Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 25 : Menemukan Komik


__ADS_3

Di lantai bawah, Farrel tampak tengah membuka kunci pintu kamar mandi tersebut.


Farrel melangkah melewati pintu tersebut lalu mengusap-usap perutnya sambil berkata, "huh, leganya..."


"Awas minggir Rel, udah kebelet nih..." ucap Ridho sembari mendorong Farrel.


Ridho tiba-tiba saja mendorong Farrel keluar, lalu ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dengan cepat.


Braaakk!...


Suara Ridho yang menutup pintunya dengan agak keras.


"Bilang kek, jangan main dorong-dorong aja," ucap Farrel.


"Iya-iya maaf lah," balas Ridho.


"Gue tinggal ya," ucap Farrel sambil mengambil handphone di saku celananya.


"Tungguin lah... Tadi juga aku nungguin," balas Ridho.


Setelah beberapa detik kemudian, kembali terdengar suara Ridho dari dalam kamar mandi tersebut.


"Rel, kamu tadi jongkok ya?" Ucap Ridho yang kebingungan sekaligus agak sedikit kaget.


"Iya... Cepatlah, kalau lama gue tinggal nih," jawab Farrel.


"Iya sabar," ucap Ridho.


Ridho tampak menghela nafas lalu berkata dengan pelan, "Udah kebelet, jadi apa boleh buat."


***


Di sisi Daffa, ia nampak hampir menghabiskan buburnya itu dalam hitungan beberapa menit.


Daffa menggeleng-gelengkan kepala mengisyaratkan kepada Syifa bahwa dirinya sudah tidak mau memakannya lagi.


"Ini tinggal sedikit lagi," ucap Syifa.


"Udah kenyang." balas Daffa lirih dan pelan sambil mengunyah bubur tersebut.


Syifa tampak berdiri dengan rasa lega lalu berjalan melangkah ke meja dekat kasurnya Daffa.


Syifa menaruh mangkuk yang berisi bubur di meja itu dan ia berjalan kembali menuju kasurnya Daffa.


"Vira, gantian kamu yang memberi minum obatnya pada Daffa. Kan aku udah menyuapinya," pinta Syifa yang kemudian ia duduk di kasurnya Daffa dengan posisinya sama seperti tadi.


"Emangnya obatnya di mana?" Tanya Vira sambil memandang Syifa dan Bella secara bergantian.


"Lah kok tanya aku, aku juga gak tau kali," jawab Bella yang telah usai memijit kakinya Daffa.


"Mana aku tahu." Jawab Syifa setelah Bella berbicara.


Karena Syifa dan Bella tidak tau, kali ini Vira mencoba bertanya kepada Daffa, "Kamu tau di mana Ibu kamu naruh obatnya, Daf?"

__ADS_1


Daffa menjawabnya hanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya udah, aku yang cariin." Ucap Vira.


Vira tampak bergerak sendiri mencari obat itu di sekitar kamarnya Daffa. Mulai dari meja yang dekat kasurnya Daffa dan lanjut ke lemari yang kebanyakan berisi baju.


"Udah menemukannya belum Vir?" Tanya Syifa.


"Belum, sabar sedikit napa." Jawab Vira.


"Hm, di sini juga ga ada," ucap Vira yang tengah mencari obatnya Daffa. "Oh iya, di situ belum." Sambungnya.


Vira kemudian mencarinya di meja belajarnya Daffa, tapi ia tidak menemukannya.


Namun saat Vira mencoba mengecek di laci meja belajar tersebut, tangannya tampak menemukan sesuatu seperti majalah. Vira pun mengambilnya.


"Apa ini?" Ucap Vira yang sedang mengambilnya. "Hah?!..." Vira terkaget-kaget saat melihatnya.


Vira membalikkan badannya ke arah teman-temannya. Mukanya terlihat memerah saat menunjukkan komik tersebut dari jauh kepada teman-temannya. "Jangan-jangan... Ini yang dimaksud mereka berdua..." Ucapnya dengan grogi.


"Maksudnya?" Tanya Syifa dan Bella yang tidak paham dengan perkataannya Vira.


Sementara Daffa hanya terdiam di kasur memperhatikan mereka semua tanpa mengucapkan satu kata pun. "Dia malah membuatnya jadi berantakan." Gumamnya dengan muka datar.


Syifa dan Bella kemudian berjalan cepat menghampiri Vira yang mukanya tampak syok dan malu-malu itu.


Seketika Syifa dan Bella sangat terkejut saat melihat sampul komik yang dipegang oleh Vira itu bergambar gadis yang berbusana tipis.


"Ke, ke, kenapa perempuan itu hanya menggunakan pakaian dalam?..." Tanya Syifa dengan pelan dan grogi.


