Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 68 : Teman Lama


__ADS_3

Daffa bersama Syifa yang tengah mengemban Fasa berjalan terus hingga memasuki lebih dalam ke pedesaan. Puluhan langkah sudah mereka lewati dengan pelan, jalan yang telah dilewati mereka kini terbagi menjadi dua bagian jalan.


Daffa lebih memilih untuk melewati jalan sebelah kiri sebab di situ tidak begitu ramai pemukiman walau dirinya harus sampai di rumah neneknya lebih lama.


Sedangkan jalan di sebelah kanan sangat berbanding terbalik, di sana bisa lebih cepat sampainya akan tetapi begitu ramai pemukimannya dengan orang-orang yang aktif keluar hingga membuat Daffa enggan melewatinya.


Sebab dirinya tahu sedang membawa seorang yang sangat mencolok ketika dipandang, dan pada akhirnya satu desa akan mengetahuinya hingga dapat menjadi kehebohan atas kehadirannya.


Daffa sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari keramaian, selain itu ia juga sudah berusaha agar tak terlihat mencolok di mata orang lain dengan mengubah arah jalannya ke sebelah kiri walaupun harus berjalan lebih lama lagi, namun Daffa secara tidak sengaja malah bertemu dengan teman lama yang lainnya saat masih berada di bangku SMP.


Daffa sontak terkejut ketika melihat keberadaannya. "Itu Risma, tidak salah lagi." Gumam Daffa dalam hatinya.


Risma yang kebetulan berpapasan dengan Daffa di tengah jalan, ia langsung mengenal wajah Daffa hanya dalam sekali memandang. "Kamu Daffa ya?"


Risma mendekat dengan wajahnya yang seperti tak percaya serta matanya yang tampak melebar. Risma merasa senang dapat bertemu kembali dengan seorang Daffa.


Mereka saling berjabat tangan dengan tenang, Syifa melirik ke arah mereka karena dirinya terlalu penasaran melihat Daffa yang sangat akrab dengan seorang gadis desa tersebut.


"Daffa, apa kabar?" Tanya Risma.


"Ah, baik..." Jawab Daffa.


Berparas bersih, Risma adalah seorang gadis desa yang seumuran dengan Daffa yang mempunyai orang tua berprofesi sebagai petani dan saat ini dia masih bersekolah di jenjang SMA yang ada di desa ini.


Mungkin banyak yang tidak tahu, saat suasana sekolah sedang ricuh karena Fandi yang telah ditolak mentah-mentah oleh Syifa, di saat itu Daffa pernah mengatakan kalau dirinya juga pernah melakukan hal yang sama saat masih bersama Lio.


Dan yang dimaksud Daffa pada saat itu adalah Risma. Dulu saat masih berdekatan dengan Lio, Daffa jarang sekali bermain gadget karena mereka sering kali memainkan games sendiri yang bisa dibilang cukup ekstrem.


Ketika itu Daffa dan Lio sedang memainkan sebuah games dan yang kalah harus menuruti perkataan apapun dari sang pemenang. Permainan yang sengit pun terjadi, hingga akhirnya Daffa terjatuh kalah.

__ADS_1


Lio dengan tampang liciknya, mengharuskan Daffa untuk seolah-seolah menyatakan cinta kepada Risma sambil membawa surat cinta di depan ruangan kelas. Dan pada akhirnya Daffa memperoleh hasil yang sama seperti halnya Fandi, ia terus teringat kejadiannya karena itu sangat membekas dipikiran Daffa yang sangat memalukan.


Daffa sempat bertanya kepada Lio, kenapa harus Risma? Padahal waktu itu Daffa belum terlalu kenal dengan yang namanya Risma.


Lio tersenyum, ia menjawab pertanyaan yang mengganjal dipikirannya, Lio berani jujur kalau Risma lah yang membuatnya kenal dengan Daffa, dia selalu memberi tahu tempat dimana Daffa sedang berkelahi, sebab dia merasa kasihan dengan Daffa yang perlakuan seperti itu. Dengan kata lain Risma lah yang telah membantu Daffa sedikit berubah dari balik layar.


Daffa sangat terharu setelah mendengar perkataan Lio, di dalam hatinya ia sangat berterima kasih padanya, dan lama kelamaan akhirnya mereka bertiga menjadi teman baik.


