Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 42 : Ekstrakurikuler


__ADS_3

"Ayolah-ayolah...! Udah lama sekali aku nungguinnya ini..." Gumam Daffa dalam hatinya.


Tepat di dalam ruangan kelasnya Daffa, tertampak Daffa dengan muka lesunya yang tengah memperhatikan ke arah papan tulis. Sementara jari tangannya seperti terlihat tengah memutar-mutarkan pulpen miliknya yang seolah-olah sedang memainkannya.


Dari tempat duduknya Daffa, terdengar suara pak guru yang tengah menjelaskan secara rinci tentang pelajaran yang tampaknya ditulis panjang lebar di papan tulis.


Beberapa saat kemudian....


Bel sekolah tampaknya berbunyi, tanda pelajaran untuk hari ini telah usai.


"Yosh!" Batin Daffa berkata seperti itu.


Pak guru tampak mengambil beberapa buku dan lainnya di meja depan. "Diharapkan kalian semua memahami untuk materi kali ini."


"Baik anak-anak, bapak pergi dulu karena ada keperluan pribadi. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya." Ucap pak guru.


Pak guru tersebut berjalan cepat menuju pintu kelas dengan meninggalkan kalimat, "Dan jangan lupa berdoa dulu sebelum kalian semua pulang."


"Baik, pak..." Murid-murid kompak menjawabnya.


Di saat Daffa yang terlihat buru-buru menata semua buku-bukunya, tiba-tiba ada seorang guru yang masuk ke dalam kelasnya.


Dan ternyata itu adalah Bu Fitri. Bu Fitri pun kemudian melangkah melewati pintu kelas dan berhenti tepat di depannya.


"Assalamualaikum, anak-anak yang ibu sayangi..." Ucap bu Fitri dengan tersenyum.


"Waalaikumussalam..." Jawab murid-murid dengan kompak.


"Anak-anak, apa di kelas ini masih ada yang belum mengikuti ekstrakurikuler pilihan?" Tanya Bu Fitri.


Di tengah-tengah suasana kelas yang hening tanpa suara apapun sesaat setelah bu Fitri bertanya.


Terlihat di pojok belakang sana Daffa yang mukanya tiba-tiba tampak kaget sekaligus panik sesaat setelah mendengarnya. "Eh?"


"Ga-gawat! Gawat!" Gumam Daffa yang tampak panik. "Sumpah, gawat ini mah kalau sampai ketahuan." Gumam Daffa dalam hatinya.


"Te-tenang Daffa... Tenang." Daffa pun kemudian menghela nafas dalam-dalam. "Kalau hanya diam dan duduk tenang, pasti bu Fitri gak akan curiga." Gumam Daffa dalam hatinya.

__ADS_1


Sudah beberapa saat setelah Bu Fitri bertanya mengenai hal tersebut, namun tidak ada satu pun dari siswa-siswi di kelasnya Daffa yang mengangkat tangannya. Mereka cenderung bersikap seperti biasanya terkecuali Daffa yang tampaknya memalingkan pandangannya dari bu Fitri dan melihat ke arah jendela.


"Kayaknya sudah semua, bu..." Ucap Vira.


"Oh, jadi begitu ya..." Itulah perkataan yang diucapkan bu Fitri, namun berbeda dengan suara hatinya.


"Ya ampun, Daffa... Daffa... Sudah tahu sendirinya belum tapi kenapa gak mengangkat tangan..." Gumam Bu Fitri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kelas yang terlihat mulai ribut kembali, Bu Fitri pun kemudian menepuk kedua tangannya agar mereka memperhatikannya kembali.


"Baiklah-baiklah, anak-anak semuanya lihat ke sini... Jika kalian belum mengikuti ekstrakurikuler pilihan, kalian bisa memilih dan mencarinya di papan pengumuman yang ada di depan aula sekolah. Jadi kalian bisa memilihnya sesuai minat masing-masing." Bu Fitri menjelaskannya panjang lebar.


"Begitu pula yang sudah mengikutinya, kalian bisa menambah ekstrakurikuler lagi sesuai peminatan kalian." Ucap bu Fitri.


"Jadi dengarkan itu baik-baik ya, Daffa..." Ucap bu Fitri yang wajahnya tampak tersenyum sembari menatap tajam ke arah Daffa.


