
Suara teriakan itu sampai-sampai terdengar ke lantai bawah rumahnya Daffa.
"Astaga... Kaget gue woy!" Ucap Farrel sembari mengelus-elus dadanya yang berada di depan pintu kamar mandi.
"Udah dua kali ini loh! Awas aja nant–"
Farrel yang belum selesai mengucapkan perkataannya, tiba-tiba saja ia tampak melihat Ridho tengah membuka pintu kamar mandi.
"Suara apa lagi tadi?!" Tanya Ridho lantang sembari wajahnya mengintip keluar pintu tersebut.
"Lo ngapain keluar-keluar Dho... Pakai celana dulu lah!" Balas Farrel seraya menarik kembali pintu tersebut dengan rapat. "Brakk..."
"Jangan kuat-kuat, muka aku hampir kena anjir..." Ucap Ridho yang kemudian ia kembali berjongkok.
"Ya udah cepat, jangan lebih dari sepuluh menit." Pinta Farrel.
"Baik." Balas Ridho tidak niat.
***
Di lantai atas tepatnya di sebuah kamarnya Daffa, tampak tiga gadis remaja tengah membawa suatu komik dewasa seraya berjalan pelan bersamaan ke arah Daffa yang sedang bertiduran di kasurnya sembari memandang ke jendela.
Sementara Daffa, mukanya terlihat sangat kesal sesaat setelah mendengarkan suara teriakan yang dibuat oleh Syifa dan teman-temannya. Itu membuatnya terganggu.
Daffa masih saja menutupi telinganya. Lalu ia bertanya kepada Syifa dan teman-temannya tanpa melihat orangnya. "Obatnya mana?..."
"Neh, Daffa..." Panggil Syifa pelan sembari mengambil komik itu dari tangannya Vira.
"Hm?" Balas Daffa.
Saat Daffa membalikkan badannya ke arah mereka bertiga, ia sedikit kaget melihat mukanya Syifa dan teman-temannya yang tampak sangat aneh menurutnya.
"Eh? Kalian kenapa?" Tanya Daffa sesaat setelah melihat mereka bertiga. Daffa kemudian duduk di kasurnya.
Dengan malu-malu, Syifa menunjukkan komik tersebut kehadapan Daffa sambil berkata lirih, "Apa komik ini punya kamu?"
Daffa seketika langsung kaget dan reflek membantahnya, "Mana mungkin aku memilikinya!"
"Jangan bohong," ucap Syifa pelan dengan mukanya yang masih memerah.
Daffa kembali melihat jelas komik itu sambil berkata, "Tentu sa...."
"Tentu? Tentu apa?..." Tanya Syifa dan teman-temannya kompak.
"Eh." Daffa kepikiran sesuatu.
"Eh?" Daffa tampak mencoba mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Eh?!" Daffa semakin jelas mengingatnya.
Tak butuh waktu lama, Daffa dengan jelas mengingat semuanya pada saat dirinya membeli komik itu di suatu toko saat sebelum masuk sekolah SMA Merah Putih.
"Haaaahhh!?" Suara hatinya Daffa.
Mulutnya membuka lebar seakan tengah terkaget-kaget dibarengi dengan perasannya yang mulai sangat panik dan sangat malu sampai-sampai wajahnya berubah memerah setelah mengingat semuanya.
"Ternyata ini punya kamu kan? Jelas-jelas tadi Vira dapat di laci meja belajarnya kamu." Ucap Syifa.
Sedangkan Vira dan Bella mengangguk-anggukan kepalanya seakan mereka berdua setuju dengan ucapannya Syifa.
Daffa hanya terdiam dengan mukanya yang terkaget-kaget dan tidak menjawab perkataanya Syifa yang dilontarkan kepadanya.
Dan tiba-tiba saja Daffa nampak mencoba merebut komiknya itu dari genggaman tangannya Syifa. Namun usahanya sia-sia saja karena Syifa seketika langsung mengangkat komik itu ke atas sehingga Daffa tidak bisa mencapainya.
"Nanti akan aku bilang ke Tante Ayu," ucap Syifa selagi mengangkat komik itu.
"Eh, jangan dong... Aku mohon," Daffa tidak menyerah, dia terus mencoba menggapainya walaupun tenaganya tidak seperti biasanya.
"Oh benar juga. hehe... Gimana kalau kita sama-sama tidak memberitahukannya kepada Ibunya aku. Kalian lupa yah? Kamarku ini jadi berantakan karena siapa hayo?..." Daffa mencoba bernegosiasi dengan Syifa walaupun di tengah-tengah situasi yang sedang panas.
