Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 61 : Gadis Yang Tertidur


__ADS_3

Suara itu langsung mengingatkannya pada sang ibundanya. Ia yang di dalam mimpinya tengah berada di dataran gurun pasir yang amat luas, entah kenapa kepalanya menengok ke kanan secara sendirinya. Matanya sedikit membulat ketika ia melihat ibunya yang berdiri jauh di sana.


"Daf... Fa..." Gelombang suara lainnya tiba-tiba masuk ke dalam telinganya. Terulang kembali, secara spontan Daffa menghadap ke depan. Pandangannya terfokus pada seorang gadis berambut panjang yang tak jauh darinya, ia menganggapnya itu sebagai seorang Syifa yang tanpa wajah.


Tetapi tunggu dulu, Daffa merasakan sesuatu yang tak biasa menempel di tubuhnya. Tangannya mencoba mencari tahu dengan menempelkannya pada perutnya. Tangannya tak bisa merasakannya, namun pandangannya yang buram itu dapat melihat kalau itu adalah, darah!


Daffa sungguh terkejut mengetahui ada lumuran darah di sebagian tubuhnya. Di sela-sela itu, si gadis tadi tampak mengangkat salah satu tangannya dan memberinya pesan untuk melihat ke arah kirinya. Pandangannya sudah semakin buram, akan tetapi dari kejauhan ia masih dapat melihat sekumpulan orang tanpa wajah.


Pandangannya sudah sangat buram, dan entah kenapa perutnya semakin lama makin berat. Tak lama kemudian pandangannya pun menjadi hitam kemerahan karena terkena sinar matahari.


***


Tepat jam pukul 07:49. Minggu pagi hari, Daffa terbangun dari mimpinya dengan kantung matanya yang masih sedikit menampakkan diri. Perlahan tapi pasti, ia membuka matanya untuk melihat paginya dunia. "Sudah pagi? Perasaan baru tadi aku tidur."


Tangannya menggeliat bagai ulat, bagian perutnya masih terasa berat seperti dalam mimpinya tadi. "Tadi aku kayak bermimpi sesuatu?" Tapi yang anehnya Daffa sama sekali tak mengingat mimpinya yang barusan, semakin ia mengingatnya makin tak ingat pula ia dengan kejadiannya.


Di saat Daffa terbangun, ia melihat sesuatu yang sepantasnya tak mungkin terjadi di hadapannya. Matanya tak bisa sekalipun berkedip, diikuti alisnya yang menaik, mulutnya membuka lebar karena terbengong-bengong, dan wajahnya berisi penuh dengan tanda seru. "Eh, apa ini? Apa maksudnya ini...?!" Gumamnya dalam hati. Daffa mencoba untuk tak berteriak sebisa mungkin.


Daffa tak habis pikir, percaya tidak percaya ia telah melihat seorang gadis remaja berambut pirang tengah tidur manis di pangkuannya. Gadis itu duduk di kursi sembari menjatuhkan kepalanya di pangkuan Daffa. "Syif-Syifa...?!"


Bagaimana Daffa tak kaget, habisnya gadis yang ada di pangkuannya itu adalah seorang gadis yang sangat populer di sekolahnya dan baru kali ini ada seorang gadis yang berani duduk di pangkuannya, jadi dia agak sedikit terkejut. "Apa mungkin dia ke sini karena permintaanku yang tadi malam?!Haha, itu kayaknya tidak mungkin... Iya kan, tidak mungkin? Iya, kan?!" Daffa berbicara pada diri sendiri.


Jika saja ada teman satu sekolahnya yang melihat ini, sudah pasti mereka akan menjadi buah bibir yang sangat ramai hingga membuat satu sekolah heboh.

__ADS_1


Di samping itu, Daffa juga seorang laki-laki yang normal, tentu ia merasa sedikit terangsang dengan keadaannya yang begitu rumit. Untungnya ia dapat menahan pikiran buruknya.


Daffa berusaha semaksimal mungkin untuk membangunkannya tanpa adanya bunyi keras, sebab ia ingin menanyakan suatu alasan yang membuat Syifa datang kemari. Ia pun menarik-dorong Syifa dengan perlahan. "Syifa, Syifa..."


Tak butuh waktu lama, Syifa akhirnya terbangun, ia spontan mengucek-ucek matanya yang lelah itu, sedangkan tangan yang satunya tampak mengusap bagian mulutnya. Dengan wajah polosnya ia menengok ke kanan kirinya, gelagatnya seperti orang yang tak tahu apa-apa. "Kok bisa aku ketiduran, ya?"


