Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 93 : Mengutarakan Berbagai Pendapat


__ADS_3

"Kita kan sesama penyantap butir nasi, dan kamu masih bertanya tentang hal itu?"


"Maksudmu, nasi?"


"Iyalah, jawabanku selalu benar." Tegas Daffa.


Syifa mengangkat tangannya, jari-jarinya menyilang ke arah yang berlawanan, lalu ia berkata. "Salah!" Kencang sekali di dekat telinga Daffa.


"Apa? Jangan teriak di dekat telingaku." Keluh Daffa.


"Salah, bukan nasi." Jelas Syifa lagi.


"Salah? Yang benar saja? Syifa, yang tadi kamu bilang tuh favorit makananmu, bukan makanan kesukaanmu. Apa jangan-jangan ... Kamu mengira dua hal itu memiliki arti yang sama? Jelas itu berbeda beda!"


"Hah?" Reaksi yang membingungkan muncul di wajah Syifa.


"Jadi kamu belum tahu perbedaan keduanya, kah? Sini-sini, akan kujelaskan perbedaan antara favorit dan suka menurutku—" Daffa berlagak sok tahu, seperti halnya seorang cendekiawan.


Tangan Syifa tiba-tiba menutup rapat mulutnya Daffa, hingga tak bisa melanjutkan ucapannya lagi dengan lancar. "Oh, gitu. Aku paham." Ucapnya.


Syifa kemudian menarik kembali tangannya. Sementara itu, Daffa yang merasa ada yang mengganjal di mulutnya, ia langsung mengusapnya berulang kali.


"Paham apanya?" Daffa seolah-olah tidak percaya dengannya.


Syifa mendengus kesal terlebih dahulu. "Huh ... Aku udah mengerti, kamu pasti mau bilang kalau kata favorit tuh lebih sering yang kita gunakan, sedangkan suka lebih mengarah ke minat diri sendiri."


Daffa mendadak berhenti, ia seperti patung dalam sesaat. Daffa menurunkan tangannya. "Tumben sekali kamu langsung paham dengan maksudku."


"Hah? Dari dulu kan aku memang selalu langsung paham."


"Perasaan baru kali ini."


"Gak! Udah sering!" Syifa tak mau kalah.


"Iya deh."


Daffa mengalah, ia berdiam, namun itu hanya sesaat saja. Tanpa banyak bicara sekalipun, Daffa melangkahkan kakinya dan berjalan melewati Syifa, tapi ia langsung dihalangi oleh Syifa.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke toilet lah."


Syifa menarik tangan Daffa. "Eits-eits, kan masih ada satu lagi."


"Yang apa?" Daffa berlagak pura-pura lupa.


"Itu loh ... Masa kamu lupa sih." Syifa menyamar-nyamarkannya, ia ketawa-ketiwi sendiri di dalam hatinya.


"Ohh ... Itu. Maksudmu seseorang yang paling spesial bagimu?" Ketika berkata itu, kepala Daffa menjulur naik.


"Iya-iya, itu!" Syifa mengangguk-anggukan kepalanya, wajahnya seakan-akan gembira sekali.


"Ehmm ... Tunggu dulu." Daffa kembali menurunkan kepalanya.


Syifa menatap wajah Daffa, tersenyum megah dengan matanya yang berkedip-kedip mengharapkan sesuatu darinya. Rupanya Syifa lebih menantikan dan mengharapkan jawaban yang satu ini dibandingkan dengan yang lainnya.


Daffa berpikir sejenak, kedua matanya menutup membayangkan dirinya sebagai Syifa.


Beberapa saat berlalu, Daffa telah membuka matanya kembali hingga melebar.


"Seseorang yang melahirkanmu, Ibu."

__ADS_1


Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Selain ibuku."


"Seseorang yang menafkahimu, Ayah."


"Maksudku tuh selain kedua orang tuaku." Syifa menyalahkannya lagi.


"Oh, hmm ... Berarti adikmu? Fasa."


"Daffa ... "


Syifa menarik nafas cukup panjang, ia gregetan saat mendengar jawaban dari Daffa untuk yang ketiga kalinya, karena jawaban itu selalu salah di pandangannya.


Alhasil itu membuatnya merasa kesal ketika melihat wajah Daffa yang bolak-balik memandang ke arah lain.


Syifa pun berekspresi kesal seraya menggembungkan pipinya kepada Daffa.


"Betul, kan?" Dengan entengnya Daffa berkata seperti itu.


"Bukan! Bukan! Bukan!" Tiga kali Syifa ucap kata yang sama dengan begitu keras.


"Kalau Adikmu juga bukan, terus siapa lagi?"


Ketika begitu memuncaknya emosinya Syifa, tiba-tiba isi kepalanya mendadak langsung mendingin usai mendengar perkataan Daffa yang sangat mengena baginya.


"Siapa?" Daffa menanyakannya lagi.


"E–eh, e—eh ... " Muncul suara kecil dan tidak jelasnya dari mulut Syifa.


