Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 47 : Kelupaan


__ADS_3

Di saat itulah terlihat wajah menakutkan ibu Ayu dengan aura hitam mengerikan yang ada di sekitarnya. "Kalian berdua, cobalah tenang sedikit ya..."


*PLAKK!


*PLAKK!


"Nah... Gini kan enak," Ucap ibu Ayu yang sudah duduk kembali di kursinya.


"Ayo Daffa, dimakan lagi makanannya... Nanti keburu dingin lho." Ucap Ibu Ayu dengan wajah yang tampak senang.


Tangan kanannya ibu Ayu mengambil kembali sendok yang ada di atas piringnya. Sepertinya ia hendak menyantap kembali makanannya dengan tenang.


Ibu Ayu pun kemudian tampak melahap makanannya. "Umm...! Ini sedap sekali..."


Di saat yang sama, terlihat Daffa dan ayah Adi yang duduk bersebelahan di kursi dengan tenang. Mereka berdua menundukkan kepala dengan tubuh yang tampak gemetaran.


"K-kalau begitu ayah berangkat dulu," Ucap ayah Adi.


"Ah, baik!" Daffa spontan membalasnya karena kaget, mukanya pun sampai ikut menoleh ke arah ayahnya.


Tak lama kemudian, pandangannya Daffa kembali ke arah depan. "Huft..." Daffa tampak menghela nafas.


"Kalau tau jadinya bakal kayak gini, mending tadi aku lebih baik diam saja," Gumam Daffa dalam hatinya.


"Mana perut udah lapar banget lagi." Gumam Daffa dalam hatinya.


Sementara ayah Adi yang tengah menggunakan sepatu, Daffa sepertinya sedang ragu-ragu sambil tatapan matanya yang terus-terusan melihat piringnya.


Sampai-sampai perutnya berbunyi karena ia belum sempat makan dari tadi.


"Nunggu apa lagi?" Tanya ibu Ayu yang tampak keheranan dengan tingkah laku Daffa.


"Eh? Ah... Nunggu... Nunggu... Ah iya, nunggu disuruh ibu, hehe-hehe-hehe," Daffa mengucapkannya dengan grogi.


"Hmm?... Nunggu disuruh ibu?" Ibu Ayu tampak kebingungan.


"Kalau begitu, habis makan kamu nanti langsung mandi!" Perintah ibu Ayu.


"Ah, baik!" Ucap Daffa dengan spontan.


Ibu Ayu tampak mendengus lalu ia berkata, "Tenang saja, ibu enggak akan marah lagi kok." Ucapnya pelan dan lembut dengan wajahnya yang tampak tersenyum.


"Syu-syukurlah..." Gumam Daffa dalam hatinya yang tampak lega.


Dengan cepat, Daffa pun langsung melahap makanannya ke dalam mulutnya.


Sementara itu, sepertinya ayah Adi telah usai mengenakan sepatunya. Dia sudah terlihat sangat rapi untuk pergi bekerja.


Namun, tiba-tiba langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu luar.


"Daffa," Panggil ayah.

__ADS_1


"Iya?" Sahut Daffa selagi mengunyah makanan. Ia pun menoleh ke arah ayahnya yang tengah berdiri di pintu yang membelakanginya.


"Maafkan ayah... Ayah memang salah," Ucap ayah.


Daffa hanya terdiam di tempat duduknya, ia cuma mengamati dan mendengar ayahnya yang sedang berbicara.


"Saat ayah masih kecil, ayah pernah bermimpi menjadi pemain sepakbola profesional," Sambung ayah Adi.


"Sejujurnya, ayah sangat senang mendengar kalau kamu sudah kembali aktif di ekstrakurikuler. Yah... Walaupun juga sedikit mengagetkan, hahaha..." Terang ayah Adi dengan sedikit tawaan di akhir.


Daffa yang mendengar perkataan ayahnya, ia tampak kaget dan wajahnya yang terlihat ingin tertawa sendiri. "Tidak ayah, sebenarnya aku punya tujuan lain." Gumam Daffa dalam hatinya.


"Tapi ya Daffa... Kamu jangan sampai meremehkan suatu olahraga," Ucap ayah Adi


"Meremehkan?" Daffa tampak kebingungan.


"Sudah itu saja, kalau begitu ayah berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ucap ayah Adi.


"Waalaikumussalam," Jawab Daffa dan ibunya berbarengan.


Ayah pun kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang dimaksud ayah barusan?" Gumam Daffa dalam hatinya, yang kemudian ia kembali memakan makanannya yang ada di piring.


Berselang beberapa menit setelah ayah Adi pergi dari rumah, Daffa dan ibunya terlihat masih duduk di depan meja makan.


tampaknya ibu Ayu telah menghabiskan porsi makannya, dan kini ia tengah mengusap-usapkan mulutnya dengan tisu.


