
"Ini bohong... Kan?" Gumam Daffa.
Wajah Mereka semua tampak terkaget-kaget ketika menatap satu sama lain.
Syifa yang barusan melihat adanya Daffa di sebelah kanannya, dirinya reflek melihat ke arah bawahnya.
Pipinya mendadak berubah memerah muda dan tangannya ikut menutupi bagian dadanya.
"Pe-pe-pengintip....!" Syifa berteriak seraya melemparkan baju yang ada di tangan kanannya.
"Tunggu-tunggu! Aku bukan pengintip..."
"Baju ku..." Sela Charla yang hanya pasrah melihat bajunya dilempar oleh Syifa.
Syifa berusaha dengan tergesa-gesa melempar semua barang yang ada di sekitarnya.
Sementara Daffa mencoba menangkisnya dengan kedua tangannya.
Di tengah-tengah keributan mereka berdua, tampaknya Vira melangkahkan kakinya ke arah depan. "Wah... Wah..."
Tangannya Vira menepuk bahunya Syifa ketika dirinya sudah berada di sampingnya.
Sedangkan tangan yang satunya tampak menahan lengannya Syifa saat hendak melemparkan barang untuk yang terakhir kalinya. "Syifa, tenanglah. Mungkin saja Daffa adalah anggota baru yang dibicarakan oleh kak Dewi kemaren."
"Anggota baru?" Ucap Syifa sembari melihat ke arah Vira.
"Iya," Balas Vira seraya menganggukkan kepalanya.
Syifa baru kepikiran sesaat. Ia pun langsung kembali menatap tajam Daffa dengan berkata, "Kalau itu benar dia, aku tidak akan menyetujuinya."
"Tunggu sebentar, di sini bukan hanya kalian saja yang merasa terkejut. Aku pun juga merasa terkejut." Sela Daffa.
"Bukankah kalian semua... Eh, maksudnya kalian bertiga ikut paduan suara?" Tanya Daffa.
"Heh? Kamu nguping ya?!" Ucap Syifa spontan dengan nada tinggi.
Dengan jujurnya Daffa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aahaha, jujur sekali dia..." Gumam Vira.
Syifa yang melihatnya dengan terang-terangan, seakan-akan dirinya nampak kesal. Mukanya sudah tidak tahan lagi dengannya dan ia sangat ingin memukulnya.
"Duh... Kamu ini...!" Dengan mukanya yang tampak kesal, Syifa terus berjalan maju ke arah Daffa dengan cepat tanpa melihat area sekitarnya.
__ADS_1
Vira hendak menghalanginya, namun sepertinya tidak sempat karena sudah terlalu jauh dengannya.
Daffa terasa deg-degan karena panik melihat Syifa yang tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan marah.
"Hey tunggu, apa kau tidak melihat ke bawah? Kamu bisa terpeleset!" Daffa mengucapkannya dengan gugup.
Syifa tak menghiraukan ucapannya, dia malah semakin laju berjalan ke arah Daffa. "Tidak peduli dengan omonganmu, cepat keluar dari sini!"
Langkah kakinya semakin laju dan semakin laju setiap langkah yang dia lewati. Syifa hampir sampai di hadapan Daffa dan salah satu tangannya sudah terangkat ke atas.
Namun sayangnya salah satu kakinya Syifa memijak di tempat yang salah, dia malah berpijak di lantai yang basah. "Ah, gawat!"
Apa aku akan terjatuh?" Gumam Syifa dalam hatinya.
Syifa terlihat pasrah dengan menutupkan kedua matanya secara bersamaan. Di saat itu sekilas ia bermimpi melihat ada seseorang yang menyelamatkannya.
"Dasar keras kepala," Ucap Daffa lirih.
"Ternyata bukan mimpi kah...?" Syifa membuka kedua matanya secara perlahan.
Entah mengapa kali ini hatiku terasa sangat nyaman ketika melihat wajahnya yang manis. Aku sangat ingin, sangat ingin mencubit pipinya itu.
Syifa kemudian mengangkat salah satu tangannya yang mengarah ke wajah Daffa yang seolah-olah ingin menggapainya.
Raut wajahnya tampak bahagia dengan senyumannya yang semakin melebar ketika dia berhasil mencubit pipinya Daffa. "Aku memegangnya!"
