
"Ah, masa sih?" Ucap mamah Vira meledek Syifa.
"Ya iyalah! Mana mungkin aku punya pacar kayak dia!" Ucap Syifa dengan nada tinggi membantah perkataan mamah Vira, tapi di sisi lain, perasaanya tampak sedikit malu karena pertanyaannya mamah Vira.
"Yaudah deh iya, kalau begitu ayok kita dinner bareng," ajak mamah Vira.
"Mamah ikut?" Tanya Vira.
"Tentu saja mamah ikut." Jawab mamah Vira.
Mamah Vira menarik tangan anaknya, lalu membawanya ke tempat meja makan rumahnya dan di belakangnya di ikuti oleh Daffa dan yang lainnya.
Matanya Daffa seakan berbinar ketika melihat tempat meja makan yang dipenuhi makanan-makanan mewah yang sudah disediakan.
"Ayo, silahkan duduk semuanya." Ucap mamah Vira sembari duduk di kursi.
Mereka pun duduk berhadapan satu sama lain dengan santai, beda dengan Daffa yang masih tidak percaya dengan dirinya yang boleh masuk ke rumah semewah ini.
"Gila sih, makanannya banyak banget tinggal diambil doang," gumam Daffa dengan kebahagiaan bersinar di matanya.
Setelah mereka semua selesai berdoa, ada pelayan datang dengan membawa piring yang berisi nasi, kemudian pelayan tersebut memberikan piring tersebut kepada Daffa dan yang lainnya.
"Eh buset, di ambilin segala lagi," gumam Daffa.
"Terimakasih mbak," ucap Daffa kepada pelayan tersebut, kemudian pelayan tersebut mengangguk sebagai jawabannya.
Tampak di depan Daffa banyak sekali lauk makanan yang tersedia, namun ia bingung karena terlalu banyak makanan yang menurutnya enak.
"Kalau ke sini buat makan enak mah, aku juga mau kali hehe." gumam Daffa tersenyum.
Dengan hati-hati, Daffa mengambil salah satu lauk makanan yang ada di depannya menggunakan tangan kanannya.
"Nah sip," ucap Daffa sambil menaruh lauk makanan tersebut di dalam piringnya.
"Eh?! Daffa?!" Ucap Ridho yang berada di pinggir kursinya Daffa.
"Hm?" Balas Daffa.
Semua orang tampak terkejut dan melongo melihat Daffa mengambil makanan layaknya tidak tahu sopan santun.
Daffa tidak menyadari kalau dirinya itu sudah berbuat kesalahan dihadapan orang kaya, sebab dirinya sudah biasa melakukan hal tersebut di rumahnya.
Tak lama kemudian, pelayan yang tadi menepis tangan Daffa dengan keras sampai berbunyi, saat Daffa hendak mengambil lauk makanan kembali menggunakan tangannya.
Plak!
__ADS_1
"Aduh, apa yang kau lakukan mbak pelayan? Tiba-tiba menepis tanganku," tanya Daffa yang kesal karena telah diganggu.
Pelayan tersebut marah melihat perilaku Daffa dihadapan majikannya, karena kesal melihat Daffa seperti itu, kemudian ia mengambilkan makanan yang ingin diambil Daffa menggunakan alat yang tersedia.
Pelayan tersebut menceramahi habis-habisan si Daffa yang tidak tahu diri menurutnya.
"Apa kamu tidak sadar telah membuat semua orang terkejut? Coba lihat di sekeliling mu," Tanya pelayan yang berada disampingnya Daffa.
Daffa pun menuruti perkataan pelayan tersebut dan mencoba melihati sekelilingnya.
"Eh, Kenapa kalian semua melihatiku?" Tanya Daffa gugup.
"Apa kamu tidak sadar?" Ucap pelayan tersebut sembari menepuk jidatnya.
"Enggak," ucap Daffa singkat.
"Iya tentu saja, karena kamu mengambil makanan tersebut menggunakan tangan kotor mu," terang pelayan tersebut.
"Apakah itu dilarang oleh kaum orang kaya?!" Daffa mengucapkannya dengan cepat karena dirinya sedang panik.
Pelayan tersebut kembali menepuk jidatnya, lalu ia berkata.
"Bukanlah, tapi karena nggak sopan," ucap pelayan tersebut.
