Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 48 : Perempuan Aneh


__ADS_3

Daffa yang sudah mandi, kini ia tengah rebahan di atas kasur kamarnya sambil memegang handphone miliknya.


Tubuhnya terlihat segar dan fresh setelah mandi air yang begitu dingin.


Dia sedang bermain game di handphonenya sejenak sembari menunggu waktunya ia berangkat ke sekolahannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler renang.


Daffa yang selesai bermain game untuk sekian kalinya, dan tanpa disadari saat dirinya melihat ke arah jam weker yang ada di kamarnya, ternyata sudah hampir pukul 2.


Ia pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahnya.


Berselang beberapa menit, Daffa pun akhirnya telah siap untuk berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan eskul renangnya.


Ia berpamitan dengan ibunya yang sedang merapikan rumah terlebih dahulu sebelum keluar dari rumahnya.


Sebelum Daffa keluar melewati pintu rumahnya, ia melihat Miko yang sedang berbaring di lantai. Daffa hanya melihatinya saja dan terus berjalan ke depan.


Daffa yang kini tengah berdiri di depan rumahnya, di punggungnya terdapat tas ransel yang akan ia bawa bersamanya ke sekolah.


Daffa pun kemudian melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumahnya.


***


Di perjalanan menuju sekolah, Daffa berjalan diantara keramaian orang-orang yang sedang beraktivitas di sekitarnya.


Selagi masih berjalan, ia tampak mengangkat tangan kirinya yang di mana di situ terdapat jam tangan.


Arah jarum jam tersebut menunjukkan angka pukul 13:56.


Sesaat setelah ia melihat jam tangannya, Daffa tampaknya sedikit mempercepat langkah kakinya.


Daffa berhenti sesaat karena akan menyeberangi jalan ke sisi seberang.


Di saat itu, sepertinya Daffa melihat di seberang sana ada seseorang yang terus memperhatikannya. "Se-sepertinya ada orang berbahaya yang menatapku!"


Wajahnya tertutup oleh jubah berwarna hitam yang dikenakannya.


Ketika lampu hijau bagi para pejalan kaki menyala, Daffa pun segera berjalan kembali menuju sisi seberang.


Sesampainya Daffa di seberang, jalannya dihalangi oleh orang tersebut.


Daffa yang hendak berjalan ke arah kanan, dia juga ikut berjalan ke sebelah kanan.


Saat Daffa berjalan ke arah kiri, dia juga mengikutinya seperti tadi. Seolah-seolah dia sedang menghalanginya saja.


Tampaknya Daffa mulai kesal karena jalannya dihalangi terus-menerus olehnya. "Ada apa denganmu!?" Ucap Daffa dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Hanya ingin saja," Dengan dinginnya dia membalas ucapannya Daffa seperti itu.


"Suara perempuan?" Gumam Daffa dalam hatinya.


"Kau membuatku membuang banyak waktu, jadi cepatlah menyingkir dari hadapanku!" Perintah Daffa.


"Tidak mau." Balasnya dengan enteng.


Daffa yang mendengarnya, seakan mukanya tambah gregetan melihatnya.


"Sebentar, sepertinya hari ini adalah hari kesialanmu," Ucap perempuan tersebut.


"Hah? Seperti peramal saja," Balas Daffa dengan muka datarnya. "Hidupku ini memang penuh dengan kesialan... Tapi, tidak ada kata menyerah bagiku." Sambungnya.


Seketika raut wajah perempuan itu tampak kaget, dan tiba-tiba dia tersenyum sesaat.


"Aku hanya ingin menyapamu saja," Ucap perempuan tersebut.


Tak lama setelah itu, perempuan tersebut berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Daffa di tempat. "Dah, sampai bertemu lagi..."


Daffa tampak terheran-heran melihatnya. "Cewek yang aneh." Gumamnya.


"Dia kata ingin bertemu denganku kembali? Jangan berharap dengan semudah itu," Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa pun kemudian berlari secepatnya ke arah sekolahannya.


Sementara itu di lain sisi, perempuan yang tadi bersama Daffa sepertinya dia berjalan pelan dengan tersenyum-senyum sendiri. "Huhuhu..."


"Hem, Hem... Daffa Pratama, jadi dia kah yang diincar oleh Rio?" Gumam perempuan tersebut.


Namun, tampaknya dia tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Omong-omong, sepertinya aku sudah berjalan terlalu jauh, sebaiknya aku menelpon nyonya Intan saja." Ucapnya yang kemudian ia mengeluarkan handphonenya.


***


Berselang beberapa menit, Daffa tampaknya sudah sampai di sekolahannya.


Dia pun langsung melangkah masuk melewati gerbang depan sekolahnya.


"Kalau gak salah... Saat kemarin-kemarin aku berkeliling, gedungnya ada di belakang dah," Gumam Daffa selagi berjalan.


Sesampainya Daffa di bagian belakang sekolahnya, dia tampak melihat sesuatu. "Nah, itu dia tempat gedung kolam renang nya."


Daffa yang melihatnya, ia pun kemudian segera masuk ke dalam gedung kolam renang tersebut.

__ADS_1


Namun, kakinya terasa berat saat hendak melewati pintu masuknya.


Dan lama-kelamaan kakinya seakan-akan semakin terasa berat. Dan tanpa disadari seluruh tubuhnya sudah terlihat gemetaran. "K-kayaknya aku terlalu gugup."


"Tenang Daffa, tenang. Kamu harus tenang terlebih dahulu," Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa mencoba memenangkan diri seraya menghela nafasnya dalam-dalam.


"Bissmillah, bissmillah, bismillah..." Daffa mengucapkannya berulang kali di dalam hatinya seraya tangannya mencoba menggerakkan kakinya.


Dan akhirnya Daffa sudah kembali bisa menggerakkan kakinya seperti biasa tanpa gugup seperti tadi.


"Aku harus tenang," Ucap Daffa selagi berjalan dengan pelan. Sepertinya ia telah mencatat tulisan di tangannya.


"Harus sopan,"


"Jangan sampai membuat kegaduhan,"


Selangkah lagi dan Daffa akan melihat sebuah kolam renang di depannya.


Daffa pun melangkahkan kakinya sekali lagi. "Dan juga harus baik saat kesan pertama....?" Ucapnya.


"Lah kok sepi?" Ucap Daffa.


Daffa tampak terheran-heran saat melihat di depannya hanya ada sebuah kolam berisi air tanpa adanya seorang pun yang berenang di sana.


"Charla...! Kamu melupakan baju ganti mu..." Daffa mendengarkan teriakan seseorang dari arah sebelah kirinya.


Sekilas tubuhnya menjadi merinding sesaat setelah mendengarnya.


"Ka-kayak aku kenal dengan suara itu..." Ucap Daffa terpotong-potong.


Sementara itu di sisi sebelah kiri. "Eh, lihat-lihat! Ada seseorang di sebelah sana..."


Dengan grogi, Daffa mencoba menengok ke sebelah kirinya.


Sedangkan yang lain mencoba menengok ke arah Daffa.


Seketika alisnya tampak menaik ketika Daffa melihat empat orang siswi di sana yang telah mengenakan pakaian renang.


"Kalian...?!"


"Daffa...?!" Ucap Syifa, Charla, Vira dan Bella serentak dengan nada tinggi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2