
"Tapi beneran tadi gak sengaja kan?!" Tanya siswi tersebut sambil menatap tajam ke arah Daffa.
"Iya lah... Mana mungkin aku melakukannya dengan sengaja," jawab Daffa.
"Ya udah sana pergi, aku maafin." ucap siswi tersebut lalu pergi meninggalkan Daffa.
"Syukurlah, kalau begitu makasih ya..." Ucap Daffa sambil mengelus dadanya.
Setelah dari toilet, Daffa berlari menuju kelasnya dengan tergesa-gesa, karena dirinya belum ganti pakaian olahraga.
Sesampainya di kelas, Daffa tidak melihat murid-murid lainnya berada di kelas, karena murid lainnya sudah menuju ke ruang ganti.
"Hadeh... Lainnya sudah pada menuju ke lapangan semua ya? Dan tinggal aku seorang yang belum ke sana?" Ucap Daffa mengira murid-murid lain di kelasnya sudah menuju ke lapangan semua.
"Harus cepat-cepat ini mah." Ucap Daffa.
Daffa pun segera mengambil pakaian olahraga yang ada di dalam tasnya dan menaruhnya di meja, kemudian ia melepaskan baju osisnya.
Saat sedang melepaskan baju osisnya, Daffa mendengarkan suara seseorang di luar kelasnya.
"Tungguin aku Syif," ucap Vira dengan nafas yang terengah-engah.
"Tunggu Syif jangan cepat-cepat," Ucap Bella yang berada di luar kelasnya Daffa.
"Kalian tunggu di situ aja, aku kelupaan mengambil parfum." Ucap Syifa dengan berjalan cepat menuju kelas.
"Hah?" Ucap Daffa sambil memegang baju osisnya yang baru ia lepas. Kemudian ia mengambil kaos olahraganya.
Daffa kaget karena ia lupa belum menutup pintu kelasnya.
Tap, tap, tap....
Syifa terus berjalan cepat menuju pintu kelas.
Karena kaget ada orang di luar kelas yang akan menuju ke kelasnya, jantung Daffa berdetak sangat kencang.
"Eh tunggu...!" Ucap Daffa, karena ia sangat panik dan jantungnya yang berdetak sangat kencang, ia malah memakai kaos olahraganya terbalik.
Daffa pun semakin panik dan mencoba melepaskan kembali kaos olahraganya.
"Hah?" Ucap Syifa kebingungan karena yang ia tahu tidak ada orang di kelas.
Daffa pun semakin buru-buru melepaskan dan membenarkan kaos olahraganya.
"Jangan ke–" belum sempat menyelesaikan perkataannya, Daffa melihat Syifa sudah ada di depan pintu kelasnya, dan ia baru melepaskan sebagian kaos olahraganya.
"Eh?" Ucap Syifa yang sedang melihat ke arah Daffa. Matanya melebar dan mukanya memerah, lalu ia berteriak.
"Kyaaaaaaa.....!" Teriak Syifa sangat keras, sampai-sampai kelas lain mendengarnya.
"Brakk....!" Lalu Syifa menutup pintu kelas dengan sangat keras.
Vira dan Bella kaget mendengar Syifa berteriak sangat keras.
__ADS_1
"Syifa kenapa berteriak sangat keras ya Vir?" Tanya Bella kepada Vira.
"Gak tau, yuk ke sana." Jawab Vira.
Vira dan Bella berlari menuju Syifa, dan di belakangnya diikuti oleh Ridho, Farrel, dan Pak guru olahraga.
"Kenapa kamu berteriak Syif?" Tanya Bella sambil berlari menuju ke arah Syifa.
"Iiiitu di dalam ada Daffaaa," jawab Syifa dengan grogi dan muka yang tersipu malu karena telah melihat Daffa yang sedang telanjang setengah badan.
Vira, Bella, Ridho, Farrel, dan Pak guru olahraga akhirnya mereka sampai bersamaan di depan kelasnya Daffa, lalu mereka berlima menanyakannya lebih detail kepada Syifa.
"Hah? Di dalam kelas ada Daffa? Pantes saja tadi dia telat masuk kelas," ucap Vira.
"Berarti kamu melihat Daffa telanjang yah?" Tanya Bella sambil tertawa kecil.
Dengan malu Syifa mengangguk dan berkata.
"Ya, tapi untungnya cuma setengah badan saja," ucap Syifa dengan nada pelan.
"Coba kamu jelasin dari awal," ucap Pak Guru olahraga.
"Jadi gini pak, selesai ganti pakaian olahraga, aku lupa mengambil parfum, karena itu aku kembali ke kelas untuk mengambil parfum di tas, nah pada saat sampai di depan pintu kelas, aku melihat Daffa sedang ganti baju di kelas." Ucap Syifa dengan panjang lebar.
Pak guru olahraga mencoba memahami perkataan Syifa, lalu ia bertanya kepada Daffa yang masih di dalam kelas.
