Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 37 : Tertolak


__ADS_3

Sangat berharap! Itulah yang saat ini Fandi rasakan. Dia berharap dengan jawaban yang diberikan oleh Syifa kepadanya bersifat positif di pendengarannya. Iya, Fandi sangat ingin sekali berpacaran dengan Syifa.


Sementara itu, murid-murid yang yang menontonnya malah tampak sedang senam jantung sendiri karena gregetan ingin cepat-cepat mendengar jawaban dari Syifa.


Ada yang berteriak "Terima!... Terima!... Terima!..." Ada pula murid yang cuman diam di tempat dan hanya fokus melihatnya, seperti Daffa yang sekarang ini. Di dalam hatinya sedang menebak-nebak yang akan terjadi setelahnya.


"Hmm, kayaknya sih mereka akan berpacaran. Eh, kayaknya enggak dah... Aku yakin dari perilakunya Syifa, dia pasti akan tertolak." Gumam Daffa yang tampak menduga-duga.


Mukanya Daffa tiba-tiba berubah seperti tersenyum. "Haha... Dia pasti akan senasib denganku waktu masih berada di desa." Gumam Daffa sembari melihat ke arah Fandi dan Syifa.


Beberapa saat setelah itu, semua murid yang ada di situ tampak dikejutkan oleh Syifa yang tiba-tiba tangannya mengambil sekumpulan bunga mawar dari Fandi.


Syifa terlihat tersenyum manis saat mengambil bunga yang sangat indah itu dari Fandi.


"Eh? Apa aku salah?" Gumam Daffa yang juga tampak terkejut seperti murid-murid yang lainnya.


Murid-murid disekitar yang melihatnya seketika terlihat heboh. Muka mereka semua sangat terkejut, mereka semua juga sesekali tampak berteriak maupun menepuk tangannya sekeras mungkin.


Di sisi Fandi yang sedang bertatap mata langsung dengan Syifa, muka sekaligus jantungnya tampak sangat kaget karena melihat Syifa yang mengambil bunga miliknya itu.


mulutnya membuka seketika secara perlahan-lahan. Dan tak lama kemudian membentuklah sebuah senyuman di wajahnya Fandi. "Aku... Aku berhasil!" Batin Fandi yang hatinya terlihat sangat senang.


Detik berikutnya setelah Fandi yang perasaan hatinya sedang bergembira, tiba-tiba saja terlihat senyuman manis yang dimiliki oleh Syifa memudar sedikit demi sedikit tanpa sebab.


Hanya berselang beberapa saat, mukanya Syifa kini telah berubah sangat drastis menjadi mengerikan.


Di saat yang sama, Syifa juga terlihat mengangkatkan tangannya keatas. Dan secara tiba-tiba, Syifa membuang bunga yang dipegangnya dengan sekuat tenaga ke arah atasnya. "Najiss!" Ucapnya keras tepat dihadapannya Fandi yang sedang bertekuk badan.


"Eh?" Fandi tidak bisa berkata-kata dan hanya tampak bereaksi mengedip-ngedipkan kedua matanya yang seolah-olah tidak percaya.


Di geremboloan siswa sebelah kanan, terlihat juga Daffa yang masih bingung sekaligus terkejut. "Eh?... Apa yang terjadi?" Gumam Daffa dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba murid-murid lain yang berada disekitarnya Daffa terlihat saling mendorong satu sama lain.

__ADS_1


Dan itu malah membuat Pandangannya Daffa menjadi sedikit tertutup. "Woy-woy, jangan dorong-dorongan anjir... Aku belum liat endingnya ini..." Ucap Daffa selagi dorong-dorongan dengan murid lain.


Murid-murid lain di sekitarnya Daffa semakin berdesak-desakan, dan itu membuat Daffa terpental dan terpental terus-menerus.


Dan suatu ketika Daffa tampak terpental hingga ke belakang gerombolan dan kare itu ia terlihat menyenggol seorang siswi yang berada di belakangnya. Siswi tersebut hampir jatuh karena Daffa, namun dengan sigap Daffa seketika langsung menarik tangan siswi tersebut.


"Ahh," siswi tersebut merintih kesakitan.


Setelah menolongnya, Daffa langsung menunduk-nundukkan kepalnya dihadapan siswi itu sembari meminta maaf. "Maaf! Maaf! Maaf! Aku tidak sengaja..."


Siswi tersebut celingak-celinguk ke kanan-kirinya. "Eh?! Eh?!" Dia sangat gugup.


