Gimana ini, aku tidak bisa tidur sama sekali!"
Berguling ke kanan dan berguling ke kiri, terkadang ia memikirkan hal yang sangat terkesan baginya. Semakin dirinya memegang dadanya semakin pula jantungnya berdebar-debar. "Aku tidak bisa melupakannya...!"
Syifa sangat kegirangan hingga lupa cara tidur
***
Kembali lagi pada Daffa, ia masih terus menyudutkan Fandi dengan perkataannya itu.
"E-emangnya aku salah berkata seperti itu?" Tanya Fandi dengan lancang.
Daffa seakan sangat emosi setelah mendengar perkataan itu yang datang dari Fandi, tapi untungnya dia bisa menahan amarahnya itu. "Tch, pengin sekali ku pukul dia." Gumam Daffa dalam hatinya.
Daffa tampak melepas tarikannya terhadap Fandi saat itu juga. "Dasar orang bodoh, kau bahkan tidak menyadari kesalahanmu sendiri. Aku memang tak begitu paham tentang percintaan, tetapi yang ku ketahui rasa suka itu berbeda dengan rasa cinta. Sekiranya begitulah ucapan ibuku." Terang Daffa dengan panjang lebarnya ia berkata.
"Aku minta maaf, tapi aku tak paham lah dengan ucapanmu itu," Balas FandiFandi dengan rasa bersalah.
"Hadeh... Baiklah. Aku tanya, memangnya apa yang kamu suka darinya?"
"Tentu saja karena wajahnya yang sangat cantik," Dengan lancangnya Fandi menjawab.
Daffa menepuk jidatnya dan ia juga tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu sih semua orang juga tahu kali..."
"Pantas saja gak ada yang mau denganmu. Udah sok keren di depan cewek, tapi pas ditolak malah marah sendiri. Kau juga sok hebat di depan teman-temanmu, padahal sekali kena tonjok langsung tepar. Selain itu kau juga tak tau malu, apa urat malu mu udah putus?"
"Kurasa kau benar juga yah," Keluh Fandi
Daffa menepuk tangannya dua kali seakan sedang memberi aba-aba, dan muncullah dia orang dari belakangnya. "Hahaha... Bahkan Fandi pun merasa berputus asa." Ejek Fendi dan Fundi.
__ADS_1
"Kalian berdua? Kok bisa bersama Daffa?"
Mereka berdua lalu mengangkat Fandi agar berdiri. "Lu bangunnya kelamaan sih, kita berdua udah bicara dengan Daffa duluan."
"Oh gitu yah, untuk kalian berdua maaf karena telah berbuat seenaknya,"
"Kali ini akan ku maafkan, tapi kalau mengulanginya lagi akan ku cegah duluan. Karena kita adalah sahabat!" Ujar Fendi dengan semangat. "Ya betul itu." Fundi meneruskannya.
Fandi merasa senang karena dirinya telah menemukan sahabat yang selalu berada di sampingnya. Dia pun tersenyum lebar menatap mereka berdua. "Iya!"
Sementara itu, Daffa tidak mengekspresikan apa-apa pun di wajahnya, mukanya sangat datar.
Fandi tiba-tiba menunjuk ke arah Daffa. "Dan untukmu, Daffa! Maaf saja memang tidak cukup. Jadi aku berjanji, aku tidak akan mengganggu mu dan Syifa lagi,"
"Maaf? Apanya yang maaf? Aku akan menangkap kalian di sini juga,"
"Eh?" Fandi mengedipkan matanya berulang kali. Sedangkan Fendi dan Fundi seketika langsung panik. "Apa?! Katamu tadi tidak berniat begitu?!"
"Canda deh," Ucap Daffa.
"Candaan mu itu tidak lucu, tapi bikin kaget!" Fendi dan Fundi serentak mengatakannya.
Fandi berusaha menahan mereka berdua. "Kalian berdua tenanglah, kita seharusnya berterima kasih kepada Daffa."
Setelah itu, Fandi berbincang dengan Daffa soal perpindahan sekolah. Dia mengucapkannya dengan amat serius, dan dia pun tak berhenti-henti mengucapkan permintaan maafnya kepada Daffa. "Maaf Daf, maaf, maaf, maaf..."
"Iya ah, udah diam jangan ngomong gitu-gitu terus,"
Fandi pun lega mendengarnya, tapi tak sampai di situ saja, dia kembali berbicara dengan semangat. "Tapi! Saat kita bertemu kembali, akan ku perlihatkan pacar baru ku, dan kau pun akan melongo."
Daffa tidak percaya dengan omongannya. "Palingan juga nanti ditolak lagi." Ucapnya dengan wajah datar.
"A-apa kau bilang!" Ucapan Daffa sangatlah menusuk ke dalam hati Fandi, walau itu hanya perkataan tapi nyatanya begitu menyakitkan. "Kita tidak tahu sebelum mencoba. Hehe, ingat itu Daffa." Ucap Fandi si genius dadakan.