"Oh iya Daffa, besok kamu jadi ikut ke rumah nenek apa enggak?"


Daffa yang sekilas mendengarnya, seketika ia langsung menyemburkan air yang ada dalam mulutnya ke sampingnya.


"AKU LUPA....!!!" Daffa berteriak sangat keras.


***


Di tembok rumahnya Daffa, terlihat ada jam dinding di atas sana. Jam dinding tersebut menunjukkan angka pukul 9:26.


Sudah sekitar 30 menit lebih setelah kejadian Daffa yang berteriak keras di dalam rumahnya yang membuat ibunya ikutan kaget.


Sesaat setelah kejadian itu, Daffa menceritakan semua kepada ibunya yang berkaitan dengan neneknya yang waktu itu menelponnya.


Dan merek berdua kini masih duduk di depan meja makan persis seperti tadi.


"Hahaha...! Ja-jadi nenek ingin kamu pergi ke sana bersama cewekmu?! Iya? Apa benar begitu?" Ibu Ayu tertawa terbahak-bahak, sampai mengeluarkan air mata.


"I-i-iya." Daffa menjawabnya dengan sangat lirih.


Kepalanya menunduk seolah-seolah Daffa sangat malu mengatakannya.


"Maaf-maaf, ibu sampai terbawa suasana." Ucap ibu Ayu sembari mengusap air matanya dengan jari tangannya. "Habisnya itu lucu sekali sih..." Sambungnya.

__ADS_1


"Tapi tenang saja! Ibu akan membantumu kok," Ucap ibu Ayu.


"Eh? Seriusan bu?!" Balas Daffa yang tampak kaget dan ia langsung menegakkan kepalanya.


"Yap, ibu akan membantumu lewat berdoa," Ucap Ibu Ayu dengan wajah yang tersenyum.


"Lah... Aku kira ibu bakalan bantu bilangin ke nenek," Balas Daffa.


"Ingat ya Daffa... Usaha tanpa doa itu sombong, sedangkan doa tanpa usaha itu sia-sia." Terang ibu Ayu.


"Iya... Bu." Balas Daffa.


Tampaknya Daffa sedikit kecewa, ia kemudian menggeletakan wajahnya di atas meja, sepertinya ia telah berputus asa.


pikirannya mulai dibuat kebingungan oleh permintaan neneknya yang baru saja diingatnya kembali.


Sementara itu, nampaknya ibu Ayu tidak tinggal berdiam diri saja di tempat duduknya melihat Daffa seperti itu.


Ibu Ayu berdiri dari kursinya, lalu dia berjalan pelan menghampiri Daffa.


"Kenapa ini? Tumben banget kamu memikirkannya dengan rumit," Ucap ibu Ayu selagi berjalan ke arah Daffa.


"Karena Ini kan permintaan nenek, jadi apa yang harus kulakukan?" Balas Daffa dengan nada kecil.


Ibu Ayu yang sudah berada tepat di sampingnya Daffa, tangannya tampak mengelus rambutnya Daffa.


"Tenang saja, tidak usah terlalu dipikirkan," Ucap ibu Ayu yang mencoba menenangkannya.


"Palingan nenek cuma bercanda, kan? Mana mungkin nenek menyuruh cucunya yang belum mempunyai cewek untuk membawa cewek ke kediamannya," Ucap ibu Ayu panjang lebar.


Daffa seketika membuka matanya lebar-lebar sesaat setelah mendengar perkataan ibunya. "Benar juga sih, logikanya memang begitu, tapi..."


"Ya ampun... Ya udah gini deh,"


"Jika kamu masih bersikeras, bagaimana kalau coba idenya ibu?"


"Ide macam mana?" Tanya Daffa penasaran yang kemudian ia menegakkan kepalanya.


Ibu Ayu pun kemudian mendekatkan dirinya kehadapan Daffa. Ia menaruh mulutnya tepat berada di samping telinganya Daffa. Di saat itulah, ibu Ayu berbisik-bisik dengan Daffa tentang ide yang dimilikinya.


"Ma-ma-mana mungkin aku mau melakukan itu...!" Wajahnya Daffa memerah saat mengucapkannya.


Sedangkan ibu Ayu tampaknya tersenyum-senyum sendiri melihat Daffa.


"Ya udah sana, kamu mandi dulu gih udah jam segini," Pinta ibu Ayu.


"Baiklah..." Jawab Daffa tidak niat.


Sesaat setelahnya, Ibu Ayu melangkah pergi ke dapur meninggalkan Daffa yang sedang termenung sembari melihati atap rumahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2