Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 71 : Joging Di Sore Hari


__ADS_3

Tak terasa hari sudah menjelang sore, jarum jam dinding menunjukkan pukul 3 dan akan lebih dari itu seiring berjalannya waktu.


Daffa yang telah usai menunaikan ibadah salat asar bersama Syifa, dirinya kini tengah berdiri tepat di depan sebuah jendela. Daffa memandang sebuah pepohonan maupun tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tanah yang begitu luas, tidak lupa juga dengan sejumlah layang-layang yang terbang tinggi di udara karena angin sore hari ini yang sangat kencang.


Daffa membalikkan badan, tatapan matanya mengarah pada Syifa yang tengah menonton televisi sambil tiduran dengan mulutnya yang kerjaannya mengemil makanan ringan terus.


Krriuuk ...


Krriuuk ...


"Fasa ada di mana, kok aku belum melihatnya sejak bangun?" Tanya Daffa.


"Ada di luar rumah," Jawab Syifa.


"Oh, kalau begitu ayok kita keluar." Ajak Daffa.


Syifa bangun dari bantalnya, kedua tangannya mengulet ke atas sesaat sebelum dirinya berdiri. "Hmm, okeh." Balasnya.


Daffa berjalan keluar rumah diikuti oleh Syifa dari belakang, dari balik pintu mereka melihat Fasa yang tengah bermain permainan tradisional bersama ayah Adi dan ibu Ayu.


Sedangkan nenek Sumi sedang duduk di kursi depan rumah sembari menonton mereka.


Syifa melihat mereka bermain sangat menyerukan dan mengasyikkan dan itu membuatnya kepingin ikutan juga bermain dengan mereka. "Aku ikutan juga dong."


"Syifa mau? ... Sini-sini." Ajak ibu Ayu sembari memberinya sebuah batu pipih atau biasa disebut gaco.


Sedangkan Daffa, ia hanya berdiri saja di depan pintu melihat mereka bermain permainan engklek bersama-sama secara bergiliran.


Engklek adalah sebuah permainan tradisional yang cukup simpel untuk dimainkan, mereka hanya perlu melempar gaco milik mereka lalu melompati setiap kotak yang ada tanpa mengenai garis pembatas di kotak tersebut ataupun menginjak kotak yang terdapat sebuah gaconya hanya dengan menggunakan satu kaki saja.


Bagi orang yang baru mencobanya pasti akan kesulitan jika memainkannya namun apabila sudah terbiasa maka itu sangatlah mudah, apalagi bagi seorang laki-laki yang lompatannya sangat jauh.


"Daffa kamu sudah menyelesaikan latihan harianmu?" Tanya nenek Sumi yang duduknya tak jauh dari samping Daffa.


"Belum nek, ini mau aku lakukan." Jawab Daffa seperti biasa.


Sang nenek menghela napas panjang karena jawaban dari Daffa, dia kemudian kembali menikmati kencangnya angin di sekitar.


Daffa sedikit melangkah ke depan, ia membungkukkan badannya di atas lantai. Daffa pun kemudian melakukan berbagai macam gerakan latihan fisik seperti Push Up, Sit Up, Jumping Jack, Squat dan masih banyak lagi.


Setelah belasan menit, Daffa memutuskan untuk menyudahi latihan di tempatnya. Daffa sudah cukup banyak mendapatkan keringat di tubuhnya.

__ADS_1


Sekarang ini Daffa akan melanjutkannya dengan lari joging di sekitar jalan area pedesaan. Melepas sweaternya, lalu memakai sepatu miliknya. Daffa sudah siap untuk joging di sore hari ini.


Sebelum itu, Daffa bernapas panjang terlebih dahulu, barulah ia memulainya dengan kaki kanannya dulu dari depan rumah neneknya.


Syifa yang melihatnya, ia langsung mencoba untuk menyergapnya, namun tidak berhasil karena Daffa langsung menghindar darinya.


Syifa merasa kesal, lalu dirinya mencoba untuk meneriakinya. "Daffa ... ! Kamu mau kemana?"


Daffa menoleh ke belakang. "Aku mau mengelilingi sawah ... !"


Mendengar hal itu, Syifa tiba-tiba berlari mengikuti Daffa dari arah belakang. "Aku juga mau ikut dong."


"Jangan ... ! Kamu jangan ikut Syifa. Lebih baik kamu bermain sama Fasa saja."


Syifa ingin ikut bersama Daffa, namun Daffa tidak membolehkannya, karena ia berpikir kalau nanti Syifa malah akan merepotkannya apabila minta berhenti di tengah jalan.


