Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 55 : Jalan Yang Dipilih


__ADS_3

Syifa melihat adanya sedikit terangnya harapan untuknya. Dia merasa terharu setelah mengetahui Daffa yang berniat untuk menyelamatkannya.


Daffa tidak tahan lagi melihat wajah Syifa yang begitu kasihan.


Daffa harus menghadapinya, tidak ada cara lain jika ingin merebutnya. Tetapi Ia sedikit gerogi ketika berhadapan dengan mereka yang jumlahnya lebih banyak darinya.


Daffa mencoba untuk lebih fokus. "Pertarungan akan dimulai jika kain ini menyentuh tanah." Ucap Daffa dengan wajah yang penuh semangat.


Langsung saja tanpa berlama-lama, Daffa pun melemparnya ke atas. Pandangan mereka seakan terfokus pada satu arah, yaitu langit-langit.


Terkecuali Daffa, ia hanya pura-pura melihatnya selagi mengamati keadaan di sekitarnya. Di saat yang sama ia juga sedang berpikir cara untuk mengalahkan mereka semua. "Baiklah, sekarang tinggal bagaimana caranya aku mengalahkan mereka tanpa adanya suatu kesalahan fatal."


Fendi berada di sebelah kiri dan Fundi berada di sebelah kanan, sedangkan Fandi berada diantara belakang dan tengah-tengah mereka berdua.


Sekiranya masih ada waktu yang tersisa sekitar 2 detik lagi sebelum kain itu terjatuh dan menyentuh tanah.


Daffa menarik nafas, di saat yang sama ia juga mengambil sweater miliknya. Kaki dan tangannya mulai bergerak, tanah yang dipijaknya seakan bergetar karena hembusan angin kencang yang dibuat olehnya. ia mengayunkan tangan kanannya kebelakang.


Dengan sekuat tenaga, Daffa melempar sweater miliknya hingga mengenai tepat di wajahnya Fandi. "Apa ini?!"


Syifa yang berada dibalik Fandi juga ikut terkena dampaknya. Kakinya terinjak oleh Fandi yang kemudian ia pun ikut terjatuh juga ke tanah. "Aduh..."


"Bos!!" Teriak Fendi dan Fundi melihat Fandi yang terjatuh.


Wajah Fendi tampak agak kaget melihat yang barusan. "Woy! Jangan main cura-" Daffa tiba-tiba sudah berada tepat dihadapan Fendi dengan tangan kanannya yang siap memukulnya. Daffa melesat sangat cepat hingga mereka tak menyadarinya.

__ADS_1


Fendi hendak menangkisnya, namun sayangnya ia tak sempat untuk melakukannya. Dan kemudian terdengarlah pukulan yang cukup keras.


*Pow!


Pipinya seakan bergetar karena terkena pukulan telak dari seorang Daffa, hingga membuatnya terhempas sampai mengenai tembok. "Brak!!"


Belum sempat tarik nafas, gangguan lainnya muncul dari belakang. Daffa mendengar sangat jelas langkah kaki seseorang dari belakangnya.


Daffa menoleh ke belakangnya, ia seakan tersenyum sinis melihat Fundi bergerak lari ke arahnya. Daffa pun langsung berbalik badan, di saat yang sama tangan kirinya seperti melempar sesuatu ke atas.


Fundi sangat terkejut ketika mengetahui yang dilempar nya adalah beberapa batu yang berukuran kecil dan sedang. Dan batu-batu itu sudah berada di atas kepalanya. "Sejak kapan?!"


Dengan terpaksa Fundi harus melakukan pertahanan dan mengurusi batu-batu itu terlebih dahulu. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Daffa untuk menyerang balik.


Daffa berlari lurus ke arahnya, senyuman sinisnya masih tercampur dengan perasaannya saat ini, pandangan matanya tertuju pada Fundi yang menangkis batu-batu itu secara bergantian.


Masih berlanjut! Daffa tampak masih lanjut berlari bahkan ia berlari lebih gesit dari sebelumnya. Dan kini yang menjadi incarannya adalah Fandi.


Fandi sungguh sangat kesal. Emosinya benar-benar berada di ujung kemarahan. "Daffa!!..." Dia kembali berdiri sembari membuang sweater milik Daffa dari wajahnya. "Sreett!"


Namun Fandi nampaknya langsung disambut oleh kehadiran Daffa yang secara tiba-tiba sudah nampak melayang di udara. Fandi sangat kaget, ia hanya bisa tercengang-cengang melihat Daffa berada di bawah bayangan cahaya rembulan. "Lambat..."


Kaki kanannya sudah sangat siap untuk menyerang Fandi dan hanya menunggu timing yang tepat. Dari tatapan matanya, Daffa berniat menyerang di satu titik yaitu pada bagian kepalanya.


Namun sayangnya kali ini keberuntungan tidak berpihak kepadanya, kakinya justru mengenai bagian lengannya Fandi. "Sial!"

__ADS_1


*POW!!


Fandi terpental jauh dari tempatnya berdiri karena terkena tendangan dari Daffa yang sangat kencang.


Dari semua itu yang sudah dilakukan oleh Daffa, ia tampaknya melupakan satu hal. Iya, Daffa lupa untuk mendarat dan memijakkan kakinya pada tanah.


Sepertinya semuanya tidak akan berjalan dengan mulus sepenuhnya. Di saat yang sama ketika Daffa akan mendarat, tanpa ia sadari handphone miliknya juga terlepas dari sakunya.


Apa jadinya jika Daffa berada dalam keadaan kaget ditambah kebingungan? Dia justru malah akan membuang-buang waktu yang tersisa dan tidak melakukan apa-apa di saat itu juga.


Kakinya Daffa mendarat dengan tidak sempurna. Keadaan jalan yang basah dan juga cukup licin, itu semakin memperburuk keadaan.


Kakinya tak cukup seimbang untuk menumpu tubuhnya, dan Daffa sepertinya akan terjatuh ke depan. Daffa menutup kedua matanya di saat-saat terakhir ia akan terjatuh.


*Klotak!


Keadaan menjadi lebih tenang setelah bunyi gemuruh itu muncul beberapa saat yang lalu.


Tetapi sepertinya ada yang janggal, itulah kata batin Daffa. "Suara apa itu? Itu bukan suara yang berasal dari aku. Eh, sebentar, ini rasanya lembut... Empuk... Dan wangi juga." Aroma itu membuat Daffa sangat nyaman untuk saat ini.


Tak lama kemudian, Daffa merasa kepalanya dipegang oleh tangan seseorang. "Ya ampun... Kamu gak bakalan terlihat keren kalau terjatuh di saat-saat terakhir." Ucap Syifa yang ternyata dialah sosok yang menangkap Daffa di waktu yang sangat tepat.


Daffa membuka matanya perlahan demi perlahan. "S-Syifa?!" Daffa sangat terkejut hingga wajahnya pun tampak memerah.


Pipinya Syifa juga ikutan berubah memerah di saat yang sama. "J-jangan salah paham dulu lho, aku hanya tidak ingin kamu terluka gara-gara aku," Ucap Syifa pelan nan lirih didengar.

__ADS_1


Dengan perasaan yang gugup, Daffa seketika langsung buru-buru berdiri menjauh dari dekapannya Syifa. "A-ah... Eng... Yah, terima kasih." Dia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Syifa karena telah menyelamatkannya.


Bersambung....


__ADS_2