
*Klik...! Ibu Ayu mengunci pintu rumahnya.
Kembali ke Daffa. Dia keluar dari rumahnya setelah dirinya selesai berpamitan dengan ibunya.
Penuh dengan warna hitam, itulah yang akan dipikirkan seseorang ketika melihat Daffa. "Kayaknya aku seperti perampok saja dah."
Di perjalanannya untuk bertemu dengan Syifa, Daffa mengeluarkan handphonenya untuk mengetahui jalan mana yang akan ia tuju.
Daffa membuka-buka isi pesan chatnya dengan Syifa, dan isi pesan chat terakhir dengannya adalah dimana Syifa bertanya apakah dirinya sudah ke sana atau belum dan dibalasnya dengan mengatakan kalau ia sedang di dalam perjalanan.
"Ehm, jadi nama restorannya Fau Food yah?" Gumam Daffa selagi melihat ke arah layar handphonenya. "Rute jalannya juga gak rumit-rumit amat."
"Okelah, kalau begitu akan aku percepat berjalannya." Gumam Daffa.
Daffa merasa dirinya belum terlalu telat. Karena dilihat dari layar handphonenya, jam masih menunjukkan pukul delapan.
Bertepatan pukul 20:20. Tetesan air hujan tiba-tiba turun dari langit dan mengenai bagian kepalanya Daffa.
Itu membuatnya sedikit merasa kaget karena dirinya belum sampai juga di tempat tujuannya.
Dan pada akhirnya pada pukul 20:35, dari kejauhan Daffa melihat bangunan restoran itu berdiri. "Oh, itu dia!"
Sembari tangannya yang menghalangi air hujan yang akan mengenai wajahnya, Daffa pun berjalan cepat menuju tempat tersebut.
Ia hampir sampai, namun tiba-tiba handphonenya berbunyi di tengah jalan. Daffa mengabaikannya terlebih dahulu pesan yang masuk itu dan terus melanjutkan berjalannya.
Dan sesampainya tepat di depan Fau Food Restaurant, Daffa membuka isi pesan chat tersebut yang ternyata pesan itu dari Syifa. "Ehh...."
Hanya tertulis tanda titik, itulah pesan yang dikirim Syifa kepadanya.
"Apa ini? Apa ini sebuah kode kalau dia sudah sampai? Tapi kok dianya gak ada di sini?" Daffa bertanya-tanya kepada diri sendiri karena kebingungan setelah membuka isi pesan tersebut.
"Gimana ini anjir, masa iya aku ditinggal sendirian di depan. Udah gitu rame banget lagi!" Gumam Daffa dalam hatinya. Ia merasa malu melihat orang disekitarnya.
Daffa berpikir menghubunginya lewat handphone bukanlah ide yang buruk. Namun sayangnya teleponnya tidak diangkat oleh Syifa.
Dengan terpaksa, Daffa pun memberanikan diri untuk memasuki restoran tersebut untuk mencari tahu tentang Syifa.
__ADS_1
Baru saja masuk, Daffa sudah terkena sial. Walau sudah berhati-hati, dia justru malah menyenggol salah seorang pelanggan di sana.
"Hei, bocah! Kalau jalan itu lihat-lihat!"
"M-ma-maaf!" Daffa meminta maaf dengan sangat gugup.
Untung saja ia dimaafkan oleh orang tersebut. "H-hadeh... Aku harus cepat-cepat, setelah itu langsung keluar!" Gumamnya dalam hati.
Daffa memberanikan diri untuk bertanya kepada waitress yang sedang bekerja di sana. "Syifa? Oh, jadi kamu temannya nona yah? Maaf sebelumnya, tapi saya belum melihat nona Syifa seharian ini." Namun, jawaban yang didapatinya ternyata tidak sesuai harapannya.
Setelah mendengar jawaban dari pelayan tersebut, Daffa pun kemudian berjalan cepat menuju pintu luar dengan buru-buru.
