
Langkah tante Intan dan juga pak Supri seakan-akan terhenti setelah mendengar teriakannya Daffa. Dengan bersamaan, mereka berdua kemudian berbalik badan ke arah Daffa lalu menatapnya.
Pak Supri tampak terkejut melihat Daffa yang tengah duduk di kursi taman pinggir jalan itu. Sebaliknya, tante Intan justru malah terlihat biasa-biasa saja ketika melihat Daffa. Seolah-olah dirinya tampak tak mengenalinya.
"Da? Daffa?... Apa yang dia lakukan di sini?" Gumam pak Supri.
"Pak Supri, Anak yang di bangku itu siapa?" Tanya tante Intan sembari tangannya tampak menunjuk ke Daffa.
Pak Supri mencoba memfokuskan kembali sikapnya seperti semula setelah mendengar ucapan majikannya itu. "Ehem!"
"Ibu belum tau yah? Anak itu yang barusan tadi Ibu Intan telpon," jawab pak Supri agak telat.
"Eh? Daffa?..." Ucap tante Intan pelan. Mukanya juga tampak kaget setelah mendengarnya.
Pak Supri mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tanpa berlama-lama, tante Intan seketika langsung melangkahkan kakinya ke arah Daffa dengan senyuman manis tertampak di wajahnya seraya tangannya melambai-lambai ke Daffa.
Sementara itu, pak Supri malah terlihat diam saja di tempatnya. Ia tengah bersender di mobil milik tante Intan sembari melihat tante Intan yang sedang berjalan menuju ke tempatnya Daffa yang lagi duduk.
"Kenapa dengan orang itu? Apa itu teman kerjanya pak sopir?" Gumam Daffa dalam hatinya sambil memakan rotinya. Dia masih saja asyik memakan rotinya yang sekarang hanya tersisa sedikit.
"Eh, bentar. Kayaknya aku pernah melihat orang itu dah." Gumam Daffa dalam hatinya yang tampak mengingat sesuatu. "Oh iya... Bukannya dia ada dalam foto profil yang waktu itu?..." Gumam Daffa dalam hatinya.
Detik berikutnya, tante Intan pun sampai tepat di depannya Daffa yang tengah duduk. "Heh, kamu Daffa kan?" Ucap tante Intan sambil tersenyum.
"Iya?... kenapa ya, tan?..." Tanya Daffa pelan yang tampak masih saja mengunyah rotinya itu.
Secara tiba-tiba tante Intan seketika langsung menjewer salah satu telinganya Daffa. Dia tidak menjawab pertanyaannya Daffa. "Oh... Ternyata benar yah."
"Aduh, aduh. Sakit tan," jeritan Daffa yang mulutnya terbuka. Di dalam mulutnya tampak terlihat roti yang belum masuk ke dalam perutnya.
"Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan dari Tante, Hah?!" Tante Intan seketika berubah menjadi marah.
__ADS_1
"Aku, aku..." Daffa yang Baru saja mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba Tante Intan semakin kuat menjewer telinganya Daffa. Daffa pun tidak jadi melanjutkan perkataannya dan hanya menjerit kesakitan, "Aduh, duh, duh!..."
"Ini lihat!" ucap Tante Intan seraya menunjukkan handphonenya
"Sampe miscall sepuluh kali loh... Kamu pasti sengaja kan?!..." Tante Intan semakin kuat dan semakin kuat menjewer telinganya Daffa.
"Iya maaf tante, tapi biarkan aku minum dulu tan. Kumohon... Udah seret banget ini..." Balas Daffa seraya memegangi lehernya.
"Hah?..." Tante Intan tampak keheranan.
Di saat mereka berdua yang sedang ribut. Dari kejauhan di depan pintu masuk gedung itu terlihat ada seorang anak kecil dan juga seorang pelayan yang tengah mendampinginya. Di lengan kanannya anak perempuan itu terdapat ikatan kain berwarna putih.
Anak perempuan itu tampak melihat tante Intan dan juga Daffa yang tengah ribut.
Anak perempuan itu tiba-tiba saja langsung berlari menuju ke arah tante Intan setelah ia melihat mereka berdua. Sedangkan pelayannya berjalan mengikutinya.
