Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 63 : Saling Menguntungkan


__ADS_3

Selesailah mereka mengisi perut masing-masing hingga kenyang. "Krek!" Pintu rumah dikunci dengan rapat hingga sulit untuk dibobol jika ada maling yang masuk. Fasa dengan sangat ceria mengawali langkah jalannya mereka menuju luar rumah.


Daffa, Syifa, dan Fasa sudah bersiap-siap menuju ke desa, namun nampaknya Daffa merasa sangat cemas seiring berjalannya waktu.


"Syifa, apa kamu yakin masih mau melanjutkan ini? Kamu harus berpura-pura berpacaran denganku selama berada di sana," Ucap Daffa yang telah usai mengunci pintu rumahnya.


Tangannya memberi tanda oke persis di depan pandangan matanya Daffa. "Tenang aja, aku cuma perlu berperilaku layaknya pacarmu, kan? Kalau itu doang sih, aku yakin seratus persen juga bisa..." Balas Syifa yang percaya dirinya sangat tinggi untuk hari ini.


"Tapi handphoneku sedang rusak loh, jadi aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan kalian," Ucap Daffa sembari menunjukkan handphonenya yang terlihat sudah buruk.


Mendengar perkataannya, Syifa spontan tersenyum sinis menatap Daffa. "Hehe, tenang aja."


"Oh, tidak... Ini persis seperti tadi." Gumam Daffa dalam hatinya.


Syifa kemudian mengeluarkan sesuatu yang tak disangka-sangka dari tas selempang yang ia bawa. "Jreng, jreng, jreng...!" Ternyata itu sebuah handphone, merek handphonenya sangat persis seperti handphone Daffa yang sudah rusak.


Dilihat bagaimanapun lagi, itu nampak seperti masih baru. "D-dia... Dia melakukan ini semua hanya dengan semalaman?" Gumam Daffa dalam hatinya, ia seakan tak percaya.


"Ini buatmu.... Sebagai tanda terima kasih karena telah menolongku pada saat itu," Ucap Syifa pelan. Rasa permen itu sangatlah manis seperti halnya dengan senyumannya Syifa ketika memandang Daffa pada saat itu. Dia menjulurkan tangannya yang tengah memegang handphone baru tersebut.


Daffa menolak dengan lembut tawaran yang diberikan oleh Syifa. "Hmm, maaf tapi aku gak bisa menerimanya, itu terjadi karena kecerobohanku sendiri."


"Hah...?"


"Tidak tidak tidak... Jelas-jelas handphonemu rusak karena menyelematkanku," Mereka berdebat saling menyalahkan diri sendiri.


Debat yang cukup panjang membuat mulut mereka kelelahan sendiri. Wajah Syifa sangat menggambarkan kekecewaan, matanya berlinang layaknya ingin mewek namun ia tahan.


Di tengah-tengah suasana yang panas itu, terdengar suara benturan tembok yang cukup keras, insting Daffa langsung melihat ke asal suara tersebut, namun itu terlalu jauh untuk dilihat dari tempat rumahnya.

__ADS_1


Daffa pun kembali menghadap ke Syifa, mereka saling bertatapan mata satu sama lain, semakin ditatap makin tak tega Daffa melihatnya. Karena Syifa yang sangat bersikeras ingin memberikannya, terlintaslah sebuah ide di benak Daffa yang cukup menjanjikan. "Bagaimana kalau kita simbiosis mutualisme, saling menguntungkan?"


"Saling menguntungkannya yang gimana?" Syifa maksud dengan ucapannya tapi tak semua.


"Kamu maunya aku harus bagaimana?" Tanya Daffa.


Ditanya begitu justru membuat Syifa kebingungan, otaknya seakan-akan nge-blank karena diberi pertanyaan yang sangat luas. "Y-ya... Tentu saja kamu harus... M-melindungiku." Pintanya seraya mengalihkan pandangannya dari Daffa.


"Kalau itu maumu..." Sekilas Daffa memejamkan matanya, dan membukanya kembali dengan tatapan yang sangatlah berbeda. "Maka aku akan berjanji dengan satu hal. Syifa, mulai saat ini, aku akan melindungimu."


Syifa terkejut, perasaannya sangat bahagia mendengarnya. Mendadak suasana menjadi sangat panas, saking panasnya hingga membuat wajah Syifa memerah. "D-dia sudah jauh berbeda dengan saat pertama kali aku bertemunya." Gumamnya dalam hati.


"Dan juga sebaliknya, kamu juga harus berjanji satu hal denganku... Kamu harus menuruti satu permintaanku apapun itu, tapi akan ku beritahu saat kita sedang berdua saja,"


"Eh?"


