Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 24 : Terbangun


__ADS_3

Syifa yang tengah bersender di atas Daffa itu, tampak kesakitan memegangi kepalanya. "Aduhh..." Syifa belum menyadari bahwa dirinya telah menubruk Daffa karena matanya masih tertutup.


Detik berikutnya, Syifa tampak membuka matanya dan ia seketika menjadi sangat kaget, jantungnya pun mulai berdebar dan mukanya berubah memerah.


Di detik yang sama, Daffa tampak sedikit membuka matanya secara perlahan bersamaan dengan hidungnya yang menghirup sesuatu.


"Bau wangi apa ini? Apa itu Ibu?" Gumam Daffa dalam hatinya dengan pandangannya yang masih terlihat kabur.


Teman-temannya Syifa yang berada dibelakangnya tampak mengatakan sesuatu dengan lirih, "Jangan teriak Syif, dan juga hati-hati jangan sampai membuatnya terbangun."


Syifa menjawabnya hanya dengan sekali mengangguk. Kemudian Vira dan Bella tampak mencoba berbarengan menarik salah satu lengannya Syifa dengan sangat hati-hati.


Di sisi lain, Daffa yang mengira itu adalah Ibunya yang sedang menindihnya. Kemudian dengan matanya yang masih sedikit kabur, ia tampak meraba-raba wajahnya Syifa.


"Tapi kok agak beda yah?..." Ucap Daffa lirih yang tengah mencubit-cubit pipinya Syifa.


"Eh?..." Syifa yang mengetahui dirinya sedang diraba dan dicubit, kondisinya semakin tak terkendali.


Perasaannya semakin tegang ditambah lagi jantungnya yang terus-menerus berdebar lebih kencang, wajahnya itu semakin imut karena tersipu malu, di sisi lainnya dia juga merasa marah dan kesal terhadapnya.


Sedangkan Vira dan Bella ikut terkejut melihatnya.


"Apa dia sudah bangun?" Bisik Vira kepada Bella seraya kedua tangannya memegangi mukanya.


"Mungkin," jawab Bella yang tampak sedikit terkejut.


Syifa yang sudah tidak tahan melihatnya, ia kemudian dengan sengaja menggigit lengannya Daffa yang tengah merabanya itu.


Daffa yang merasa aneh terhadap lengannya itu, ia pun tampak menjerit sangat keras dan dibarengi matanya yang seketika terbuka sepenuhnya.


"Aaaaaah!...." Suara jeritan Daffa yang sangat keras.


***


Suara jeritan itu sampai terdengar ke lantai bawah yang di mana di situ ada Ridho dan Farrel yang berada di kamar mandi. Miko pun sampai merinding ketakutan, lalu refleks berlari menuju kolong karena suara jeritannya Daffa.


"Gila! Jantung gue hampir copot," ucap Farrel yang tengah berjongkok di kamar mandi.


"Suara apa itu?!..." Ridho tampak ketakutan berada di depan pintu kamar mandi.


"Mungkin Daffa, mungkin kek nya," jawab Farrel.


"Udah belom Rel? Lama kali dah," tanya Ridho sembari mengusap-usap tangannya yang muncul bintik-bintik merinding.

__ADS_1


"Sabar lah, Lo gak tau apah? Kalo toiletnya itu berbeda dari yang biasa kita gunakan!" Jawab Farrel lantang.


Ridho memandang ke arah atap lalu membalasnya dengan pelan, "Serah dah."


***


Di kamarnya Daffa,


Daffa terbangun dengan muka bingung sekaligus tidak percaya dengan Syifa dan teman-temannya yang sudah berada di kamarnya itu.


"Syiiiffa?... Kenapa berada di kamar ku?" Tanya Daffa seraya memeluk tangannya sendiri yang habis digigit Syifa. "Dan juga... Vira sama Bella pun di sini?..." Lanjutnya.


"Dasar! Mencari kesempatan dalam kesempitan," balas Syifa dengan ekspresinya yang marah, namun beda dengan jantungnya yang berkata lain.


"Padahal sudah bangun dari tadi, tapi malah pura-pura masih tidur." Sambungnya gugup.


Sementara Vira dan Bella menjawabnya dengan senyuman dan tawaan, "hihi..."


"Daffa, Tadi kata Tante Ayu, setelah bangun tidur kamu disuruh makan bubur lalu minum obat." Ucap Vira.


Daffa tidak membalas perkataannya dan hanya kembali tiduran membelakangi mereka bertiga seraya tangannya yang nampak terus-terusan memegangi handuk kompres yang ada di dahinya.