Perkataannya sungguh memunculkan tanda tanya bagi Daffa. "Lah, seharusnya aku yang bilang begitu..."


Daffa duduk di atas kamar tidurnya sembari memegangi satu mata kirinya. Daffa saling bertatapan muka dengan Syifa yang suasana pakaiannya tampak sangat berbeda saat berada di sekolah.


Syifa tampak mengenakan gaun yang menutupi dari bahu sampai lutut kakinya. Terlebih lagi, gaun yang sangat indah berwarna pink keputihan yang melekat pada tubuhnya, membuat pesonanya yang cantik makin menarik di mata orang lain.


"Daripada itu, omong-omong kenapa kamu bisa masuk ke dalam rumahku?!" Tanya Daffa.


"Hmm? Aku mengetuk pintunya beberapa kali, tapi gak ada yang jawab. Terus aku coba untuk buka pintunya dan jreng! Aku bisa masuk ke dalam sini deh..." Syifa menjelaskan kronologi kenapa dia bisa masuk ke dalam rumahnya Daffa.


"Eh, bentar-bentar, itu kan yang pintu depan rumah... Nah, kalau pintu kamarku gimana? Perasaan udah aku kunci pintunya," Daffa kembali bertanya.


"Oh, kalau itu..." Dengan senang hati Syifa tersenyum lebar menatap Daffa, wajahnya menggambarkan dirinya yang sangat bangga terhadap diri sendiri. "Aku pakai kunci cadangan yang aku temukan di rumah ini... Ehe!" Syifa pun menunjukkan sebuah kunci yang menggantung di jarinya.


"O-oh... Begitu ya," Kekesalan tampak tergambar di wajahnya Daffa, namun ia dapat menahannya dengan sabar. "Sialan... Aku lupa kalau dia itu bukan hanya cerdas tapi juga pintar. Salah satunya pintar membobol pintu kamarku." Gumamnya dalam hati.


Daffa menurunkan lengannya, tatapan matanya sangat tajam mengarah ke Syifa. "Terus apa alasanmu datang ke sini? Kalau hanya kebetulan lewat mending pulang aja deh."

__ADS_1


"Eh?"


"Hah?"


"Hah...?!"


Ucapan itu keluar setelah mendengar perkataan dari Daffa, Syifa spontan menjambak rambutnya Daffa yang lebat itu. Wajahnya sangat sewot diiringi dengan perasaannya yang sangat geram terhadap Daffa. "Apa kamu lupa? Kalau Kemaren kamu sendiri yang memohon agar aku menemanimu di hari minggu? Hah?!"


"Iya-iya... Aku baru ingat, lepasin atuh... Padahal kan udah aku suruh dilupain aja," Balas Daffa yang berusaha menghentikan jambakannya.


"Hmph!" Syifa melepaskannya dengan membuang wajahnya yang tampak kesal dari hadapan Daffa. "Padahal... Aku cuma kasihan melihat kamu yang menangis karena memohon kepadaku. Tidak boleh ya...?" Ia memelas.


Ungkapannya begitu pelan tapi menusuk sangat dalam hingga mengenai titik lemahnya Daffa. "Jangan melebih-lebihkan kenyataannya oi..." Gumamnya dalam hati.


Daffa mendengus pelan. "Y-yah, boleh aja sih..." Ucapnya walau cukup berat untuk melontarkannya.


Hoooaam...!


Daffa berulang kali menguap, ia menyingkirkan selimutnya yang selalu menemaninya setiap malam bersama gulingnya, setelahnya Daffa tampak langsung memegang-megang bagian perutnya dan ia bersyukur karena tak terjadi apa-apa terhadap perutnya.


Daffa pun hendak beranjak dari kamarnya supaya bisa meregangkan bagian tubuhnya yang terasa kaku.


Sementara itu, Syifa tampaknya seperti teringat sesuatu. "Oh, iya makanannya!" Dan pada akhirnya Daffa tak bisa melakukannya di saat itu juga, karena secara tiba-tiba Syifa menarik paksa lengannya ke luar kamar. "Hadeh... Apa lagi ini?"

__ADS_1


Turunnya Daffa dari tangga, membuat dia melihat pemandangan yang tak biasa lainnya. Ia melihat seorang anak kecil yang tengah mengemut permen sembari duduk di kursi meja makan yang biasanya digunakan Daffa ketika sedang memakan makanan. "Kenapa... Kenapa kamu juga membawa Fasa kesini...?"


Bersambung....


__ADS_2