
Daffa bersama dengan Syifa dan juga Fasa berjalan mengitari kota, ayunan tangan yang saling menghubungkan mereka satu sama lain membuat orang yang melihatnya mengira mereka seperti layaknya keluarga harmonis.
Sebelum Daffa dan yang lainnya mencapai tujuannya, mereka harus terlebih dahulu menaiki sebuah kereta cepat yang biasa disebut kereta ekspres di kotanya.
Mereka banyak menghabiskan waktu saat di perjalanan, dari berjalan kaki, menunggu, maupun menaiki kereta ekspres. Setidaknya butuh waktu dua jam untuk sampai di stasiun terdekat dari desa yang mereka tuju.
Mereka bertiga tak sadar jika mereka sangat menarik perhatian penumpang lain ketika berada dalam ruangan kereta tersebut. Bagaimana tidak, secara tak sadar mereka sudah sama-sama tertidur lelap hingga saling menggunakan bahu temannya sebagai bantal tidurnya.
Ini terjadi lantaran mereka kekurangan waktu tidur yang cukup karena aktivitas akhir-akhir ini yang sangat banyak membuat mereka cukup kelelahan.
Di lain sisi ada seorang fotografer yang kebetulan sangat tertarik dengan suasananya, dia lalu mengangkat sebuah kamera miliknya.
Syifa terbangun paling pertama, ia terbangun dengan keadaan yang linglung, Tengok kanan kiri seperti sedang mencari sesuatu. Tangannya tiba-tiba merasakan kertas yang cukup keras, Syifa melihat sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.
Syifa terkaget ketika melihat foto dirinya yang tengah molor bersama dengan yang lain terpapar jelas di kertas tersebut, tetapi itu hanya sebentar saja sebab dirinya mendadak tersenyum-senyum sendiri memandanginya. "Ini indah sekali." Ia lalu memasukkan foto tersebut ke dalam tas miliknya sebagai tanda kenangan.
Tak berselang lama, Daffa dan Fasa juga ikut terbangun karena adanya gangguan dari tangannya Syifa.
***
Sekitar jam 10, mereka akhirnya sampai juga di stasiun yang mereka tuju setelah sekian lama menunggunya. Mereka bertiga pun berjalan sampai ke luar.
Bangunan-bangunannya yang kecil merata, pengendara yang lewat di depannya juga tak terlalu banyak seperti halnya di kota.
Fasa tampak menoleh kanan-kiri, wajahnya terlihat senang. "Wah... Beda sekali sama di rumah Fasa, semuanya terlihat kecil!" Fasa sangat kegirangan mulutnya pun tersenyum lebar, dalam hatinya dia ingin sekali merasakan lebih dari ini.
Fasa pun hendak berlarian, tapi baru selangkah dirinya langsung ditahan oleh Daffa. "Oi, mau kemana kamu? Jangan berlarian di sini..." Perintah Daffa seraya menarik tangannya.
__ADS_1
Kakinya Fasa berjuang keras untuk melarikan diri dari tarikan Daffa. "Eeehh... Fasa mau bersenang-senang." Ucapnya sembari memasang wajah cemberut.
Terlintaslah sebuah ide dibenak Daffa yang mungkin dapat menenangkannya, akan tetapi idenya cukup memalukan bila dilakukan olehnya. Ia pun membisik Syifa dan memintanya agar dia yang melakukannya. "Biar Fasa gak ribut sana-sini, mending kamu gendong aja, tolonglah..."
Syifa berpikir sejenak. "Oh... Jadi ini permintaanmu yang pagi tadi? Untuk latihan, ya? " Tanya Syifa pelan yang tengah berbisik dengan Daffa.
"Tidak, sama sekali bukan. Latihan? Maksudnya?" Jawab Daffa dengan wajah datar.
"Eh, enggak jadi ding." Ucap Syifa pelan yang wajahnya tampak memerah.
Tanpa berlama-lama Syifa langsung menggendongnya, ia menarik Fasa dengan kuat ke atas hingga Fasa merasa terkejut. Sesaat setelahnya wajah adiknya tampak merasa senang, sebab Fasa dapat melihat pemandangan yang lebih tinggi lagi dari pundak kakaknya. "Awas, jangan banyak gerak kalau gak mau jatuh." Ucap Syifa memberi nasihat.
"Baik, kak!" Balas Fasa dengan penuh semangat.
Daffa menghela nafas, ia merasa lebih tenang setelah Fasa tidak lagi cerewet. Daffa menuntun mereka berjalan menuju tempat tinggal neneknya yang berada di sekitar persawahan.
Mereka berjalan dengan tenang tanpa adanya suara, Daffa sempat kepikiran untuk membahas tentang temannya Syifa yang bernama Melly dan inilah kesempatannya yang sangat pas karena sedang bersama dengan Syifa, namun Daffa tahu di sini masih ada Fasa jadi ia enggan untuk melibatkannya dalam permasalahannya.