Langkah larinya seperti tak terdengar oleh tante Intan karena sedang fokus kehadapan Daffa.
"Eh?" Tante Intan tampak kaget mendengarnya dan kemudian ia melihat ke bawahnya.
Tante Intan seketika langsung melepaskan jewerannya terhadap Daffa sampai dia terjatuh ke jalan. "Fasa udah sampai yah?..."
Fasa mengangguk kepada tante Intan. Sedangkan Daffa, dengan buru-buru ia langsung berdiri kembali dan meminum botol air mineralnya dengan tergesa-gesa. Dia ingin cepat-cepat menghilangkan rasa seret yang ada di tenggorokan dan juga dadanya.
Adek Fasa menghampiri Daffa yang tengah meminum itu. "Kakak tidak apa-apa?" Tanya adek Fasa dengan lembut seraya memegang lengannya Daffa.
Berselang beberapa detik kemudian, Daffa pun menghabiskan air di dalam botol itu. "Ahhh..." Ucapnya sambil memegang-megang dadanya.
Daffa melihat ke arah bawahnya. "Eh? Gak apa-apa kok."
"Syukurlah kalau begitu," ucap dek Fasa sambil tersenyum manis.
Daffa yang melihatnya seketika ingin tersenyum juga. tapi tiba-tiba dirinya mengingat sesuatu yang ingin diucapkan olehnya kepada tante Intan.
__ADS_1
"Sebentar, tante ini siapa? Tiba-tiba menarik telingaku sampe merah begini. Dan tante Emangnya ada perlu apa sampai-sampai meneleponku?" Daffa melontarkan berbagai pertanyaan kepada tante Intan. "Oh iya, dan juga anak kecil ini siapa?"
Tante Intan hendak menjawabnya. Baru saja ia membuka mulutnya, namun adek Fasa sudah lebih duluan berbicara darinya.
"Kakak kalau mau bertanya nama orang lain, harus mengucapkan nama kakak dulu," ucap dek Fasa, mukanya tampak cemberut sembari menatap ke arah Daffa.
"Eh?" Daffa kaget saat melihat dek Fasa berbicara seperti itu. Matanya berkedip-kedip seolah-olah tidak percaya dirinya telah dimarahi oleh anak kecil.
Tante Intan dan juga pelayan yang dibelakangnya pun sama-sama terkaget mendengarkannya. Tante Intan kemudian tersenyum dan perasaannya menjadi tenang kembali.
"Anak mamah pinter sekali..." Ucap Tante Intan seraya mengelus-elus rambutnya dek Fasa.
"Hihihi..." Fasa tersenyum sekaligus tertawa saat dipuji oleh mamahnya.
Daffa yang mendengar pembicaraan mereka terlihat kebingungan. "Mamah?... Apa jangan-jangan wanita itu adalah ibu dari anak itu? Tapi dilihat dari parasnya masih tampak muda deh." Gumam Daffa dalam hatinya.
Daffa menghela nafasnya lalu berkata, "Baiklah-baiklah..."
Tante Intan dan juga Fasa kemudian pandangannya beralih ke Daffa.
Daffa menjadi gugup seketika saat melihat mereka semua yang tengah menatap ke arahnya. "Eh, bentar-bentar. Kalau bicara sama anak kecil itu bilangnya aku atau kakak? Sebelumnya aku tidak pernah berbicara dengan anak kecil anjir." Gumam Daffa dalam hatinya.
"Ya udah lah, apa pun boleh." Gumam Daffa.
Daffa dan adek Fasa tampak saling menatap. "Na-nama kakak Daffa." Daffa terlihat tidak percaya diri mengucapkannya.
"Oh... Kak Daffa yah..." Balas dek Fasa. "Sekarang giliran Fasa." Lanjutnya.
Adek Fasa berpindah tepat di depannya Daffa yang hanya menyisakan satu langkah kaki saja.
Tangannya adek Fasa menunjukkan ke arah dadanya. "Perkenalkan! Namaku Fasa! Umur Fasa lima tahun. Yang di sebelahku adalah mamahku, kalau papah sekarang sedang bekerja. Fasa juga punya kakak loh... Namanya kakak Cifa." Fasa sangat bersemangat dan antusias saat memperkenal dirinya dan juga keluarganya.
Bersambung....
__ADS_1