
Tik ...
Tik ...
Tik ...
Rintik-rintik air hujan kian berbunyi di malam hari. Namun suaranya tak begitu keras, hanya saja ritmenya yang sejak tadi berlangsung dengan normal.
Air hujan membasahi seluruh permukaan jalan dengan lambat, bukan hanya itu saja, payung yang mereka gunakan pun sama. Suasana yang seharusnya dingin, malah menjadi panas ketika mereka saling tatap-menatap.
Situasinya cukup buruk, bahkan Daffa sampai menggigil dan merinding ketika melihat wajah amarah dari tante Intan.
Daffa berbisik pelan dengan Syifa. "Hey, Syifa. Kenapa mamamu bisa sampai ke sini?!"
Syifa menggeleng-geleng. Wajahnya juga terlihat seperti sedang panik. "Aku juga tidak tahu! Gimana ini? ... "
Daffa saat ini tengah dihadapi seorang tante Intan bersama sejumlah pria yang tingginya hampir sama rata, yang kemungkinan mereka adalah anak buah dari tante Intan.
Dengan memiliki wajah yang amat serius, mereka kompak berbaris rapi di belakang tante Intan dengan mengangkat sebuah payung hitam ke atas. Rumahnya Daffa sudah seperti menjadi tempat pesta payung saja.
Daffa tak hanya melihat mereka saja, tapi ia juga melihat seorang pak Supri yang sedang bersandar pada mobil berwarna hitam.
Tiba-tiba pak Supri menggerakkan kedua tangannya, itu membentuk seperti sebuah tanda silang.
Daffa dan Syifa semakin kebingungan setelah pak Supri berkata bukan dirinya yang melakukannya. Di keadaan yang sedang tertekan, mereka berdua masih sempat berpikir, kenapa tante Intan seolah-olah sudah mengetahui Syifa tengah berada di sini.
Fasa berteriak sambil berlari ke arah tante Intan. "Mama ... !"
"Ceplak!"
"Ceplak!"
"Ceplak!"
Ketika sampai di depannya, Fasa langsung memeluknya dengan erat.
Syifa menggerakkan mulutnya, ia membuka bicara duluan. "Mama? ... Mama kenapa bisa sampai ke sini?"
Tiba-tiba tante Intan melangkah maju ke depan satu kali. "Seharusnya mama yang bertanya, kenapa kamu keluar tanpa izin dari mama? Udah begitu kamu juga membawa Fasa."
__ADS_1
Syifa gemetaran menghadapi pertanyaan mamanya, dia bingung mau menjawab seperti apa. "Emm ... Aku hanya sedang bermain ke rumah Daffa."
"Jangan bohong! Jelas-jelas kamu habis dari luar. Apa mungkin kalian habis ke luar kota?"
"Mama tau dari mana?! Mama pasti diberitahu seseorang, kan? Siapa orang itu?"
"Tentu saja mama tahu dari salah satu pengawal mama yang ada di sini."
Syifa berjinjit, ia melihat seluruh orang yang ada di belakang tante Intan. "Mereka semua pasti anak buah dari Rio, kan?"
Tante Intan mengelak, dia langsung mengubah arah pembicaraan dengan mengatakan hal lain. "Pertanyaan mama belum dijawab, kalian habis ke luar kota, kan?"
Syifa menjawabnya dengan ragu-ragu. "I—iya ... "
"Tuh kan benar. Terus, kalian ke luar kota itu mau ngapain?"
Syifa dan Daffa hanya terdiam, tak ada dari mereka yang menjawab perkataan tante Intan dalam sesaat.
Tante Intan mendengus, kali ini ia mencoba mengulangi perkataannya dengan pelan. "Syifa ... Jawab gak? Kalau gak, nanti pulang-pulang mama langsung bilang ke papa."
Mendengar kata papa, Syifa seakan langsung panik. "Eh, jangan bilang ke papa!"
Syifa berpasrah, ia menunduk kepalanya terlebih dahulu. "Baiklah ... Aku akan menjawabnya. Pagi tadi, aku dan Fasa ikut bersama Daffa ke kampung halamannya dan sekarang baru pulang ke sini."
Mendengar hal itu, malah membuat tante Intan semakin cemas terhadap anak-anaknya. "Hmm ... Sudah berani, ya?! Kalian diam-diam pergi tanpa memberitahu mama."
Tak hanya itu, emosinya juga sudah berada di pucuk langit. "Ini sudah keterlaluan!"
