Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 51 : Nasihat Dari Sang Ibu


__ADS_3

Beberapa puluh menit telah berlalu, si Daffa yang sudah selesai mengikuti ekstrakurikuler renangnya di sekolahan, ia pun kemudian pulang ke rumahnya.


Di saat perjalan pulangnya, Daffa tampak tak terlihat bersemangat seperti biasa dan hanya terlihat berjalan santai di pinggir jalan.


Suara langkah kakinya yang menginjak aspal itu terus terdengar. Kerap kali ia menendang bebatuan kecil yang tergeletak di jalan di saat tertentu.


Mukanya terlihat murung karena pikirannya terus menemui jalan buntu. "Ini mah, kalau dipikirkan terus otakku bisa jebol."


"Hadeh... Lagi pula pada akhirnya dia hanya memberiku nomor teleponnya dan tidak bercerita apa-apa tentangnya." Gumam Daffa.


*TING!


*TING!


*TING!


Nada dering handphone Daffa tiba-tiba berbunyi tiga kali.


"Hmm?" Daffa mengambil handphonenya.


"Bukannya ini nomornya Syifa?"


"Save Syifa... Eng, lalu dia juga bilang... Aku ingin bertemu denganmu nanti malam jam delapan."


"Aku juga akan mengajak salah satu temanku. Nanti aku share lokasi tempatnya." Gumam Daffa yang tengah membaca isi pesan tersebut.


Tampaknya Daffa dikirimi pesan oleh Syifa lewat handphonenya, dan pesan itu bertulis Syifa yang mengajak Daffa untuk bertemu di suatu tempat malam nanti.


"Agh... Muncul juga bagian yang merepotkan,"


"Ingin banget aku tolak permintaannya, tapi... Tapi..." Ucap Daffa yang sedang kebingungan sendiri. "Ah, ya sudahlah! Daripada nolak di tengah jalan."


Daffa pun menulis pesan kepada Syifa. "Mager, lain kali aja."


Terlihat tanda centang dua berwarna biru, pesan yang dikirim Daffa nampaknya langsung dilihat oleh Syifa.


*TING


Dan beberapa detik setelahnya, handphone Daffa kembali berbunyi.


"Eh?"


"Agghhh!!" Daffa berteriak sesaat setelah melihat pesan itu. "Dia malah membalasnya dengan mengirim lokasi tempat ketemuannya...!" Daffa menggaruk kepalanya.


Dengan perasaan sedikit kesal, Daffa seketika langsung mematikan handphonenya dan menyimpannya kembali seperti semula disakunya.

__ADS_1


Arah pandangannya berubah ke atas, Daffa melihat sekumpulan awan berwarna keabu-abuan yang semakin melekat. "Hmm, dari tadi pagi kayaknya mendung doang tapi gak hujan-hujan dah."


"Ya sudahlah, mending aku nikmatin angin kencangnya saja, hehe..." Batin Daffa.


Daffa pun kemudian lebih mempercepat langkah kakinya.


***


Matahari sudah terbenam dan waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh dini malam hari.


Di luar rumahnya Daffa tampaknya terlihat sepi, hanya ada cahaya putih yang senantiasa menerangi jalan.


Daffa yang telah usai melakukan shalat Isya, ia keluar dari kamarnya sembari menguap. Aktivitas yang banyak ia jalani hari ini membuatnya cukup kecapean.


Dengan pelan Ia berjalan menuruni tangga.


Langkah kakinya terhenti sesaat setelah dia melihat ibunya yang sedang menonton televisi sambil duduk.


Daffa pun menghampiri ibunya dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana eskul nya? Apa terasa menyenangkan?" Tanya ibu Ayu.


"Yah," Jawab Daffa singkat.


Ibu Ayu tampak melirik ke arah Daffa, dia melihat sebuah kain hitam yang terikat di tangan kanannya Daffa. Itu membuatnya cukup heran.


"Oh ini, hanya kain biasa kok bu." Jawab Daffa.


"Kamu dapat dari mana?"


"Eh, Gimana yah... Susah jelasinnya. Intinya diberi oleh anak kecil,"


"Hah...? Tapi omong-omong Daffa, enggak biasanya banget kamu berpakaian seperti itu, mau pergi keluar yah?"


