
Kurang lebih selama setengah menit, Daffa terus menatap ke bawah dengan kedua matanya yang membulat terang, mulutnya pun sampai membuka sedikit seperti akan tersenyum saja.
Hingga salah satu temannya yang ada di sana, menegurnya dengan pelan. "Daffa, wajahmu ... " Ucap Ridho.
Daffa hanya mendengar suara Ridho sekilas saja, ia tidak membalasnya sama sekali.
Tapi lama-kelamaan, kepala Daffa terasa sangat pusing karena menatap lebar meja di depannya secara terus-menerus.
Yang sejak tadi diam dan melihatnya saja, Syifa tiba-tiba saja menyentil keningnya Daffa dengan jari tengahnya.
Sentil!
"Tch!" Kedua matanya Daffa seketika terpejam.
Detik berikutnya, Daffa kembali membuka matanya dengan pelan dan langsung memegangi bekas sentilannya Syifa.
Tapi yang sebenarnya, Daffa tidaklah merasakan apa-apa, karena rasa pusingnya mendadak menghilang dari kepalanya ketika dirinya telah tersadar.
"Maaf-maaf, aku tidak apa." Ucap Daffa sambil mengusap kening dan rambutnya.
"Kamu yakin?"
"Ah, iya ... "
"Awas kalau bohong."
Sedetik kemudian, Daffa kembali terdiam dan hanya menundukkan kepalanya ke bawah sambil merenungkan lagi perkataan Syifa yang barusan.
"Tadi aku ngomong apaan sih? ... Eh, emangnya aku ngomong sesuatu, kah?" Gumam Daffa dalam hati, ia sepertinya tidak bisa mengingatnya sama sekali.
Di saat itu, Daffa juga masih mendengar suara Syifa yang masih membicarakan dan mengarahkan mereka yang ingin berpartisipasi tour ke pantai.
Walaupun suaranya hanya terdengar samar-samar saja di telinga Daffa.
"Tenang saja, hari ini kan hari senin, jadwalnya ekskul renang selain hari sabtu. Nanti pas aku ketemu sama Bu Fitri, akan aku bilangin ke Bu Fitri soal kalian bertiga yang mau ikut. Pasti bu Fitri akan menyetujuinya, percaya sama aku, deh." Ucap Syifa dengan panjang lebar.
"Siap! Kita percaya, kok." Dengan semangat membara, mereka membalasnya bersamaan.
"Dan jangan lupa juga dengan persiapannya, soalnya nanti kita akan menginap di Vila, karena kita akan berada di sana selama dua hari, yaitu hari Sabtu dan Minggu." Terang Syifa.
"Okey ... Mungkin nanti aku akan beli papan seluncuran." Ucap Ridho.
"Sekalian bola pantainya." Tambah Farrel.
"Wah, bagus tuh ... Aku jadi tidak sabar."
"Sama aku juga, hehe."
__ADS_1
"Jangan lupakan aku juga, ehe." Ucap Melly.
Ridho dan Farrel sepertinya yang paling bersemangat, dalam hal yang masih belum diketahui.
Tos!
Mereka berdua saling tos tangan dengan jari yang mengepal. "Hehe."
Sekiranya sudah lebih dari satu menit, teman-temannya Daffa masih berlanjut mengobrol, mereka mengobrol dengan seputar topik yang sama.
Tapi suasananya mendadak berhenti, ketika Daffa yang mendadak bangun dan berdiri tegak dari tempat duduknya.
Kemudian Daffa berbicara kepada mereka semua untuk mengajaknya ke suatu tempat. "Sudah jam segini, waktunya kita ke musholla." Ajaknya.
"Sekarang?"
"Iyalah, sekarang. Mumpung masih ada waktu sisa istirahat." Jawab Daffa sambil bergeser sedikit ke samping.
"Okelah, yuk! Bangun semuanya." Syifa mengajak teman-teman yang lainnya juga.
Tanpa berlama-lama, kemudian mereka semua pun beranjak dari tempat duduknya dan sama-sama berjalan ke satu arah, yaitu ke pintu keluar perpustakaan.
Ketika berjalan di setiap tempat sekolah, gerombolannya Daffa terus saja mendapat perhatian yang lebih dari murid-murid lain.
Sambil memakan jajanannya yang belum habis, para murid juga tampak melongo ketika melihat gerombolannya Daffa lewat.
Teng ... !
Tong ... !
Jam istirahat kedua telah berakhir ... !
