
Beberapa menit pasca kejadian barusan yang menimbulkan kebisingan di area pinggir kolam renang.
Daffa nampaknya tidak menyesalinya, karena dilihat-lihat ia sudah melepas bajunya dan hanya menyisakan celana pendeknya saja.
Kebalikannya, Syifa malah saat ini masih merenung memikirkan perihal yang barusan terjadi di toilet.
Kerap kali dia berbicara kepada diri sendirinya di sana dan karena saking malunya kadang dia menutup wajahnya dengan jari-jari tangannya.
Kenapa aku bisa setenang itu saat berada didekatnya? Kenapa aku bisa merasa sesenang itu? Kenapa tanganku bergerak sendiri? Itulah yang dipertanyakan Syifa dalam hatinya saat ini.
"Akh...! Aku tidak tau lagi!" Teriak Syifa dengan putus asanya.
Sesaat kemudian sepertinya Syifa terpikirkan sesuatu di dalam otaknya, karena tiba-tiba saja ia berdiri. "Eh, mungkin saja dia..."
Di lain sisi, Daffa tengah melangkah mundur ke belakang secara perlahan dan pandangan matanya tertuju ke depan ke arah kolam renang yang tampak luas jika dilihat dari dekat.
"Eh, Daffa tunggu. Sebaiknya Kita tunggu kak Dewi datang lebih dulu..." Pinta Charla.
Kakinya mulai bergerak ke depan dengan cepat. Dengan percaya dirinya Daffa berlari ke arah depan dan di saat dirinya hampir mendekati kolam renang, ia sesaat seakan-akan terbang di atas air.
Sesaat hatinya tergerak oleh pemandangan itu saat ia masih berada di atas.
*Byurr!...
Vira dan yang lainnya menyaksikan Daffa yang melompat ke dalam kolam renang sampai mencipratkan air ke segala arah.
Di sisi lain ada Syifa yang sedang berlari terburu-buru, mukanya penuh percaya diri menatap ke depan.
Di saatnya berlari, Syifa melihat teman-temannya seperti sedang kebingungan melihat ke satu arah yaitu kolam renang.
"Daffa! Sekarang aku mengerti..." Syifa menoleh ke kanan yang dimana waktu itu Daffa berdiri di situ.
Namun nampaknya dia tidak melihat ada siapa-siapa, yang ada hanyalah tas ransel milik Daffa yang tergeletak.
Syifa yang tampak kebingungan, dia pun berjalan ke arah teman-temannya dan mencoba menanyakannya kepada mereka. "Eh? Dia kok gak ada, kemana?"
"D-dia masih belum muncul lagi setelah meloncat ke dalam air," Jawab Charla dengan terpatah-patah.
"Maksudmu Daffa?" Tanya Syifa.
"Apa perlu kita mengeceknya ke sana?" Usul Vira.
"Apa mungkin dia sedang berlatih menahan nafas di dalam air?" Ucap Bella.
"Heh... Palingan juga dia sedang tiduran di sana," Balas Syifa.
Tiba-tiba dari arah pintu, ada seseorang yang masuk dan kemudian berjalan ke arah mereka.
Ternyata itu adalah kak Dewi yang telat menuju sekolah.
Kak dewi berjalan pelan menghampiri Syifa dan teman-temannya. "Maaf-maaf kakak terlambat."
"Hm...? Omong-omong kalian semua kenapa pada bengong begitu?"
"Itu..."
__ADS_1
"Kami sedang melihat Daffa berenang, tapi dia tak bergerak sama sekali dari tadi," Sela Syifa sembari menunjuknya dengan jari tangannya.
"Eh, yang bener?" Kak Dewi merasa kaget mendengarnya.
Kak Dewi pun menoleh ke arah yang barusan ditunjuk oleh Syifa. Sembari berjalan mendekatinya, matanya mencoba mengamatinya lebih jelas.
Sekilas kak Dewi kepikiran sesuatu dan itu membuat dirinya panik, kedua matanya pun seketika melebar.
Kak Dewi spontan melepaskan bajunya dan melemparkannya begitu saja.
Dia langsung berlari dan meloncat ke kolam renang dengan sangat cepat.
Sedangkan Syifa dan teman-temannya tampak dibingungkan oleh keadaan. Mereka begitu deg-degan ketika melihat Kak Dewi yang menyelam ke dalam air dengan buru-buru.
Ketika instingnya mengatakan dirinya sudah dekat dengan keberadaan Daffa, kak Dewi pun langsung menyelam lebih dalam.
Saat itulah kak Dewi melihat Daffa yang sedang menekankan lehernya, dia melihat kakinya Daffa tak bergerak sama sekali.
Mulutnya seakan ingin mengucapkan kalimat ketika melihat kak Dewi datang menyelamatkannya.
Kak Dewi yang melihat semuanya itu seolah itu membuat dirinya mempercepat gerakannya.
Sementara itu tepat di atas kolam renang.
"Weh, weh, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Daffa tenggelam?" Tanya Bella.
