
"Ternyata kamu punya sisi baiknya juga yah, yaa... walaupun kamu sering berbuat ceroboh, tidak sopan, pembohong, dan hal-hal buruk lainnya." ucap Syifa dengan halus memuji sekaligus menyindir Daffa seraya tersenyum manis di sampingnya.
"Apa?!" Daffa tidak terima.
"Itu memang benar, jadi jangan memutar balikkan fakta," ucap Syifa dengan nada sedikit tertawa.
Daffa kesal dengan sindiran yang diucapkan Syifa kepada dirinya, kemudian ia ingin membalasnya dengan keren.
"Aku juga tidak menyangka, kalau kamu juga punya sisi feminim, padahal kamu sering marah-marah dan teriak-teriak gak jelas," Daffa membalasnya dengan cara yang sama seraya memasang wajah seperti meledeknya.
"Eh?!" Syifa tidak bisa berkata-kata dan wajahnya tiba-tiba berubah merah muda sedangkan perasaannya malu dan di sisi lain juga marah.
"Tolong hentikan memasang reaksi imut dan malu-malu seperti itu lagi," ucap Daffa yang sedang memalingkan pandangannya dari Syifa seraya menutup mukanya dengan satu tangannya.
Syifa yang mendengarkan perkataan Daffa, dirinya tampak semakin malu.
"A, a, apa yang kau katakan!" Ucap Syifa gugup dan tersipu malu yang sesaat kemudian ia memukul mukanya Daffa dengan mata tertutup dan perasaannya yang campur aduk itu.
Daffa yang terkena pukulan Syifa, ia sampai terjatuh dan terkapar di tempatnya.
"Eh! Maaf aku tidak sengaja," ucap Syifa sembari melihat Daffa yang mencoba bangun.
"Aduh duh..." Rintihan Daffa yang mencoba bangun kembali seraya memegangi muka yang dipukul oleh Syifa.
Kemudian Syifa memalingkan pandangannya dari Daffa dan berkata, "Hem! Itu karena perbuatanmu sendiri, jadi bukan salahnya aku."
"Aduh... Kepalaku sedikit pusing," rintihan Daffa dan kemudian ia mengambil air botol yang tadi ia beli di jalan, lalu meminumnya dengan cepat.
"Oi! Kenapa tiba-tiba seenaknya saja memukul muka orang, dah gitu gak merasa bersalah lagi," Bentak Daffa kesal sembari mengusap segelintir air yang ada di sekitar mulutnya.
"Itu memang salahnya kamu," tuduh Syifa.
"Hah?!" Ucap Daffa kesal.
Dengan mukanya yang kesal, Daffa kemudian mendekati Syifa sambil berkata, "Gantian sini!" Ucapnya dengan nada tinggi.
"Jangan dekat-dekat!" Perintah Syifa.
Daffa tidak menuruti perkataan Syifa, dan ia terus melangkah menghampiri Syifa yang kemudian ia menahan tangannya Syifa yang mencoba kabur darinya.
"Ih... Jangan pegang-pegang tanganku!" ucap Syifa panik seraya menarik-narik tangannya yang ditahan oleh Daffa.
"Ampun dah, tinggal diam aja di tempat napa sih," balas Daffa.
__ADS_1
"Lepasin!... Kalau gak aku Teriak nih," ancam Syifa.
"Dasar! Emm! Emm! Emm!" Syifa tampak mencoba berteriak. Namun dengan sigap dan cepat, Daffa langsung menutup rapat mulutnya Syifa dengan tangannya.
"Jangan berteriak bodoh!" Bisik Daffa, "iya-iya aku lepasin, tapi jangan berteriak lagi," lanjut bisiknya. Sementara Syifa menjawabnya hanya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tak lama setelah itu, Daffa melepaskan tangannya yang menutup mulutnya Syifa dengan perlahan.
"Dasar mesum," ucap Syifa lirih seraya menjauhi Daffa.
Kemudian Vira dan yang lainnya tiba-tiba berteriak memanggil mereka berdua dari seberang, "Kalian berdua! Ayo cepat ke sini!..."
"Gak mau!" Ucap Daffa dan Syifa kompak dan cepat.
"Cie... Cie... Jawabnya barengan nih ye," ucap mereka bersamaan.
"Ya udah, kalian di sana senyum yaa! Aku foto dari sini," ucap Vira sembari mengangkat kameranya.
