
Di saat jam istirahat pertama, tepatnya di perpustakaan sekolah. Terlihat Daffa yang sedang disudutkan oleh Charla. Daffa dan Charla saling berhadap-hadapan di pojok sana.
"Eh... Anu... Charla?... Ke-kenapa kamu menyeretku sampai ke sini?..." Ucap Daffa pelan dan lirih yang tampak deg-degan dan juga wajahnya yang tampak keringatan.
"Maaf!" Charles mengucapkannya tanpa basa-basi sembari menundukkan kepalanya tepat dihadapannya Daffa.
"Aduh... Ada apa dengannya? Mana lagi cacing perut memberontak terus," gumam Daffa dalam hatinya.
"Maksudnya... apa yah? Hehe, aku tidak mengerti lah," tanya Daffa yang tampak bingung setelah mendengar ucapannya Charla.
"Ma-maaf karena telah menjatuhkanmu!" Jawab Charla agak keras selagi menundukkan kepalanya. "Sebenarnya... aku dalang dibalik itu semua." Sambungnya.
"Eh..." Daffa masih saja tampak kebingungan.
Daffa terlihat diam di tempat sesaat. Seketika otaknya seperti sedang nge-lag karena mencoba mengingat-ingat sesuatu yang menyambung dengan ucapannya Charla.
Dan beberapa detik kemudian....
"Apa yang kamu maksud itu yang kejadian pagi tadi?" Tanya Daffa
"Iya!" Jawab Charla. Dia seketika langsung menutup rapat kedua matanya karena ketakutan.
"Oh... Jadi yang pagi tadi yah..." Gumam Daffa dalam hatinya yang terlihat sudah paham. "Eh?! Yang pagi tadi?! Jadi yang melempar penghapus berwarna hitam itu adalah Charla?..." Gumam Daffa dalam hatinya.
"Padahal aku sudah ingin sekali membalasnya jika pelakunya adalah lelaki. Huft, tapi ternyata bukan..." Gumam Daffa dalam hatinya.
"Aah..." Daffa bingung ingin mengatakan sesuatu kepada Charla.
Namun tak lama kemudian Daffa tampak menghela nafas. "Ah, Gak apa-apa kok, jadi tenang saja." Ucapnya lirih seperti tidak niat saja.
"Eh? Ka-kamu gak marah?..." Charla terlihat kaget selepas mendengarnya dan kemudian ia menegakkan badannya kembali seperti semula.
"Lagi pula kan, aku tidak jadi dimarahin oleh bu guru," Daffa mengucapkannya sembari membuang wajahnya ke arah kirinya, sedangkan matanya melirik ke arah Charla. Dia seperti merasa berat hati mengucapkannya.
"Tapi kok, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Charla yang keheranan.
"Hah?... Wajahku memang seperti ini dari sananya," jawab Daffa dengan nada kesal.
"Tuh kan...." Balas Charla yang wajahnya semakin lama semakin terlihat ingin tertawa.
"Hihihi...." Charla tampak tertawa pelan dengan mulutnya yang ditutupi oleh jari-jari tangannya.
__ADS_1
Charla terlihat terus saja tertawa dengan pelan sampai-sampai ia tidak menyadari jika terdapat air mata di sudut matanya.
"Eh? Kenapa aku tertawa? Terus terang, Kapan terakhir kali aku bisa tertawa seperti saat ini? Kok bisa aku tertawa dengan sendirinya seperti ini? Dan entah kenapa, aku tidak bisa menghentikannya," itulah yang dirasakan Charla saat ini di dalam hatinya.
"Eh? Eh!...." Daffa tampak kaget, wajahnya seperti tidak percaya dan pipinya juga terlihat memerah.
"Di-dia, kalau tertawa... Cantik sekali!..." Gumam Daffa ketika melihat Charla tertawa seperti itu.
Tak lama kemudian di saat tawaan Charla yang semakin mengecil, Daffa tampak memegangi kepalanya dan juga menggeleng-gelengkannya. "Kamu harus tenangkan diri, Daffa. Lagi pula kamu juga hanya bisa melihatnya tapi tidak dengan memilikinya." Daffa berbicara kepada diri sendirinya.
Di sisi lain, di saat Charla telah menghentikan tawaannya, kemudian ia menatap ke arah Daffa. "Ya udah itu aja yang ingin aku katakan, kamu bisa pergi sekarang."
"Baiklah," balas Daffa sembari mengangguk.
Daffa tampak melangkah ke depan, dan di saat ia sudah berada tepat di samping Charla, ia kemudian berhenti.