"Daffa tenggelam?!" Syifa begitu terkejut.
"Entahlah, tiba-tiba aja kak Dewi melompat tanpa bilang sesuatu dulu," Jawab Vira.
"Oh, itu dia mereka...!"
Sedetik setelahnya, tiba-tiba muncul lah Kak Dewi bersama dengan Daffa tepat di hadapan mereka berempat.
Syifa dan teman-temannya seolah reflek menutup matanya dengan lengannya untuk menghindari cipratan air yang mereka berdua buat.
"Bbuuhhh...! Huhh... Huh..." Daffa tampak terlihat kelelahan.
Dia berulang kali menarik dan membuang nafas panjangnya dengan cepat.
Kak Dewi kemudian membantu Daffa naik ke permukaan dan selepas itu baru dirinya.
"Eh, kau tidak apa-apa?" Syifa dan teman-temannya berlari menghampiri mereka berdua.
Daffa tampak mengeluarkan sedikit air yang tertelan olehnya dari mulut dan juga hidungnya. "Kupikir aku akan mati..."
"Ah, gak apa-apa kok. Hanya saja tadi kakiku terasa keram," Daffa tampak masih mencoba tersenyum di saat-saat itu.
Selepas kejadian itu Daffa dimarahi habis-habisan oleh kak Dewi karena tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu.
***
Beberapa puluh menit telah berlalu, Daffa kini tengah duduk dipojokan sembari melihat teman-temannya yang sedang berenang. Di atasnya terdapat handuk kecil yang menempel pada kepalanya.
Mukanya tampak hampa dan melamun terus sejak tadi. "Ucapan ayah ternyata benar, haha..." Gumam Daffa dalam hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saat itu pipi sebelah kirinya Daffa terasa sangat dingin seakan ada yang benda yang menempel di pipinya.
"Waaahh! Dingin banget...!" Saking kagetnya Daffa sampai berdiri.
Ketika ia menoleh, ternyata Syifa yang mengerjainya. "Syifa?"
Di tangannya Syifa terdapat dua minuman botol dingin. "Kamu pasti haus kan?" Dia menjulurkan tangannya.
"Tch, untung aja dia cewek. Kalau cowok pasti... Ya sama aja sih cuma diam," Gumam Daffa dalam hatinya.
Sedangkan kata-kata yang ia ungkapkan kepada Syifa, "Gak usah repot-repot, terima kasih. Aku hanya ingin sendirian saja." Daffa pun duduk kembali seperti semula.
"Padahal aku udah membelinya untukmu..."
"Huft... Baiklah... Aku akan menerimanya. Kalau gitu, udah sana pergi,"
"Dih, ngusir..."
Syifa melangkahkan kakinya ke depan, mukanya tampak ragu-ragu tak percaya diri. "Mungkin dia orang yang tepat."
"Aku boleh duduk di samping mu?"
"Hm? Tidak. Di sana kan masih banyak tempat duduk," Jawab Daffa selagi dirinya tengah membuka tutup botol.
Sesaat setelah mendengar ucapannya Daffa, tangannya Syifa seakan membersihkan debu-debu yang menempel pada lantai dan kemudian Syifa pun duduk tepat di samping Daffa. "Oh, terima kasih."
"S-siapa yang menyuruhmu duduk di sebelahku?!" Daffa mengucapkannya dengan nada tinggi.
Daffa spontan bergeser menjauhhinya, Syifa yang melihatnya tampak tersenyum menertawainya dan dia pun ikut bergeser ke arah yang sama.
Mereka terus-menerus melakukannya secara bergantian. Dan sampailah di ujung di mana Daffa tidak bisa bergeser kembali dan merasa kebingungan. "Weh, weh... Aku merasakan firasat tidak enak."
"Neh, Daffa... Kenapa tadi kamu bilang begitu?" Tanya Syifa pelan.
"Tadi? Kapan?"
"Yang kamu bilang, bukan hanya kamu sendiri," Jawab Syifa lirih.
"B-benarkah?... Kayaknya aku tidak pernah bilang begitu..." Daffa tampak mengeles, dia memalingkan pandangan darinya.
"Oh, gitu ya..."
Suasana diantara mereka berdua menjadi canggung sesaat. Yang satu gugup memandang tembok, yang satunya lagi tangannya gemetaran menunduk ke bawah.
Tak lama kemudian, tampaknya Syifa memberanikan diri untuk berbicara.
"A-aku... Aku punya permintaan kepadamu," Pinta Syifa.
"Permintaan? Apa maksudmu?" Daffa yang penasaran pun hendak menoleh ke arahnya.
"Tolong bantu aku...." Raut wajah Syifa tampak tersenyum dan salah satu matanya berkedip di saat yang sama.
Namun, di mata Daffa semuanya terlihat beda. Senyuman itu terlihat sangat kamu di pandangannya dan di sudut matanya terdapat segelintir air mata yang tak terjatuh.
"Syifa, kamu..." Daffa tampak tercengang-cengang melihatnya.
__ADS_1
Bersambung....