Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 77 : Merasakan Rasa Pedih


__ADS_3

Daffa tak terlihat gemetar sama sekali, ia justru lebih santai dan tenang ketika menatap wajah serius dari pengawal tersebut.


"Hey kau ... Sebelum itu, ingatlah satu hal dariku."


"Apa itu?"


"Pukullah dengan sekuat tenaga yang kau punya."


Pengawal itu hanya tersenyum sinis ketika mendengarnya. "Haha ... Baiklah."


Setelah berjalan beberapa saat, pengawal yang memiliki tinggi badan sedikit melebihi Daffa, memutuskan untuk berlari saat hampir mendekati keberadaan Daffa.


"Ceplak!"


"Ceplak!"


"Ceplak!"


"Ceplak!"


Beberapa detik berlalu, wajah Daffa sudah semakin dekat di mata pengawal tersebut, dia melompatkan diri sejauh mungkin dilangkah yang terakhirnya.


Daffa yang tak menghindarinya sama sekali, itu malah semakin membuat pengawal tersebut lebih mudah untuk menyelesaikannya.


"Buugggh!"


Pukulannya tepat sasaran mengenai bagian perutnya Daffa dengan sangat kuat, hingga payung yang dipegangnya terlepas begitu saja. Daffa berguling-guling ke belakang, ia tampak terpental jauh-jauh dari asal tempatnya berdiri.


Hanya dalam satu kali pukulan saja, Daffa sudah merasakan rasa yang cukup sakit di perutnya hingga membuat dirinya terasa mulas.


Daffa terkapar di atas aspal jalan, kedua tangannya terus memegangi bekas pukulan yang ada di perutnya, sejak dipukul oleh sang pengawal.


Lagi-lagi suara gemuruh seperti benda terjatuh tiba-tiba terdengar jauh yang asalnya dari belakang Daffa, tapi kali ini suaranya sedikit lebih jelas daripada yang sebelumnya.


Tak lama setelah kejadian itu berlangsung, Syifa sepertinya memberanikan diri untuk membuka matanya lebar-lebar. Syifa tidak melihat bagaimana kejadian itu berlangsung, tetapi yang saat ini dilihatnya hanyalah seorang Daffa yang sedang terkapar di tengah jalan karena kesakitan.


Melihat jelas hal itu, Syifa seakan langsung berteriak histeris memanggil namanya, karena sangat cemas dengan keadaannya Daffa yang begitu memprihatinkan. "Da ... Daffa ... !? Daffaa ... !

__ADS_1


Perasaan Syifa sangat gelisah dan ia juga seperti sedang kebingungan harus melakukan apa. Karena perasaan itulah yang membuat Syifa panik melihat ke kanan-kirinya secara sendirinya. "Eng ... Emm ... T—tenang aja Daffa, aku segera ke sana."


Syifa hendak berlari ke arah Daffa, karena ia ingin sekali membantunya. Namun Syifa tidak bisa melakukannya, karena langkahnya sepenuhnya dihalangi oleh mamanya sendiri.


"Biarkan saja Daffa bangun dengan sendirinya. Lagian dia sendiri yang memintanya dan mama yakin dia pasti bisa, karena percaya dirinya yang tinggi. Kamu juga berpikiran seperti itu, kan?"


"Emm ... Tapi, kan ... "


"Kamu tidak percaya dengan Daffa?"


Syifa melihatnya sekali lagi dengan jelas. "Emm ... B—baiklah ... "


Dengan berat hati, Syifa memutar balikkan badannya dan menggandeng tangan mamanya sendiri dan juga Fasa. Langkah kakinya terasa sangat berat, ketika dirinya meninggalkan Daffa seorang di tempat itu.


Di saat itu, sepertinya hujan telah reda setelah sekian lama menunggunya. Kini tak ada lagi satupun tetesan air hujan yang turun dari langit. Yang ada hanyalah sisa-sisa tetesan air hujan di setiap atap-atap bangunan rumah.


Daffa membuka matanya dengan perlahan, penglihatannya sedikit buram ketika melihat semua orang yang di hadapannya mulai pergi satu per satu. Daffa hanya tersenyum kecil sambil menyesalinya dan menyalahkan diri sendirinya di dalam hati.


Daffa mencoba bangkit, namun nyatanya itu sedikit lebih susah untuk dilakukan daripada diucapkan. "Tubuhku terasa dingin, perutku sangat sakit, dadaku rasanya begitu sesak, ini tidak enak sekali. Entah mengapa, aku merasa menyesal. Aku sangat payah dan tidak tahu diri, ini semua terjadi karena kesalahanku sendiri. Sebenarnya, aku juga ... Ingin merasakan perasaan yang berbeda."


