
Kepalanya Daffa berputar seribu keliling karena terlalu kebingungan, sebab jika ia hanya diam saja di situ, maka akan terjadi hal yang tak terduga. Sebaliknya, jika ia menyuruh Syifa untuk berhenti, ia akan dimarahi habis-habisan oleh Syifa.
"Tenang Daffa, tenang, jangan panik." Gumam Daffa menenangkan diri sendiri sambil menghela nafas dalam-dalam.
Kemudian Daffa mencoba memutar badannya dengan perlahan, namun naas kakinya yang bergesekan dengan keramik, kemudian membuat timbul suara kecil. "Agh... keramik kampret."
Syifa yang mendengarkan suara samar-samar itu dari tempatnya, tampak sedikit kaget.
"Eh! Siapa itu? Bukan setan kan?" Ucap Syifa dengan perasaan takut, "Ehh benar juga, mana mungkin ada setan di kamar ini." Lanjut Syifa berbicara sendiri dengan keras.
Daffa tampak lega karena Syifa tidak menyadari jika dirinya lah yang membuat suara tersebut muncul. Sedangkan Syifa kembali fokus ke arah kaca dengan sedikit gemetaran.
"Hampir... aja," gumam Daffa sambil menghela nafas dalam-dalam.
Sementara Syifa kembali fokus ke arah kaca dengan sedikit gemetaran, lalu ia melepaskan celananya dengan perlahan. Daffa yang melihatnya, seketika refleks menutup muka dengan kedua tangannya, "Ini situasi macam apa!" Gumam Daffa.
Jantung Daffa berdebar sangat kencang karena di hadapannya terdapat seorang gadis yang hanya menggunakan pakaian dalam.
"Sekali-kali gapapa kan?" gumam Daffa penasaran dengan jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Dengan muka penasaran, Daffa membuka sedikit celah disela-sela jari tangannya,
Kemudian Daffa pun melihat pemandangan yang sangat indah dari sela-sela jari tersebut dan ia tampak tidak bisa mengalihkan fokusnya dari pemandangan tersebut.
"Wahh... Tapi kenapa ada gambar barbienya haha..." Gumam Daffa dengan wajah yang memerah sembari menahan tertawa.
Tak lama setelah itu, Daffa melihat Syifa melangkah keluar dengan pelan dari kamar Vira, karena telah selesai berganti pakaiannya.
Daffa sangat lega, karena keberadaannya di bawah kolong kasur tidak diketahui oleh Syifa sampai ia keluar kembali dari kamar Vira. "Akhirnya pergi juga tuh si Syifa," ucap Daffa lega sembari keluar dari kolong kasurnya Vira.
Setelah keluar dari kolong, Daffa mengusap-usap pakaiannya yang kotor karena terkena debu seraya berjalan dengan pelan ke arah pintu.
"Aghh... Bukannya dapet pakaian yang lebih bagus, eh... Malah pakaian yang aku pakai jadi kotor, nasib-nasib," ucap Daffa sembari membersihkan pakaiannya.
Kemudian Daffa membuka pintu yang tidak dikunci tersebut dengan perlahan, lalu ia tengok kiri, "Nah sip, dia udah pergi," setelah itu ia tengok kanan, "Eh!?" Lanjutnya.
Tubuh Daffa tidak bisa bergerak dan mulutnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata ketika melihat Syifa berdiri di sebelah kanan pintu yang telah ia buka.
"Sudah kuduga kamu ada di dalam kamarnya Vira," ucap Syifa dengan nada marah.
__ADS_1
Kemudian dengan cepat, Syifa menarik kerah bajunya Daffa, lalu ia menyudutkan Daffa di tembok dekat pintu sambil bertanya, "Sedang apa kamu di dalam?!"
"Gawat! Gawat! Ini gawat banget anjir!" Gumam Daffa yang tengah disudutkan oleh Syifa.
"Jangan diam saja!" Bentak Syifa sembari menarik kerah bajunya Daffa.
Daffa sekarang dalam keadaan sangat panik dan juga takut, karena ia melihat Syifa tampak sangat marah dengan tatapan mata tajamnya dan tubuhnya dikelilingi oleh aura yang mengerikan, semua itu tertuju pada Daffa.
Daffa menelan ludah, lalu ia berkata, "Aku cuman tersesat tadi," Daffa bersilat lidah.
"Bohong! Kamu pasti lihat kan?! Iya kan?! Benar kan?!" Bentak Syifa sambil menarik kerah bajunya Daffa lebih kuat lagi.