Di balik pintu itu, walau hanya sekilas Daffa seperti melihat seseorang yang pernah ia temui sebelumnya.
"Kita bertemu kembali ya?" Ucap seorang cewek yang ada di balik pintu.
Langkah Daffa seakan-akan terhenti. "Kamu... Cewek berjubah putih?" Balas Daffa.
"Kau pasti sedang mencari seseorang, kan?" Tanya cewek tersebut.
"Iya sih, t-tapi kok kamu tau...? Menyeramkan sekali,"
Cewek itu berkata jikalau dirinya tidak keberatan memberitahu kebaradaan seseorang yang sedang dicari-cari oleh Daffa.
Daffa sepertinya curiga dengan cewek yang baru ia kenal tadi siang. Ia sempat berpikir mengenainya dengan membatin.
"Jangan-jangan...!" Ucap Daffa yang tiba-tiba berbicara kembali.
"Hmm?"
"Apa jangan-jangan kamu adalah Syifa?!" Ucap Daffa dengan nada tinggi.
"Hah?"
Dengan pergerakannya yang cepat, Daffa pun membuka tudung jubahnya cewek tersebut.
"Eh...? Ke-kenapa kamu membukanya?!" Sungguh terkejutnya cewek tersebut.
__ADS_1
"Ah, maaf-maaf. A-aku kira kamu Syifa yang sedang menyamar," Daffa tampak menyesali perbuatannya.
"Kamu ini benar-benar bodoh ya," Ucap cewek tersebut selagi merapikannya kembali.
"Terus kamu ini siapa?"
"Kita bicarakan itu nanti, yang lebih penting akan aku beritahu Syifa berada."
Cewek itu mengeluarkan selembar kertas. Dia membalik kertasnya dan tak disangka itu tergambar sebuah peta yang begitu jelas dibanding gambar sebelumnya beserta beberapa tulisan petunjuk.
Cewek itu memberikannya kepada Daffa. Walau Daffa masih merasa kebingungan, ia mau tak mau harus menerimanya.
Daffa membaca salah satu petunjuk. "Pertama-tama, kau harus berlari secepatnya menuju rumah sesuai peta dalam kertas itu...?"
"Emangnya di dalam peta ini, itu mengarah ke rumahnya siapa? D-dan juga kau tidak bermaksud menipuku, kan? Mencurigakan sekali kamu ini," Tanya Daffa dengan sedikit gemeteran.
"Tidak mungkin aku menipumu, udahlah cepat kamu gak punya banyak waktu!" Perintah cewek tersebut sembari mendorong paksa Daffa.
"Hmm, baiklah-baiklah..." Balas Daffa dengan tidak begitu meyakinkan.
***
Di jalanan hening yang tak begitu sempit namun juga tak begitu luas, chaya lampu setia menerangi walau terkena tetesan air hujan yang tak begitu keras.
Seseorang yang tengah berdiri di jalanan itu terus memandangi ke suatu rumah yang bertingkat. Dan orang itu adalah Daffa.
Keringat dan tetesan air hujan bercampur pada badannya.
Dengan tidak niat, Daffa membaca kembali petunjuk berikutnya pada selembar kertas tersebut. "Kedua, kau harus berjalan menuju gang yang ada di sekitarmu."
Matanya langsung mengarah pada gang yang tak begitu jauh darinya. Hanya gang itu satu-satunya yang berada tak jauh darinya dan gang itu juga belum pernah ia lewati sebelumnya.
Suara cipratan air terus terdengar seiring Daffa yang terus menggerakkan kakinya. Dan semakin lama, suara itu semakin mengeras.
Selagi berjalan, Daffa berusaha mendengarkan sesuatu karena seperti ada suara yang sama di arah yang berlawanan.
Dan sampailah Daffa di depan gang itu, tanpa disadari ia telah memergoki seorang Fandi yang tengah membawa Syifa yang basah kuyup beserta kedua temannya yang berada di sekelilingnya. "Eh?"
__ADS_1
Bersambung....