"Oh?... Kalau itu sih, bagiku tidak masalah." Jawab Syifa santai seperti di pantai.
"Aku melupakannya! Aku lupa kalau mereka anak orang kaya," Gumam Daffa yang kelupaan.
Karena sudah tidak ada harapan dengan berkata-kata, Daffa pun mencoba menggapai komiknya itu dengan lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
"Eh?" Daffa dan Syifa tampak saling memandang dengan wajahnya yang sama-sama terkaget sebelum mereka berdua terjatuh bersamaan.
"Awas!..." Ucap Vira dan Bella yang melihat mereka berdua. Dan,
Brukk!...
Suara Daffa yang menubruk Syifa lalu terjatuh bersamaan ke lantai.
Vira dan Bella tampak bengong melihat Daffa yang tengah menindih Syifa di lantai.
"Akh! Sakit tau..." Syifa merintih kesakitan sesaat setelah terjatuh yang kemudian ia membuka matanya.
"Eh?" Wajahnya tampak terkejut melihat Daffa berada tepat di atasnya menindihnya.
Syifa kemudian hanya terdiam terbaring di lantai dan mukanya tampak tersipu malu bersamaan dengan jantungnya yang terus berdebar.
"Aduhh... Eh? Maaf-maaf aku gak sengaja!" Ucap Daffa yang juga tampak terkaget. Belum sempat Daffa berdiri dari situasi itu, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari luar pintu kamarnya.
"Tante pulaangg!" Suara Ibu Ayu agak keras dari luar kamarnya Daffa.
__ADS_1
"Eh?" Daffa dan teman-temannya tampak sangat panik mendengarnya. Terkecuali Syifa yang seperti tidak mendengar suara itu karena saking malunya.
Detik berikutnya Ibu Ayu langsung membuka pintu kamarnya Daffa dengan cepat lalu ia berkata seraya melangkah melewati pintu, "Tante sudah beli semuanya nih..."
Seketika perasaan senang dan antusiasnya Ibu Ayu menghilang saat melihat Daffa tengah menindih Syifa tepat dan sangat jelas dihadapannya.
"Eh?" Ibu Ayu tampak kaget melihatnya, sampai-sampai ia menjatuhkan semua barang belanjaannya. "Brukk!"
***
Sesaat setelah Syifa dan semua teman-temannya itu sudah pergi dari rumahnya, Daffa tampak bersimpuh dihadapan Ibunya yang tengah memarahinya habis-habisan di kamarnya dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa kamu menindihnya!?" Tanya Ibu Ayu keras.
"Maaf..." Jawab Daffa lirih sambil bersimpuh dan menundukkan kepalanya ke bawah.
"Apa karena dia cantik!?" Tanya Ibu Ayu keras.
"Maaf..." Jawab Daffa lirih sama seperti tadi.
"Apa karena dia anak orang kaya!?" Tanya Ibu Ayu keras.
"Maaf..." Jawab Daffa lirih.
"Terus kenapa kamu bisa punya komik seperti ini? Hah!?" Tanya Ibu Ayu keras.
"Maaf..." Jawab Daffa lirih.
Daffa sekarang hanya bisa memohon maaf karena dari tadi penjelasannya dibantah oleh Ibunya sendiri.
"Maaf, maaf... Pekerjaannya cuma bisa minta maaf ya!?" Ucap Ibu Ayu yang kemudian ia menjewer telinganya Daffa.
"Adeh, adeh. Sakit Bu..." Daffa merintih kesakitan.
"Cepet jawab!" Bentak Ibu Ayu.
"Tadi kan sudah aku bilang, itu cuma salah paham," ucap Daffa pelan.
"Tapi buktinya Ibu lihat dengan mata kepala Ibu sendiri," balas Ibu Ayu tegas.
"Itu karena aku mau ambil komiknya," ucap Daffa lirih seraya membuang wajahnya dari Ibunya.
"Hah? Komik ini?"
Ibu Ayu mencoba menenangkan diri sembari menghela nafas dalam-dalam lalu ia berkata, "Serah deh, yang penting jangan diulangi lagi. Dan juga! Jangan sampai Ibu melihat komik seperti ini lagi ada di kamarmu."
"Yaudah cepat sana ke kasur. Ibu mau ambil obat dulu di lantai bawah." Perintah Ibu Ayu.
__ADS_1
"Baik, Bu." Daffa tampak menuruti Ibunya dan berjalan ke arah kasurnya.
Bersambung....