Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 79 : Dipenuhi Tatapan Yang Aneh


__ADS_3

Waktu di antara mereka, benar-benar seperti sedang berhenti sepenuhnya. Syifa terlihat kesulitan untuk bergerak maju, karena kepalanya yang di tahan oleh Daffa dengan suatu benda.


Akan tetapi, setelah Syifa melihat benda yang melayang di atas wajahnya, Syifa memutuskan untuk menyudahi berlarinya dan ia hanya berdiri tepat di depan Daffa.


"Hap!"


Syifa menangkap kotak bekal miliknya, yang barusan di pegang oleh Daffa.


Tanpa berlama-lama, Syifa langsung saja memasukannya ke dalam tasnya dan mengucapkan rasa Terima kasihnya. "Terima kasih."


Daffa mengangguk, lalu mengambil tasnya yang terjatuh ke tanah. "Ya, sama-sama."


"Sreet!"


Syifa kembali menutup rapat tas miliknya, yang artinya selesai sudah urusannya dengan benda menyerupai kotak bekal itu.


Syifa sedikit mendongak ke atas, tatapannya kembali mengarah pada Daffa.


Sudah sepuluh detik mereka lewati, sejak saling berhadapan satu sama lain. Namun di sana begitu senyap, karena tidak ada lagi kata yang dibicarakan mereka. Sepertinya mereka berdua sama-sama saling menunggu.


Arah pandangan mata Syifa berpindah. Tepatnya di sebelah Daffa, ia melihat ruang kosong yang terbuka lebar di sana.


"Hup!"


Dengan anggunnya, Syifa melompatkan kakinya satu kali ke arah depan sampingnya, hingga seluruh rambutnya berhamburan, dari belakang sampai melewati Daffa.


Dan akhirnya Syifa dapat berdiri tepat di sebelah Daffa. "Hehe."


Syifa tersenyum ceria, sedangkan Daffa hanya memasang ekspresi terheran-heran, karena melihatnya.


Pipi Syifa berubah memerah dan di saat itu juga, Syifa menarik tangannya Daffa secara tiba-tiba, hingga membuat Daffa sedikit terkejut. "Hey, apa yang mau kau lakukan?!"


Syifa menggenggam tangannya Daffa dengan lembut. "Emm, bukan apa-apa."


Sesaat setelah mengucapkannya, Syifa langsung bergerak maju ke depan mengarah pintu gerbang sekolah.


Namun langkahnya tidak bisa maju lebih jauh lagi, karena Daffa yang enggan untuk bergerak bersama.


Pipi Daffa agak memerah. "Eh-eh, tunggu dulu. Lepasin tanganku, nanti banyak murid lain yang lihat."


Daffa sepertinya tidak mau melakukannya, karena akan ada banyak risiko yang terjadi nantinya. Apalagi ini di sekolahnya yang sangat ramai orang.


"Eh ... Padahal cuman berpegangan tangan saja." Keluh Syifa.


Daffa pun langsung menarik kembali tangannya dan menyembunyikan di belakang badannya.

__ADS_1


Daffa juga sedikit menjauhi Syifa. "Gak, itu sangat memalukan. Apalagi saat dilihat siswa lain. Lagian, kamu sudah lupa dengan yang kuucapkan ketika berada di kereta, ya? Jangan mendekati aku, saat sedang berada di kawasan sekolah."


Mendengar hal itu, membuat Syifa langsung tersenyum kecil. Kedua bola mata hitamnya memutar ke samping, ia seperti sedang menghindari perkataan Daffa. "Ah, masa sih? Aku tidak mengingatnya sama sekali."


"Hah?!"


"Bohong sekali ... " Gumam Daffa dengan berwajah datar.


"Udah sana, kamu jalan duluan. Nanti aku akan masuk ke dalam, setelah kamu sampai di dalam kelas cukup lama."


Syifa ingin mengeluh kepada Daffa, tapi sepertinya tidak jadi ia lakukan. Syifa mengkerutkan bibirnya sebagai rasa tak senangnya.


"Hmph! Baiklah ... Aku akan ke kelas duluan. Dasar malu-maluan." Ledek Syifa.


Sesuai perkataannya, Syifa pun menurutinya dan berjalan meninggalkan Daffa, walaupun ada sedikit rasa kekecewaan dalam hatinya.


"Aku rasa, dia sedikit marah dengan ucapanku."


Selagi menunggu Syifa berjalan agak jauh darinya, Daffa kemudian membuka ponselnya dan melihat-lihat sesuatu di situ. Menurutnya itu lebih enak dilihat orang, daripada harus berdiam diri saja di sana seperti orang aneh.


Tak lebih dari lima menit, sekira-kiranya Syifa sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.


"Huh, sekitar sepuluh menit terbuang sia-sia."


"Yosh ... Aku harus sedikit lebih bersemangat, karena ini baru hari senin, hari yang melelahkan hingga akhir pekan."


Daffa sesekali menengok kanan-kirinya, ia sendiri sepertinya merasa tidak enak sejak memasuki kawasan sekolahnya. "Uwah ... Perasaanku tidak enak sekali."


