
Beberapa hitungan menit sebelum jam pelajaran akan dimulai, namun Daffa masih terlihat menyenderkan kepalanya di meja.
Keadaan di kelas tampak begitu tenang seperti di pesisir pantai, walaupun ada sedikit suara berisik obrolan siswa-siswi lain yang seperti suara ombak yang datang dari tengah pantai menuju pesisir pantai.
Semua siswa dan siswi di kelasnya Daffa sudah pada masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing, kecuali dua orang yaitu Ridho dan Farrel. Mereka berdua nampaknya masih berada di luar kelas.
Di saat tepat bel masuk kelas telah berbunyi, dari dalam kelas terlihat Ridho dan Farrel yang sedang berjalan bersama menuju ke arah pintu kelas. Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam kelas.
Langkah kaki Ridho dan Farrel terhenti sesaat melihat Daffa. "Eh, itu Daffa tertidur kah?" Ucap Farrel.
"Wah Iyah... Dia sedang tidur," ucap Ridho.
Tiba-tiba Ridho dan Farrel saling bertatapan satu sama lain dengan mukanya yang tampak tersenyum jahat. "Hehehe...." Tawaan kecil mereka berdua.
Di sisi Daffa, ia tampak sedikit menggerakkan salah satu tangannya. Ia menggerakkan tangannya sampai menutupi sebagian wajahnya. "Haha, pasti mereka semua berpikir kalau aku itu tertidur." Gumam Daffa dalam hatinya.
Ternyata eh ternyata, Daffa itu hanya berpura-pura tidur di atas mejanya. "Padahal mah... Aku sedang menenangkan pikiranku."
Ridho dan Farrel tampak duduk di bangku mereka masing-masing yang berada di depan. Tempat duduk mereka berdua persis berada bersampingan.
Farrel dan Ridho bersama-sama menoleh ke belakang dari tempat duduknya. "Ssttt!...." Isyarat mereka berdua kepada teman sekelasnya.
"Semuanya...." Farrel memanggil seluruh murid di dalam kelasnya.
Seketika semua murid yang berada di kelas menoleh ke arah Farrel. Terkecuali Daffa yang tampak tengah tidur di mata murid lain.
"Semuanya.... Sstt... Diam. Lihat, Daffa lagi tidur jangan pada berisik, biar nanti gak bangun saat bu guru datang," ucap Farrel sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ide bagus tuh, hihihi...." Ucap Vira dengan tawaan setelah mendengarkan perkataan Farrel.
"Hadeh... Berisik banget dah, ganggu orang sedang menghalu saja." Gumam Daffa dalam hatinya yang mendengar kebisingan. di dalam kelas.
Sementara itu Syifa tampak melihat ke arah Daffa setelah mendengar perkataannya Farrel. "Bukankah itu kasihan baginya." Gumam Syifa.
Daffa terlihat sedikit membuka matanya lalu ia mengintip dari celah yang sangat kecil jari-jarinya itu.
__ADS_1
Di celah-celah itu Daffa melihat Syifa yang dari tadi terus menatap ke arahnya. "Bentar-bentar, kenapa dia menatapku terus-menerus? Aku jadi merinding...." Keringat dinginnya keluar seketika. Daffa kemudian kembali menutup rapat kedua matanya.
"Eh? M. M.. Mana mungkin aku peduli dengannya!" Gumam Syifa dalam hatinya yang kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Daffa dan berfokus pada bukunya yang berada di atas mejanya. Mukanya tampak memerah di saat itu juga.
Di sisi lain, murid-murid lain terlihat sedang berbisik-bisik. Mereka berbisik sembari matanya yang tampak melirik ke arah Daffa.
"Itu anak dari kemaren perilakunya seperti tidak tau diri saja. Bikin hati terasa panas aja."
"Iya, di sekolah malah tidur, seperti anak kampungan saja."
Daffa terlihat menguping bisikan murid-murid lain di dalam kelasnya. "Aku emang anak kampung anjir...."
Di sisi lain tertampak wajah Charla yang terlihat cemas dan panik ketika melihat Daffa yang tengah tidur itu. "A-apa yang harus aku lakukan? Tadi pagi dia sudah menyelamatkan ku, sekarang aku harus membalasnya."
Beberapa saat setelahnya, Charla tampak melihat ke arah mejanya yang penuh dengan buku-buku dan alat tulis lainnya. Dia seketika mendapatkan ide yang bagus. "Penghapus? Betul juga, itu bisa saja membangunkannya."