Saat berpapasan dengan Daffa di jalan, Risma juga tampak kaget seperti yang lainnya ketika melihat Syifa dan Fasa. Risma menjulurkan tangannya ke Syifa dengan sebuah senyum tertampak di wajahnya lalu mereka saling berjabatan tangan. "Risma, teman lamanya Daffa."


"Syifa, teman baiknya Daffa." Balas Syifa dengan nada yang lebih tinggi seraya tersenyum manis tapi tidak dengan hatinya.


"Iya Ris, ini Syifa temanku dan yang lagi digendong itu adiknya."


"Oh, gitu ya..."


Daffa menghela nafas panjang karena sedikit lega, ia jadi tak perlu repot-repot mengenalkan masing-masing dari mereka lebih lanjut.


Fasa mencoba untuk berbicara ketika pipinya sedang dicubit. "Fasa Fauziah." Risma malah tertawa saat melihat Fasa berusaha berbicara. "Lucu, hehehe...."


Risma tertawa lepas, ia seakan menjadi teringat dengan kenangan masa lalunya. "Udah lama sekali yah, sejak masih ada Lio." Ucapnya selagi mencubit-cubit Fasa.


Daffa tersenyum kecil. "Iyah benar juga."


Risma menurunkan tangannya, langkahnya mendekati Daffa dan ia menaruh wajahnya tepat di samping Daffa lalu mereka berbisik-bisikkan. "Apa kamu sudah bertemu dengan Lio?"


"Aku juga berharap gitu, tapi sayangnya belum sama sekali," Balas Daffa dengan wajahnya yang cukup serius ketika membahasnya.


"Terus bagaimana dengan keluarga Aciel?"

__ADS_1


"Sama seperti jawabanku tadi, tapi yang aku tahu seorang anaknya sekolah yang sama denganku, makanya aku masuk ke situ." Bisik Daffa sangat pelan.


Mereka berbisik cukup lama membuat Syifa merasa cukup kesal dan bete karena perkataannya yang tidak didengarkan oleh mereka. "Lio itu emangnya siapa sih?"


Lama kelamaan wajahnya tampak cemberut ketika melihat Daffa yang makin lama makin melupakan keberadaannya dan lebih memilih untuk berbicara yang asyik dengan Risma.


Syifa menghentakkan kakinya ke jalan beberapa kali hingga terdengar bunyi yang cukup keras, itu semua ia lakukan sebagai pelampiasan rasa kekesalannya yang sudah semakin tinggi. "Ih, gak tau ah!"


Tak lama kemudian Risma menyudahkan bisikannya dengan Daffa. Risma melirik, ia yang


mengetahui Syifa sedang cemberut karena kehadirannya kemudian ia pun melangkah padanya tepat di hadapannya.


Risma menepuk bahunya Syifa sedangkan tangan lainnya pergi ke arah pipi Fasa, ia tak bisa jika sekali tak mencubitnya. "Apa... Kamu cemburu?"


Wajah Syifa seketika memerah, ia seakan tak bisa berkata-kata. "E-eh, Eh, eng... Enggak kok." Syifa tersipu malu.


"Tenang aja, kami berdua dulu gak ada apa-apa kok, palingan Daffa cuman pernah kirim surat cinta kepadaku doang." Ucap Risma sambil melirik ke arah Daffa dengan tersenyum sinis.


"Eh..." Tiba-tiba suasana hati Syifa berubah total, dia menundukkan kepalanya dengan menahan hawa amarahnya. "Doang...?!"


"Dadah kalian semua, aku udah ditunggu nih, babay...!" Tanpa bertanggung jawab atas perkataannya yang membuat timbulnya suatu masalah, Risma langsung cabut begitu saja dengan beralasan sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya.


"Dadah kak Risma." Balas Fasa sambil melambaikan tangannya.


Daffa menelan ludah saat melihat kepergiannya, ia harus menghadapi ketakutannya sendiri. Keringat dingin menyelimuti kulitnya, wajahnya bergemetar setiap kali ingin mencoba mengatakan sesuatu. "K-kamu... Kamu tau, kan? Jangan langsung percaya sama orang yang baru kenal."


Dengan wajahnya yang tampak masih tidak senang, Syifa menoleh ke Daffa sembari menyerngit alisnya. "Ck! Sok tau..." Ia lalu membuang mukanya.


Daffa membalasnya hanya dengan berwajah pasrah seraya menghela napas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2