
Daffa dan kak Hendra pun saling bertukar nomor kontak handphone mereka masing-masing.
"Tapi kak, ini termasuknya pekerjaan sampingan apa yah?" Tanya Daffa seraya memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas.
"Terserah kamu mau menyebutnya apa deh," jawab kak Hendra.
"Okelah kalau begitu! Aku pergi dulu kak!" Daffa tampak antusias dan bersemangat.
"Ya, hati-hati di jalan," ucap kak Hendra sembari melambai-lambaikan tangannya.
Daffa membalikkan badannya dan berjalan cepat ke arah rumahnya dengan sangat bersemangat. Hatinya menjadi sangat senang karena hal yang tadi dikatakan kak Hendra.
"Apa aku termasuk... mata-mata kah? Atau... tangan kanannya kak Hendra...? Atau mungkin! Super Hero?" Daffa berkata pada diri sendiri. "Hahaha..." Daffa tampak tertawa setelahnya.
"Singkirkan itu dulu, sekarang aku coba buka kertas ini. Pasti isinya banyak nih..." Ucap Daffa yang mukanya tampak tersenyum lebar seraya mencoba membuka kertas yang tadi diberikan oleh kak Hendra kepadanya.
Daffa pun membuka kertas itu dengan buru-buru dan sungguh kagetnya Daffa saat melihat isinya. "Eh? Kosong...?!" Daffa sangat amat kaget.
Daffa kemudian merobek-robek kertas cokelat itu dan ia pun menemukan kertas putih di dalamnya yang terdapat suatu tulisan. "Apa ini?!"
Daffa mengambilnya lalu ia membaca pesan tulisan di dalam kertas itu dengan pelan. "Terima kasih atas nomor handphonenya, kalau ada apa-apa telpon kakak, saja...?"
"Eh? Apaaa!...." Daffa tampak terkejut setelahnya.
Daffa seketika menoleh ke arah belakang dan ternyata kak Hendra sudah tidak ada di belakangnya lagi.
Dengan buru-buru, Daffa pun berlari kembali mengejar kak Hendra sembari membawa kertasnya. Namun saat Daffa sudah keluar dari gang tersebut, ia sama sekali tidak melihat mobil polisi terparkir di pinggir jalan lagi.
"Sialaaann!...." Teriak Daffa sangat keras di depan gang yang sempit itu.
Di dalam mobil polisi tadi, tertampak wajah kak Hendra yang tersenyum sekaligus tertawa.
Sementara itu, Daffa terlihat sangat kesal karena dirinya telah dibohongi oleh kak Hendra.
"Kesal! Kesal! Kesal!" Teriak Daffa yang kemudian ia membuang kertasnya ke bawah lalu menginjak-injaknya dengan kuat.
__ADS_1
"Huh, aku tidak akan percaya lagi dengan orang yang baru kukenal." Ucap Daffa setelah ia lelah karena terus-terusan menginjak kertas tersebut.
Daffa tampak menyerah dan putus asa, kemudian ia memungut serpihan-serpihan kertas tadi lalu membuangnya di tempat sampah di dekatnya.
Sesaat setelah itu, Daffa berjalan memasuki gang yang kecil tadi dan segera pulang ke rumahnya. "Argh... Padahal tadi sudah semangat-semangatnya." Ucapnya kesal dan perasaannya mulai down.
Disepanjang perjalanan pulangnya, Daffa selalu ditemani oleh sinar matahari yang terus-menerus mengikutinya kemana pun ia pergi saat siang hari. Pohon-pohon dan tanaman bunga di sekitar jalan tampak menghiasi pemandangannya.
Berselang beberapa menit kemudian, Daffa akhirnya sampai di depan rumahnya. Saat ia beberapa kali mengetuk pintu, tapi tidak ada siapa-siapa yang membukanya. "Ibu ke mana sih?"
Daffa tampak membuka tas miliknya, lalu ia mengambil kunci rumah cadangan di dalam tas miliknya. Daffa pun membuka pintu rumahnya yang terkunci itu.
Setelah mengunci kembali pintunya, Daffa terlihat duduk di sofa di ruang tamu seraya menaruh tas di sampingnya lalu melepaskan kedua sepatunya.
"Ibu... Ibu... Ibu..." Panggil Daffa selagi melepaskan sepatunya. Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya.