"Apa kamu tidak tahu tata cara sopan santun?" Tanya pelayan tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Daffa yang baru sadar akan hal itu, ia pun segera meminta maaf kepada Vira dan mamahnya.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku..." Ucap Daffa sambil menundukkan kepalanya di meja ke arah mamahnya Vira.
"Nggak apa-apa kok, malahan... Tante suka sifat kamu yang lucu dan polos kayak tadi loh..." Ucap mamah Vira dengan santai sambil tersenyum manis.
Daffa tampak tersipu malu ketika mendengarkan perkataan mamah Vira tentang dirinya.
Karena dari tadi Daffa penasaran, ia kemudian mengangkat kepalanya kembali dan bertanya kepada mamah Vira.
"Umur Tante berapa?"ucap Daffa tanpa basa-basi.
Semua orang seakan langsung menatap tajam ke arah Daffa dengan perasaan kaget dan marah ketika melihat Daffa kembali melakukan hal yang tidak sopan.
"Apa yang kamu bicarkan!" Seisi ruangan tersebut menjadi ribut.
"Dasar gak tau diri!"
"Anak baru jangan sok keras!"
__ADS_1
"Mantap lo Daf." Ucap Farrel dengan mulutnya yang melengkung dan wajahnya yang terkejut sambil menepuk tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Disela-sela keadaan yang sangat ribut, tiba-tiba saja mamah Vira mengucapkan sesuatu dengan santai.
"Tiga puluh lima, umur Tante tiga puluh lima," jawab mamah Vira dengan tersenyum melihat Daffa.
"Apa?! tiga puluh lima?!" Kaget Daffa mengucapkannya dengan keras, sementara suasana di ruangan tersebut menjadi hening karena ucapan mamah Vira.
"Tiga puluh lima dikurangi lima belas," ucap Daffa pelan sembari menghitung dengan tangannya.
"Berarti!... Berarti!..." Daffa hendak mengucapkan sesuatu dengan raut wajah terkejut.
"Iya?" Ucap mamah Vira.
"Berarti tante mengandung Vira pada saat umur dua puluh!?" Ucap Daffa cepat dan keras.
Kemudian mamah Vira tersenyum manis dan mengedipkan matanya yang genit sambil mengucapkan"yap, betul sekali."
"Apa!?..." Semua orang tampak terkejut termasuk Daffa dan teman kelasnya.
"Udah-udah, jangan ngobrol terus, cepat dimakan makanannya," ucap mamah Vira.
Mereka pun menuruti ucapan mamah Vira dan melanjutkan dinner mereka dalam keadaan tegang, sementara Daffa justru tidak memakannya, namun malah melihati teman-temannya yang sedang makan.
"Bentar-bentar, kok mereka makan pakai dua tangan dah?" Gumam Daffa yang sedang memegang sendok di tangan kanannya sambil memandangi teman-temannya.
"Okeh kali ini aku harus sopan! Jadi aku harus meniru mereka," gumam Daffa yang semangatnya sedang meluap-luap.
Tak lama kemudian, tampak Daffa mengambil garpu di sebelah kiri dekat tempat duduknya, lalu ia mencoba melakukan sama persis seperti yang lainnya dengan hati-hati.
Namun naas, karena Daffa terlalu grogi, makanannya malah tumpah ke meja karena sebelumnya ia tidak pernah sama sekali melakukannya.
"Daffa apa yang kau lakukan?" Tanya Ridho yang berada di sampingnya Daffa dengan kebingungan dan terheran-heran.
"Oi kamu! Udah tau gak bisa malah coba-coba menirunya! Dasar malu-maluin ajah!" Bentak Syifa kepada Daffa.
"Maaf-maaf, aku gak sengaja," ucap Daffa dengan cepat.
Gugup, malu, grogi, takut, dan pikiran kosong, semua perasaan itu ada pada Daffa saat ini juga.
Dengan perasaan yang campur aduk, Daffa tampak mencoba membersihkan makanan yang ia tumpahkan, namun langkahnya dihentikan oleh pelayan yang berada di sampingnya.
Pelayan tersebut mengisyaratkan agar Daffa tetap duduk, tapi beda dengan mukanya yang tampak marah karena tidak habisnya ia meladeni bocah yang sangat ceroboh.
Bersambung....
__ADS_1