Ternyata pagi hari itu, rumor bahwa Fandi, Fendi, dan Fundi telah pindah sekolah, sudah tersebar luas di seluruh murid kelas sepuluh dengan sendirinya.


"Langsung pada tahu? Pasti ini ada guru yang langsung ngasih info ke sala satu muridnya." Daffa berpikir positif.


Daffa tidak menyangka akan sangat heboh seperti ini. Nyatanya memang benar kalau Fandi dan kedua temannya keluar dari SMA Merah Putih, tapi mau gimana lagi, Fandi yang memutuskannya sendiri.


Dari ruangan kelas satu ke kelas lainnya, Daffa lewati dengan mulut yang tetap tertutup rapat, dan ia hanya mendengarkannya saja, dari bisikan siswa-siswi lain yang membicarakan mengenai Fandi.


Itu semua normal-normal saja, sesaat sebelum Daffa melangkah melewati kelas yang Fandi dan kedua temannya huni.


Di sana, Daffa seperti Artis yang menjadi pusat perhatian. Beberapa siswa-siswi di kelas itu, terus saja menatap dingin Daffa yang tengah berjalan. Daffa yang langsung mengetahuinya, seakan-akan tubuhnya merasa merinding.


Daffa kemudian mempercepat langkah kakinya dengan sendirinya, hingga tanpa disadarinya, ia telah sampai di kelasnya.


Di kelasnya, Daffa bertemu kembali dengan teman-temannya yang akrab maupun yang tidak terlalu akrab.


Baru masuk ke dalam kelasnya, langkah Daffa tiba-tiba terhenti di tengah jalan. Daffa merasa janggal dengan suatu hal.

__ADS_1


"Hey, ini sebenarnya ada apa? ... " Gumam Daffa dalam hati.


Keringat dingin mulai bermunculan di wajahnya. Ternyata bukan hanya di kelasnya Fandi saja, namun di kelasnya Daffa juga sama. Itu membuat Daffa terasa tidak nyaman.


Dengan kepalanya yang sedikit tertunduk ke bawah, Daffa pun langsung duduk di kursinya dan mencoba untuk memendam rasa tidak enaknya.


Seseorang muncul di hadapan Daffa, ketika ia sedang merenung. Tak heran lagi, jika Ridho dan Farrel langsung menghampiri Daffa. Namun sepertinya tidak hanya mereka berdua saja, Vira dan Bella tampaknya juga mengikuti di belakangnya.


Mereka menyapa Daffa secara bergantian. "Daffa, selamat pagi."


"Ya, selamat pagi juga. Hari ini upacara atau tidak?" Tanya Daffa.


"Hari ini tidak upacara katanya, kalau minggu depan ... Mungkin iya." Ridho menjawabnya.


"Padahal aku sudah bawa topi upacaranya ... " Gumam Daffa dalama hati.


Mereka berkumpul mengelilingi kursinya Daffa dan Farrel membuka pembicaraan. "Daffa, kenapa sekarang ini banyak sekali murid yang menatapmu terus?"


Daffa menoleh ke arah Farrel, lalu menggeleng. "Aku juga tidak tahu."


"Mungkin saja, mereka pada ngefans sama Daffa." Sela Vira.


Perkataannya cukup menghibur bagi Daffa, hingga membuatnya sedikit tertawa. "Haha, kalau itu sih tidak mungkin."


"Tapi kalau mengenai Fandi dan kedua temannya yang telah berpindah sekolah, pasti kamu sudah tahu, kan?"


Daffa mengangguk. "Ya, barusan aku mengetahuinya dari perbincangan murid lain."


Bella ikut membicarakan hal itu, setelah yang lainnya pada senyap. "Daffa, ini aku bukan bermaksud untuk menuduh, yah ... Aku juga baru mendengarnya. Dan mungkin juga para murid di sini sudah pada tahu, makanya mereka menatapmu terus."


Daffa menjadi penasaran. "Memangnya kenapa?"


"A–aku mendengarnya, kalau kamulah yang menghajar Fandi, lalu mengancamnya agar berpindah sekolah." Ucap Bella dengan pelan dan lirih.


"Hah?!"


Daffa sampai terkaget mendengarnya. "Hah?! Aku ... "


Daffa menggantungkan kata-katanya, dan merenungkannya kembali perkataan Bella. "Setengah betul, setengah salah?" Gumamnya, dan setelahnya Daffa hanya terdiam saja.


Tanpa mereka ketahui, Syifa diam-diam menguping pembicaraan mereka dari awal. Syifa sudah tidak bisa menahannya lagi, ia seakan-akan sudah sangat kesal sekali dan tidak terima dengan perkataan mereka.


"Brak!"


Suaranya terdengar begitu keras di dalam ruangan kelas. Syifa tiba-tiba menghentakkan meja dengan kedua tangannya, lalu ia berdiri dengan berwajah kesal. "Daffa tidak sejahat itu!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2