Dengan bantuan amarahnya, tante Intan menunjuk ke salah seorang pengawalnya. "Hey, kamu! Beri dia peringatan."
Sebelum berjalan mengarah Daffa, pengawal tersebut melempar sebuah payungnya ke atas, hingga terbang entah ke mana. Tanpa berlama-lama, pengawal yang ditunjuknya langsung bergerak. "Siap! Perintah diterima."
Mengetahui akan hal itu, seketika Syifa panik dan langsung berteriak memberontak. "Eh, tunggu-tunggu. Mama menyuruhnya untuk memukul Daffa?! Daffa gak salah! Aku yang salah! Jadi tolong berhenti."
Pengawal itu tak mendengarkan ucapan dari Syifa dan malah semakin cepat melangkahkan kakinya.
Syifa tahu, mereka tidak akan berhenti kalau bukan mama yang menyuruhnya untuk berhenti.
Syifa pun menatap mamanya, wajahnya amat serius ketika ingin mengatakan sesuatu. "Kalau mama tidak menyuruhnya berhenti, aku tidak akan pulang ke rumah! Dan aku akan di sini terus bersama Daffa selamanya ... !"
__ADS_1
Teriakannya begitu keras hingga menyaring di telinga tante Intan. Dia langsung syok mendengar perkataan putrinya yang begitu menusuk.
Ternyata tidak hanya tante Intan saja yang terkejut, namun semuanya yang mendengarkan teriakan Syifa dengan jelas termasuk Daffa sendiri.
Waktu di sana benar-benar seperti terhenti, mereka semua seperti patung yang tak bergerak dalam sesaat.
Dengan wajahnya yang sangat serius, Syifa menarik tangannya Daffa. Syifa memeluknya dengan erat dan semakin erat lagi disetiap detiknya. "Aku tidak bercanda, tapi aku sangat serius."
Tanpa disuruh tante Intan, pengawal yang tadi maju langsung terdiam di tengah jalan. Wajahnya sangat kebingungan ketika menoleh ke belakang. "Bagaimana ini, Puan?"
Tante Intan memegang keningnya, ia sepertinya sedang pening. Sedangkan pengawal yang berada di antara mereka, ia biarkan begitu saja sampai basah kuyup.
"Baiklah-baiklah ... Lepas tangannya Daffa dulu."
Syifa tak melepaskannya, malah ia buat pelukannya semakin erat.
Tante Intan tercengang keheranan saat melihatnya, ia sangat tidak terima. "Daffa ... Kamu udah mengajari apa saja kepada putriku, ketika tante tidak ada? ... "
Daffa yang sejak tadi berdiam diri, malah menjadi tempat alasan bagi tante Intan. "Sumpah, aku tidak melakukan apa-apa." Gumam Daffa dalam hati.
Daffa dituduh oleh tante Intan, padahal dirinya hanya mengamati saja. Di saat ini, Daffa tak bisa bergerak leluasa, bahkan pipinya memerah karena malu dengan keadaannya yang sangat membuat jantungnya berdebar.
Daffa pun terpaksa memejamkan kedua matanya karena bola matanya yang hampir melihat sesuatu hal yang tak senonoh bagi seorang pria.
Tak lama kemudian, terpaksa tante Intan melambai tangannya kepada pengawalnya yang berada di depan. Pengawal itu kembali tanpa melakukan apa-apa.
"I–ini udah mama suruh kembali, sekarang kamu lepaskan tangannya Daffa."
Tante Intan sangat lega, akhirnya Syifa sang putrinya melepaskan tangannya Daffa dari pelukannya yang begitu erat.
Tante Intan mengeluarkan sebuah senyuman kecil, ia menjulurkan tangannya ke arah Syifa. "Syifa, ayo kita pulang ke rumah. Nanti keburu hujannya semakin deras. Kamu harus langsung nurut dengan Mama, kalau tidak ... Nanti Mama bilangin semuanya ke Papa lho ..."
Syifa seakan langsung terkejut, ketika mendengar nama papanya disebut. "Papa?! Jangan bilangin ke papa, please ... !"
"Ya udah, makanya cepat ke sini."
"Tapi mama janji, kan? Gak bakalan bilang ke papa?"
Tante Intan mengangguk, tangannya menjulur lebih panjang lagi. "Iyah ... Mama janji kok."
__ADS_1
Syifa berjalan pelan, langkah demi langkah ia lewati ke arah tante Intan. Ketika sampai di hadapannya, Syifa langsung menangkap dan menggenggam jari-jari tangan mamanya itu.
Bersambung ....