"Duh-duh..." Daffa merintih kesakitan. "Eh, perasaan apa ini? Seperti ada yang mengalir di dalam pikiranku," Gumam Daffa.
Daffa mencoba fokus dengan mengejamkan kedua matanya sejenak.
Perasaan itu terus mengalir kepadanya. "Kebencian? Sepertinya bukan. Kemarahan? Tidak."
Daffa tiba-tiba membuka kedua matanya secara cepat. "Ternyata... ini kah perasaan kesepian yang selama ini dia rasakan?"
"Apakah senyuman yang dia lakukan selama ini adalah sebuah kebohongan?"
"Jika benar begitu, itu pasti tidak enak." Gumam Daffa.
Daffa menurunkan Syifa dari kedua tangannya secara perlahan. Sesaat kemudian dia langsung memeluknya walau ada teman-temannya yang lain yang melihatnya.
Wajah Syifa tampak kaget di saat itu juga, dia hanya bengong melihat dirinya sedang dipeluk olehnya.
"Tenang saja, bukan hanya kau sendiri." Bisik Daffa di telinganya Syifa.
__ADS_1
Vira dan yang lainnya tampak terbengong-bengong melihat keromantisan mereka berdua sedari tadi. "Ehem-ehem!"
Syifa yang mendengar ocehan temannya, dia tiba-tiba seperti sangat terkejut melihat Daffa yang sedang memeluknya. "Eh? Eh..? Eh....?!"
Seketika Syifa langsung memberontak darinya dengan cara mendorong Daffa lalu memukul bagian perutnya dengan sangat keras. "Apa yang sedang kamu lakukan...!"
Daffa terpukul lalu terguling-guling di lantai dan kemudian menabrak tembok. "Brukk!"
Syifa langsung lari terbirit-birit dari tempat itu dan menuju ke arah teman-temannya sesaat setelahnya. "Dasar cowok nafsuan...!"
"Hadeh... Apes banget dah aku hari ini, padahal kan niatku baik." Ucap Daffa yang kemudian ia memejamkan kedua matanya.
***
Sementara di lain sisi tepatnya disekitar halaman rumahnya Syifa, terlihat ada seorang cewek di pojok sana yang sedang menulis di buku catatan hariannya.
Hey, namaku Melly. Saat ini aku sedang berteduh di bawah pohon sambil iseng-iseng menulis di buku catatan milikku.
Banyak orang yang mengira bahwa aku adalah cewek yang lemah, namun mereka semua pada menarik kembali kata-katanya ketika melihat yang sebenarnya.
Aku baru sampai ke kota ini pada siang hari dan langsung kemari untuk menemui teman masa kecilku dan juga tante Intan.
Namun aku merasa sedikit kecewa karena tidak langsung bertemu dengan Syifa maupun tante Intan saat sudah sampai di rumah yang megah ini. Tapi tidak apa-apa karena nanti malam juga aku akan bertemu dengan mereka semua di saat makan malam.
Kabar gembira hari ini adalah aku bisa langsung bertatapan muka dengan yang namanya Daffa di jalan saat perjalanan menuju ke rumah ini.
Sebenarnya seharusnya hari ini aku ke sini bersama tuanku atau lebih tepatnya pangeran yang telah diturunkan oleh Tuhan kepadaku.
Kalian tahu, dia itu orangnya sangat baik hati dan juga dia itu sangat keren walau kadang sering menjahili orang lain yang salah satunya adalah aku.
Aku di sini nantinya akan menjadi pelayan pribadinya Syifa sesuai permintaannya tante Intan dan juga pangeranku.
Tentu saja nanti aku juga tetap akan mengawasi si Daffa saat aku sudah masuk sekolah di sini.
Walaupun itu adalah permintaan pangeranku, tetapi sebenarnya aku ingin menolaknya namun aku tidak bisa.
Mungkin minggu depan aku bisa merasa gembira dan mungkin juga bersedih, karena pangeranku akan datang kemari.
Tapi sepertinya bukan hanya aku saja yang akan merasa sedih nantinya, mungkin Daffa juga akan menunjukkan rasa sedihnya ketika Rio datang kemari.
Itu semua yang ditulis oleh Melly di buku diary nya pada saat itu.
Bersambung....
__ADS_1