"Stop!... Baiklah, aku ke situ," ucap Syifa terpaksa.
dengan muka kesal karena dipaksa oleh temannya, Syifa pun menuju teman-temannya di seberang.
Sementara Daffa masih saja duduk santai di pinggir jalan dan tidak menuruti perkataan teman kelasnya.
"Aghh... Kapan pulangnya dah, lama kali..." Gumam Daffa dengan muka lesu sambil menatap Pak sopir yang berjalan ke arahnya.
"Pak sopir ngapain ke sini?" Tanya Daffa tidak niat.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Pak sopir tiba-tiba langsung menyeret Daffa menuju ke yang lainnya.
"Adeh, jangan maen tarik-tarikan aja, Pak!" Ucap Daffa yang sedang diseret oleh Pak sopir. "Mentang-mentang badan besar." Gumam Daffa
Tak lama kemudian Daffa sampai di dekat teman kelasnya.
"Udah ayo berdiri, makanya jangan nolak." ucap Farrel seraya membantu Daffa berdiri kembali.
Sementara itu, Vira tampak memberikan kameranya kepada Pak sopir lalu berkata, "Karna udah di sini semua, ayok kita foto bersama buat kenang-kenangan."
"Gas ken lah. sana lagi Dho, sempit woi," ucap Farrel yang grusak-grusuk di barisan.
"Jangan dorong-dorong anjir," ucap Ridho.
"Jangan nginjek kaki gue, Farrel!" Bentak Bella.
__ADS_1
"Iya Maaf-maaf, gak sengaja." Ucap Farrel.
Kemudian mereka baris berdampingan dan siap untuk berfoto bersama, kecuali Daffa yang tampak belum bergabung dengan mereka dan masih berdiri di samping Pak sopir.
"Daffa, nunggu apa lagi? Cepat baris, di samping kanannya Syifa kosong tuh," perintah Vira.
"Apa?! Jangan di sini, pokoknya jangan di sini," ucap Syifa lantang yang menyuruh Daffa untuk tidak berada di sampingnya.
"Aku nggak ikut, aku yang fotoin aja," ucap Daffa seraya menarik kamera milik Vira dari genggaman Pak sopir.
"Lo mau pulang lebih cepat gak sih?" Tanya Farrel.
Daffa tampak sangat tertarik dengan ucapan Farrel, "Seriusan, eh? Habis ini pulang?" Daffa bertanya-tanya, "bilang dari tadi dong, jadi aku ikut lebih awal." Lanjutnya yang kemudian ia melepaskan tarikannya lalu berlari menuju teman kelasnya dan berdiri di sebelah kanan atau lebih tepatnya di sampingnya Syifa.
"Kenapa malah kesini? Sana ih..." Ucap Syifa sembari mendorong-dorong Daffa.
"Apaan dah," ucap Daffa.
"Udah Syifa... jangan malah mendorong-dorong Daffa," ucap Bella yang kemudian menarik lalu memeluk Syifa.
"Lihat ke kamera semuanya, tiga, dua, satu." ucap Pak sopir dengan nada tinggi.
Cekrek!...
Di tengah-tengah jalan itu, mereka berfoto bersama dengan latar belakang Monument Nasional yang disinari oleh cahaya rembulan yang sangat indah itu.
*****
Setelah mereka bersenang-senang berkeliling sana kemari, mereka semua pun pulang. Dan kini Daffa sedang duduk di dalam mobil berdua dengan Pak sopir.
"Sial, kenapa harus aku yang diantar paling akhir. Ini mah namanya gak adil." Ucap Daffa lirih dengan perasaan kesal karena dipandang sebelah mata.
Pak sopir yang mendengarkan keluhan Daffa, ia pun membalasnya, "Begitu aja ngeluh, udah tau itu karena rumahmu yang paling jauh di antara rumah nona atau tuan muda lainnya,"
"Tapi ini udah jam sebelas Pak, pasti pulang-pulang nanti dimarahin sama ayah dan ibuku," Ucap Daffa pasrah.
"Udah gitu, kenapa cara berbicara bapak sedikit berubah setelah yang lain udah pada pulang?" Tanya Daffa.
"Itu karena saya harus sopan terhadap anak dari majikan saya dan sahabat-sahabatnya," jawab Pak sopir.
"Cih... Pantas saja aku gak dianggap," gumam Daffa dengan muka lesu dan perasaannya yang kesal.
Bersambung....
__ADS_1