Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 16 : Terjebak Di Kamar


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, meja tersebut tampak kembali bersih bersinar setelah pelayan tersebut membersihkannya dengan cepat layaknya sudah terbiasa.


"Silahkan dilanjutkan kembali makannya," ucap pelayan tersebut dengan sopan sembari kembali ke tempatnya.


Daffa melanjutkan kembali makaannya sesuai perkataan pelayan tersebut, namun yang tadinya ia sangat bernafsu makan-makanan mewah tersebut, tapi sekarang ia malah tidak bernafsu makan dan ia ingin segera mengakhiri dinner malam ini di rumahnya Vira.


"Pengen pulang banget," gumam Daffa dengan perasaan yang sangat malu.


Dengan cepat, Daffa melahap makanan yang ada dalam piringnya walaupun ia sudah tidak bernafsu makan.


Setelah beberapa menit, mereka semua termasuk Daffa akhirnya menghabiskan makanan mereka masing-masing tanpa tersisa sedikit pun.


Sehabis makan, mereka semua mengobrol-ngobrol sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi berjalan-jalan.


"Aghh... Kenyang sekali," ucap Farrel yang sudah menghabiskan makanannya.


"Jadi, kalian habis ini akan pergi berjalan-jalan bareng?" Tanya mamah Vira sembari mengusap mulutnya dengan tisu yang sudah tersedia di meja.


"Iya Tante," jawab Syifa dan teman-temannya bersamaan, terkecuali Daffa yang sedang merenung sembari menundukkan kepalanya.


"Yaudah, yuk! Kita pergi ke parkiran mobil sekarang," ajak Vira, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.


"Eh... Nanti dulu lah, habis makan jadi perutnya masih panas, tunggu lima menit lagi," ucap Bella.


"Iya bener apa kata Bella, aku juga belum ganti pakaian yang baru aku beli," ucap Farrel.


"Oh Begitu ya." Ucap Vira.


Vira pun menuruti apa kata temannya dan kembali duduk di kursinya dengan perasaan sedikit kecewa.


Sesaat setelah Vira duduk, tiba-tiba saja terdengar suara kursi yang sedang dimundurkan oleh Daffa.


"Mau kemana kamu Daf?" Tanya Ridho.


Kemudian Daffa berdiri, lalu ia menjawab pertanyaan Ridho dengan lembut dan memasang muka yang setengah senyum, "Mau kemana yaa? Oh benar juga, aku mau pergi ke toilet dulu,"


"Kalau begitu cepat ya... Jangan lebih dari lima menit," ucap Ridho.


Daffa hanya mengangguk sebagai jawabannya, kemudian ia berjalan pelan ke toilet dengan perasaan yang sedih dan hampa.


"Eh Daffa! Kamu mau kemana?" Tanya mamah Vira.

__ADS_1


"Kan sudah kubilang, aku mau pergi ke toilet," jawab Daffa sambil menoleh kebelakang dan tangannya menunjukkan ke arah yang akan ia lewati.


"Tapi kan, arah ke toilet itu di sebelah kiri bukan di sebelah kanan," ucap mamah Vira dengan menahan tertawa.


"Eh!? Benarkah!?" Ucap Daffa kaget.


Teman-temannya ikutan tertawa melihat tingkah lakunya Daffa, sementara Daffa memutar balik arah, lalu ia melangkah ke arah kanan sambil menundukkan kepalanya.


"Agh... Males bet dah, mending di rumah terus tidur dan berharap bertemu gadis itu lagi." Gumam Daffa cemberut sembari berjalan menuju toilet.


Hanya butuh waktu 1 menit, Daffa langsung menemukan toilet tersebut, kemudian ia membuka pintunya dan masuk ke dalam toilet tersebut.


Setelah selesai membuang air kecil dan berpikir di dalam toilet, Daffa pun keluar dari toilet tersebut.


"Mending aku cari pakaian yang cocok dulu dah di rumah ini," gumam Daffa sembari berjalan dengan pelan.


Di sisi lain, Syifa dan yang lainnya sedang asyik mengobrol tentang suatu hal yang sampai-sampai membuat mereka tertawa.


Berselang beberapa menit, Syifa hendak berganti pakaian yang baru ia beli.


"Vira, aku boleh minjam kamarmu untuk ganti pakaian?" Tanya Syifa sambil memegang pakaian ditangannya.


