Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 29 : Polisi Muda


__ADS_3

Satu jam telah berlalu setelah Daffa dan Charla bersama-sama mengerjakan tugas kelompoknya di perpustakaan sekolah yang tampak sepi karena sekarang siswa-siswi sudah pada pulang sekolah. Paling tidak, ada beberapa murid selain mereka berdua di situ.


Charla pulang duluan dengan berlari seraya membawa buku-bukunya itu dan meninggalkan Daffa di situ dengan raut wajahnya yang tampak kaget melihatnya.


"Ampun dah..." Gumam Daffa sembari mengusap-usap rambutnya.


Daffa menghela nafas lalu ia beranjak dari tempat duduknya. "Aku pulang juga dah." Ucapnya.


"Pada akhirnya aku hanya sempat mengerjakan lima soal aja, selain itu dikerjakan semua olehnya," gumam Daffa dalam hatinya seraya berjalan menuju gerbang sekolah.


"Udah gitu saat dikoreksi olehnya... Kata dia lima-limanya, caranya kurang lengkap walaupun jawabannya itu benar semua." Ucap Daffa yang mukanya tampak sangat sedih dan malu sekaligus kesal dan gregetan karena kalah dari Charla. Hatinya seketika hancur.


"Huh... Ya udah lah, yang penting selesai sudah semuanya." Ucap Daffa yang tampak lega kemudian.


Daffa pun kemudian berjalan dengan cepat menuju gerbang sekolah lalu melangkah melewatinya.


Dari kejauhan ia melihat ada mobil polisi yang berhenti di pinggir jalan. Daffa terus berjalan pulang ke arah rumahnya. Dan saat dirinya sudah dekat dengan mobil polisi itu, tiba-tiba pintu mobil tersebut terbuka seketika dan keluarlah beberapa orang dengan berseragam polisi.


Para Pak polisi itu atau lebih tepatnya ada tiga polisi tampak berjalan ke arah yang sama, yaitu ke arah Daffa.


"Hallo, dek." Sapa salah satu Pak polisi tersebut.


"Hallo..." Balas Daffa yang mukanya tampak kebingungan karena ada polisi yang menghampirinya.


"Bisa ikut bapak ke dalam mobil sebentar saja? Sebentar saja kok," tanya Pak Polisi tersebut.


"Kenapa ya, Pak?" Daffa bertanya balik.


"Kamu pasti waktu pagi hari melihat ada empat preman di gang sebelah sana kan?" Sela Pak Polisi bertampang paling muda diantara lainnya yang berada di barisan paling belakang.


Mulut Daffa masih tertutup rapat dan belum mengucapkan satu kata pun. Dia tampak panik dan kaget sampai-sampai jantungnya berdetak lebih kencang sesaat setelah mendengar ucapan polisi muda tersebut.


Saat Daffa hendak lari dari mereka, tangannya seketika sudah di tahan oleh polisi muda itu. "Kami hanya bertanya kejadiannya saja kok." Ucap Polisi muda itu dengan memasang wajah tersenyum.


Daffa pun terlihat pasrah dan kemudian ia dibawa masuk ke dalam mobil polisi yang tengah terparkir di pinggir jalan itu. Daffa ditanyakan beberapa hal tentang kejadian tadi pagi oleh Pak Polisi tersebut.


Berselang beberapa menit kemudian, Daffa tampak keluar dari mobil polisi tersebut dengan mukanya yang terlihat sangat lega.

__ADS_1


"Syukurlah... Aku kira, aku bakal masuk penjara." Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa pun melanjutkan perjalanan pulangnya ke rumah yang tadi sempat tertunda. Dia kini berjalan lebih cepat dari sebelumnya.


Baru saja ia masuk ke dalam gang yang begitu sempit, tiba-tiba saja ada suara teriakan memanggilnya dari arah belakang.


"Hey kamu!" Teriak seseorang dari arah belakangnya Daffa.


Saat Daffa menoleh ke arah belakangnya, ternyata sosok itu adalah Polisi muda yang tadi menanyakannya waktu di mobil polisi.


"Kenapa ya Pak...?" Tanya Daffa grogi sembari membalikkan badannya ke arah Polisi muda tersebut.


"Panggil saja Kak Hendra," ucap Polisi muda itu ketika sudah berada dihadapannya Daffa.


"Eh..." Daffa tampak kebingungan.


"Kalau gak salah, namamu Daffa kan?" Tanya kak Hendra.


