
Daffa berputar-putar. Disekelilingnya ia melihat seorang Fandi dan kedua temannya yang terkapar tak berdaya di atas jalan. "Ehmm, syukurlah kalau mereka sudah pada turu."
Bukan hanya itu saja yang dilihatnya, Daffa juga merasa bahwa hujan sedikit mereda. Sungguh itu tak terasa baginya karena barusan hujan sangatlah deras, namun seketika sekarang yang tersisa hanyalah genangan air yang terus mengalir disekitarnya.
Ketika dirinya sedang mengamati area disekelilingnya, tiba-tiba Daffa mendengar suara Syifa yang nampaknya sedang kesakitan. "Ad-du-duh..." Syifa memegangi kakinya di bagian yang terasa sakit supaya rasa sakitnya itu berkurang.
Daffa secara spontan langsung menghampirinya kembali. "Kamu tak apa-apa?" Daffa berusaha menenangkannya dan mencoba membantunya untuk meluruskan kakinya dengan perlahan.
Secara tiba-tiba Daffa memalingkan pandangannya dari Syifa, ia terlihat sangat grogi bahkan wajahnya pun tampak tersipu malu.
Syifa yang melihatnya juga ikut merasakan hal yang sama dengan Daffa.
Tanpa bersuara sama sekali, Daffa tiba-tiba berdiri kembali. Ia berjalan mengendap-ngendap menjauhi Syifa seperti layaknya seorang maling.
"Tiba-tiba pergi, tiba-tiba kembali lagi, terus pergi lagi... Apa sih maunya, bikin kesel aja deh," Gumam Syifa dalam hatinya yang ternyata di sisi lainnya ia sangat memperhatikan tingkah laku seorang Daffa.
Baru dibicarakannya barusan, seorang Daffa tiba-tiba balik lagi dan tiba-tiba ia menutupi sebagian tubuh Syifa yang tampak basah kuyup itu dengan sweater miliknya. "D-dan dia kembali lagi..."
"Lain kali jangan pakai pakaian putih kalau cuaca mendung kayak gini," Daffa sangatlah grogi.
Syifa yang sadar langsung menatap jijik Daffa yang sedang berada di sampingnya. "Mata mesum." Ucapnya pelan nanti lirih.
Tak lama kemudian Daffa pun berdiri, di saat yang sama ia juga tampak melipat-lipat sebuah kain hitam yang tadi diambilnya di atas jalan bersamaan dengan sweater miliknya. Setelah melipatnya, Daffa kemudian memasukkannya ke dalam sakunya.
"Itu... Pasti punya Fasa, kan?" Tanya Syifa.
"Ah, iya. Kamu sadar yah?" Jawab Daffa.
"Sudah pasti lah," Ucap Syifa. "Terus bagaimana ceritanta kamu itu mengenal Fasa?" Sambungnya.
"Yah begitulah... Kalau diceritakan bakalan panjang, emangnya kamu gak mau pulang apa?"
"Oh iya, Melly!" Tiba-tiba Syifa berkata cukup kerasa di samping Daffa.
__ADS_1
"Melly...? Siapa?"
Syifa menggenggam erat tangan Daffa, "Daffa, kumohon antar aku ke tempatnya Melly."
"Melly tuh siapa?" Daffa mengulangi pertanyaan yang sama.
"Temanku lah, siapa lagi,"
"Ya udah ayo cepat bangun," Daffa langsung menarik tangannya Syifa.
"Eh-eh, sebentar...! Aku gak bisa jalan, kakiku kan lagi sakit, apa kamu lupa? Padahal baru tadi loh,"
"Oh, bener juga yah. Terus gimana?"
Pandangan matanya Syifa tampak melirik ke kanan-kiri secara tidak teratur. "I-itu loh... Yang a-aku maksud itu... K-kamu menggendong aku." Ucapnya dengan lirih.
"Kalau itu maumu... Ya udah deh. Gawat juga kalau kamu di sini terus, yang ada malah sakit nantinya." Walau sedikit ragu-ragu nampaknya Daffa mau untuk menggendongnya. "Kalau begitu, ayo naik ke punggungku."
Dengan begitu, Syifa pun naik ke punggung Daffa dengan perlahan. Walau itu agak sedikit memalukan, namun dalam hatinya terus berkata ini hanya terpaksa.
Syifa sangat risih dengan perilaku Daffa yang terus saja bolak-balik sana kemari padahal sedang menggendongnya, ditambah lagi suaranya yang cukup berisik. "Sedang mencari apa sih?!"