Siswi itu kemudian menundukkan kepalanya ke bawah dan pandangannya melihat ke buku-buku yang ia peluk. "Ng-nggak apa-apa kok." Ucapnya lemah lembut.


Saat Daffa melihat wajah siswi tersebut, ternyata itu adalah Charla teman sekelasnya yang kemarin mengerjakan tugas bersama-sama karena berada di satu kelompok.


"Oh... Ternyata Charla, hehe... Kirain siapa," ucap Daffa.


"Emm...." Charla seperti menahan kesakitan. Mukanya memerah karena menahannya.


Charla kemudian terlihat mengulurkan tangannya dan jari telunjuknya tiba-tiba menunjukkan ke arah bawah.


Saat Daffa melihat ke arah bawahnya, dan ternyata ia melihat sepatunya yang sedang menginjak sepatunya Charla.


"Eh!" Daffa seketika langsung mengangkat kakinya. "Maaf-maaf aku gak sadar." Sambungnya.


Charla tidak lagi menundukkan kepalanya, tapi ia kini terlihat sedang menatap matanya Daffa. Dan secara tiba-tiba tertampak senyuman manis di wajahnya Charla. "Terima kasih." Ucapnya lirih dan kemudian ia berlari pergi melewati Daffa.


Sesaat setelah Charla pergi melewatinya, tampak Daffa yang menoleh ke arah belakangnya dan melihati Charla yang tengah berlari. "Di-dia tersenyum?..." Mukanya seperti tidak percaya akan hal itu.


Di sisi lain, Syifa terlihat menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala saat melihat keadaan sekitar yang tampak ribut.


Sedangkan Bella, dan Vira yang terus menerus melihat keributan murid-murid di sekitarnya yang tampak saling mendorong satu sama lain. Mereka pun dengan terpaksa berteriak memenangkannya. "Ssstt! Semuanya diam...."

__ADS_1


Hanya berselang beberapa detik setelahnya, keadaan murid-murid disekitar tampak sudah mulai tenang.


Setelah keadaan tenang, terlihat Fandi yang telah berdiri kembali dan kini tengah bertatap muka dengan Syifa.


"Maksdnya apa ya?" Tanya Fandi kepada Syifa.


"Ya ampun.... Masih saja berpura-pura gak tau?" Syifa menggelengkan kepalanya.


"Mana mungkin aku mau dengan orang sepertimu. Lihatlah cara berpakaianmu yang berantakan begitu, belum lagi rambutmu yang diwarnai seperti itu. Aku juga sampai berpikir tidak percaya bahwa kamu bisa masuk ke sekolah ini." Terang Syifa.


"Dan! Lebih baik kamu sadar diri dasar cowok rendahan," ucap Syifa agak keras tepat di depan Fandi.


"Udah jelas kan sekarang? Ya udah pergi sana, menghalangi jalan saja." Syifa tampak ingin mengusir Fandi dari hadapannya.


Daffa yang melihatnya, seketika ekspresi mukanya seperti telah melihat hantu yang mengerikan. Mulutnya terbuka bulat karena terkaget-kaget dan ia juga malu sendiri ketika melihatnya. "Iiiitu... Pasti sakit sekali..."


Di saat yang sama, kedua temannya Fandi yang berada di belakangnya Fandi terlihat menepuk bahunya Fandi bersamaan.


"Bos..." Panggil kedua temannya Fandi secara bersamaan ketika menepuk bahunya Fandi


Tanpa berkata apapun, Fandi kemudian membalikkan badannya. Dan dia terlihat berjalan bersama kedua temannya ke arah gedung sekolah.


"Apa Bos tidak apa-apa?" Tanya Fundi selagi sedang berjalan.


"Mendingan bos menyerah saja dah... Daripada nanti lebih parah dari ini," ucap Fendi.


"Iya bos, betul." Fundi tampak setuju dengan Fendi.


Kedua temannya Fandi itu tampak menyarankan Fandi untuk berhenti mengejar-ngejar Syifa. Namun, sepertinya dia tidak setuju dengan perkataan mereka.


Rasa malu, sedih, kesal, marah, dan putus asa semuanya ada pada dalam Fandi saat ini. Perasaannya campur aduk sampai-sampai dadanya tampak sakit.


Fandi tampak terlihat mengepalkan erat tangannya dan mukanya yang terlihat kesal itu tampak melihat ke arah tangannya. "Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja." Suara beratnya muncul seketika.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2