"Ibu ku kemana?" Tanya Daffa lirih.


Syifa tampak mengambil mangkuk berisi bubur yang ada di meja dekat kasurnya Daffa itu, lalu hendak memberikannya kepada Daffa.


"Nih buburnya udah aku ambilin, jadi kita impas ya!" Ucap Syifa sambil membuang mukanya ke belakang.


Daffa membalasnya dengan suara yang lirih, "Aku sudah kenyang."


"Hm?" Syifa yang merasa aneh, kemudian pandangannya tertuju ke arah Daffa kembali.


"Apa kamu masih merasakan rasa sakitnya?" Tanya Syifa dengan expresi mukanya yang berubah menjadi cemas.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Daffa, Syifa pun nampak mencoba menarik lengannya Daffa dengan pelan.


Dan saat Daffa berbalik badan ke arahnya. Sungguh terkejutnya Syifa dan teman-temannya ketika melihat mukanya Daffa yang seperti menahan rasa sakit. "Eh?..."


"Eh, gimana ini? Apa perlu kita telpon Tante Ayu?" Tanya Bella yang tengah panik.


"Tante Ayu pasti sudah jauh dari sini." Jawab Syifa dengan cepat.


Vira terlihat berinisiatif melakukannya sendiri tanpa harus menunggu Ibu Ayu. "Aku yang akan mengganti handuk kompresnya, kalian berdua lakukan yang lainnya."

__ADS_1


"Eh? Tunggu, aku tidak menyuruh kalian," ucap Daffa pelan dan lirih, lalu mukanya mulai memerah seketika.


"Benar juga," ucap Bella.


Syifa tengah memikirkan sesuatu, "Aku melakukan apa yah?"


Kemudian Syifa kepikiran lalu melihat ke bawah ke arah tangannya yang sedang memegang mangkuk, "Eh?!... Masa aku yang harus menyuapinya!" Gumam Syifa.


"Bella, kamu yang pegang–" Syifa yang hendak memberikan mangkuk itu kepada Bella tampak kaget karena dirinya tidak melihat Bella berada di sampingnya.


"Bella, apa yang kau lakukan?" Daffa kaget melihat Bella yang tiba-tiba berada di samping kirinya.


Ternyata, tiba-tiba Bella sudah berada di sebelah sana dekat jendela memijat salah satu kakinya Daffa dengan lembut.


"Eh? Cepet amat pindahnya," ucap Syifa lirih karena terkejut, yang kemudian dirinya memasang raut wajah cemberut.


Syifa melangkah ke depan lalu ia duduk di kasurnya Daffa dengan kedua kaki di lantai.


"Ibu kemana sih, lama sekali pulangnya," gumam Daffa dalam hatinya dengan jantungnya yang terus-menerus berdebar.


Syifa tampak mengaduk-aduk bubur tersebut lalu dengan terpaksa ia menyuapi Daffa. Perasaan malunya itu membuat tangannya ikut bergetar.


"Buka mulutnya," ucap Syifa lirih sambil memegang sendok.


"Emm!..." Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menutup rapat mulutnya. Daffa tidak mau disuapi oleh Syifa.


Syifa yang sudah menahan rasa malunya tapi Daffa nya malah tidak mau, itu membuatnya kesal.


"Daffa... Buka mulutnya," ucap Syifa pelan dan lembut, namun beda dengan raut wajahnya yang sangat seram itu dibarengi aura mengerikan yang mengelilinginya.


Daffa yang melihatnya, seketika langsung membuka mulut dan melahap buburnya.


"Lama-kelamaan, dia semakin mirip saja dengan Ibu," gumam Daffa yang sangat ketakutan sembari memakan suapan sendok kedua.


Syifa terus menyuapi Daffa dengan pelan, Vira yang telah usai mengganti handuk kompresnya kemudian ia mengecek suhu badan dibeberapa bagian lehernya Daffa dengan teliti, sedangkan Bella memindahkan pijatannya di bagian pahanya Daffa dengan lembut.


"Udah Vira... Geli banget ini, dan Bella jangan di situ juga mijitnya ya ampun..." Ucap Daffa yang mencoba melawan dengan berkata-kata, namun mereka semua mengacuhkannya.


Daffa kini seperti merasakan raja yang tengah dilayani dengan lembut oleh para pelayannya yang cantik-cantik. Namun bedanya Daffa merasakannya waktu sedang sakit.


"Ini mah bukannya cepat sembuh tapi malah makin sakit karena jantungan..." gumam Daffa yang jantungnya terus-menerus berdebar menahan rasa malu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2