"Aku juga gak tau," jawab Vira pelan.


Muka mereka bertiga tampak malu-malu kucing sambil terus melihat ke arah komik tersebut.


"Kalian bertiga, obatnya mana? Jangan malah mengambil buku orang seenaknya aja," Daffa mencoba mengucapkannya dengan keras namun tidak bisa.


Syifa dan teman-temannya seketika matanya melirik tajam ke arah Daffa yang barusan berbicara. "Sstt!" Isyarat mereka.


Daffa yang melihatnya langsung menelan ludah karena perasannya yang tidak enak. "Eh... Bukannya di sini yang seharusnya marah itu aku? Bukan mereka. Lihat saja, seluruh kamarku ini sudah berantakan, entah apa saja yang mereka lakukan saat aku tertidur." Gumam Daffa yang tampak kesal.


"Memikirkannya membuat kepala tambah pening, mending tiduran enak." Lanjut gumamnya yang kemudian ia tiduran kembali.


Sedangkan Daffa yang kembali bertiduran, Vira tampak menghela nafas dalam-dalam lalu bertanya kepada mereka berdua, "Mau melihat isi halamannya?"


"Kayaknya nggak usah deh," jawab Bella.


"Iya! Gak usah," Syifa setuju dengan Bella.


Vira tak menghiraukan mereka berdua dan ia malah ingin segera membuka isi halaman komik tersebut. "Aku buka ini yah..."


"Jangan! Jangan dibuka!..." Teriak Syifa agak keras seraya menahan tangannya Vira yang hendak membalik halaman komik tersebut.


Komik tersebut akhirnya tertutup kembali dan berbalik ke sampul gadis itu lagi karena perbuatan Syifa.

__ADS_1


"Eh... Syifa malu-malu nih ya..." Ucap Vira yang meledek Syifa.


"Bu-bu-bukan begitu..." Balas Syifa grogi yang mukanya memerah kembali.


"Heleh... Kamu sendiri aja malu-malu Vir," sela Bella.


"Eh? Masa sih?..." Balas Vira sambil membuang wajahnya dari Bella. "Hihi..." Vira kemudian tertawa setelahnya.


Syifa tiba-tiba menyela Vira yang tengah tertawa, "Satu halaman."


"Hm?" Vira dan Bella tidak maksud dengan perkataan Syifa yang singkat itu.


"Kita lihat satu halaman ajah," jelas Syifa pelan dengan mukanya yang masih terlihat malu-malu.


"Oh begitu ya..." Balas Vira yang kemudian tangannya mengisyaratkan kepada Syifa dan Bella untuk lebih dekat dengannya


Mereka bertiga pun tampak lebih mendekatkan lagi satu sama lain.


Vira membuka komik tersebut dengan perlahan. Mereka bertiga terus memandang ke komik itu dengan rasa penasaran yang membuat jantung mereka terasa deg-degan.


"Eh!" Mereka bertiga tampak terkaget sesaat setelah komik itu terbuka sepenuhnya.


Muka mereka semakin malu berbarengan dengan jantungnya yang semakin deg-degan karena telah melihat gambar yang menakjubkan.


Sementara Daffa yang mendengarkan teriakan itu seketika ia langsung menutup kedua telinganya dengan rapat. "Jangan berisik juga ya ampun..." Gumamnya.


Vira yang hendak membalikkan ke halaman selanjutnya, ia tampak tertahan oleh perkataan Syifa.


"Tadi katanya satu halaman," Ucap Syifa lirih dan pelan.


"Kamu juga penasaran kan?" Tanya Vira.


"Ya udah cepet," jawab Syifa gugup.


"Tapi kayaknya muka dan kakimu berbeda dengan perkataannya kamu," sela Bella karena ia melihat kakinya Vira yang tampak sedikit gemetaran.


"Bukan cuma aku tapi kita semua." Balas Vira.


Vira pun membalikkan komik tersebut ke halaman selanjutnya. Dan terdengar kembali suara kaget Syifa dan teman-temannya yang makin keras. "Ehhh!"


Beberapa detik berikutnya, Vira langsung membalikkan lagi ke halaman berikutnya.


Dan boom! Terlihat sangat jelas di depan mata mereka terdapat gambar sepasang remaja yang tengah menyatukan bibirnya.


Syifa dan teman-temannya tampak tidak bergerak sama sekali dan hanya membuka mulutnya lebar-lebar seakan sedang terkaget saat melihat gambar tersebut.


Tak lama kemudian, terdapat reaksi telat suara teriakan mereka bertiga yang sangat keras.


"Eeehhhh!...."


Mereka bertiga berteriak sangat keras seraya menutup komik dewasa itu secara bersama-sama.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2