"Eehehe... Ibu tau aja,"


"Ja-jangan-jangan kamu mau pergi dengan cewek?!" Ucap Ibu Ayu dengan nada tinggi.


"Eh-eh, jangan ngarang bu...! A-aku... Aku itu dipaksa ketemuan malam ini sama teman sekelas cowok ku," Daffa mengucapkannya dengan gugup.


"Oh... Terus kamu mau ngapain malam-malam begini?"


Tubuhnya Daffa bergemetaran seketika setelah pertanyaan itu keluar dari mulut ibunya. "Hadeh bagaimana ini...? Aku harus jawab apa?!" Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa membuka mulutnya. "Te-tentu saja a-aku diajak menginap dirumahnya, hehe..." Jawab Daffa dengan tawaan di akhir.

__ADS_1


"Alamak... Aku keceplosan!" Gumam Daffa dalam hatinya.


"Hah, menginap? Apa kamu yakin?" Ibu Ayu tampak syok.


"Eh... Eng... Iy-iya. Lagi pula besok minggu kan?" Jawab Daffa ragu-ragu.


Di sela-sela Daffa yang sedang menjawab pertanyaannya, ibu Ayu nampaknya mengambil remote televisinya yang tak jauh darinya.


Dia menekan tombol volume yang membuat suara televisi itu agak sedikit mengeras di telinga.


"Baik permisa, kita akan lanjut ke berita berikutnya. Saat ini, kenakalan remaja masih terus bermunculan diberbagai wilayah khusunya di ibu kota. Banyak sekali anak yang masih berseragam sekolah terlibat aksi tawuran dengan sekolah lainnya di jalanan...." Suara yang muncul dari dalam televisi tersebut.


Di saat pembawa acara dalam televisi itu masih membawakan beritanya, Ibu Ayu tampak menepuk Daffa dibagian kakinya.


Dia kemudian kembali mengecilkan volume televisi tersebut selagi berbicara kepada Daffa. "Oh iya Daffa, ibu baru ingat. Kamu tau kan? Belakangan ini sering terjadi perkelahian di jalanan, bahkan ada preman yang ikut terlibat dan kejadiannya pun berada dekat di sekolahmu kan?"


"Aah... I-iya mungkin?"


"Nah, ibu tuh sering kali mendengar rumor kalau itu semua ulah dari sekolah yang tak jauh dari sekolahnya kamu, kalau gak salah namanya SMA Sepintaran."


"SMA Sepintaran? Dimana itu bu? Kok aku belum pernah dengar sebelumnya nama sekolah itu." Daffa merasa kebingungan mendengar nama tersebut.


"Kamu gimana sih, kan kamu baru pindah ke kota ini baru beberapa bulan. Yah pantas saja kamu belum tau segalanya yang ada di kota ini."


*TING


Handphone milik Daffa tiba-tiba berbunyi. "Oh iya benar juga kata ibu hehe. Ya udah bu, Daffa udah dikirimi pesan sama temannya Daffa." Ucap Daffa yang hendak berdiri.


Ibu Ayu tiba-tiba menahan salah satu tangannya Daffa. "Eh, tunggu-tunggu, ibu belum selesai berbicara. Dan satu lagi, karena kamu sudah tau semuanya, jadi jangan pernah kamu berkeliaran di sekitar sekolah itu. Apalagi berurusan dengan mereka, itu malah berbahaya bagimu." Ibu Ayu menasehati Daffa dengan panjang lebar.


"Iya bu, aku tau."


Daffa pun berdiri dan ibu Ayu juga ikutan berdiri. Ia mencium tangan ibunya sebelum dirinya keluar dari rumah.


"Mau ibu beri uang jajan gak?"


"Ah, gak usah bu. Lagian belum tentu juga aku menginap di rumah temen." Jawab Daffa.


Bersambung....



Hey-hey, terima kasih bagi yang masih membaca novel Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri hingga saat ini, walau update nya agak lama.


Sebenarnya untuk bab selanjutnya udah hampir jadi, tapi akan saya update ketika sudah 3 bab yang tertulis biar nunggunya gak lama-lama amat.

__ADS_1


Dan semoga aja saat bulan puasa nanti, saya bisa mendapat waktu luang lebih banyak. Kalau begitu sampai jumpa di update-an selanjutnya.


__ADS_2