Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 90 : Mendapat Undangan Berpesta


__ADS_3

Daffa tak bergerak sama sekali, ia hanya berdiam diri sambil melihat Melly yang sepertinya tengah mengoceh kepadanya sejak tadi.


Sebelum Melly benar-benar melangkah pergi meninggalkan Daffa, ia mengatakan satu hal lagi yang hampir saja dilupakannya.


"Oh iya, aku hampir kelupaan. Daffa, malam nanti kamu diajak Syifa ke rumahnya Vira lho."


Setelahnya Melly langsung berderap pergi seraya melambaikan tangannya ke atas, sebagai tanda perpisahan. "Dah, bersenang-senanglah dengan dia."


Ting!


Di saat yang sama, Daffa mendapatkan sebuah pesan dari seseorang. Kebetulan juga, di saat itu Daffa sudah memegang ponselnya sejak tadi, jadi ia langsung mengecek pesannya.


Saat Daffa lihat, ternyata pesan tersebut dari Syifa. Dan yang tidak disangkanya lagi, isi pesan tersebut ternyata sama persis seperti perkataan Melly.


"Daffa! Nanti malam datang ke rumahnya Vira ya, kita akan berpestaaaaa! Dan hari ini kamu juga jangan sampai tidak datang ke ekskul renang yaaaa! Wlee ... " Gumamnya.


Daffa mencoba mengucapnya seperti halnya yang tertulis dalam pesan tersebut dari kata per kata, dan pesan itu diakhiri dengan sebuah emotikon kucing melet.


Daffa sudah tak lagi melihat keberadaan Melly di sana. Daffa menghela napas panjang, ia kemudian menutup layar ponselnya dalam satu kali pencet. "Aku ... Masih tidak paham." Ia berbicara sendiri di dalam hatinya.


Setelahnya, Daffa menutup pintu tersebut dengan perlahan. "Ternyata ... Aku memang tidak paham."


Daffa melangkah maju ke depan dan menuruni sebuah anak tangga yang jumlahnya begitu banyak. "Mengapa dia ... Sangat ingin mendekatkanku dengannya? ... "


*****


"Priiitt!"


"Satu! Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh!"


Sepulang sekolah, para murid yang mengikuti ekstrakurikuler renang sudah pada mulai berbaris di tempat, tepatnya di dalam gedung kolam renang sekolah.


Kecuali Daffa, hanya dia saja yang baru sampai di depan gedung kolam renang sekolahnya. Di sana Daffa memegangi kedua lututnya, nafasnya terengah-engah dan sangat tidak beraturan. "Huh ... Huh ... Huh ... "


Sekujur tubuhnya tampak dipenuhi keringat, itu dikarenakan Daffa yang harus pulang terlebih dahulu menuju rumahnya untuk mengambil sejumlah pakaian renangnya dan pakaian gantinya, lalu ia kembali lagi ke sekolah dengan terburu-buru.


Yang membuatnya semakin lama, Daffa bolak-balik ke sekolah hanya dengan berjalan kaki saja, itu berbeda sekali dengan teman-temannya yang menggunakan kendaraannya masing-masing. Seperti kendaraan roda dua, maupun roda empat.


"Priiitt ... !"


Di dalam sana, Daffa melihat sosok kak Dewi yang sedang membunyikan sebuah peluit. Suaranya begitu nyaring dan keras, hingga terdengar sampai keluar gedung.


Tampaknya kak Dewi sedang membimbing para teman-temannya Daffa, yang notabennya saat ini adalah anggota ekstrakurikuler renang. Mereka membentuk dua banjar barisan dengan rapi persis di depan kak Dewi.

__ADS_1


Daffa melihat itu dengan mata kepalanya sendiri, dan ia pun kemudian bergegas menghampiri mereka dengan tubuhnya yang sudah terkena sedikit keringat lebih dulu. "Maaf, aku terlambat ... Satu menit."


Mendengar suara itu, seakan kak Dewi langsung menengok ke arah Daffa.


"Priit! Priit! Priit!" Lagi-lagi kak Dewi meniup peluitnya, tapi kali ini ia sambil mengarahkan tangannya pada Daffa.


Sepertinya kak Dewi sedang menyuruhnya lebih cepat lagi.


"Siap, kapten!" Daffa yang langsung paham maksud hal itu, ia hormat dan kemudian berlarian ke tempat loker.


"D—Daffaaaa ... !" Syifa tiba-tiba berteriak dari kejauhan.