Kesan pertama kakak beradik itu saat menapakkan kakinya di pedesaan adalah pemandangannya yang tersaji sangatlah wow apik dan luas sekali. "Uwaaahh...!"
Berbalik sekali dengan Daffa yang wajahnya sangat biasa-biasa saja ketika memandangnya, mungkin karena dirinya yang terlalu sering melihatnya hingga merasa bosan.
Suasana dan pemandangan yang saat ini ada di sekelilingnya membuat mereka sangat terpesona akan keindahannya, tanaman-tanaman yang beranekaragam tumbuh dari tanah yang berjajar rapi hingga membentuk sebuah garis, ditambah lagi adanya irigasi sawah yang airnya mengalir terus menerus sampai ke ujung danau mempunyai suara yang khas pedesaan.
Di bawah panas terik matahari, tertampak juga seseorang yang mengenakan topi caping tengah bertani di ladangnya, mereka selalu menyirami tanamannya tanpa lelah supaya tumbuh dengan bagus hingga layak untuk dipanen.
Dilihat dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan-bangunan rumah kecil, selain itu juga terdapat sekolah, dan fasilitas pelayanan lainnya yang sangat sederhana.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, sebuah bukit kecil yang memiliki pohon tinggal yang cukup tinggi dan lebar juga terlihat sangat jauh di sana, dedaunan yang menempel di batangnya tampak bergoyang-goyang karena angin yang berhembus kencang. "Daffa, nanti kita ke situ yuk," Pinta Syifa.
Syifa dan Fasa terlalu terpesona hingga membuat mereka melupakan tujuannya, Daffa pun ikut dibuat kesal karena dirinya harus menunggu terlalu lama oleh mereka. "Entahlah... Aku maunya tidur di rumah." Balas Daffa yang mendadak berjalan pelan meninggalkan mereka.
"Iihh... Ayolah, iya? Ya?" Bujuk Syifa seraya berjalan menghampiri Daffa.
Mereka lanjut melangkahkan kakinya ke depan, diiringi perbincangan kecil mereka yang tiada habisnya.
Daffa mengernyit alisnya, ia tampak melihat keberadaan seseorang yang kemungkinan pernah ia temui sebelumnya. Tak hanya satu saja tapi dua cowok sekaligus, mereka berjalan berlawanan arah dengan Daffa. Perasaan Daffa sungguh tak enak, apalagi ketika melihat mereka yang jalannya banyak gaya, itu membuatnya sangat muak.
Daffa mencoba untuk lebih tenang, akan tetapi perasaannya malah semakin tak enak lagi ketika melihat mereka yang mulai menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan wajah yang tampak kaget. Daffa sangat curiga karena melihat gerak-gerik mereka yang mungkin akan berbuat aneh-aneh kepadanya nantinya.
Daffa pun langsung memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi situasi yang cukup sulit ini. Otaknya kepanasan, karena dipaksa untuk berpikir keras di saat-saat keadaan yang sangat genting ini. Terdapat 2 cara yang terpikirkannya pada saat itu, kalau tak melawan ya kabur.
Tangan kirinya menjulur dan menghalangi arah jalannya Syifa hingga membuat mereka berdua terhenti, Daffa langsung menyerobot begitu saja mengambil adik Fasa dari pundaknya Syifa yang kemudian ia gendong di pelukannya, walau hatinya harus menahan rasa malu karena ini pertama kalinya ia menggendong seseorang di tempat umum. "Eh, kenapa ini?!" Tanya Fasa yang merasa kebingungan.
"Kenapa Daf? Kok tiba-tiba begitu?" Syifa juga merasa kebingungan dengan sikap Daffa yang tiba-tiba sangat aneh.
Secara tiba-tiba Daffa langsung menarik tangannya Syifa dengan paksa, ia hendak membawanya lari kebelakang secepat mungkin, akan tetapi niatannya itu hilang seketika saat mendengar ucapan dari Syifa. "Kenapa kamu melarikan diri lagi?"
"Bukankah kamu berjanji untuk melindungiku? Dasar Daffa bodoh..." Syifa mengucapkannya dengan muka ditekuk ke bawah.
"Kamu benar, aku memang bodoh karena terlalu mementingkan diri sendiri." Daffa seakan mengurungkan niatnya untuk melarikan diri setelah mendengarkan ucapan dari Syifa. Tangannya melemas hingga melepaskan genggaman lengannya Syifa, lalu ia menurunkan Fasa dengan perlahan di samping Syifa.
"Kak Daffa, emangnya ada apa?" Tanya Fasa, ia langsung paham dengan situasinya setelah melihat dua orang berambut mohawk.
Daffa melangkah tepat di depan Syifa dan Fasa, ia menatap ke depan di mana terlihat dua orang yang sangat ambisius mengejarnya, saking cepatnya mereka sudah berada tepat di hadapan Daffa hanya dalam sekejapan mata.
__ADS_1
"Yo, Daffa... Kita bertemu lagi!" Ucap salah satu dari mereka dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum menakutkan.
Bersambung....