"Ibu pergi keluar kah?" Gumam Daffa dalam hatinya.
Setelah usai melepas sepatunya, Daffa kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian di sana.
Berselang beberapa menit, Daffa yang sudah rapi berganti pakaian kini tengah duduk di kasurnya seraya menatap layar handphone yang ia pegang di tangannya.
"Lebih baik aku hapus kontaknya si sialan itu," ucap Daffa sambil tangannya yang tampak menyentuh ke atas bawah layar handphonenya.
Saat Daffa ingin menghapus nomor kontak kak Hendra di daftar kontak handphone miliknya, tiba-tiba saja terdengar suara telepon rumah yang berdering dari lantai bawah rumahnya.
Kring....! Kring....! Kring....!
"Eh, ada yang menelpon?" Ucap Daffa pelan setelah mendengar deringan itu.
Daffa seketika menaruh handphonenya di atas kasur, lalu ia tampak berjalan menuruni tangga dan menuju telepon rumahnya berada. Daffa tidak jadi menghapus nomor kontaknya kak Hendra karena suara deringan itu.
Sesampainya di lantai bawah rumahnya, Daffa pun kemudian mengangkatnya lalu ia berkata, "Hallo?"
"Hallo...?" Ucap Daffa lagi setelah beberapa detik tidak ada yang menjawabnya.
__ADS_1
"Daffaaa!...." Teriakan seseorang dengan sangat keras dari dalam sambungan teleponnya.
Daffa seketika langsung menjauhkan telepon rumahnya dari telinganya karena saking kerasnya. Itu membuatnya kaget.
"Eh, Nenek?" Tanya Daffa setelah mendengarkan teriakan neneknya. "Nenek kenapa menelpon? Ada perlu apa yah Nek?" Lanjutnya.
"Daffa! Pokoknya kamu harus ke rumah Nenek hari Minggu bersama Ibu dan Ayahmu," balas Neneknya Daffa atau lebih tepatnya Nenek Sumi.
"Aku nggak ikut dulu Nek," ucap Daffa.
"Apa kamu tidak mau menjenguk Nenek yang sudah tua ini...?" Balas Nenek Sumi dengan nada yang tampak sedih dan memelas.
"Eh... Nenek jangan bilang begitu," ucap Daffa.
"Jadi kamu akan ke rumah Nenek, kan?!" Tanya Nenek Sumi yang tampak bersemangat.
"Iya... Nek..." Jawab Daffa yang dilihat dari mukanya tampak terpaksa mengucapkannya.
"Nah, kalau begitu bawa juga pacarmu ke sini," ucap Nenek Sumi dengan cepat.
"Hah?!... Mana mungkin aku mempunyainya Nek..." Balas Daffa yang terlihat agak terkejut mendengarnya.
"Yang benar saja? Padahal Nenek sudah susah-susah pindahin kamu ke situ," ucap Nenek Sumi.
Nenek Sumi adalah termasuk salah satu orang yang paling berjasa dalam kehidupannya Daffa. Nenek Sumi memaksa Daffa dan kedua orangtuanya agar pindah dari desa yang sekarang masih ia tempati dan menuju ke kota. Nenek Sumi juga yang memaksa Daffa agar masuk ke sekolah favorit di sana yaitu SMA Merah Putih dan juga ia yang menyuruh kedua orangtuanya Daffa supaya membujuk dan menasehati Daffa agar mau masuk ke sekolah itu.
"Eh..." Daffa terlihat tidak bisa berkata-kata setelah mendengarkan ucapan Nenek Sumi.
"Daffa, kamu pasti bohong kan?" Tanya Nenek Sumi.
"Kan sudah Daffa bilang..." Ucap Daffa.
"Ya udah Daffa, ini teman Nenek memanggil Nenek terus. Dan juga! Pokoknya cucu Nenek harus ke sini dengan pacarnya... Awas aja kalau tidak!" Ancam Nenek dengan nada tinggi yang kemudian ia mematikan sambungan teleponnya dengan Daffa.
"Tunggu Nek! Tungg–" ucap Daffa agak keras. "Hallo Nek? Hallo?" Sambungnya.
__ADS_1
"Hadeh... Malah langsung dimatikan sama Nenek," ucap Daffa selagi menghela nafasnya dalam-dalam dan kemudian ia menaruh kembali telepon tersebut seperti semula.
Bersambung....