Seketika Syifa menjadi gagap, wajahnya begitu memerah ketika ditanya Daffa. Panik, bingung, dan berdebar ia rasakan.


"A—a–a ... " Suaranya terputus-putus seperti jaringan yang tidak stabil.


Memanas lagi, wajah Syifa kembali memerah saat terbeban oleh suatu perkataan yang sangat ingin dilontarkan dari mulutnya.


"Aku?" Daffa mencoba memahaminya.


Beberapa kali Syifa mencobanya, tapi ia selalu saja gagal. Ucapannya begitu berat baginya hingga tak bisa ia keluarkan.


"A—aku ... Sangat ... M—men ... "


"Hah? Apa? Gak jelas, coba ulangi?" Daffa coba lebih mendekatkan lagi telinganya ke Syifa, karena tidak jelasnya suara Syifa yang terdengar di telinganya.


"Aku sangat m—men ... M—men ... "


"Hah? Ulangi?" Telinganya lebih dekat lagi, Daffa sangat kebingungan.


"A—aku sangat membencimu!"


PLAK!


Suaranya cukup keras, di saat yang bersamaan, Syifa melayangkan tangannya tepat ke arah bagian terdekat pipinya Daffa.


Daffa merintih kesakitan, ia lalu langsung memegangi bagian pipi yang ditampar oleh Syifa. "Atch! Kenapa kamu malah menamparku? Apa aku ada salah?"


"Eh, maaf-maaf!? Aku tidak sengaja, kamu gak apa-pakah?"


"Tidak sengaja matamu." Batin Daffa, seraya mengusap mukanya dengan handuk yang dipegang olehnya.


Daffa mendengus sambil menatap sipit Syifa, sepertinya ia merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Syifa kepadanya barusan.


Tap,

__ADS_1


Tak berselang lama, Daffa melangkahkan kaki sebelah kanannya terlebih dahulu, tampaknya ia hendak berjalan melewati Syifa. "Ya sudahlah, apa terserah mau saja."


Melihat hal itu, Syifa seakan langsung berupaya menghalanginya, dengan cara memegang lalu menarik tangannya, tapi Daffa tak mau berhenti dan tetap melangkahkan kakinya secara perlahan. "Daffa, tunggu sebentar."


"Kamu ngambek? Marah? Ayolah, aku minta maaf banget." Tanya Syifa.


"Apa aku terlihat seperti itu?"


"Iyah, wajahmu malah memperlihatkan lebih dari itu."


"Wajahku memang sudah begini, tapi percayalah aku tidak apa-apa, jadi jangan ikutin aku mulu."


"Ah, masa sih ... Tapi tunggu sebentar, kamu buru-buru emangnya mau ke mana, sih?"


"Kamu gak lihatkah? Ini tinggal aku saja yang belum ganti."


"Oh, itu. Tapi berhenti dulu."


"Gak mau." Daffa menolak, ia sejak tadi berbicara tanpa menatap mata Syifa.


"Please ... Berhenti dulu."


"Kalau mau bicara, bicara langsung aja,"


"Gak bisa, ini udah terlalu dekat dengan—" Syifa menggantung perkataannya.


"Terlalu dekat dengan apa?" Dari sana Daffa melihat teman-temannya Syifa dan ia pun langsung menyadarinya.


"Emm, makanya kita duduk di sana lagi dulu." Pinta Syifa sembari menunjuk arah tempatnya.


"Tidak, nanti sehabis aku ganti aja."


Syifa terus mengikutinya berjalan di tepi kolam, ia tampak menempel di tangan Daffa sampai saat ini juga, bahkan tarikannya makin kuat lagi. "Ih, kamu mah ... ! Please."


Hingga akhirnya Syifa memutuskan untuk menarik tangannya Daffa sekencang-kencangnya. "Ber-hen-ti ... !"


Tapi Daffa tak mau kalah, ia tetap menatap lurus ke depan sambil melangkahkan kakinya.


Tangannya pun terlepas, Syifa malah tak kuat sendiri, sebab tangan Daffa terlalu kuat menahannya saat ditarik olehnya.


Ketika itu, Syifa sangat kagok. Karena tak kuat itulah, ia malah terlempar ke belakang. "Eh."


kedua kakinya melangkah ke belakang secara sendirinya. Syifa tak mengenakan sepatu maupun sandal, di saat itulah ia langsung menyadarinya, kalau lantai di tepi kolam sangatlah licin.


Celepak,


Celepak,


Celepak.


Suaranya cukup berisik, terasa dingin, namun hatinya sangat panas, karena ia dalam keadaan panik.


Wajahnya menganga, kedua kakinya menapak ke belakang dengan cepat, Syifa tak bisa mengontrol kakinya dengan baik.


Suatu ketika salah satu telapak kakinya terasa terpleset ke belakang. "Eh, bukankah ini gawat?!" Batinnya, dengan jantungnya yang berdegup kencang.


Hingga di detik berikutnya, ia sudah berada tepat di garis yang paling dekat dengan kolam renang.


"Eh, Aaaaahh ... ! Daf—"


BYURR!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2