"Iya," jawab Daffa.


"Oke Daffa, mari kita bicarakan di sini selagi tidak ada orang lain," ucap Kak Hendra sembari tengak-tengok sana-sini.


"Tentu saja tentang kamu yang mengalahkan empat preman tersebut,"


"Apa yang kak Hendra katakan...?" Ucap Daffa pelan dan tampak ketakutan. "Kak Hendra kan sudah melihatnya waktu di dalam mobil. Tadi aku hanya kebetulan lewat situ dan saat aku melihat dua orang, aku langsung berlari secepatnya dari dua orang itu." Sambungnya.


"Tidak-tidak bukan begitu... Di cctv memang hanya terlihat kamu yang tengah berlari dan di belakangnya lagi ada dua orang preman berjalan santai mengikutinya." Balas kak Hendra.


"Terus di mana dua orang preman lainnya? Terus kenapa dua orang preman yang mengikutimu dari belakang tidak berlari? Jawabannya adalah karena dua orang preman lainnya ada di depanmu, jadi tidak terlihat di cctv." Terang kak Hendra seraya tersenyum menatap Daffa.


"Hah...?!" Daffa tampak tercengang-cengang dan tidak bisa berkata-kata setelah mendengarkan penjelasan dari kak Hendra.


Daffa kemudian nampak sedikit menundukkan kepalanya ke bawah. "Kalau iya... Memangnya kenapa?" Tanya Daffa dengan nada berat.


"Gak apa-apa kok, saya cuma ingin memecahkan masalah kejadian itu saja." Jawab kak Hendra santai.


"Eh?" Daffa kemudian mengangkat kembali kepalanya lalu melihat ke arah kak Hendra.

__ADS_1


"Lagi pula kenapa kamu menelpon kami menggunakan handphone milik preman-preman tersebut? Kenapa tidak pakai handphone milik mu, hah?" Tanya kak Hendra.


Daffa memalingkan pandangannya ke arah lain sembari bersiul.


"Udah gitu, saat diangkat tidak ada satu orang pun yang menjawabnya! Kamu kemana waktu itu?" Kak Hendra mulai kesal karena hal itu.


"Hehe... Aku buru-buru jadi saya tinggal di jalan," jawab Daffa seraya tertawa kecil.


"Kamu pasti sengaja." Ucap kak Hendra sembari menghela nafasnya dalam-dalam.


"Sebenarnya saya ke sini bukan karena itu," ucap kak Hendra.


"Hah? Terus apa?" Tanya Daffa.


"Sebelum itu, lepas dulu semua plester yang ada di mukamu. Itu membuat wajahmu jadi sangat aneh." Ucap kak Hendra.


"Mata kakak dibuat dari apa? Kok tajam banget." Balas Daffa yang kemudian ia melepaskan semua plester yang ada di mukanya itu.


Tak lama kemudian, kak Hendra tampak mendekati Daffa lebih dekat lalu ia memegang bahunya Daffa sambil berkata, "Kamu pasti ingin menghasilkan uang sendiri kan?"


"Yah... Kalau bisa dapetin sendiri dengan mudah sih pasti mau lah," jawab Daffa.


Kak Hendra kemudian tersenyum sambil berkata, "Mudah kok, lakukan apa yang kamu lakukan waktu pagi tadi. Kamu hanya perlu menelpon saya jika ada kejahatan terjadi yang kamu lihat di jalanan."


"Eh, benarkah? Kalau begitu...." Ucap Daffa yang kemudian mengulurkan tangannya kepada kak Hendri seakan ingin meminta sesuatu.


"Hm?" Kak Hendri tampak kebingungan melihatnya.


"Uangnya mana...? Tadi pagi kan aku sudah melakukannya persis seperti omongan kakak barusan," ucap Daffa.


"Eh... Pintar juga ya kamu," balas kak Hendri dengan pelan.


Kak Hendri pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ternyata itu adalah kertas berwarna cokelat yang di dalamnya berisi uang. Kemudian kak Hendri memberikannya kepada Daffa.


"Wah... ini beneran buat aku kak? Terima kasih banyak kalau begitu kak." Ucap terima kasih Daffa setelah menerima kertas tersebut.


"Tapi ingat! Menelponnya ke nomor handphone kakak, jangan langsung nelpon ke kantor polisi." ucap kak Hendra. "Daffa, mana handphone milik mu? Biar kakak yang menambahkan nomor kontaknya." Sambungnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2