Syifa cemberut dan tetap berlari. "Tidak, aku tetap mau ikut."


Syifa tetap keras kepala, ia tak menghiraukan apa kata Daffa. Syifa terus mengikuti Daffa hingga dirinya sudah begitu jauh meninggalkan rumah sang nenek.


Kali ini Syifa mencoba untuk menyusul Daffa dalam tempo yang cukup cepat. Namun apa daya, Syifa tidak cukup cepat untuk mengejar seorang Daffa, hingga ia hampir kehabisan nafasnya.


"Daffa ... Tunggu. Aku udah gak kuat lagi."


Ini persis seperti kata Daffa yang barusan, Daffa ingin meninggalkannya tapi ia tak tega melihatnya, karena itulah ia memutuskan untuk berbelok arah.


Sesaat sebelum Daffa berbelok, Syifa berteriak kepadanya. "Eh, Daffa tunggu ... !"


Kekesalan tersinggung di wajahnya, Syifa cemberut dengan sikap Daffa yang tak begitu perhatian kepadanya. "Ish ... Bukannya nolongin malah pergi."


"Aku ini ada di mana, lagi? ... Aku belum begitu hafal sama daerah sini."


Syifa merasa sangat cemas dengan diri sendirinya, ia kebingungan melihat jalanan yang berkelok-kelok.


Namun seketika perasaan itu menghilang saat Daffa yang tiba-tiba muncul dari belakangnya. "Hey!"


"Astagfirullah!" Kaget Syifa.


Syifa dibuat kaget oleh kemunculannya, ia spontan menoleh ke belakang dan melihat adanya sosok Daffa yang berdiri.


Saat itu Daffa sedang mencoba untuk mengatur nafasnya yang terasa acak-acakan. Sementara Syifa, tatapan matanya mengarah ke tangannya Daffa.

__ADS_1


Ternyata Daffa kemari bukan hanya untuk mengerjai Syifa, tapi ia justru mau membantunya yang terasa kecapean dengan membawakan 2 botol minuman air putih.


Tanpa berlama-lama, Daffa langsung duduk di samping Syifa. Di saat itu juga, Daffa menawarkan sebuah botol air putih yang barusan ia beli.


Syifa menatap matanya Daffa secara terus-menerus. Bukannya berterima kasih, Syifa malah menjambak rambutnya Daffa secara tiba-tiba dengan cukup kuat.


"Aduh duh ... ! Kenapa malah marah? ... "


Daffa merintih kesakitan, ia menanyakan sebuah pertanyaan kenapa dirinya mendapat jambakan yang amat menyakitkan.


"Kepingin aja."


Syifa membalasnya singkat dengan wajahnya yang terus-terusan cemberut. Ia lalu meminumnya sambil membuang mukanya dari pandangan Daffa.


"Eh ... "


Terkadang Daffa merasa kebingungan dengan jalan pikiran Syifa. Mereka pun meminum botol air putih tersebut secara bersamaan.


Selesai hanya dengan beberapa kali tegukan, Daffa kembali berdiri yang kemudian membuangnya ia buang botol itu di tempat sampah.


Syifa menatap Daffa yang tengah berjalan balik ke arahnya, dalam hatinya ia juga masih ingin melanjutkan berjalan kaki bersamanya.


"Buurp ... !"


"Buurp ... !"


Syifa memainkan botol air minumannya, hingga mengeluarkan beberapa gelembung di dalamnya beserta percikan suaranya. "Daffa ... Aku masih mau ikut ... "


Syifa mengatakannya dengan wajahnya yang seperti meminta bantuan. Mendengar hal itu, Daffa menghela napas yang cukup panjang.


Daffa tiba-tiba jongkok tepat di depan Syifa, mulutnya sangat berat untuk mengucapkannya. "Ya udah, naik cepat."


Syifa tertegun, wajahnya berbinar-binar di saat melihat Daffa bergerak meniatkan diri untuk menggendongnya.


Syifa tersenyum kecil sambil batuk kecil. "Ehem! Padahal aku gak bilang minta digendong sama kamu."


"Heleh ... Palingan nanti juga bilang kalau sekarang aku biarin gitu aja."


Syifa tiba-tiba meloncat ke arah Daffa dari belakang dengan sangat bersemangat. "Benar sekali!"


"Hup!"

__ADS_1


Daffa menguatkan diri untuk menggendongnya, langkah demi langkah pun Daffa lewati. Yang seharusnya Daffa berlari santai, kini ia malah berjalan santai. "Let's go!"


Bersambung ....


__ADS_2