"Tapi syukurlah, Ibu dan Ayah tidak melihatnya."


Tidak lama setelah Daffa berdiri dan selesai membersihkan pakaiannya yang tampak kotor dan basah, ia merasa dirinya tiba-tiba ditimbuk sangat kencang oleh seseorang dari belakangnya. "Daffa ...!"


Daffa tertegun, pasalnya ia tahu betul, kalau itu adalah suara dari ibunya. "Eh, Ibu ... Dan Ayah?"


Ibu Ayu langsung memeluk Daffa erat-erat hingga enggan untuk melepaskannya, sedangkan Ayah Adi hanya melihat mereka dari samping dengan tampang serius.


Daffa bergumam. "Ternyata perkataanku salah, kah? ... "


*****


Akibat pukulan keras itu, Daffa kini malah berakhir di toilet.


Tak lebih dari sepuluh menit, Daffa membuka pintu kamar mandinya. Setelah selesai membuang air besar, tubuhnya terasa lebih enteng dan nyaman dari sebelumnya.


"Daffa, sini dulu."

__ADS_1


Daffa langsung tahu, itu suara ibunya yang memanggil nama dirinya yang tak jauh darinya. Daffa pun langsung berjalan mengarahnya.


Daffa kemudian duduk di kursi bersama Ayah dan ibunya, tepatnya di ruang tengah. Setelah duduk di situ, bukannya dapat ketenangan, Daffa justru dihadapkan banyak sekali sebuah benda yang tergeletak di depan matanya.


Tentu yang menyiapkan itu semua dengan cepat adalah seorang ibu Ayu. Ibu Ayu tiba-tiba berpindah duduk tepat di sebelah Daffa.


Setelah menyiapkan semuanya, dengan sigap dan cepat, ibu Ayu langsung menyuruh Daffa untuk segera memakainya. Daffa hanya berpasrah, ia memulainya dengan meminum obat pereda nyeri yang sudah disiapkan oleh ibunya.


Sesaat kemudian, giliran ibu Ayu yang membantu Daffa untuk mengompres luka memarnya yang ada di bagian perutnya, dengan sebuah handuk dingin. Rasanya sangat dingin, hingga membuat Daffa merasa ngilu.


Selagi mengompres dingin luka memarnya Daffa, ibu Ayu juga sekalian menasihati Daffa lewat perkataan yang keluar dari mulutnya, dengan nada mengomelinya.


"Dari yang dilihat Ibu, tadi itu Ibunya Syifa kan?"


Saat akan menjawabnya, Daffa sedikit kesusahan, karena ia juga sedang menahan rasa perih.


Daffa ingin meminimalisir suara rintihannya yang tidak berguna, melainkan sangat memalukan bagi dirinya. "I—iya."


"Mulai sekarang, lebih baik kamu menjauhinya. Ibu tidak suka kalau kamu terluka lagi seperti ini. Kalau gini terus, ini gak ada bedanya seperti dulu."


Daffa bingung ingin membalas seperti apa. "Emm, yah ... Mungkin. Entahlah ... "


Perkataan Daffa sungguh aneh dan tidak jelas, hingga ibunya merasa sedikit kesal mendengarnya.


Ibu Ayu menoleh ke arah ayah Adi, ia menatapnya. "Ini juga salah Ayah, kenapa tadi Ayah menghentikan Ibu?! Kalau tidak, mungkin Daffa tidak akan terluka seperti ini."


"Lah kok, jadi Ayah yang salah? Ayah sengaja begitu, karena agar Daffa bisa menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri dengan baik. Lagian Ibu dan Ayah kan, Sama-sama gak tahu inti masalahnya gimana. Jadi, Ibu ... Lebih baik kita jangan mencampurinya dulu."


Daffa sekilas menjadi teringat dengan suatu kejadian, ia berpikir dalam hati. "Jadi, suara yang aneh itu ... Ternyata berasal dari Ayah dan Ibu? ... "


Ibu Ayu terdiam dalam sesaat. Tak lama setelah Ibu Ayu selesai mengompres lukanya Daffa, ia meminta Daffa untuk menceritakan permasalahannya mengenai hal tadi. "Baiklah, Daffa ... Sekarang kamu bisa ceritakan permasalahanmu dengan mereka."


Daffa mengangguk. "Masalahnya tidak terlalu rumit, kok."


Daffa kemudian bercerita dengan singkat dan terang-terangan kepada Ayah dan ibunya, tapi tak semuanya diceritakan oleh Daffa dengan jelas.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2