Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 70 : Pura-pura Berpacaran


__ADS_3

Daffa bersama Syifa dan juga Fasa disuruh untuk masuk terlebih dahulu oleh ibunya, Daffa mengiyakannya yang kemudian ia membuntuti ayah ibu dan neneknya yang masuk ke dalam rumah tersebut.


Sesampainya di dalam mereka bertiga tampak mencium tangan sang nenek, ibu dan ayah secara bergantian.


Mereka duduk di atas lantai yang tertutup oleh sebuah karpet panjang tepatnya di ruangan tengah dengan membentuk seperti lingkaran tak sempurna, di sana terdengar suara televisi yang masih menyala dari tadi.


Berbeda dengan lainnya, Daffa malah berbaring santai di lantai dengan kakinya yang berselonjor lurus sambil wajahnya memandang televisi, rasa letih yang ada pada diri Daffa membuat matanya terasa mengantuk. Daffa tak tertidur sepenuhnya, ia hanya memejamkan kedua matanya sembari mengistirahatkan tubuhnya yang terasa capek.


Sang nenek sangat geram melihatnya akan tetapi ia harus sabar karena ia tahu ada seseorang yang baru di dalam rumahnya.


"Jadi namamu Syifa, yah? Terus yang ada di pangkuanmu itu siapa?" Tanya nenek Sumi.


Fasa menjawabnya duluan sebelum Syifa. "Aku Fasa Nek, adiknya kak Cifa." Jawabnya sambil menunjuk ke arah Syifa.


"Ohh... Adek Fasa yah namanya."


Ibu Ayu yang merasa gemas ketika melihat Fasa karena tubuhnya sangat mungil, ia langsung membopong Fasa ke pangkuannya. Kamu Syifa yang saat itu menjenguk Daffa, kan?" Tanya ibu Ayu.


"Iya, benar,"


Ayah Adi kebingungan, ia tak mengetahui kalau Syifa pernah datang ke rumah. "Eh, emangnya dia pernah datang ke rumah? Kapan?"


"Saat Daffa sakit itu lho..." Ibu Ayu menjawab kepenasaran ayah Adi.


"Oalah..."


"Daffa sakit? Kalian berdua ini kenapa gak telpon saat Daffa sakit?" Daffa mengatakannya dengan nada yang sedikit meninggi. Ibu dan Ayah hanya tersenyum kecil ketika mendengar pertanyaan itu dari sang nenek.


Nenek Sumi mengalihkan pandangannya ke arah Syifa kembali. "Berarti kalian berdua satu sekolah?"


"Iya, saya dan Daffa juga ada di satu kelas yang sama," Jawab Syifa.


"Oh, berarti sering ketemu yah?"


"Iya,"


Ibu Ayu menyela pembicaraan mereka sebab ia juga merasa penasaran dengan Syifa. "Tapi bukannya saat itu kamu masih terlihat biasa-biasa aja dengan Daffa? Apa mungkin kalian berpura-pura nih ya...?" Ibu Ayu meledeknya seraya tersenyum lebar dengan tatapan wajahnya mengarah pada Syifa, karena dirinyalah yang memberi saran kepada Daffa untuk memenuhi permintaan neneknya dengan cara berpura-pura.


Syifa sangat gugup, ia yang ditanya begitu seakan dirinya tak tahu harus menjawabnya seperti apa.

__ADS_1


"Aku dan Syifa emang bener kok, gak pura-pura." Sela Daffa.


"Oh gitu ya, iya deh." Ucap ibu Ayu Walau sepertinya masih tak percaya.


"Ish, Ayu... Kamu ini jangan begitu kasihan Syifa..." Ucap Nenek Sumi.


"Bercanda doang kok, iya kan Syifa..." Balas Ibu Ayu.


"Ah, iya tan."


"Nenek juga gak menyangka Daffa benar-benar akan membawakan seorang gadis, padahal saat itu nenek cuma asal bicara,"


Daffa yang mendengar ucapan itu seakan sedikit kesal dengan keputusannya. "Nenek bercanda?! Ah, biarlah..." Gumam Daffa dalam hati.


"Terus bagaimana jadinya kalian bisa berpacaran?" Tanya Ibu Ayu.


Syifa menjelaskannya begitu detail dengan wajahnya yang sangat antusias, di saat yang bersamaan Daffa merasakan hawa yang sangat ingin tidur, matanya terbuka tutup berulang kali untuk yang sekian kalinya. "Aku serahkan padamu loh Syifa." Batin Daffa tepat sebelum dirinya tak tersadar karena telah terlelap tidur, ia pun sudah tak bisa lagi mendengar percakapan mereka yang mungkin akan berakhir sangat panjang.


***


Berselang beberapa jam kemudian, suara televisi yang begitu berisik di pendengaran telinga membuat kedua matanya melek secara perlahan, Daffa terbangun dengan posisi yang sedikit berbeda ketika dirinya tertidur.


Daffa yang sebelum tidur di atas karpet tidak merasakan menggunakan bantal, kini ia malah merasakan yang berbeda.