"Iya boleh aja," jawab Vira santai.


"Kuncinya? Mana kunci kamarnya?" Tanya Syifa sembari mengulurkan tangannya.


"Oh iya aku lupa," jawab Vira, kemudian ia membuka tas kecil yang ia bawa, lalu tangannya masuk ke dalam tas kecil tersebut.


"Nih, tapi kayaknya kamar aku nggak dikunci deh," ucap Vira sambil memberi kunci kamarnya.


"Okeh, makasih ya." Ucap Syifa.


Dengan perasaan senang, Syifa tampak berjalan pelan dengan kedua tangan memegangi pakaiannya menuju kamarnya Vira.


Di sisi Daffa, ia sudah berlari keliling sana kemari, namun tetap saja tidak menemukan pakaian yang muat untuk dipakai dirinya, padahal ia sudah keluar masuk kamar yang berbeda beberapa kali.


"Kamar ayahnya Vira mana sih," ucap Daffa kebingungan sambil mengatur nafasnya agar tidak ngos-ngosan.


"Apa lagi ini sudah lima menit aku pergi dari mereka semua," gumam Daffa yang mulai panik.


Tak lama kemudian, Daffa kembali menemukan kamar seseorang yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Pasti ini kamar ayahnya Vira," ucap Daffa percaya diri sambil memandang pintu kamar tersebut.


Daffa kini tengah tengok kanan kiri melihat keadaan disekitarnya, kemudian ia menarik pintu kamar tersebut dengan perlahan.


Tak lama setelah membuka pintu kamar tersebut, Daffa melangkah masuk ke kamar tersebut dengan pelan dan tanpa suara, lalu ia menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.


Kamar tersebut tampak tak memenuhi ekspektasinya Daffa karena kamar tersebut terlihat seperti kamar perempuan pada umumnya walaupun dalam keadaan gelap gulita.


"Hmm, kayaknya ini bukan kamar ayahnya Vira dah," ucap Daffa sedikit kecewa.


Sungguh kaget dan terkejutnya Daffa sesaat setelah menerangkan kamar tersebut, tampak terlihat seisi ruangan itu penuh dengan warna pink, "Jangan-jangan ini kamarnya Vira."


Dengan sedikit kekecewaan, Daffa hendak berjalan keluar kamar tersebut. Namun ia terhenti karena mendengar suara langkah kaki seseorang dari luar.


Suara langkah kaki tersebut semakin keras dan semakin keras, seakan orang tersebut sedang menuju ke kamar yang telah Daffa masuki.


"Apa di akan kesini?!" Daffa bertanya pada diri sendirinya yang sedang panik.


"Tempat sembunyi, mana tempat sembunyi yang aman!?" ucap Daffa gugup sembari mencari tempat persembunyian.


Kemudian Daffa melihat ke arah bawah kasur, dan ia kepikiran untuk sembunyi di situ karena menurutnya hanya itu yang paling aman untuk tempat persembunyiannya.


Dengan sangat cepat, Daffa sudah masuk ke kolong bawah kasur tersebut dengan posisi tubuhnya yang telungkup menghadap pintu.


Jantungnya berdebar kencang karena sangat panik, tubuhnya diselimuti keringat dan sedikit bergetar, kedua matanya terus saja melihat ke arah pintu tanpa berkedip, dan Daffa selalu berpikiran kalau dirinya akan segera ketahuan.


Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu tersebut dengan pelan.


"Eh Syifa!?" Gumam Daffa.


"Ternyata benar apa kata Vira, pintunya gak dikunci," ucap Syifa sembari menutup pintu tersebut dan menguncinya dengan benar, sementara Daffa sedang menutup mulutnya dengan erat karena hampir mengeluarkan kata-kata karena kaget.


Setelah mengunci pintu, tampak Syifa yang sedang berjalan menuju ke kaca milik Vira yang dekat dengan kasurnya Vira.


Kemudian Syifa meletakkan pakaian yang ia bawa di meja yang berada di bawah kaca tersebut.


"Apa yang akan dia lakukan?" Gumam Daffa yang bertanya pada diri sendiri dan terheran-heran melihat Syifa.


Betapa kaget dan terkejutnya Daffa melihat Syifa yang sedang melepaskan bajunya di depan kaca tersebut.


"Eh?! Yang bener aja?!" Gumam Daffa yang sedang menahan mulutnya agar tidak keceplosan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2