"Apa itu benar Daffa? Dan kenapa ganti pakaian olahraganya di kelas? Itu kan tidak diperbolehkan." Tanya Pak guru olahraga.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka yang ternyata itu adalah Daffa yang sudah memakai pakaian olahraga.
"Gak pak itu tidak benar, sebenarnya aku dari tadi sudah memakai pakaian olahraga, dan aku berada di kelas karena hendak memasukan bekal makananku ke dalam tas." Jawab Daffa dengan santai, namun sebenarnya ia sangat gugup.
Selesai Daffa berbicara menjawab pertanyaan Pak guru olahraga, teman-teman kelasnya mengetahui kalau Daffa berbohong.
"Bohong itu pak" ucap Syifa.
"Bukannya dari tadi kamu di WC ya Daf?" ucap Vira.
"Bohongnya ketahuan banget," ucap Bella.
"Perasaan tadi di ruang ganti aku gak lihat kamu Daf," ucap Farrel.
"Sudah pasti bohong itu pak" ucap Ridho dengan senyuman licik.
Daffa bingung dan tidak bisa berkata-kata. Rasa takut terlukis di wajahnya, karena mereka berlima menyudutkannya.
"Semuanya diam dulu," ucap Pak guru olahraga.
Mereka berlima pun menuruti perkataannya Pak guru olahraga.
"Terus Syifa berteriak sangat keras itu gara-gara apa?" Tanya Pak guru olahraga.
"Eh..." Daffa bingung harus menjawab apa, lalu ia mencoba berpikir sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Pikirkan, pikirkan, pikirkan apa yang ditakuti semua cewek," ucap Daffa dalam hatinya.
"Kalau kamu gak jawab, berati semua yang kamu omong tadi adalah kebohongan." ucap Pak guru olahraga.
Setelah sekian lama Daffa berpikir sangat keras, ia menemukan suatu ide.
"Oh iya! karena ada kecoak di dalam kelas Pak," ucap Daffa.
"Hah?" Ucap semua orang bersamaan.
Syifa, Vira, Bella, Ridho, dan Farrel tertawa setelah mendengarkan perkataan Daffa.
"Mana mungkin ada kecoak di sini," ucap Pak guru olahraga.
"Eh benarkah?" Daffa bingung karena pemikirannya salah.
"Sudah tau salah malah bohong lagi." Ucap Pak guru olahraga sambil geleng-geleng kepalanya.
Pak guru olahraga yang sudah sangat kesal terhadap sikap Daffa, dengan sigap ia menggotong Daffa lalu menaruh di bahunya kemudian berjalan menuju lapangan dan di belakangnya diikuti oleh Syifa, Vira, Bella, Ridho, dan Farrel.
"Eh... Pak tunggu dulu, kenapa saya digotong sih pak? Padahal saya gak bersalah pak," Protes Daffa.
"Rasain tuh haha..." Ucap Syifa sambil mengetawakan Daffa.
"Udah diam, kita kehilangan 10 menit untuk pelajaran olahraga gara-gara kamu, jadi kamu pasti saya hukum." Ucap Pak guru olahraga.
"Lah kok gitu pak," ucap Daffa dengan muka pasrah.
Sesampainya di pinggir lapangan sekolah, Daffa yang sedang digotong oleh Pak guru olahraga, ia diperhatikan seluruh teman kelasnya yang sudah berada di lapangan sekolah maupun kelas lain yang melihatnya dari jendela yang terbuka, dan Daffa hanya bisa menahan malu.
Saat sampai di lapangan sekolah, Daffa pun diturunkan oleh Pak guru olahraga.
"Okeh semuanya buat barisan," ucap Pak guru olahraga sambil menepuk tangannya.
Semua murid pun segera membuat barisan termasuk Daffa, dan saat Daffa hendak ikut membuat barisan, Pak guru olahraga memanggilnya.
"Hey kamu sini, siapa yang suruh kamu ikut berbaris?" Tanya Pak guru olahraga.
"Pak guru tadi bilang suruh berbaris," jawab Daffa.
"Kamu sudah membuat onar, jadi harus saya hukum," ucap Pak guru olahraga sambil menghampiri Daffa.
"Eh... Tapi pak," ucap Daffa mengeluh.
"Sini ikut saya," ucap Pak guru olahraga sambil menarik tangannya Daffa.
"Nah kamu berdiri di sini ya," ucap Pak guru olahraga.
"Di sini pak?" Tanya Daffa
"Oh iya, terus angkat satu kaki dan kedua tangan memegang kuping," Ucap Pak guru olahraga sambil membenarkan sikap Daffa.
"Okeh sip, begitu sampai satu jam ya," ucap Pak guru olahraga.
__ADS_1
"Hah?!" Daffa pun terkaget karena harus bertahan 1 jam dengan sikap seperti itu.
Bersambung....