Hatinya terasa terkejut ketika menatap ke atas yang ternyata Daffa sedang berada di pangkuan Syifa. Daffa seakan langsung memaksakan diri untuk membangunkan badannya walau tadi ia sedang merasakan sebuah kenyamanan.


"Ini jam berapa?" Tanya Daffa seraya melihat ke arah jam dinding.


"Jam 2 lebih."


Daffa bangun langsung menuju kamar mandi, ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadahnya.


Beberapa menit pun telah berlalu, Daffa yang telah usai beribadah kembali ke ruang tengah dengan wajah yang lebih bersinar.


Tiba-tiba terdengar sebuah bunyi keroncongan dari dalam perut Daffa, para cacing di dalamnya berteriak terus-menerus. Daffa kelaparan karena ia belum makan lagi setelah pagi hari.


"Oh, iya. Kamu belum makan siang ya? Yang lain udah makan semua saat kamu tidur." Terang Syifa.


"I-iya," Balas Daffa mengangguk dengan sedikit malu karena bunyinya.

__ADS_1


"Mau aku ambilkan?" Syifa menawarkannya.


"Boleh, maaf merepotkan hehe..." Jawab Daffa sambil mengelus-elus perutnya.


"Gak apa-apa kok, apa sih yang enggak buat kamu." Ucap Syifa dengan tersenyum manis di hadapan Daffa.


Syifa bangun dari duduknya, ia hendak menuju dapur untuk mengambil piring beserta lauk dan nasinya akan tetapi dirinya tiba-tiba dihadang oleh nenek Sumi.


Sang nenek yang tengah duduk agak jauh dari mereka ternyata diam-diam memperhatikan dan mendengarkan seluruh pembicaraan mereka karena itulah ia bertindak.


"Syifa kamu duduk aja. Daffa, kamu lupa? Kalau mau makan tuh langsung ambil sendiri, apa saat di kota kamu selalu dimanjakan?" Terang nenek Sumi dengan nada agak tinggi.


Baru sekali nenek menyuruh, Daffa langsung pergi ke dapur menuruti perkataan neneknya.


Sementara itu di lain sisi, ibu Ayu yang sedang bermain bersama Fasa dan ayah Adi di depan rumah, tiba-tiba ibu Ayu bersin dengan mata tertutup dan mengeluarkan sejumlah udara yang kotor. Ia merasakan ada seseorang yang membicarakannya.


Daffa kembali dengan duduk bersila, ia menatap keheranan ketika melihat menu untuk makan siang kali ini sama persis dengan yang pagi tadi. Itu adalah makanan kesukaan Daffa yaitu nasi goreng.


Daffa merasa kenyang setelah selesai memakannya dengan sangat lahap. "Ini berbeda sekali dengan yang pagi tadi." Batin Daffa yang mengatakan bahwa rasanya sangat berbeda sekali dengan yang dibuat oleh Syifa.


Syifa bergeser mendekati Daffa. "Gimana enak? Itu juga aku yang buat lho..." Ucapnya.


"Uhuk!" Gara-gara Daffa mendengarnya, ia hampir tersedak oleh minumannya sendiri, Daffa terkejut mendengar hal itu dan ia tampaknya tak percaya. "Kalau bohong tuh kira-kira dulu..." Ucapnya.


"Tapi emang bener kok,"


"Aku tidak percaya..." Daffa tak memercayainya dan ia lanjut meminum airnya tanpa memedulikannya.


Syifa merasa kecewa karena dirinya tak dihiraukan dan wajahnya pun tampak cemberut. "Padahal aku benar-benar membuatnya bersama nenek."


Daffa menoleh ke arahnya sambil menelan ludahnya, perasaannya terasa tidak enak.


Nenek Sumi yang tengah menonton televisi juga melirik ke arah mereka, dia merasa keheranan dengan tingkah mereka. "Daffa, seharusnya kamu jangan begitu... Kalian ini gimana, katanya berpacaran tapi kok gak saling memercayai?" Ucap sang nenek.


Daffa dan Syifa mendengar jelas ucapan nenek Sumi, wajahnya Daffa seperti ketakutan apabila rahasianya akan terbongkar. Tangannya bergerak sendirinya dan mendarat tepat di atas kepalanya Syifa, Daffa tampak mengelus-elus kepalanya dengan lembut dan pelan. "Maaf, tadi aku salah." Daffa meminta maaf dengan wajah biasa.


Wajah Syifa memerah di saat dirinya melirik ke arah Daffa yang tengah mengelusnya, entah mengapa ia merasa kalau Daffa sangat ketakutan dengan neneknya.


Syifa mengeluarkan sebuah senyuman kecil, ia tampaknya telah terpikirkan sesuatu. "Aku sangat sakit hati tau. Hiks...! Hiks...!" Syifa berpura-pura menangis sambil menutupi kedua matanya.

__ADS_1


"Hah?" Daffa keheranan, sudah dituruti malah makin melunjak dan mau tidak mau dirinya harus melakukannya.


Bersambung ....


__ADS_2