"Apapun...? Berdua...?!" Menyadari hal itu, Syifa spontan menutup erat dadanya dengan kedua tangannya, dia agak sedikit bergerak ke belakang mengarah pada tembok dengan wajahnya yang nampak memerah. "K-kamu tidak bermaksud mengincar tubuhku, kan?"


Daffa menghela nafas, lalu ia mendekatinya dengan tatapan serius. Daffa tiba-tiba mengeplak tembok rumahnya yang keras hingga menimbulkan suara yang cukup hebat, Daffa menyudutkan Syifa sehingga sulit untuk bergerak. "Kalau itu benar memangnya kenapa?" Perilakunya sangat berbeda dengan ucapan hatinya.


"Kamu pasti cuma mau menakut-nakutiku, kan?" Tanya Syifa dengan nada gemetar, debaran kencang tak kunjung berhenti di dalam hatinya.


"Tidak, aku sangat serius..." Balas Daffa dengan sangat berani. Jarak antar wajah mereka sangatlah dekat, membuat orang yang melihatnya menjadi jantungan saja.


"Jika kamu gak setuju, makan perjanjian ini akan dibatalkan." Lanjut Daffa. Syifa sangat tertekan dengan ucapannya, namun itu hanya sesaat.


Dengan malu-malu, Syifa menjawab lurus dengan mengungkapkan isi hatinya. "Siapa yang bilang aku gak setuju? A-aku setuju kok, aku sangat percaya kalau kamu itu gak bakalan ngelakuin itu kepadaku." Jawab Syifa pelan dengan pipinya yang nampak merona.


Syifa memutuskan untuk menuruti apapun perkataan dari Daffa, walaupun nasib yang akan menentukannya nanti, sebab ia sangat mempercayai seorang Daffa.

__ADS_1


"K-kenapa kamu bisa sebegitunya percaya padaku?"


Syifa tertawa kecil, pandangannya lurus ke depan menatap wajah Daffa. "Habisnya... Kamu itu Daffa, mana mungkin seorang Daffa berani dengan cewek..." Ucapnya yang seakan merendahkan Daffa. "...Karena kamu hanya menggertak." Sambungnya dengan nada yang berbeda, pelan tapi tajam ketika didengar.


Daffa merasa tersinggung, tapi kenyataannya memanglah sangat benar kalau Daffa hanya menggertak, sebab itu sudah terpapar jelas di wajahnya.


Di saat yang tak terduga, Syifa tiba-tiba menarik kerah bajunya Daffa, dia memutar balikkan Daffa hingga membentur tembok. "Brukk!" Keadaan kini menjadi berbalik.


Daffa sungguh kaget, dalam sekejap ia justru yang saat ini tengah terpojok. "Weh, jangan asal narik baju orang."


Syifa mendekatkan wajahnya walaupun dirinya harus menahan malu. "Kamu masih belum mengakuinya? Aku tidak akan berhenti lho... Sebelum kamu menyerah."


Wajah mereka sangat dekat hingga Daffa merasakan hawa wangi yang menyengat.


Di saat yang sama, mendadak Syifa memegang dagunya Daffa. "T-tenang saja, aku bakalan pelan-pelan kok..." Ucap Syifa dengan pelan tak peduli bila terasa memalukan, bibirnya yang sangat lembut membuka perlahan demi perlahan.


Dag...


Dig...


Dug...


Wajah Daffa penuh dengan keringat dingin sedangkan Perasaannya gemetar sangat hebat karena panik. "Stop stop...! Oke aku menyerah... Aku menyerah...!" Pintanya dengan nada tinggi, tangannya menghalangi jalan pandang arah mukanya Syifa.


"Eeehh... Menolak di tengah-tengah itu tidak baik tahu..." Balas Syifa yang merasa dikecewakan, dia melepaskan pegangannya seraya mundur selangkah. Hempasan nafas ia keluarkan sesaat setelah melakukan itu semua.


Daffa merasa sedikit lega, nafasnya juga tak sesak lagi karena tak lagi harus berbagi udara dengannya di ruang yang begitu sempit. "Tapi kelihatannya ekspresi wajahmu berbeda tuh, sama ucapan mulutmu."


Syifa melepaskan handphone baru itu di tangan Daffa, setelahnya ia sedikit menjauh darinya, suara langkah sepatunya mempunyai ciri khas tersendiri. "Aku hanya bercanda, jadi lupakan yang barusan yah? Ehe!"

__ADS_1


Mulut Daffa sedikit mengkerut ke bawah, ia tampak bosan. "Iya deh iya, tuan putri..." Balasnya selagi menggenggam sebuah hadiah pemberian Syifa yang wujudnya sudah terlihat jelas.


Bersambung....


__ADS_2