Charla terlihat mengambil penghapus di atas mejanya.
Kemudian ia tampak terus saja melihat-lihat penghapus itu yang sedang ia pegang. "Ta-tapi, bagaimana jadinya kalau Daffa itu tau bahwa aku yang melemparnya? Atau... bagaimana kalau itu sampai tidak mengenainya?" Charla tampak tidak percaya diri.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan kelas. Saat Charla melihatnya ternyata itu adalah bu guru yang menuju ke kelasnya.
Kedua tangannya Charla tampak menampar pipinya sendiri dengan agak keras. "Aku harus bisa!" Seketika dirinya telah dipenuhi kobaran api semangat.
"Aku harus mencari moment yang tepat, saat semua murid tidak melihat ke arahku dan juga sebelum bu guru masuk ke dalam kelas." gumam Charla yang tengah fokus.
Detik demi detik suara langkah kaki bu guru terasa semakin lebih cepat di pendengarannya Charla. Dan ia terus fokus melirik ke arah teman sekelasnya satu-persatu secara bergantian.
Beberapa detik kemudian....
Bu guru yang akan mengisi pembelajaran di kelasnya Daffa tampak sudah berada tepat di depan pintu kelas. Dan salah satu kakinya sudah melangkah masuk ke dalam kelas.
Di saat yang sama, Charla terlihat senang seperti telah menemukan sesuatu. "Ini dia! Moment ini yang aku tunggu-tunggu," gumam Charla.
Dengan modal keberuntungan, Charla pun kemudian asal melempar penghapus miliknya ke arah Daffa dengan menutup kedua matanya. Dia melemparkannya dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
__ADS_1
Ketika Charla membuka matanya, seketika pandangannya melihat ke arah penghapus miliknya yang tengah melayang di udara dan menembus udara di sekitarnya.
Detik berikutnya, matanya seakan-akan melebar dibarengi alisnya yang tampak menaik. "Ti-ti-tidak!... Aku melemparnya terlalu tinggi..." Gumam Charla dalam hatinya.
Charla kini tampak cemas melihat keadaan yang makin gawat karenanya. Yang tadinya semangatnya berada di atas langit sekarang malah berada di bawah tanah.
Namun, seketika Charla dikejutkan oleh Daffa yang tiba-tiba bergerak dengan cepat. "Eh?..."
Braakkk!...
Tiba-tiba Daffa tampak mengangkatkan kepalanya sembari menghentakkan mejanya dengan agak keras sampai-sampai menimbulkan suara. "Yahahaha... kalian semua kena tipu..."
Sesaat setelah Daffa menegakkan badannya dan juga mengatakan itu semua, penglihatannya tampak seperti melihat sesuatu yang kecil di sebelah kanannya.
Dan saat Daffa menoleh ke sebelah kanan, sungguh kaget dan terkejutnya Daffa ketika ia melihat penghapus terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mukanya. "Eh?"
Seketika matanya langsung reflek menutup dengan sendirinya sesaat sebelum penghapus itu menghantam mukanya.
Dan di detik berikutnya pun kemudian penghapus itu tampak menabrak tepat di atas matanya Daffa. "Aaaa...." Suara kecil teriakannya sesaat sebelum penghapus itu menghantamnya.
Karena saking terkejutnya Daffa yang tiba-tiba muncul penghapus yang tepat berada di depan matanya, seketika badannya kini menjadi miring setelah dihantam oleh penghapus itu.
Tangannya sontak menahan tubuhnya yang tampak miring dengan cara memegang erat kursinya.
Namun naasnya, pergerakan tubuhnya Daffa yang semakin miring itu membuat kursi yang didudukinya juga ikut bergerak.
Dan alhasil Daffa pun kemudian jatuh bersamaan dengan kursinya itu ke sebelah kirinya
Gubraaakkk!
Kepalanya berputar-putar karena pusing setelah jatuh ke lantai.
"Ups, hahahaa!...." Teman kelasnya Daffa yang tadinya terlihat kaget, sekarang malah menertawakannya.
Terkecuali hanya Charla yang tampak cemas dan juga panik karena dirinya telah membuat Daffa terkapar di atas lantai.
__ADS_1
Sedangkan bu guru yang melihatnya di saat-saat terakhir, ia hanya bisa menepuk jidatnya melihat murid-muridnya itu.
Bersambung....