Bunyi belnya bertepatan sekali dengan gerombolannya Daffa yang baru saja sampai di depan pintu kelasnya, setelah usai beribadah salat di musholla.
Masuk-masuk ke dalam ruangan kelas, mereka langsung melihat teman sekelasnya yang sudah terjajar rapi duduk di bangkunya.
Vira melihat teman sekelasnya dengan berwajah takjub. "Wah, semuanya sudah pada duduk rapi. Maaf yah ... Kita baru balik ke kelas." Ucapnya sambil menepuk tangannya dengan pelan.
Farrel menghela napas. "Untung aja masih belum ada gurunya." Ucapnya sembari mengelus-elus dadanya sendiri.
"Ya iyalah, belum ada gurunya ... Orang belnya aja baru bunyi." Balas Bella yang merasa gregetan.
"Wihh ... Sang putri telah kembali."
Teman sekelasnya tiba-tiba saja kompak mengatakannya, mereka secara sengaja memanggil nama Syifa dengan sebutan yang lain, yang menurut mereka itu lebih pantas.
"Dan juga Daffa ... Si paling beruntung."
__ADS_1
Tapi ketika teman sekelasnya menyebutkan nama Daffa, suaranya seakan-akan menjadi berat dan wajahnya yang menjadi tidak senang. Itu sangat berbeda dengan yang tadi.
"Entah kenapa, aku merasa sedang diejek." Batin Daffa.
"Daffa!" Suaranya tepat dari belakangnya sendiri.
Langkahnya Daffa terhenti di tengah jalan, itu karena dirinya yang tiba-tiba merasa kalau pakaiannya ditarik oleh seseorang dari belakang.
Daffa langsung berbalik badan, yang dilihatnya saat itu hanya ada sosok Syifa saja.
"Hm? Kamu memanggilku?"
Syifa mengangguk, lalu ia langsung menarik kedua tangannya Daffa dengan paksa.
Syifa tersenyum serta menatap dekat dengan Daffa, Dia genggam kedua tangannya dengan pelan dan lembut.
Daffa memang merasa terkejut, namun ia seperti tak bisa bergerak dan menolaknya untuk saat ini. "E–eh, Syifa?"
Syifa dekatkan genggaman tangannya itu ke mukanya, kemudian ia mengendusnya perlahan dengan mata terpejam. "Tidak usah dipikirkan apa kata mereka."
"Justru akulah yang sangat beruntung. Kau tahu ... Sejak kita bertemu untuk pertama kalinya, aku merasa menjadi lebih nyaman karena ada kamu ... "
Keadaan di kelas mendadak menjadi tegang sepenuhnya.
"Karena itulah, aku merasa beruntung, karena bisa bertemu denganmu saat itu." Ungkap Syifa dengan penuh perasaan.
Seketika ungkapannya langsung menusuk ke dalam diri Daffa, hingga menusuk tepat ke hatinya. "A–apa ini? Tiba-tiba bikin deg-degan!" Batinnya.
Hatinya tak berhenti berdebar, Daffa tidak bisa berkata apa-apa lagi di depan kelas, selain mengingatkan diri sendirinya di dalam hati.
"Aku hampir lupa ... ! Jangan bawa perasaan! Jangan bawa perasaan pokoknya ... !" Batin Daffa, ia hampir saja melupakan kata-kata andalannya itu, saat sedang berhadapan dengan Syifa.
Tak lama kemudian, Syifa membuka kedua matanya. "Daffa, kamu tidak mendengarnya?"
Daffa mengalihkan pandangannya dari Syifa. "Eh, dengar kok. Tentu aku mendengarnya, hehe." Balas Daffa dengan gugup
"O–oh, begitu yah."
Ketika menatap matanya Daffa secara terus-menerus, Syifa malah tak kuat sendiri dan ia pun menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang tampak tersipu malu.
"A—aku tadi ngomong apaan sih! Dipikir-pikir, itu sangat memalukan ... " Gumam Syifa dalam hatinya. Rasa yang aneh mulai masuk ke dalam dirinya, itu karena hatinya yang berdebar begitu kencang.
Keadaan di antara Daffa dan Syifa menjadi canggung, karena sejak saat itu mereka berdua hanya diam begitu saja.
Tanpa disadari, Daffa dan Syifa telah membuat keributan di kelasnya secara tidak langsung.
"Katanya kalian tidak berpacaran?! Kok mesra sekali?" Teman sekelasnya serentak melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Daffa dan juga Syifa.
__ADS_1
Bersambung ....