Tangannya Daffa tiba-tiba menyentuh bagian atas kepalanya Charla. "Terima kasih karena telah berniat menolongku."
"Eh?" Charla tampak sangat kaget saat Daffa berperilaku seperti itu kepadanya. Sampai-sampai mukanya terlihat memerah.
"Kalau begitu aku duluan ya..." Ucap Daffa seraya melanjutkan terus langkahnya melewati Charla.
Tiba-tiba tangannya Charla memegang rambut kepalanya yang tadi telah dipegang oleh Daffa. Di saat itu juga pipinya terlihat merah muda seperti tengah tersipu malu.
***
Di sisi lain, terdapat ruangan kelas yang suasananya tampak sepi. Dan di luar kelas tersebut, terlihat ada burung yang tengah hinggap di jendela.
Mungkin saja banyak murid kelas itu yang pergi ke kantin dan hanya tersisa beberapa murid saja yang berada di dalam kelas tersebut.
Di lihat dengan jelas tampaknya ruangan kelas tersebut seperti berbeda dengan ruangan kelasnya Daffa. Karena kelas tersebut berada di lantai yang paling atas sedangkan kelasnya Daffa berada di lantai bawah.
Di pojok belakang ruang kelas itu, tampak terlihat Fandi dan kedua temannya yang tengah berbicara sembari duduk di bangku yang saling berdekatan.
Di lihat dari mukanya, mereka sepertinya sedang serius membahas sesuatu.
"Fan... Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Fendi pelan.
Fandi masih belum menjawabnya dan wajahnya terus saja menatap ke bawah.
Sementara Fundi yang melihat keadaan tengah tegang, ia pun terlihat ingin mencairkan suasana. "Palingan juga Syifa udah punya gebetan. Mungkin?..."
__ADS_1
Fendi yang mendengarnya tampak kesal. seketika ia langsung menarik Fundi dan merangkulnya. "Apa kau bilang?!..."
"Aduh-aduh! Sakit kak... Kan aku bilangnya mungkin saja..." Ucap Fundi.
"Tapi jangan bilang di depannya bos juga kali!..." Balas Fendi yang masih terlihat kesal. "Jadi adik yang pinter dikit napa." Sambungnya.
"Iya-iya kak, maaf kak..." Ucap Fundi.
"Tidak akan kulepaskan begitu saja." Balas Fendi.
Di tengah-tengah keributan mereka berdua, tiba-tiba saja Fandi tampak mengangkat kepalanya.
Dan arah tatapannya berubah ke mereka berdua yang tengah ribut itu. Mulutnya membuka sedikit seakan-akan ingin mengucapkan sesuatu.
Dan beberapa saat kemudian....
Fandi tampak mengucapakan sesuatu. "Culik."
"Eh?" Fundi dan Fendi sekilas langsung menghentikan keributannya dan kemudian mereka menatap ke arah Fandi dengan muka yang terlihat kaget dan heran.
Di saat yang sama, burung yang tadi hinggap di jendela seketika langsung terbang setelah Fandi mengucapkan kata tersebut.
Burung tersebut terbang terus-menerus sampai mengitari sekolahnya Daffa.
Dan di saat burung tersebut terbang tepat di pinggir jendela kantin sekolah, dari luar terlihat Daffa sedang berjalan di tempat kantin sembari membawa bekalnya.
"Yah... Seperti biasa... Tidak ada tempat duduk yang kosong." Gumam Daffa yang tampak putus asa ketika melihat-lihat sekelilingnya.
"Ampun dah... kalau saja ada cowok lain yang makan di dalam kelas, pasti aku gak harus repot-repot datang ke sini. Tapi ya nyatanya memang tidak begitu, malahan banyak cewek yang makan di dalam kelas," gumam Daffa.
"Gak mungkin kan, kalau aku harus makan di samping para cewek-cewek yang notabennya aku cowok sendiri. Itu sangat memalukan." Gumam Daffa.
Tak lama setelah Daffa melihat ke sekelilingnya, dirinya tampak melihat Ridho dan Farrel yang melambaikan tangan mereka kepadanya. Di mejanya terdapat sisa-sisa makanan yang telah di makan oleh mereka berdua.
"Ridho? Farrel?" Gumam Daffa.
"Apa aku ke tempat mereka berdua aja yah?" Gumam Daffa.
"Ya udahlah, lagi pula bentar lagi bel akan berbunyi." Ucap Daffa.
Bersambung....
__ADS_1