
Daffa sangat-sangat tidak menyangka akan hal ini, begitu pula dengan mereka yang terkejut atas kedatangan Daffa secara tiba-tiba dihadapan mereka.
"Wah anjir ini gawat sekali, aku datang di saat yang tidak pas." Gumam Daffa dalam hatinya yang merasa panik.
Daffa sedikit membungkukkan badannya. Dengan perlahan, ia berjalan menjauh untuk mengelabui mereka. "M-maaf, aku hanya numpang lewat..."
Di saat yang sama, Fendi dan Fundi tampak saling melirik satu sama lain. Mereka berdua menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Hey, tunggu! Kenapa lo bisa berada di sini?!" Ucap Fendi dengan nada tinggi.
"Lo cari masalah ya?!" Ucap Fundi yang melanjutkan perkataan kakak kembarnya.
Daffa menoleh ke arah mereka. "Iya yah, kenapa yah...? Ehehe..." Balas Daffa dengan tawaan. Ia ingin melangkah menjauh dari mereka sekali lagi namun ia dibuat ragu-ragu setelah melihat wajah Syifa yang membuat hatinya bergetar merasa kasihan padanya. "Sebaiknya langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya?!..."
Di saat yang sama, tingkah laku Daffa yang seperti itu malah membuat Fandi tertawa. Dia tersenyum sinis seakan sedang meremehkan lawannya yang hanya berjarak sekitar lima meter saja darinya. "Ahahaha! Ternyata yang datang cuma kroco. Kalian berdua, urus dia."
"Perintah, diterima." Balas Fendi dan Fundi serentak yang menuruti perkataannya.
Tak lama kemudian, Fendi memberi kode tangan kepada kembarannya untuk sedikit lebih maju ke depan. Fundi langsung menanggapinya, dan ia pun maju satu langkah ke depan mengikuti Fendi.
Fendi dan Fundi mencoba memprovokasi Daffa. Sesekali mereka menggunakan kata kasar untuk menghasutnya.
"Daffa!! Apa lo tidak malu?! Teman lo sedang dalam bahaya, tetapi lo tidak mau berbuat apa-apa?!"
Langkah kaki Daffa tiba-tiba berhenti, mereka berhasil membuat Daffa berhenti untuk kedua kalinya. Namun sepertinya kali ini Daffa akan benar-benar berhenti setelah mendengar perkataannya.
"Dasar sampah. Lebih baik kau dibuang di tempat sampah saja."
Perkataan itu membuat Daffa sedikit pusing. Ia tak berdaya harus membalas seperti apa, yang biasa dilakukannya hanyalah diam, diam dan diam tanpa harus mendengarkannya. Ia terus melakukan seperti itu karena ia tau kalau mereka sudah capek pasti akan berhenti sendiri.
Namun kali ini berbeda, Daffa sudah tidak kuat lagi dengan sikapnya yang terus begini. Ia ingin sekali berubah, tetapi ingatan di masa lalunya selalu terbayang-bayang setiap mengalami hal seperti ini.
"Ayolah Daffa..." Gumam Fendi dalam hatinya yang penuh harapan. Ia sudah kehabisan kesabarannya. Dan suatu ide pun terlintas di kepalanya ketika melihat batu kecil bulat.
Dengan sekuat tenaga, Fendi menendang sebuah batu kerikil dan mengarah tepat ke bagian belakang Daffa. "Kayaknya aku tarik kembali kata-kataku saja deh. Karena... Kau itu lebih buruk daripada sampah!"
__ADS_1
Kedua tangannya Daffa memegang kepalanya. Kepalanya terasa sangat sakit, perkataan Fendi yang barusan sangat ampuh membuat kepala sekaligus hatinya sakit.
Kata tersebut bergema di telinganya, Kata itu begitu nyaring hingga membuatnya hilang konsentrasi. "Sam-pah.. am-pah.. mpah.. pah..."
Kedua matanya mulai menyipit. Pandangannya sudah tampak kabur setiap kali mengedipkan matanya.
Daffa kembali mengedipkan matanya, dan tidak disadari pandangannya sudah kosong putih. Ia mencoba mengedipkan matanya sekali lagi, dan ternyata ada yang berubah. Tiba-tiba di pandangan matanya terlihat ada beberapa anak kecil di pojok sana.