Daffa mengatakan kepada Syifa bahwa dia kehilangan handphone miliknya, dan itu membuatnya sangat panik. "Kamu panik hanya karena itu saja?" Balasan Syifa yang wajahnya tampak biasa-biasa saja, berbeda halnya dengan Daffa.
"Apa kamu tadi tidak mendengar suara handphonemu terjatuh? Apa kamu memang tidak mendengarnya?" Tangannya Syifa menunjuk ke suatu tempat. "Di sana. Aku sekilas melihat handphonemu terlempar ke selokan kecil di sebelah sana."
Benar saja, tanpa diduga-duga mereka berdua melihat sebuah handphone yang tercebur ke dalam selokan yang sempit dan kecil. "Anjir, handphone kesayanganku!" Daffa seakan-akan tercengang karena tidak percaya handphonenya kini pekat dengan warna hitam.
Meski sedikit merasa jijik, tetapi Daffa memaksa untuk mengambilnya walau dibantu dengan sebuah kain yang tadi dibawanya.
Daffa menaruhnya di atas jalan. Setelah handphonenya dibersihkan, terlihat goresan di layar handphonenya.
Daffa sangatlah tertekan, tanpa berpikir lama-lama ia langsung menekan semua tombol yang ada, tetapi handphonenya malah tak kunjung menyala. Ia di ujung kepanikan saat ini.
__ADS_1
"Itu kayaknya gak bisa dinyalain deh, lebih baik nanti kamu benerin di konter handphone," Ucap Syifa dengan raut wajah yang tampak senang.
Dengan perasaan kecewa, mau tidak mau Daffa harus menerima kenyataan ini. Ia sungguh tak percaya bahwa handphone kesayangannya sudah tak bisa digunakan lagi untuk sementara waktu.
Daffa kemudian memasukkan handphonenya ke dalam sakunya. "Kayaknya ada yang aneh. Kenapa wajahmu terlihat sangat senang sejak melihat handphone ku jadi hancur lebur gini?"
"Gak apa-apa sih... Cuman seneng aja gitu, jadinya kita itu impas." Balas Syifa sembari cengar-cengir.
"Impas?! Sejak kapan aku membuat handphone mu hancur lebur kayak gini?"
"Asal kamu tau yah. Gara-gara kamu tadi menelpon ku, jadinya handphone ku jadi imbasnya." Syifa menceritakannya dengan nada kesal. "Udah gitu si Fandi habis ngebanting terus langsung ngebalikin lagi handphonenya ke aku. mukanya kayak gak ada salah aja." Lanjutnya.
"Hei... Bilang gitunya ke orangnya langsung, bukan ke aku,"
"Setengahnya juga salahmu, jika saja kamu gak nelpon pas di jalan pasti beda lagi ceritanya,"
"Iya deh iya... Terus kalau hp kita berdua rusak, kita mau nyari temanmu yang hilang ke mana?" Tanya Daffa.
"Tenang saja aku tau tempatnya kok, Udah buruan jalan." Pinta Syifa.
Tanpa berlama-lama Daffa pun langsung melangkahkan kakinya. Dia berjalan cepat yang diarahkan oleh Syifa sembari menggendongnya.
Daffa meninggalkan tempat di mana Fandi dan kedua temannya terlelap tidur. Sesekali Daffa melirik ke belakang untuk memastikannya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat itu. "Mungkin nanti aku akan ke sini lagi."
Dan mereka berdua pun akhirnya pergi.
Gang ini kini sudah seperti kuburan saja, sepi dan sunyi. Namun, tiba-tiba terdengar suara gemercik air yang semakin lama semakin mengeras.
Tak diduga, itu ternyata adalah seorang Melly yang membawa pakaian putih di lengannya. "Uwah... Uwah... Yang tadi itu hampir saja."
Melly berjalan mendekat, dia melihat keadaan disekelilingnya. "Tapi, pertarungan yang tadi benar-benar membuat jantungku berdegup kencang."
Melly mengambil sebuah kertas yang terbuang di jalan. "Padahal... Aku menulis di petunjuk ke tiga untuk menyuruhnya melakukan sesukanya."
__ADS_1
"Hmm... Pulang deh, mereka juga sedang bersenang-senang." Dan pada akhirnya Melly berjalan pergi namun berbeda arah dengan Daffa dan Syifa.
Bersambung....