"Eh eh, ternyata salah ... " Daffa memutar balik, ternyata ia salah arah. Bukannya menuju ke loker siswa, Daffa malah masuk ke loker siswi.


"Cepat, cepat, cepat." Dia menyemangatinya diri sendiri.


Sesampainya di loker siswa atau lebih tepatnya tempat penitipan barang bagi siswa, Daffa lantas melepaskan pakaiannya dan melemparkannya begitu saja ke dalam loker tersebut. Tak lupa juga ia menyimpan tas ransel miliknya ke dalam loker itu.


Daffa memasuki barisan paling akhir hanya dengan mengenakan celana renang yang begitu pendek.


Tapi suasana di dalam gedung seketika menjadi hening saat kemunculan Daffa di sana.


Daffa menjadi merasa malu dan tidak enak sendiri, pasalnya sejak masuk ke dalam barisan, ia seperti mengundang para teman-temannya untuk melirik ke arahnya secara diam-diam.


Daffa sangat mengetahuinya, itu pasti karena celana yang saat ini sedang dipakainya memiliki sebuah gambar tengkorak yang begitu mencolok. "Aghh ... Aku ingin sekali menggantinya." Gumamnya.


Tapi sebenarnya Daffalah yang ternyata salah pengertian. Mereka tidaklah melihat ke arah celananya Daffa yang mungkin terlihat tidak bisa, melainkan memandang ke sesuatu yang terletak di atas celananya itu.


"Waw, Daffa. Bentuk tubuhmu terlihat bagus sekali."


Seorang yang mengucapkan itu secara terang-terangan adalah Vira, yang kini sedang berdiri tepat di sebelahnya.


Daffa tidak menyangkanya sama sekali akan mendapat pujian seperti itu. "Eh, aku?"


"Iyah ... Aku bicara tentangmu."


Daffa mengusap kepala kepala bagian belakang secara berulang kali. "Yah ... Sebenarnya ini masih biasa-biasa saja, sama seperti siswa-siswa lainnya."


"Ohh ... Gitu ya. Kalau begitu, berjuang ya!"


"Ya! Aku akan berjuang." Balas Daffa sambil meringis.


Mereka berdua tampaknya akrab sekali, bisa berbicara menyambung walaupun sedikit tidak jelas apa yang dimaksud.

__ADS_1


"Kalian ini bicara apa sih?" Sela Bella yang kebingungan melihatnya.


Prok!


Prok!


Suaranya berasal dari kak Dewi, yang secara tiba-tiba menepuk kedua tangannya sebanyak dua kali. "Ssstt! Cukup ... "


"Okeh, sip. Karena adik-adik kelasku yang tercinta sudah kumpul semuanya, maka sekarang waktunya berhitung ulang ... Mulai!" Kak Dewi menunjuk salah seorang dari arah sebaliknya Daffa.


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


"Empat!"


"Lima!"


"Enam!"


"Tujuh!"


"Delapan!" Gilirannya Daffa datang juga, sepertinya suaranya yang paling kecil sendiri.


"Eh, delapan?" Gumam Daffa, ia seakan langsung menyadari akan suatu hal yang sangat aneh, hingga dapat mengganjal dalam pikirannya.


Daffa mencoba mengingatnya lagi dengan kembali berpikir sejenak. Tak lama kemudian Daffa membuka matanya lebar-lebar, ia baru ingat kalau anggota dalam ekstrakurikuler renang ini hanyalah lima orang.


Daffa kemudian mengangkat mengangkat tangannya ke atas, ia ingin mengajukan pertanyaan. "Kak, Kak Dewi."


Kak Dewi yang melihat Daffa mengangkat tangan, ia langsung menanggapinya dan menunjuk ke arahnya. "Iya, Daffa?"


"Perasaan anggotanya cuman ada lima, akan jadi enam kalau kakak sendiri dihitung. Kok bisa bertambah sendiri jadi delapan? Kan gak masuk akal."


Seseorang dari arah sebaliknya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menatap Daffa. "Hey, Daffa. Kita bertiga ada di sini lho ... Kamu rabun, kah?"


Tidak salah lagi. Suara itu, wajah itu, ternyata tiga-tiganya adalah teman sekelasnya Daffa sendiri.


Ridho, Farrel, dan Melly, mereka berdiri di sana dengan tersenyum bahagia mengangkat jempol tangannya ke arah Daffa.


"Eh?" Daffa tidak menyadarinya sama sekali.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2