"Kau juga belum punya cewek, kan? Apa mungkin gak laku?" Fandi terus melanjutkan omongannya.
Daffa seketika langsung menatap tajam Fandi dan wajahnya tampak tersenyum kecil seperti biasa. "Kau tahu, bila aku serius aku akan dengan mudah mendapatkannya."
Daffa akhirnya mengalah, ia terlalu capek untuk meladeni semua ucapannya. "Iya deh terserah mu saja, yang barusan aku cuma bercanda. Terus, kalian gak mau pulang apa? Ini aku udah kepengen banget pulang lah."
"Oh maaf-maaf, kalau begitu ayo kita pulang..." Ajak Fandi yang hendak berjalan.
Namun langkahnya terhenti sebab dihadang oleh tangannya Daffa. "Eh tunggu-tunggu, tapi kalian benar-benar gak merasa ada sesuatu yang aneh sebelum melakukan ini semua, kan?"
"Aneh? Hmm, kayaknya gak ada," Jawab Fandi
Fendi menepuk bahunya Fandi hingga melirik padanya. "Fan, bukannya sebelumnya kita pernah bertemu seseorang yang kita sama sekali gak kenal, kan? Menurutmu itu aneh atau bukan?" Ucap Fendi dengan pelan.
__ADS_1
"Hmm... Kalau diingat-ingat lagi, memang benar kalau kita pernah bertemu seseorang sebelumnya." Balas Fandi.
"Oh iya, aku juga ingat orang itu, aku menyebutnya si peramal." Balas Fundi.
Di saat telinganya telah mendengar semuanya, matanya mulai melebar, alisnya pun menaik dan kepalanya tiba-tiba bergerak seperti robot menyesuaikan arah pandang Fandi. "Ber-te-mu!?"
Daffa seketika langsung menghampiri Fandi lebih dekat, dia menanyakan semua hal yang membuat dirinya penasaran. "Memangnya kalian bertemu dengan siapa?!"
"E-eh... Entahlah kita hanya bertemunya saat di jalan,"
Daffa tampaknya mulai berpikir serius, ia berbicara dalam hatinya untuk menemukan jawabannya. "Bertemu di jalan? Bukankah aku juga mengalami hal yang sama. Apa mungkin ini hanya sebuah kebetulan? Dan apa maksudnya peramal?"
"Orang itu cewek atau cowok?" Tanya Daffa.
"Pas aku dengar sih, suaranya itu mirip suara cewek, dan tingginya juga gak beda jauh dari seumuran kita," Fendi menjawabnya terlebih dulu.
"Seriusan?! Kenapa kalian gak bilang dari awal aja?!" Daffa terkejut dan ia memarahi mereka karena tidak memberinya info ini dari awal.
"Daf, apa kau lupa? Aku itu baru bangun langsung diperlihatkan wajahmu yang sangat seram. Yah, jadinya aku gak bisa mikir apa-apa lagi lah!"
Daffa semakin dibuat percaya dengan argumennnya. "Apa ini masih bisa disebut kebetulan?" Gumam Daffa dalam hatinya.
"Terus apa ada lagi yang selain itu?" Daffa tampaknya masih menginginkan informasi lainnya.
"Oh iya ada, kamu pasti akan kaget mendengar ini." Ucap Fandi dengan wajahnya yang tersenyum sinis. Ia makin membuat Daffa penasaran. "Sebenarnya orang itulah yang telah memberitahu kita, kalau Syifa akan keluar malam ini dengan temannya." Ucap Fandi dengan wajah yang serius menatap Daffa.
"A-PA!!" Daffa sangat terkejut, Itu sangat diluar dugaannya dan ia pun tak menyangkanya.
Sekilas piikirannya Daffa mulai dipenuhi kilas balik. "Bertemu di jalan... Cewek tak dikenal... Kertas petunjuk... Temannya Syifa..." Daffa terus membayangkannya dari awal sampai akhir hingga semuanya tertuju pada satu nama. "Kalau tak salah namanya Melly, kan?"
Daffa menatap wajah mereka bertiga secara bergantian. "Hey kalian, aku yakin ini semua sudah direncanakan dari orang yang namanya Melly."
"Apa kau yakin Daf? Nanti malah asal tuduh doang,"
"Aku yakin, soalnya tadi sore aku juga bertemu cewek yang aneh," Ucap Daffa dengan penuh keyakinan.
Fandi merasa kebingungan dengan ucapan Daffa. "Hah? Apa maksudmu? Kita tidak bertemu orang itu tadi sore, tapi kita bertemunya saat kemaren."
Daffa benar-benar dibuat terkejut oleh Fandi berulang kali. "E-eh, yang bener aja?! Kau tidak... Berbohong, kan?" Argumen yang sudah ia buat seketika langsung terpecah-belah hanya karena satu kalimat yang diucapkan oleh Fandi.
Bersambung....
*****
Halo gaes, menurut kalian ceritanya tambah menarik atau tambah membosankan nih??
Tulis pendapat kalian di kolom komentar yahh~
__ADS_1