Daffa yang mendengarkannya, mukanya berubah yang tampaknya sangat terkaget-kaget. "Eh? Apa...?!" Gumam Daffa.


Dan Daffa pun seketika langsung menoleh ke arah Bu Fitri dengan keadaan yang tengah kaget itu. "Tidak-tidak! Aku tidak mau....!" Batin Daffa.


***


"Tapi kenapa aku malah di bawa ke sini...!?" Ucap Daffa dengan nada yang agak keras. Tangannya memegang erat kepalanya karena tampaknya ia sudah berputus asa dengan kenyataan.


Daffa tampaknya sedang berada di dalam suatu ruangan, di situ banyak para guru yang keluar-masuk dari ruangan itu. Ruangan itu sepertinya adalah ruang guru.


Tepat dihadapannya Daffa, terlihat bu Fitri yang sedang duduk di bangku sembari menata buku-buku yang ada di atas meja.


"Udah gausah banyak ngeluh, ini bantuin ibu dulu merapikan buku," pinta bu Fitri yang mukanya terlihat sedikit kesal ketika melihat Daffa.


"Huft... Baiklah..." Ucap Daffa tidak niat.


Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya selesai membuat meja itu yang begitu terlihat rapi.


"Jadi, kamu akan memilih ekstrakurikuler apa?" Tanya bu Fitri sembari menatap Daffa.


"Eh...." Daffa tampak bingung ingin menjawab apa. Tatapan matanya berpindah ke kanan-kiri.

__ADS_1


"Kan aku sudah ikut Pramuka, bu? Hehe," jawab Daffa pelan, ia tampaknya memaksa tertawa.


"Hah...? Itu kan ekstrakurikuler wajibnya...!" Ucap bu Fitri sembari menepuk jidatnya. "Daffa! Setidaknya kamu harus memilih salah satu." Sambungnya.


Daffa tampaknya hanya bisa berdiam diri di tempat dengan menundukkan sedikit kepalanya ke bawah.


"Ya udah gini aja deh, coba sebutin hobinya kamu, minatnya kamu, dan cita-citanya kamu," ucap Bu Fitri.


"Eh..." Daffa terlihat bingung ingin menjawab pertanyaannya bu Fitri.


"Daffa...?" Panggil bu Fitri, namun Daffa masih saja tetap tak kunjung menjawabnya.


"Daffa, jangan bilang kalau kamu tidak punya tujuan hidup," Tanya bu Fitri pelan dan lirih.


"Hah?!" Daffa kaget mendengar perkataannya bu Fitri.


Daffa yang tampak panik, seketika dirinya langsung celingak-celinguk ke kanan-kiri.


Daffa kembali fokus kehadapan bu Fitri. Sepertinya ia menelan ludah di saat itu. "Te-tentu saja aku mempunyainya, hobi pun juga," Daffa mengucapkannya dengan pelan dan ragu-ragu.


"Nah, coba sebutkan hobimu itu," bu Fitri langsung membalasnya dengan cepat.


"Eh..." Daffa tampak bingung. "Pokoknya, banyakkk!" Ucapnya.


"Hah?" Bu Fitri terheran-heran melihatnya.


"Harus ibu katakan beberapa kali sih? Coba disebutin satu persatu, Daffa..." Pinta Bu Fitri yang wajah dan tangannya terlihat begitu geram.


"Oh iya, benar juga. Lebih baik aku mengganti topik pembicaraan saja," gumam Daffa dalam hatinya selagi mendengar suara yang berasal dari mulutnya bu Fitri.


Tampak pandangan matanya Daffa yang menoleh ke sana-kemari seperti tengah mencari sesuatu.


"Daffa... Daffa... Hello...?" Panggil bu Fitri.


Beberapa saat setelahnya, matanya Daffa tampak melebar ketika dirinya melihat tas yang berada di belakangnya bu Fitri.


"Bu, kertas yang di samping tas itu apa yah?" Tanya Daffa yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Hm? Tolong kamu jangan alihkan pembicaraan yang tadi-" ucap Bu Fitri sembari menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Daffa. "Eh? Bukankah ini..." Gumam bu Fitri.


Bersambung....


__ADS_2