Daffa yang semakin tersudut dan tidak enak kepada Syifa, ia pun menghela nafas dalam-dalam lalu mengatakannya.
"Iyaa deh iya, aku cuma lihat sekilas." Ucap Daffa pelan dan tidak niat.
Ekspresinya Syifa tampak berubah drastis ketika mendengarkan ucapan Daffa.
"Eh?! Emm..." Pipinya seketika berubah merah muda, matanya berkeliling karena tersipu malu, dan perasaannya sangat malu.
Daffa yang melihat Syifa berekspresi seperti itu, membuat jantungnya berdebar sangat kencang, karena ia berada persis di hadapannya Syifa.
Tak lama kemudian, Syifa melepaskan tarikannya dari kerah bajunya Daffa, lalu ia menutupi mukanya yang malu-malu itu dan menghadap membelakangi Daffa.
"Aku hanya melihatnya sekilas, kok," ucap Daffa.
Syifa menoleh ke arah Daffa dan berkata, "tapi beneran kan?" Ucapnya pelan dengan pipinya yang masih memerah muda.
"Iya serius," jawab Daffa.
Syifa lega mendengarkan kata-kata Daffa, lalu ia menghela nafas dalam-dalam, "Ya udah, aku pergi duluan." Ucapnya yang mukanya kembali normal.
"Iya, nanti aku nyusul," ucap Daffa.
Kemudian Syifa berlari meninggalkan Daffa sambil berkata, "Yahaha... Akan ku laporin ke mamahnya Vira, kalau kamu masuk kamarnya Vira tanpa ijin lalu mengintip gadis secantik diriku." Ucapnya meledek Daffa.
"Apa?! Dasar penipu!..." Teriak Daffa dengan muka kesal.
"Yahaha...." Syifa tertawa sambil melirik ke belakang.
__ADS_1
Daffa yang sudah sangat kesal karena ditipu oleh Syifa, kemudian ia berteriak kembali, "Kalau begitu! Aku juga akan bilang ke semua murid-murid! Kalau kamu masih aja menggunakan ****** ***** berwarna pink yang bergambar barbie!" Ucapnya sampai-sampai nafasnya terengah-engah.
Langkah kaki Syifa seakan terhenti di tengah jalan karena teriakan Daffa.
Kemudian Syifa berbalik badan dan bertekuk lutut ke arah Daffa, "Jadi kamu benar-benar melihatnya dengan sangat jelas?" Ucapnya lirih dengan wajahnya yang tersipu malu.
"Kamu pasti mau tertawa kan? Tertawa aja gapapa kok," sambung Syifa dengan memaksa tersenyum.
Dengan bergegas, Daffa berjalan menghampiri Syifa yang tengah bertekuk lutut di lantai.
"Udah jangan ngambek," ucap Daffa sambil mengulurkan tangannya kepada Syifa.
Tak lama setelah itu, Syifa meraih tangannya Daffa, "Terus apa maumu?" Ucapnya pasrah.
Syifa dan Daffa kini saling menatap dan berhadapan satu sama lain.
"Bagaimana kalau kita sama-sama berjanji tidak akan memberitahukan siapa-siapa," usul Daffa.
"Jadi, kita rahasiakan kejadian malam ini?" Tanya Syifa pelan.
"Iya, kita berdua aja yang tau, kamu setuju kan?" Ucap Daffa.
Syifa tersenyum manis setelah mendengar usulan Daffa, lalu ia menjawab dengan singkat, "Iya."
Sedangkan Daffa yang tau kalau Syifa setuju dengan usulannya, ia tampak merasa lega dan senang.
Sesaat setelah itu, Syifa mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Daffa dan berkata, "Janji?"
"Maksudnya?" Daffa tidak paham.
"Kata Bunda, kalau berjanji harus saling mengaitkan jari kelingking," ucap Syifa pelan dengan mukanya yang malu-malu.
"Eh?... Harus begitu ya?" Ucap Daffa yang mukanya tampak berubah memerah. "Okeh." Lanjutnya sembari mengulurkan jari kelingkingnya.
Di tengah lorong dekat jendela itu yang disinari oleh cahaya rembulan yang terang, tampak mereka berdua saling mengaitkan jari kelingking dengan senyuman lebar terpampang di wajah mereka.
Itu adalah awal dari kisah cinta mereka berdua.
Bersambung....
__ADS_1