Salah satu diantaranya ada yang mirip dengan wajahnya. Dan anak itu tampaknya sedang duduk ketakutan karena dikerubungi anak-anak lainnya.
***
"Hey, lihat-lihat... Dia yang membantu kabur orang yang akan kita kerjain,"
"Wah... Iya ternyata benar, dia menangis kencang sekali,"
"Kasihan sekali... Bajunya sampai basah tak karuan karena air matanya,"
Daffa hanya terlihat melamun di tempat. Dari tampangnya, sepertinya ia mengenal kejadian seperti itu.
"Benar, kah?"
"Ide macam apa?"
Tak lama kemudian, mereka serentak melemparinya dengan batu-batuan kecil. Itu membuat tangisan anak yang tengah duduk di sana semakin mengeras. Anak itu tak melawan hanya saja melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. "Rasakan ini, rasakan ini! Bwahahaha..."
"Bagaimana rasanya? Apakah sakit...? Hahaha..."
Berselang tiga menit sejak mereka melemparinya dengan bebatuan kecil. Dari raut wajahnya, mereka tampaknya sudah sangat bosan. Dan tiba-tiba ada salah satu anak diantara mereka yang menghentikannya karena sudah terlalu bosan.
Anak itu berkata, "kenapa diam saja?! Padahal tadi berani membawa kabur orang itu?!"
"Apa jangan-jangan... Kamu itu seorang penakut? Haha..."
Ucapan itu sedikit mengejutkan Daffa. Dalam dirinya mulai teringat kembali apa yang akan terjadi setelah itu. Daffa kecil tidak akan berdiam diri saja lebih lama! Tetapi dia akan melawan.
__ADS_1
Tak lama dibicarakannya, tiba-tiba Daffa kecil memberanikan diri untuk berdiri. "K... Ka... Kalau tidak menolongnya sekarang juga, terus kapan lagi!? Waktu itu sangat berharga walau hanya satu detik saja!"
Akhirnya Daffa kecil mengeluarkan kata-katanya yang ia tahan dari dulu.
Namun, itu malah membuatnya semakin tidak baik-baik saja. Mereka semua marah karena ucapannya. "Huh?!..."
*PLAK!!
*PLAK!!
*PLAK!!
Dan akhirnya berakhir naas untuknya, dia dihajar sampai wajahnya babak belur. Dia sudah berusaha untuk menahan air matanya namun tak berjalan mulus.
***
"Aku mengerti sekarang... Sebab kenapa aku sering dipanggil seorang pecundang," Daffa mengusap sisa air matanya yang ada di sekitar bulu matanya.
"Daffa...." Panggil Syifa dari balik punggungnya Fandi. Tubuhnya tampak melemas, bahkan air matanya hampir tak bisa keluar lagi.
Daffa membalik badannya, tatapan matanya mengarah pada Syifa. "Syifa...."
"Benar juga, aku harus menyelesaikannya sekarang juga, tak ada lain waktu." Tatapannya berubah ke arah Fandi. Ia tersenyum sinis seolah mengejeknya.
Sepertinya Kekuatan percaya dirinya sudah terkumpul pada dalam dirinya. Dalam sekejap, Daffa melepas sweater yang dikenakannya, yang kemudian ia jatuhkan ke jalan begitu saja.
Lalu Daffa menarik sebuah kain yang terikat di lengannya. "Fendi..." Yang Kemudian Daffa mengulurkan tangannya dengan sigap dihadapan mereka semua. "Coba ulangi kata-katamu yang tadi..." Tatapan matanya sangat tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
Syifa terkejut ketika melihatnya.
"Bukannya kain itu?!..." Dan dia mulai berpikiran bahwa Daffa pernah bertemu dengan adiknya yaitu Fasa.
Fendi tak berseru sekali pun dan hanya terdiam memerhatikan tingkah Daffa.
Gemerlap petir membuat sebagian wajah Daffa bersinar putih seketika. "Berhati-hatilah, karena akan kuperlihatkan sedikit trik keberuntunganku yang tak disengaja pernah aku gunakan..."
__ADS_1
Bersambung....